
Dua hari berlalu sejak Dita melahirkan namun kini kedua bayinya masih berada di ruang NICU berada di dalam kotak kaca inkubator,sedangkan Dita masih koma di ruang ICU.
Selama beberapa hari ini Dicky dan mama serta tante Dewi bergantian menunggui kedua bayi di ruang NICU sedangkan Dita di ruang ICU.Ketiganya bergantian setiap harinya,dengan harapan akan ada kabar baik dari pihak rumah sakit namun mereka juga menghawatirkan jikalau ada kabar yang tak mereka harapkan.
Hari ketiga dokter memberi kabar baik tentang keadaan Dita yang telah berhasil melewati masa kritisnya,meski sampai sekarang masih belum juga menunjukkan tanda-tanda sadar dari koma.
Sedangkan sepasang bayi kembarnya yang kini diberi nama Bulan putri wijaya dan Bintang putra wijaya masih harus melanjutkan perawatan di sebuah kotak kaca inkubator,entah sampai kapan mereka baru diperbolehkan pulang karena masih belum ada kepastian dari pihak rumah sakit.
Dita sudah bisa di pindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat biasa hari ini,dan itu merupakan sebuah kabar bahagia untuk Dicky karena kini dia sudah lebih leluasa menunggui Dita dalam satu ruangan yang sama selama 24jam tak lagi harus terhalang oleh dinding ruang ICU yang hanya bisa melihat dari luar melalui kaca saja.
Meski memang keluarga diperbolehkan masuk itupun terbatas waktu.
Hari ini adalah giliran tante Dewi yang menjaga Dita dan Dicky bergiliran menjaga sikembar,sedangkan bu Ratih sedang beristirahat dirumah karena sedang tidak enak badan mungkin karena kecapekan harus giliran bergadang dirumah sakit setiap hari ditambah lagi usia yang sudah tidak lagi muda membuat staminanya jadi drop.
Malam ini adalah malam ketujuh Dita dirawat di rumah sakit ini,dan itu artinya satu minggu sudah mereka berada di rumah sakit ini.
__ADS_1
Malam ini tante Dewi merasa agak sedikit dingin entah hanya perasaannya saja atau memang suhu AC dalam ruangan ini yang terlalu dingin.
Tangannya meraih remote kecil berwarna putih yang berada di dinding dekat pintu lalu memencet tombol untuk sedikit menaikkan suhu ruangan agar tak terlalu dingin.
Namun entah kenapa kini pikirannya justru malah jadi tak karuan,entah apa yang membuatnya gelisah malam ini tiba-tiba tengkung lehernya serasa meremang.
Tante dewi hanya terdiam saat merasakan hawa dingin di belakanya,seperti nafas seseorang yang begitu dekat namun terasa sangat dingin.
Namun saat tante Dewi menoleh kearah belakangnya,tak ada apapun hanya sebuah sofa kosong yang ada dibelakangnya.
Bukankah Dita masih belum sadar,lalu kemana perginya?Semua pertanyaan hanya bisa berputar didalam pikirannya tanpa sepatah katapun mampu terucap dari bibirnya.
Matanya menelisik kesegala penjuru ruangan namun tak nampak Dita disana,hanya dirinya sendiri tanpa ada siapapun lagi didalam ruangan yang bernuansa serba putih.
Saat mulutnya baru akan terbuka untuk memanggil nama Dita,tiba-tiba dari belakangnya terdengar sayup-sayup susara seseorang memanggil namanya yang semakin lama semakin jelas suara seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
"Tante......,tante......."
Suara Dita lirih sedikit agak serak memanggil untuk membangunkan tantenya sambil sesekali menggerakkan jari jemarinya yang berada di dalam genggaman tante Dewi.
Seketika tante Dewi terbangun dengan kaget sambil mengucek-ngucek matanya untuk memastikan bahwa dia benar-benar dalam keadaan sadar saat ini dan apa yang terjadi saat ini adalah nyata,dan itu berarti apa yang dialaminya barusan hanyalah mimpi belaka.
"Hufh......syukurlah cuma mimpi."
Menghela nafas panjang sambil menyeka keringat yang merembes melalui celah pori-pori di dahinya.
"Tante....."
"Eh,iya Dit."
BERSAMBUNG.....
__ADS_1