
"Aku tunggu di mobil ya yang?"
"Iya,iya ini bentar lagi selesai kok."
"Jangan lama-lama ya,setengah jam lagi aku meeting dengam klien."
Dicky menyalakan mesin mobil sambil menunggu sang istri keluar dari rumah.
Hari ini adalah jadwal Dita pergi kerumah sang mertua,sesuai perjanjian yang sempat mereka rundingkan beberapa hari yang lalu.
Di rumah bu Ratih pun sudah mempersiapkan beberapa hidangan untuj sarapan anak serta menantunya nanti.
Bu ratih menunggu di meja makan dengan penuh semangat.
Bel pintu rumah berbunyi,segera bu Ratih memanggil bi Mar untuk membukakan pintu.
Dita dan Dicky langaung berjalan menuju ruang makan.
Namun Dicky tak bisa ikut sarapan bersama karena harus segera berangkat kerja,jadilah Dita dan sang mertua sarapan hanya berdua saja.
Sesampainya di kantor Dicky langsung disibukkan dengan rutinitas di kantor.
Meeting dengan para staf guna mempersiapkan launching produk baru,serta meeting dengan para klien.
Sedangkan disebrang sana Dita sedang sedang terlelap tidur,karena selesai sarapan Dita mengobrol bersama sang mertua lalu mereka sibuk membuat kue di dapur.
Hampir seharian penuh mereka melakukan kegiatan serta keseruan bersama.
Bu Ratih berencana akan mengantarkan menantunya mendatangi senam khusus ibu hamil untuk menantunya minggu depan jika Dita datang lagi.
__ADS_1
Mereka sudah memdapatkan tempat senam hamil yang bagus rekomendasi dari teman bu Ratih.
Hari menjelang senja,sang surya sudah mulai letih memancarkan sinarnya.
Sebentar lagi siftnya akan digantikan oleh sang rembulan yang akan menyinari sang malam.
Dicky pulang agak terlambat kali ini,karena ada begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga.
Terlebih lagi Dita hari ini dirumah mamanya,jadi dia tak perlu khawatir meninggalkan sang istri pulang smpai larut hari ini.
"Pulang jam berapa?"
Sebuah pesan masuk di notifikasi hape Dicky.
Segera Dicky membukanya,setelah ia lirik ternyata dari sang istri.
Jawannya,berharap sang istri tidak akan ngambek kali ini.
Setelah selesai dengan segudang file yang menumpuk di hadapannya serta laptop yang terus menyala.
Akhirnya Dicky mengakhiri pekerjaannya dengan menutup laptop dihadapannya lalu berjalan keluar dari ruangannya.
"Selamat malam pak Dicky"
Sapa seorang penjaga keamanan yanh bertugas jaga malam ini.
"Iya,malam."
Jawabnya singkat.
__ADS_1
Segera memencet tombol alarm yang tergantung di kunci mobil lalu memasukinya.
Tanpa ragu Dicky segera melajukan kendaraannya menuju rumah orang tuanya yang selama ini ia tinggali sampai pada akhirnya harus ia tinggalkan setelah menikah karena tak ingin ketahuan pernikahan pura-puranya dahulu bersama Dita.
Terkadang jika Dicky mengingat-ingat kembali kejadian dimana ia pertama ki bertemu Dita dalam sebuah insiden kecelakaan,serta pertemuan-pertemuan tak sengaja yang mungkin sudah di atur oleh sang penulis garis kehidupan.
Sampai pada saat dimana ia harus mengikat janji suci pernikahan pura-puranha bersama seorang perempuan yang kini mengandung buah hatinya.
Dicky merasa sangat lucu melihat dirinya sendiri sekarang ini,pasalnya bagaimana bisa cewek jutek dan judes seperti Dita bisa takhluk padanya?serta bagaimana bisa dirinya yang selama ini selalu menolak pernikahan dan bersikap dingin pada setiap perempuan yang mamanya kenalkan sekarang justru bertekuk lutut di pelukan gadis yang biasa saja seperti Dita.
Sepanjang perjalanan Dicky hanya tersenyum melihat dirinya dari kaca di hadapannya.
Tanpa sadar ia menghentikan laju kendaraannya dan memarkirkan di bagasi rumah mamanya.
"Dita sudah tidur bi Mar?"
"Belum mas Dicky,masih di depan tivi sama ibu."
"Hmmm."
"Mau disiapkan air hangat buat mandi mas Dicky?"
"Nggak usah bi,terima kasih."
Bi Mar merasa heran karena tidak biasanya Dicky bersikap seperti itu,biasanya apa-apa minta di ladeni.Suka nyuruh-nyuruh ini dan itu semaunya.
Semenjak menikah dan akan jadi calon ayah sikapnya berubah lebih dewasa.
Bersambung.....
__ADS_1