Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
Bab 9


__ADS_3

Sepulang dari kantor,Dicky segera mandi untuk menyegarkan diri lalu bersiap untuk makan malam bersama dengan mamanya.


Setelah selesai makan bu Ratih mulai membuka obrolan,dan lagi-lagi soal jodoh.


Tak henti-hentinya memprovokasi jiwa anak kesayangannya supaya bisa membuka hati.


"Dik,tadi waktu makan siang di rumah makan soto biasa ibu ketemu seseorang."


"Hmmmm..." Sambil meletakkan sendok bekas makannya.


Dicky hanya menanggapi dengan datar,karena sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan mamanya nanti akan bermuara.


"Kok cuma hmmmmm jawabnya Dik?"


"Trus ....Dicky harus jawab apa mamaku sayang?" Dicky mulai fokus memperhatikan mamanya supaya nggak ngambek lagi.


"Apa mama ketemu teman lama yang punya anak perempuan?"


"Bukan,kamu sok tau?"


"Apa mama ketemu teman mama yang anaknya sudah menikah dan sudah punya anak?"


"Bukan juga..."


"Mama ketemu temen lama mama yang belum nikah sampe sekarang?" Dicky mulai asal jawab karena malas berfikir tentang hal yang tidak penting untuknya.


"Mama ketemu seorang gadis,yang dulu pernah nemuin dompet mama ."


"Gadis?mama nggak pernah cerita?"


"Ah...! kamu aja yang lupa."


"hmmm,mungkin."


"Kami sering ketemu karena kebetulan,mungkin jodoh kali ya Dik?"


"HAH....! JODOH....? mama.....sama gadis itu?"


Kata Dicky terkejut.


"Iya,bisa aja kan mama sama dia jodoh jadi memantu dan mertua?"


"Ya ampun ma......ujung-ujungnya itu lagi kan? Dicky nggak mau ma!"

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan Dicky,bu Ratih berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.


Pergi bergegas menuju kamarnya,seperti gadis ABG yang takndinrestuo cintanya oleh orang tua.


Bahkan saat Dicky memanggil pun sudah tak di tanggapinya karena merasa sangat kecewa.


Bu Ratih berjalan menuju kamar dengan berlinang air mata,karena untuk kesekian kalinya Dicky selalu menolak keinginannya untuk segera menikah.


"Tok,tok,tok"


"Mah.....buka pintunya mah..."


"tok,tok,tok..."


"Mah....Dicky minta maaf kalo kata-kata Dicky bikin mama kecewa."


"tok,tok,tok"


"Ma......buka dong,Dicky gak bermaksud berkata kasar atau membentak mama."


"Ma....mama istirahat ya...."


Karena tak kunjung mendapat jawaban,akhirnya Dicky berlalu menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat.


Pagi harinya saat sarapan pun bu Ratih tak juga keluar untuk sarapan bersama seperti biasa.


"Belum Den,sejak semalam sama sekali tidak keluar kamar."


"Nanti tolong di rayu biar mau keluar kamar ya bi,pastikan mama makan dan minum obatnya"


"Baik Den"


"Kalau ada apa-apa segera hubungi saya ya bik"


"Iya."


"Saya berangkat dulu ya bik,titip jagain mamah."


"Iya Den,ati-ati."


Dicky pun berangkat kenkantor,sepanjang perjalanan bahkan saat di kantor pun pikiran Dicky tak hentinya memikirkan mamanya.


Bahkan saat meeting pun harus terpaksa di tunda karena pikiran Dicky tidak fokus memikirkan pekerjaan.

__ADS_1


Sementara di kediaman Wijaya.


"tok,tok,tok"


"Bu.....ibu nggak keluar untuk makan?"


"Den Dicky sudah berangkat,ibu makan dulu ya.Nanti kalau sudah waktunya Den Dicky mendekati jam pulang ibu masuk lagi saja kekamar."


Setelah di bujuk lama,akhirnya bu Ratih luluh juga dengan bi Mar.


Sebenarnya bu Ratih keluar karena rasa lapar,bukan karena di rayu oleh bik Mar.


Saat hendak keluar dari kamar bu Ratih clingak clinguk seperti maling hendak masuk ke lokasi.


"Beneran Dicky sudah nggak ada Mar?"


"Iya bu,ibu makan dulu ya...?"


"hmmm,oke Mar kamu bantu saya ya."


"Bantu apa bu?" tanya Mar penasaran.


"Kita buat sandiwara,ambilkan hape saya di kamar Mar."


Bik Mar bergegas ke kamar bu Ratih mengambilkan hape lalu kembali ke bunRatih.


"Halo dokter Dian,saya perlu bantuan dokter."


"o....tidak,tidak.Ini hanya sandiwara kita saja,ingat hanya saya,Mar dan dokter Dian yang tau."


"Pokoknya anggap saja biaya rawat saya sebagai biaya kerjasama kita"


"Jadi,dokter diagnosa saja saya,bilang bahwa usia saya tak akan lama lagi,ingat jelaskan secara detai pada anak saya,dan bantu rayu anak saya untuk menuruti apapun keinginan terakhir saya padanya."


"Baiklah,terimakasih dokter Dian."


"Beres Mar,kita mulai kerjasama sejak hari ini."


"Tapi bu."


"Mar....! kamu di pihak siapa?!"


"Ba,baik bu....saya di pihak ibu."

__ADS_1


Mereka pun mulai menyusun rencana,agar Dicky mau menikah dan bu Ratih sudah menjatuhkan piliha pada Dita sebagai menantunya,kira-kira Dicky bagaimana ya?


Bersambung....


__ADS_2