Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
Bab 6


__ADS_3

Satu minggu berlalu.


Bu Ratih sudah berada di kediamannya karena sehari setelah kepulangan Dita,dokter memperbolehkan bu Ratih untuk pulang juga.


"Pagi sayangku...."


"Pagi mam......"


Dicky menarik kursi untuk mamanya duduk,barulah dia sendiri duduk dan sarapan bersama.


"Ma....hari ini jadwal mama kontrol,nanti jam makan siang Dicky anter mamah ke rumah sakit ya ma."


"Mama naik taksi aja deh sama bik Mar."


"Nggak papa ma....nanti mama siap-siap jam makan siang Dicky jemput mama,oke?"


"Iya deh iya..tapi kamu janji ya....nurut sama mama."


Bik Mar yang mendengar percakapan antara ibu dan anak hanya senyam senyum sendiri,karena paham betul kemana arah pembicaraan mereka akan bermuara.


JODOH


"Ma......emangnya kapan sih Dicky pernah ngelawan mama,gak nurut sama mama?"


Bu Ratih hanya tersenyum mendengar jawaban putranya.


"Dicky berangkat dulu ya mah,takut telat."


"Iya...ati-ati ya sayangku......"


Dicky mencium punggung tangan mamanya,dan berlalu pergi menuju mobilnya.


"Bik....jagain mamah ya,jangan boleh ngapa-ngapain,jangan boleh makan yang aneh-aneh."


"Siap den Dicky."


Dicky segera memacu kendaraannya menuju kantor,sesampainya di kantor di lihatnya Rey sedang senyam senyum dengan hapenya.


"Ehem..!"


"Eh...!pagi bos..." Sapa Rey spontan sambil melemparkan hapenya ke meja karena kaget.


"Setiap kali deket sama cewek,kambuh lagi lu Rey."


Ejek Dicky sambil berlalu memasuki ruangan Kekaisarannya di kantor Jaya Group.


"Elu kan belum tau rasanya jatuh cinta Dik,Gue sumpahin lu kalo jatuh cinta lebih gila dari gue." bisik Rey pada tembok yang membisu di sebelahnya.


Rey segera membuntuti Dicky,membacakan jadwal Dicky selama seharian nantinya.


"Maaf Yang Mulia.....hamba ingin memohon izin pada tuanku."

__ADS_1


Sambil gaya suara Rey di buat-buat se formal mungkin dan dengan gaya sang ajudan yang hendak menyembah sang raja.


"Katakanlah wahai rakyatku,sesungguhnya apa maumu?"


"Maafkan hamba yang mulia,hamba hendak memohon izin keluar saat jam makan siang sampai waktu yang belum bisa di tentukan yang mulia."


"Enak saja kau,berani-beraninya kau meminta izin keluar?!


Memang ada keperluan apa kau sampai berani-beraninya meminta izin keluar!"


"Maaf tuanku,hamba hendak mengantarkan Dita ke rumah sakit guna melaksanakan kontrol yang mulia,mohon untuk memberikan hamba Izin yang mulia."


"Tidak bisa....!"


Mereka sering kali berdrama Raja-rajaan seperti sandiwara pada opera atau pertunjukan jika Rey sedang menginginkan sesuatu dari Dicky.


"Ya ampun Dicky.....! emangnya kenapa elu nggak ngizinin sih?"


"Elu temenin gue anter nyokap kontrol juga."


"Apa kita barengan aja sekalian?"


"Nggak! gue males ketemu sama tuh cewek!"


"Jangan bilang sebel Dik....ntar elu suka baru tau rasa!"


"Gue?"


"Sama tuh cewek?"


"kecuali sudah punah cewek di muka bumi ini baru ada kemungkinan kecil gue suka sama dia."


"Ati-ati lu Dik,gue rekam kata-kata lu.Jangan sampe lu jatuh cinta"


"Mungkin suatu saat gue bakal jatuh cinta,tapi masak iya sama dia,bekanya elu Rey?!"


Saat jam makan siang Dicky segera bergegas menuju rumah dan mengantarkan mamahnya menuju rumah sakit.


Sedangkan Rey setelah menghabiskan makan siangnya,segera bergegas menuju rumah Dita.


" udah nunggu lama ya Dit?"


"Nggak kok mas,kami barusan aja keluar."


"Berangkat sekarang yuk,nanti keburu jam makan siang habis."


"Iya mas,ayo tante."


Dita pun berangkat kontrol ke rumah sakit di antar Rey di temani tantenya.


Sesampainya di rumah sakit,kebetulan nama Dita langsung mendapat giliran dinpanggil.

__ADS_1


Dita langsung masuk dan di periksa oleh dokter.


"Nona Dita anggraeni."


"Iya....saya."


"Silahkan masuk nona." kata seorang petugas yang keluar dari ruang pemeriksaan.


"Ayo tante....."


Dita pun masuk menjalani pemeriksaan di temani tantenya,sedangkan Rey menunggu di kursi ruang tunggu di depan loket pengambilan obat.


Saat Rey sedang duduk santai menunggu Dita selesai menjalani pemeriksaan,keluarlah bu Ratih di gandeng oleh Dicky,dan Bi Mar menyusul di belakangnya sambil menenteng tas milik majikannya.


Mereka keluar dari kamar pemeriksaan sebelahan dengan ruangan Dita di periksa.


"Lho ada Rey?"


Tanya bu Ratih sambil duduk di bangku kosong yang berjajar di samping Rey.


Rey segera mencium unggung tangan bu Ratih.


"Tante.....gimana hasil pemeriksaan dokter?"


"Semuanya sudah baik Rey,kamu ngapain disini Rey?"


"Rey lagi nganterin pacarnya mah...."


Jawaban Dicky menyambar pertanyaan bu Ratih.


"Bagus dong Rey kalau kamu punya pacar,daripada nggak laku Rey.Mau jadi apa?bujang lapuk?makin tua makin gak ada yang mau Rey,mumpung sekarang masih ganteng buruan cari istri ya Rey.Papah kamu kan juga sudah umur pasti juga sudah pengen punya cucu."


Rey dan bi Mar hanya tersenyum mendengar perkataan bu Ratih,karena mereka paham siapa yang akan paling merasa tersindir disini.


Sampai suara seorang apoteker menghentikan obrolan mereka.


"nyonya Ratih purwasih."


"Iya," Dicky segera maju mengambilkan obat untuk mamanya.


Setelah mengambil obat mereka segera pulang meninggalkan Rey yang masih mwnunggu Dita selesai di periksa.


"Jangan lama-lama pacarannya Rey....ingat kerjaan di kantor masih menumpuk!"


Dicky berusaha mengingatkan Rey,sambil mengepalkan jemarinya ke arah Rey menonjokkan tangannya ke udara dari kejauhan sambil berkomat kamit


"Awas lu Rey....gara-gara elu lagi nih."


Sedangkan Rey hanya tersenyum mengejek.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2