Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
Bab 38


__ADS_3

Bunyi alarm di meja berdering dengan nyaring,tangan Dita meraih mencari sumber suara dengan mata masih belum terbuka sempurna.


Ketika tangannya berhasil menemukan jam weker dan segera mematikannya dan dita merasa ada tangan yang sedang memeluk tubuhnya dari balik selimut.


Betapa terkejutnya dia saat menyadari Dicky yang masih terlelap masih tanpa sehelai pakaian sedang memeluk tubuhnya yang juga sedang polos.


Dita berteriak histeris,membuat Dicky kaget dan terbangun dari tidurnya.


"Ada apaan sih pagi-pagi gini sudah berisik?"


"Mas apa yang kau lakukan padaku semalam?!"


Dicky segera membekap mulut Dita dengan tangannya karena Dita kembali berteriak.


"Sssst,jangan teriak-teriak mama masih disini."


Setelah Dicky melepaskan tangnnya,Dita segera bangun dari tempat tidur dan menarik seluruh selimut untuk menutupi tubuhnya hingga membuat Dicky menjadi polos tanpa tertutup apapun karena selimut yang menutupi tubuhnya di tarik seluruhnya oleh Dita,terlihat ada begitu banyak noda bercak darah di atas seprei saat selimut menutupi tubuh Dita yang berdiri di samping tempat tidur.Dicky hanya bisa pasrah dan mencari sesuatu untuk menutupi bagian bawah tubuhnya meski hanya bantal yang ia temukan.


Dita merasa perih dan sakit di area pribadi miliknya.


"Ssshh.....aduh,Sakit"


Dicky segera melempar bantal lalu berlari menuju Dita tanpa memperdulikan dirinya sendiri.


"Kenapa? apa yang sakit?"


"Apa yang kamu lakukan mas?sana pakai pakaianmu!"


Dita kembali terduduk di ujung tempat tidur,


Setelah mengenakan celana pendeknya masih bertelanjang dada Dicky kembali menghampiri Dita yang masih meringis kesakitan.


"Mana yang sakit?"


Dicky nampak khawatir ketika melihat Dita meringis menahan sakit.


"Di situ."


"Dimana?"


"Di situ!"


"Bagaiman aku bisa tau bagian yang sakit kalo kamu tidak memberi tau!"


Dita menunjuk bagian bawahnya yang masih tertutup selimut dengan jarinya.


Perlahan kembali berdiri dan berjalan menuju kamar mandi di bantu oleh Dicky.


"Sudah sampai sini saja,apa mas mau menemaniku sampai ke kamar mandi?"

__ADS_1


Dicky segera melepaskan tangan Dita.


"Mas,leher dan dada kamu......?"


"Kamu pikir saja sendiri siapa yang berani melakukannya!"


Wajah Dita memerah karena malu atas kelakuannya,dan malah menyalahkan Dicky.Segera ia masuk ke kamar mandi dan menutupnya rapat dan membersihkan Diri.


Sementara menunggu Dita mandi,Dicky sudah menghubungi kantor Dita untuk meminta izin bahwa Dita hari ini tidak bisa berangkat bekerja karena sakit.


Dicky fikir Dita memang sedang sakit,karena memang baru saja Dita mengeluh sakit.


Tok,tok,tok


"Dit,sudah belum mandinya?lama banget?"


"Iya mas,ini sudah kok." teriak Dita dari dalam kamar mandi.


"Kamu nggak papa kan?"


"Iya gak papa"


Jawab Dita sambil berjalan keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut masih basah dan hanya mengenakan jubah mandi.


Selesai Dicky mandi,dan berpakaian Dita sedang siap-siap dengan baju kantornya.


"Kamu mau kemana?"


"Katanya sakit? Hari ini nggak usah ke kantor,aku sudah menghubungi tempat kerjamu."


"Sudah mendingan."


"Cepet banget sembuhnya."


Dita hanya menoleh kearah Dicky dan memandang tajam kearahnya tanpa sepatah kata pun.


"Apa!kamu menyalahkan aku?"


Segera Dicky membuka kaosnya dan menunjukan seluruh tanda merah jejak kenakalan Dita semalam.


"Lihatlah ini,jika aku yang memaksamu lalu ini maksudnya apa!" Sambil berjalan mendekati istrinya.


Dita hanya bisa diam terduduk di tepi tempat tidur,memikirkan hal semalam.


Bagaimana bisa semudah itu ia serahkan tubuhnya pada laki-laki yang tidak ia cintai? meski dia adalah suaminya tapi bukankah Dita tidak mencintainya,bagaimana bisa Dita yang memintanya terlebih dahulu.


Karena jika dilihat dari tanda merah di beberapa bagian tubuh Dicky itu berarti Dita melakukannya tanpa rasa terpaksa.


"Apa semalam aku yang memulainya mas?apa aku yang memaksamu?apa semalam aku mabuk? sepertinya aku tidak minum alkohol kenapa bisa seperti ini?"

__ADS_1


"Apa kau habis meminum sesuatu?"


"Tidak." Dita menggelengkan kepalanya.


"Apa kau habis minum sesuatu?"


"Tidak." menggeleng lagi.


Sesaat mereka saling Diam,lalu terdengar suara ketukan dari pintu kamar mereka.


Ternyata bu Ratih sudah berdiri di balik pintu saat Dicky membuka pintu kamar.


"Apa kalian nggak mau turun untuk menemani mama sarapan?"


"Iya ma,sebenrar ya Dita sedang sakit."


Bu Ratih mendorong tubuh Dicky dan menerobos masuk kedalam kamar,lalu menghampiri Dita.


Memegang dahi dan pipi Dita.


"Apanya yang sakit nak?bilang sama mama,kita ke dokter ya nak ya..."


"Iya mama benar,kita ke dokter ya."


Dita hanya menoleh kearah Dicky lalu menggeleng pelan.


"Apanya yang sakit Dit?kapala kamu pusing?"


Dita hanya mengangguk pelan.


"Hanya pusing?benar kita tidak perlu kedokter?" tanya bu Ratih lagi.


Dita kembali menggeleng.


"Katanya tadi di bagian itu......"


Dicky menghentikan ucapanya saat Dita melotot kearahnya.


"Bagian mana?" Tanya bu Ratih pada Dicky.


"Ya di kepala ma,tadi bagian kepalanya sakit katanya."


Nampak di ujung bibirnya bu Ratih menyunggingkan senyum,merasa hari ini menang dari kedua bocah yang selama ini mengelabuinya.


"Kalian pikir aku tidak punya cara untuk menyatukan kalian? jika kalian sampai punya anak mustahil kalian akan berpisah." ucap bu Ratih dalam hati.


"Kalo begitu istirahatlah biar Dicky yang membawakan sarapanmu keatas."


"Iya ma....."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2