Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
BAB 73


__ADS_3

Reyhan dan Riyan akhirnya berhasil melaporkan pak Budi kekantor polisi beserta antek-anteknya yang ditugaskan di kantor bahkan sampai keakar-akarnya tak terkecuali Tia,ya Tia seorang Petugas kebersihan yang selama ini mengejar Adi alias Reyhan ternyata adalah salah satu mata-mata dari pak Budi yang ditugaskan untuk mengawasi Riyan yang dicurigai sebagai orang suruhan Dicky dari kantor pusat untuk mengawasi gerak geriknya.


Beruntung Reyhan yang sedang menyamar mengetahui semuanya dari Tia tanpa curiga siapa Adi sebenarnya.


Dicky mendapat kabar dari Reyhan soal masalah di kantor cabang yang sudah selesai dibereskan.Hampir dua bulan lamanya Riyan dan juga Reyhan menyamar dan tinggal di luar kota tanpa bisa pulang sama sekali atas perintah Dicky agar tidak ada seorangpun yang curiga pada mereka.


"Terima kasih untuk pak Riyan dan juga pak Reyhan untuk kerja sama serta dedikasi kalian yang luar biasa untuk perusahaan."


Ucap Dicky dihadapan semua para pemimpin Jaya Group.


"Saya sekaligus akan mengumumkan bahwa mulai hari ini pak Riyan resmi diangkat sebagai pengganti pak Budi,menjabat sebagai manager di cabang."


Ucap Dicky diiringi tepuk tangan serta ucapan selamat dari hampir semua orang yang hadir di ruang rapat.


Riyan nampak syok mendengar ucapan big bosnya yang begitu mengejutkan,pasalnya jabatannya yang hanya sebagai karyawan biasa kini harus mengemban tanggung jawab yang begitu besar secara tiba-tiba.


"Lalu bagaimana dengan jabatan saya pak Dicky?"


Tanya Reyhan yang kini masih duduk disamping Kiri Dicky,sementara yang lain sudah berdiri menyalami Riyan dan mulai meninggalkan ruangan karena memang rapat sudah selesai dan sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas dalam rapat ini.


"Pak Reyhan yang terhormat,silahkan anda pilih sendiri jabatan anda disini atau di kantor cabang bersama pak Riyan sesuai dengan jabatan terakhir anda!"


Jawab Dicky sambil bangkit merangkul pundak sahabatnya sekaligus asisten pribadinya di Jaya Group.


"Maksudnya aku kembali jadi OB lagi di kantor cabang!"


Tanya Reyhan kesal sambil menyingkirkan lengan bosnya dengan kasar dan tidak sopan.


"Bukankah jika kamu kembali menjadi asistem pribadiku disini,itu artinya kamu juga naik jabatan jauh lebih meroket dari pada Riyan?"


Jawab sang bos diiringi gelak tawa Dicky seperti sedang bahagia karena bisa meledek Reyhan.


Riyan segera berpamitan pada bosnya sembari menahan tawa melihat kelakuan para atasannya itu yang ternyata begitu akrab jika di balik layar.


"Apa kamu! mau ikutan meledekku juga karena kenaikan jabatanmu yang meroket!"


Tanya Reyhan kesal pada Riyan yang terlihat menahan tawa sampai merapatkan kedua bibirnya agar tak meledakkan tawa di depan keduanya.


"Tidak pak,saya mana berani? saya permisi dulu,mari pak Dicky mari pak Rey....!"


Ucapnya membungkukkan badan lalu keluar dari ruang rapat dengan segera.


Karena jabatan barunya Riyan hari ini langsung pulang karena mulai lusa harus kembali lagi kekantor cabang guna mengemban tanggung jawab barunya.


"Lho,kok sudah pulang nak?"


Tanya bu Siti yang sedang menonton tivi ditemani oleh Nina yang sedang menyetrika pakaian di satu ruangan yang sama.


"Iya bu,karena hari ini hanya meeting sebentar dan Riyan langsung pulang."


Jawab Riyan sambil duduk di sampin ibunya.

__ADS_1


"Bu....ibu ikut Riyan pindah ya? karena Riyan resmi diangkat menjadi manager di kantor cabang oleh perusahaan."


Pinta Riyan pada sang ibu yang kini kesehatannya mulai membaik dan sudah bisa berjalan tanpa alat bantu apapun serta sudah bisa beraktivitas seperti biasa.


