
Riyan segera mengotak-atik laptop milik pak Budi yang di tinggalkan di meja kerjanya,Sedangkan pak Budi sudah berangkat meeting sekitar lima belas menit yang lalu.
Riyan sengaja mengambil jarak waktu dan tak mau terburu-buru mengotak atik laptop milik bosnya,karena siapa tau nanti ada hal penting yang membuat pak Budi kembali lagi ke ruangannya.
Setelah dirasa suasana aman,barulah Riyan berani bertindak.
Ada langkah kaki mendekat menuju ruangan pak Budi,sedangkan Riyan masih berada di meja kerja bosnya.
"Selamat pagi mbak Rini....mau antarkan minum buat pak Budi ya?"
Suara Reyhan terdengar begitu nyaring dan kencang sampai terdengar oleh Riyan dari dalam ruangan seperti disengaja agar Riyan tsu bahwa ada orang yang sedang berjalan akan segera masuk menuju ruangannya.
TOK,TOK,TOK....!
Ada suara ketukan pintu dari luar.
KRET....!
Suara pintu terbuka lebar,ternyata itu adalah seorang OB yang mengantarkan minum untuk Riyan.
"Silahkan tehnya pak."
Ucapnya sambil meletakkan secangkir teh di meja kerja Riyan yang kebetulan tepat berada di sebelah meja kerja pak Budi.
"Terima kasih ya."
__ADS_1
"Sama-sama pak,saya permisi dulu."
"Iya."
Ucap Riyan tanpa berpaling dari layar laptop yang berada di meja kerjanya,menyelesaikan pekerjaan yang serasa tiada habisnya.Setumpuk dokumen penting yang ada di hadapannya seolah sedang mengantre untuk segera dijamah.
"Huft...."
Riyan menghela nafas panjang.
Untungnya pagi tadi mereka sudah menyusun rencana dengan matang.
Rey akan berjaga di depan pintu ruang kerja pak Budi jikalau saja tiba-tiba ada yang masuk lalu memergoki Riyan yang sedang menjamah laptop milik pak Budi.
Riyan kembali waspada namun berusaha tenang dalam menjalankan rencana sesuai yang sudah di meetingkan bersama Reyhan dan Dicky via video call beberapa hari ini.
Meski mereka sudah menggunakan jasa pengasuh bayi,namun Dita tak mau serta merta melepaskan kedua buah hatinya diasuh oleh orang lain tanpa pengawasannya secara langsung.
Hampir setiap hari bu Ratih dan tante Dewi datang kerumah Dita dan Dicky,bahkan tak jarang mereka sampai menginap hanya untuk sekedar berpartisipasi menjaga dan mengurus sikembar.
Dua orang bayi dengan sebegitu banyak orang yang mengurus,karena bagaimanapun juga sikembar adalah anak istimewa yang harus dijaga dan dirawat dengan ekstra kehati-hatian karena keadaan mereka yang masih rapuh.
Terlahir sebagai bayi prematur bukanlah hal yang mudah untuk bertahan begitu saja lepas dari segala peralatan medis yang selama ini membantu keduanya bertahan sampai detik ini.
"Sayang....kenapa kamu menangis?"
__ADS_1
Tanya Dicky pada sang istri dengan bingung karena tiba-tiba saja Dita menangis saat menyusui si Bulan anak sulung mereka.
"Tidak apa-apa."
Jawab Dita berusaha menutupi kesedihannya,Dita selalu merasa bersalah atas apa yang menimpa kedua buah hatinya.
Dita merasa kedua buah hatinya harus terlahir prematur dan harus merasakan sakit setelah mereka dilahirkan adalah kesalahannya karena sebagai calon ibu dia merasa tidak bisa menjaga anak-anaknya dengan baik.
"Hei,hei,hei....Dita,ada apa? jangan seperti ini,ada apa?"
Tanya Dicky terus menelisik,dia bingung dengan tangisan Dita yang tanpa alasan namun malah semakin menjadi-jadi ketika Dicky bertanya padanya.
"Aku bukan ibu yang baik! selama ini aku sudah membuat anak-anakku menderita!"
Ucapnya lirih sambil sesenggukan.
Air matanya menetes mengenai wajah Bulan yang sedang menyusu,spontan membuat bayi cantik itu menatap mata ibunya sambil terus menyusu tiada henti.
"Maafkan mama ya nak! gara-gara mama yang tidak becus menjagamu,membuat kalian berdua harus merasakan sakit seperti ini."
Ucap Dita sambil membelai lembut jemari kecil Bulan.
"Hei,sayang....apa yang kamu katakan? ini semua bukan salahmu atau salah siapapun!"
Dicky berusaha menenangkan istirnya.
__ADS_1
Dicky terus berusaha menenangkan hati istrinya yang sedang nampak kacau saat ini,meski bingung harus berbuat apa tapi nyatanya Dicky berhasil merayu dan membujuk Dita dengan berbagai hal agar Dita tak lagi berlarut-larut dalam kesedihan dan manyalahkan dirinya sendiri.
BERSAMBUNG......