
Sore harinya seperti biasa,bu Ratih merasa bosan hanya tidur-tiduran saja di ruangan.
"Mar....kita ke taman,bosan di kamar terus."
"Baik bu,saya temani ke taman."
Mereka bergegas ke taman,bu Ratih berharap bisa bertemu dengan Dita lagi ditaman seperti kemarin.
Namun sayang,Dita tak kunjung muncul.
Akhirnya bu Ratih mengajak bik Mar ke ruangan Dita,namun bu Ratih terkejut karena tak ada Dita disana.
Bu Ratih menanyakannya kepada perawat,dan betapa terkejutnya bu Ratih karena mendapat informasi bahwa Dita sudah pulang sejak siang.
Bu Ratih kembali ke ruangannya dengan perasaan kecewa.
"Mar.....!"
"Y bu?"
"Kok Dita pulang nggak pamit sama ibu ya?"
"Mungkin non Dita buru-buru atau mungkin ada alasan lain bu."
"Padahal saya sudah sayang banget sama dia,rasanya kayak anak sendiri.Dia anaknya enak kalau di ajak ngobrol."
"Iya bu,sepertinya non Dita anak yang baik."
"Apa kamu setuju dengan saya Mar?"
"Setuju soal apa bu?maaf saya nggak paham."
"Kalau misalnya Dita kita jodohkan dengan Dicky....kira-kira Dicky setuju apa nggak ya Mar?"
"Kalau lihat penampilannya mas Dicky yang keren kayak gitu cewek mana yang bisa nolak sih bu?"
__ADS_1
"Hahahahaha....iya ya Mar,Dicky aja yang terlalu milih-milih."
Bik mar hanya terdiam sambil tersenyum melihat tingkah majikannya,sambil sibuk memijit kaki majikannya tersebut sampai terlelap.
Mungkin terlalu letih mencari Dita sore tadi.
"Dik,mau langsung pulang kerumah atau mau ke rumah sakit dulu loe?"
"Kerumah sakit lah.....ngapain pulang kerumah gak ada orang juga."
"Yaudah gue pulang duluan ya shob....ati-ati lu jangan nabrak lagi."
"Beres lu juga ati-ati,jangan jelalatan liatin babon mulu fokus liat jalan."
"Enak aja,gue udah gak cari babon lagi shob.....mau ngedeketin Dita."
"Gampang banget sih lu jatuh cinta,gak cinta kan monyet?eh maksudnya gak cinta monyet kan? hahahhaa....."
"Kurang ajar lu Dik......monyet...monyet enak aja.elo apaan lutung?!" Rey menonyor kepala Dicky dan berlari menuju mobil.
"Ampun bos....Saya pulang dulu Tuan Dicky yang terhormat." goda Rey sambil melajukan pelan mobilnya.
Dicky pun tak mau kalah dari Rey,Dicky segera tancap gas melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit bu Ratih sudah tertidur lelap sedangkan bi Mar tertidur di sofa tempat tunggu pasien di sebelah bu Ratih.
Dicky merebahkan tubuhnya di kursi,melepaskan jas dan menggulung lengan bajunya sampai siku.
Di sandarkan kepalanya di ranjang tempat tidur bu Ratih.
Dicky kembali beranjak sat mendengar suara gemuruh,dia kira gunung meletus atau gempa bumi ternyata suara perutnya.
Cacing-cacing di dalam perutnya sedang melakukan aksi demi besar-besaran menuntut hak mereka.
Akhirnya Dicky memutuskan keluar untuk mencari makanan seadanya.
__ADS_1
Saat sedang lahap-lahapnya menyantap sate kambing di temani sang nasi dan sahabatnya es jeruk,suara bergetar dari kantong celananya.
"Halo Rey...!"
"Dik,lu lagi ngapain?"
"Kepo banget sih lu!"
"Berisik banget sih Dik?lu belum nyampe rumah sakit?kok berisik banget ini masih di jalan ya?lu nggak nabrak orang lagi kan Dik?!
halo....halo....Dik,lu masih disana kan Dik?"
Rey membrondong pertanyaan seperti petasan di tahun baru cina,panjang tanpa jeda.
"Iya gue masih disini,lagi makan ni gue."
"Makan apaan Dik,rame banget?
"Makan Sate di pinggir jalan ni gue,lu mau?"
Segera Dicki menekan tombol kamera.
"jepret"
"klik" Foto sate yang tinggal tusuk-tusuknya saja terkirim ke Rey via chat.
"Sialan lu Dik! gue kira chat dari siapa,buru-buru gue buka ternyata elu.Kirim foto sisa makan elu lagi!"
"Hahahaha.....makan tu tusuk sate,hahahaa"
"Gue lagi nungguin balesan chat dari si Dita nih.....malahan elu yang masuk."
"Ciye-ciye...yang lagi punya gebetan baru,makasih lu sama gue,gara-gara gue tuh elu bisa ngegebet tuh cewek."
Setelah selesai makan dan membayar dengan uang seadanya,Dicky berjalan menuju rumah sakit yang memang tak jauh dari tempatnya makan mungkin lima menit sudah nyampai kamar Bu Ratih.
__ADS_1
Bersambung....