
Dicky segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri,setelah selesai mandi Dicky membangunkan istrinya.
Mengecup bibir mungil istrinya dengan lembut lalu memeluknya dan berbisik di telinga Dita.
"Dita....bangun sayangku"
Dita langsung membuka matanya dan langsung terduduk saat melihat Dicky di depan wajahnya,menyadari tubuhnya polos Dita segera menarik selimut dan bangun dari tempat tidur.
"Apa tadi kita melakukannya lagi mas?"
"Apa kamu selalu lupa setelah melakukannya?"
"Hahhhh......aku memang benar-benar bodoh!"
"Kali ini aku benar-benar dalam keadaan sadar dan kau yang memaksaku."
"Lalu kenapa kau tidak menghindariku atau setidaknya menyadarkanku mas?"
"Lalu bagaimana caranya menyadarkanmu,kau sudah seperti kesetanan melihatku."
"Lalu bagaimana kalau sampai aku hamil mas?"
"Aku akan bertanggung jawab atas anak kita."
"Lalu aku?apakah kau akan menceraikanku dan memisahkan aku dengan anakku nantinya?"
Dita mulai menitikan air mata,Dicky mendekatu Dita dan mengusap airmata istrinya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu demi anak-anak kita.Karena aku mencintaimu."
Dicky menyentuh dagu istrinya mendongakkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir istrinya.
Dicky mulai memperdalam ciumannya saat Dita menyambut ciuman suaminya.Bibir mereka kembali beradu.
"Mandilah,mama sudah menunggu kita untuk makan."
__ADS_1
"He'em."
"Apakah masih terasa sakit?"
"Sudah tidak lagi."
"Apakah nanti malam aku boleh memintanya lagi?"
Dita mencubit perut Dicky hingga membuatnya mengaduh.
Mereka berdua turun dari kamar bersama.
"Bagaimana Dit,masih sakit?" tanya bu Ratih sambil tersenyum melihat tanda kemerahan di leher Dita yang terlihat semakin bertambah banyak di balik rambut basahnya yang terurai.
"Sudah enakan ma."
"Bener kan....lama-lama enak,nggak sakit lagi." ucap bu Ratih seakan sudah mengetahui apa yang terjadi semalam dan tadi pagi,karena memang semua ini adalah ulahnya.
Dita hanya tersenyum sambil memandang Dicky.
Kata-kata Dicky seolah sudah tau bahwa apa yang terjadi padanya dan Dita semalam dan tadi pagi semua adalah ulah mamanya.
"Maksud kamu apa Dik?"
"Awalnya Dicky nggak tau ma,tapi ketika melihat tingkah Dita tadi pagi baru Dicky sadar bahwa mamalah dalang di balik semua ini."
"Mama nggak ngerti deh Dik maksud kamu apa?"
"Mama pesan dimana obat perangsang itu?biar Dicky pesan yang banyak buat Dita."
"Mas....!
Ma.....maafin perkataan mas Dicky ya ma,mas Dicky nggak bermaksud begitu ma."
"Hmmmm,maafkan mama karena hanya dengan cara ini mama akan mendapatkan cucu dari kalian.Dan mama fikir setelah adanya anak kalian tidak akan pernah berpisah."
__ADS_1
Seketika Dicky memeluk mamanya.
"Ma....bukankah Dicky sudah berjanji akan memperistri perempuan yang bisa menyayangi dan menghormati mama?Dia adalah Dita kan ma?
Bukankah Dita adalah gadis pilihan mama yang sengaja akan mama jodohkan denganku?"
"Darimana kamu tau?" tanya bu Ratih penasaran.
"Itu tidak penting ma,karena selain mama menyayanginya Dicky.......juga mencintainya ma."
Bu Ratih tersenyum bahagia mendengar perkataan putranya.
"Lalu bagaimana dengan kamu Dit?apakah kamu juga mencintai Dicky?"
Dita hanya menggeleng pelan.
"Dita menikah dengan mas Dicky karena terpaksa dengan sebuah surat perjanjian,dan juga tidak tega menolak keinginan mama yang begitu menginginkan Dita menjadi menantu mama,tapi Dita akan berusaha menerima mas Dicky menjadi pendamping hidup Dita ma."
"Terima kasih nak,hatimu sungguh mulia.Mama nggak salah memilih kamu sebagai menantu mama."
"Dita yang terima kasih ma,karena selalu memperlakukan Dita dengan baik selama ini."
Kemudian bu Ratih memeluk Dita dan juga Dicky di kanan dan kirinya.
"Dik,jaga dan jangan pernah sakiti Dita.Berjanjilah sama mama!"
"Iya ma.....Dicky janji tidak akan menyakiti Dita lagi karena semalam sudah menyakitinya."
sambil tertawa kecil Dicky mengucapkan kalimat terakhirnya.
Dita segera mencubit perut Dicky.
Setelah itu melanjutkan makan siang mereka.
Bersambung.......
__ADS_1