Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
Bab 39


__ADS_3

Bu Ratih menemani Dita sementara Dicky turun untuk mengambilkan sarapan Dita.


"Suapi istrimu Dik,mama mau turun dulu nanti mama kesini lagi."


"Iya ma."


Dita makan di suapi suaminya,setelah dirasa mertuanya sudah turun Dita segera merebut sendok dan piring yang berada di tangan suaminya.


"Sini aku bisa makan sendiri."


"Tapi bagaimana kalo sampai mama kembali?"


Di kembalikannya piring dan sendok ke tangan Dicky.


Dan kembali makan di suapi Dicky.


"Apa masih terasa sakit?"


"Sedikit."


"Maaf ya,aku membuatmu sakit."


"Mama bilang pertama kali rasanya memang sakit,lalu...."


"Lalu....apa?"


"Nggak papa lupakan lah."


"Lalu untuk selanjutnya tidak akan terasa sakit lagi,begitu maksudnya?"


Dita hanya diam pura-pura tidak mendengarkan perkataan Dicky.


Sedangkan Dicky kembali menyuapi Istrinya sampai tak tersisan.


"Dit...."


"Hmmmm....." Masih sambil mengunyah suapan terakhirnya.


"Apa,maksud kamu tadi mau melanjutkannya lagi?"


"Tidak!"


"Benarkah?"


"Maksud kamu apa mas? kamu tidak tau seperti apa rasa sakitnya."


"Kalo memang masih sakit kita ke dokter saja."


"Gak perlu mas aku malu."


"Yakin gak perlu ke dokter?"


Dita hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


Bu Ratih datang membawakan obat sakit kepala untuk Dita.


"Obat apa ini ma?" tanya Dicky pada mamanya.


"Obat sakit kepala,Dita bilang tadi kepalanya sakit?"


"Iya ma,tolong bawa sini obatnya mas" pinta Dita,lalu segera meminumnya.


"Kamu nggak ke kantor Dik?"


"Kata mama tadi Dicky suruh jagain Dita....?"


"Oiya mama lupa,yaudah Dit kamu istirahat aja ya nak.Dicky,jangan kemana-mana jagain Dita aja disini."


"Dicky laper ma....mau sarapan dulu."


"Habis sarapan masuk kamar lagi jagain Dita!"


"Iya....iya ma....."


Benar saja setelah sarapan bu Ratih buru-buru menyuruh Dicky segera naik kembali ke kamarnya dengan alasan takut Dita kenapa-kenapa karena sedang sakit.


Ketika Dicky masuk kedalam kamarnya,di lihatnya Dita sedang berganti pakaian rumah yang tadinya sempat memakai baju kantor.


Dicky segera keluar lagi menunggu sampai Dita selesai berganti baju.


Sekitar lima menit kemudian Dicky kembali masuk ke dalam kamar,tak terlihat keberadaan Dita disana.


Terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


batin Dicky karena begitu lama Dita tak kunjung keluar.


Di ketuknya pintu kamar mandi.


"Dit....."


"Iya mas....."


"Kamu nggak papa?kenapa lama sekali dikamar mandi?"


Dita membuka pintu kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya,dan berjalan keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.


Dicky hanya bisa menelan ludah,sebagai pria dewasa yang normal melihat pemandangan seperti itu tentu saja membuat hasratnya meronta apa lagi baru saja semalam ia menikmatinya.


"Dit,pakailah bajumu."


"Aku gerah sekali mas,padahal sudah mandi sampai dua kali tetep masih gerah."


Dita bangkit dari tidurannya,berdiri menghampiri Dicky yang masih diam mematung di depan pintu kamar mandi.


Dita mulai menarik tangan Suaminya menuju tempat tidur dan mulai menggoda suaminya.


"Dit.....kamu ngapain?"

__ADS_1


Dita masih saja menggoda Dicky dengan mengalungkan lengannya ke leher Dicky dan mulai menciumi dada suaminya.


Dicky langsung memegang kedua lengan istrinya dan berusaha menjauhkan tubuh Dita dari dirinya.


"Dit,jangan-jangan ini memang ulah mama.Bukankah tadi kamu habis di kasih mama obat?"


"Itu kan hanya obat sakit kepala mas......"


"Sadarlah Dit,kamu terpengaruh oleh obat."


Meski sejujurnya Dicky mulai terpancing dengan perlakuan Dita padanya tapi Dicky masih ingat bagaimana Dita meringis menahan sakit akibat ulahnya semalam.


Sebenarnya kalau di pikir semalam mereka sama-sama mau awalnya juga sama-sama merasa gerah dan gelisah sama seperti yang di rasakan oleh Dita saat ini.


"Mas....."


"Dit,jangan.Aku nggak mau menyakitimu lagi."


Dita malah membuka handuk yang hanya satu-satunya pembungkus tubuhnya,membuat Dicky membelalakkan matanya.


Melihat pemandangan yang membuat pria normal manapun sudah pasti akan menyukainya.


Dita kembali mendekat kearah Dicky yang hanya pasrah menikmati kenakalan Dita.


"Gadis bodoh!"


Dita sudah tak perduli apapun,dan Dicky mulai melayani kemauan istrinya.


Dicky mulai menikmati setiap inci tubuh istrinya.


Karena sejujurnya Dicky sudah mulai menyukai istrinya entah sejak kapan yang pasti ketika Dicky melihat Dita bersama Bram ada perasaan tak rela dihatinya,hingga membuatnya merasa harus melindungi Dita dari pria bejat macam Bram.


Dan mereka melakukan kembali hal yang pernah mereka lakukan semalam dengan perlahan dan sangat berhati-hati karena takut membuat Dita merasakan sakit lagi.


Lengkuhan dan desahan beradu di antara mereka,tak ada kata sakit atau apapun seprti semalam.


Karena memang semalam Dita sempat menjerit sakit,namun Dicky mengabaikannya karena semalam Dicky sudah seperti kesetanan selain pengaruh obat semalam adalah pertama juga buat Dicky sehingga tak tau kalau Dita akan benar-benar merasa sakit.


Tapi kali ini Dita seperti menikmatinya,ia mulai mengimbangi gerakan suaminya.


Hingga akhirnya mereka mencapai titik puncak kenikmatan bersama.


Kemudian keduanya lemas dan tertidur bersama dengan posisi saling berpelukan masih dalam keadaan polos.


Siang harinya,Dicky terbangun karena bunyi ringtone hapenya yang tak berhenti berdering.


Di raihnya hape laku di usapnya layar ponsel tersebut.


"Halo...." masih dengan suara parau khas orang bangun tidur.


"Dik......kalian nggak bangun makan siang?"


"Iya ma....."

__ADS_1


Sambil mengucek mata dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur,Dicky berusaha mengumpulkan kesadarannya.Saat melihat tubuh istrinya yang polos di balik selimut dia hanya tersenyum.


Bersambung......


__ADS_2