"Lalu bagaimana dengan Nina?"


Tanya bu Siti sambil memandang kearah Nina yang selama ini merawatnya selama Riyan berada di luar kota.


"Apa ibu masih memerlukan Nina jika sudah ada Riyan disamping ibu?"


Tanya Riyan sambil memeluk pundak ibunya.


"Apa tidak bisa ki ajak serta Nina bersama kita?"


Tanya bu Siti pada putranya,lalu memandang Nina yang sedang sibuk menyetrika pakaian.


Mungkin sebenarnya Nina mendengar perbincangan kedua majikannya,namun Nina sengaja tidak ikut campur meski dirinya yang sekarang ini sedang dibicarakan.


"Memangnya ibu masih memerlukan bantuan mbak Nina?"


Tanya Riyan balik pada sang ibu.


"Nina,sini nak!"


Panggil bu Siti pada Nina,yang langsung dengan cepat berjalan mendekat.


"Iya bu,ada yang ibu butuhkan?"


Tanya Nina saat sudah berdiri di hadapan bu Siti dan Riyan.


Tanya bu Siti pada Nina.


"Belum bu,ada apa ibu menanyakan hal tersebut pada saya?"


Tanya Nina pada sang majikan dengan wajah bingung.


Bagitu juga dengan Riyan sang anak yang juga tak kalah bingung ketika mendengar sang ibu menanyakan hal yang bersifat pribadi pada pembantunya.


"Kamu juga tidak punya pacar kan?"


Tanya bu Siti lagi pada Nina lebih mendalam seperti sedang wawancara untuk pencarian calon menantu idaman.


"Bu....itu kan privasi mbak Nina,untuk apa ibu menanyakan hal seperti itu padanya jika hanya untuk mengajaknya pindah?"


Tanya Riyan berusaha menghentikan ibunya menanyakan pertanyaan konyol pada pembantunya.


"Karena ibu mau menjadikan Nina menantu ibu! kamu tidak keberatan kan?"


Jawab bu Siti pada putranya sambil melirik kearah Nina yang hanya diam menundukkan wajahnya dihadapan Riyan dan bu Siti.


"Bagaimana denganmu Nina?kalau Riyan sudah pasti akan nurut saja apa kata ibu."

__ADS_1


Dengan begitu percaya dirinya ucapan bu Siti seolah tidak lagi membutuhkan persetujuan dari putra semata wayangnya.


"Tapi bu....."


Riyan berusaha mengeluarkan suara namun segera dicegah oleh bu Siti dengan menutup mulut Riyan dengan jari telunjuknya.


Hanya dengan satu jari telunjuk saja sudah berhasil membungkam mulut Riyan,apalagi jika bu Siti sampai menggunakan kedua tangan dengan kesepuluh jarinya.


"Alangkah lebih baiknya jika mas Riyan diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya dahulu bu."


Usul Nina pada sang majikan.


"Memangnya kamu berani menolak permintaan ibumu nak?!"


Tanya bu Siti dengan nada mengancam pada sang putra.


"Tidak bu,..."


"Tuh kan,kamu dengar sendiri jawabannya Nina?!"


Ucap bu Siti lagi dengan yakin bahwa putranya akan setuju dinikahkan dengan Nina sang pembantu.


"Maaf bu,Riyan tadi belum selesai bicara."


Imbuh Riyan dengan nada sehalus mungkin karena begitu takut akan menyinggung perasaan ibunya.


"Jadi kamu menolak pilihan ibu!"


Bu Siti seolah sedang mengintimidasi putranya sekarang.


"Bukan begitu bu....."


"Lalu apa!"


Tanya bu Siti kesal.


"Baiklah,Riyan akan patuh dan setuju dengan pilihan ibu...."


Bu Siti segera menoleh kearah putranya dengan senyum sumringah bahagia.


Namun berbeda dengan Nina yang nampak bingung dan seperti tidak begitu setuju dengan jawaban Riyan.


"Tapi.....ibu harus memberi waktu untuk kami supaya saling mengenal satu sama lain dulu ya?"


Pinta Riyan pada ibunya,Nina nampak setuju dengan usul Riyan.


"Bagaimana denganmu Nina?"


Tanya bu Siti lagi.


"Saya.....mmmmm,saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh mas Riyan bu."

__ADS_1


Jawabnya dengan bergetar.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2