
Riyan adalah seorang anak dari kampung yang tinggal di pinggiran kota bersama ibunya,sedangkan ayahnya.....tak pernah ada yang tau siapa ayah kandungnya kecuali Tuhan Yang Maha Esa dan ibunya saja yang tau,itupun kalau beliau benar-benar tau.
Sejak bayi Riyan diasuh oleh ibunya yang bekerja keras membanting tulang demi mencukupi kebutuhan hidup mereka serta biaya sekolah Riyan.
Sedangkan Riyan sendiri adalah anak pendiam yang selalu juara kelas,meski tak banyak yang mau berteman dengannya namun Riyan tak pernah memperdulikan hal tersebut.
Dalam pikirannya hanya ada ibunya,kasihsayang ibunya dan membahagiakan ibunya.
Riyan tak pernah membebani ibunya dengan permintaan apapun seperti anak-anak lain yang menginginkan banyak hal untuk dituruti.
Riyan pernah membuat ibunya menangis hanya karena pertanyaanny tentang keberadaan sang ayah dan sejak saat itu tak pernah sekalipun ia berani menanyakannya pada sang ibu.
Sampai suatu saat Riyan secara tak sengaja mendengar percakapan ibunya dengan teman lama ibunya di perjalanan,Riyan baru tau kalau ternyata sejak lahir Riyan memang tak pernah memiliki ayah.
Teman ibunya bilang kalau Riyan adalah anak haram karena ibunya hamil tanpa suami sejak pulang kerja dari luar kota.
Hati Riyan terasa sangat sedih karena selama ini ibunya telah bekerja keras serta memendam kesedihan hidup seorang diri,Riyan berjanji akan membahagiakan ibunya hingga sampai saat ini.
Bahkan sampai usia sedewasa ini Riyan masih tetap menyayangi ibunya,Riyan tak berani sekalipun mendekati perempuan bukan karena tak suka perempuan hanya saja Riyan takut jika kelak istrinya tak bisa menerima serta menyayangi ibunya.
Riyan sangat sedih karena harus berpisah jauh dari sang ibu untuk waktu yang lama,tapi ia juga tak mungkin membawa ibunya turut serta karena keadaan ibunya yang belum benar-benar pulih.
Lagipula bos ditepatnya kerja sudah mempersiapkan orang yang akan mengurus ibunya nanti dirumah,jadi harusnya Riyan bisa lebih tenang meninggalkan ibunya dirumah.
"Tok,tok,tok...Permisi bu,mas,makanannya sudah siap dimeja makan."
__ADS_1
Riyan hanya memandang kearah ibunya,sedangkan sang ibu hanya tersenyum melihat wajah heran anaknya.
"Makan?kok kamu sudah masak?"
"Mohon maaf mas jika saya lancang,tapi saya sudah mendapat izin dari ibu untuk masak."
Dengan gugup Nina menjawab kebingungan yang nampak diwajah Riyan.
"Iya,Nina bilang dia bingung disini dia dipekerjakan namun tak banyak pekerjaan yang bisa dia lakukan karena semua sudah terbiasa kamu kerjakan sendiri."
Bu Siti tersenyum sambil perlahan bangkit dari tepat tidurnya,dengan di papah oleh Riyan.
Sebenarnya Riyan sudah menyiapkan kursi roda untuk ibunya,namun sang ibu menolak karena takut jika terlalu sering duduk di kursi roda nanti otot-otot kakinya justru malah akan kaku jika digunakan untuk jalan nanti.
"Nin,Nina.....!"
"Iya bu,ada yang bisa dibantu?"
Dengan tergesa Nina berlari mendekat ke meja makan.
"Kamu sudah makan?"
"Belum bu,tidak sopan jika majikan belum makan saya makan duluan."
Jawab Nina sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Sini duduk,kita makan siang bersama."
Ajak Riyan.
"Mohon maaf mas,saya nanti makan dibelakang saja."
"Udah,kita makan bersama-sama saja sekalian disini.Ayo duduk!"
Pinta bu Siti pada Nina.
"Tapi bu,saya......"
"Disini kamu bukan pembantu,tapi orang yang aku mintai tolong untuk menjaga ibuku.kelak jika aku tidak berada dirumah perlakukanlah ibuku seperti ibumu sendiri,jangan perlakukan beliau seperti seorang majikan."
Ucap Riyan kepada Nina yang masih berdiri mematung di dekat meja makan.
"Iya mas,saya akan menjaga ibu dengan baik"
Jawab Nina seorang gadis manis bertubuh mungil serta berhijab itu.
"Ayo sekarang duduk sini Nin,kita makan bareng."
Pinta bu Siti sekali lagi.
Sampai pada akhirnya Nina tak mampu menolak lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG......