
Bu Ratih masih berbaring di tempat tidurnya,dengan telaten Dicky menyuapinya.
"Ma.....mama cepat sembuh ya....."
"Nak....boleh mama meminta sesuatu padamu nak?"
"Apa ma?katakanlah.Bahkan jika mama memaksa Dicky untuk segera menikah dengan gadis manapun pilihan mama,Dicky akan melakukannya ma."
"Hmmmm....."
"Ma.....mama jangan marah sama Dicky lagi ya ma,Dicky mohon ma...."
"Mulai sekarang mama nggak akan lagi maksa-maksa kamu nak,terserah kamu bagaimana mau menjalani kehidupan.
Kamu sudah dewasa,sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah,kamu sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri nak."
"Ma....jangan bicara seperti itu ma...."
Dicky menangis di pangkuan mamanya.
"Dicky mengaku salah ma,Dicky memang anak tak berguna ma.Mulai sekarang Dicky akan menuruti semua kemauam mama."
Bu Ratih hanya terdiam,airmatapun mulai menggenang di sudut matanya.
Sebenarnya hal yang paling ia tidak sukai adalah ketika melihat putra kesayangannya menagis.
Padahal rencananya bu Ratih hanya akting,dan awalnya hanya ingin membuat Dicky mau menuruti semua kemauannya termasuk segera menikah.
Namun saat melihat Dicky menagis bu Ratih benar-benar ikut bersedih dan akhirnya suasana jadi mengharubiru karena ibu dan anak menangis bersama sambil saling berpelukan.
Bu Ratih semakin yakin sesayang apa Dicky pada mamanya,dan begitu takut kehilangan mamanya.
__ADS_1
"Nak....mama cuma mau kamu segera mencari pendamping hidup,Wanita seperti apa yang sedang kau cari sebenarnya nak?"
"Ma....Dicky cuma mau membahagiakan mama,jadi gak ada pikiran sedikitpun untuk membagi rasa cinta Dicky untuk perempuan lain ma.Jika memang Dicky harus menikah haruslah dengan wanita yang bisa menggantikan Dicky untuk menjaga dan menyayangi mama ketika Dicky sedang tidak ada di samping mama."
"Baiklah nak mama akan memberikanmu kebebasan menikah dengan siapapun,mama akan memberikan waktu satu bulan.
Kamu harus bisa memperkenalkan seorang perempuan kemama sebagai calon istri kamu,tapi kalau dalam satu bulan kamu tidak bisa membawa seorang menantu untuk mama maka kamu harus bisa terima siapapun nanti wanita pilihan mama."
"Sa....tu...bulan ma?" tanya Dicky.
"Apa terlalu lama waktu satu bulan?brti tiga minggu saja cukup?"
"Eh....nggak ma,satu bulan saja."
"Baiklah waktunya di mulai dari sekarang."
"Ma...besok dong....."
"Iya ma....iya,sekarnag mama istirahat duku ya."
"Tapi kamu janji ya,mau nikah sama pilihan mama kalau kamu nggak bisa cari calon sendiri!"
Bu Ratih mulai mengancam.
"Iya iya ma.....Dicky janji,besok biar Rey datang kesini membuat surat kontrak buat perjanjian kita."
"Ide yang bagus itu,biar kamu nggaka ingkar janji.Segera telfn Rey sekarang."
"Ya ampun ma....Dicky cuma bercanda,cuma gitu aja masak pakai surat kontrak?!"
"Mama cuma takut kamubingkar janji,cepetan telfn Rey sekarang!"
__ADS_1
"Iya ma...iya,sabar dong ma...."
Dicky pun segera menghubungi Rey malam itu juga,dan menyuruh rey untuk membuat surat perjanjian antara dirinya dan mamanya.
Dicky menjelaskan secara detail,bahkan bu Ratih meminta agar telfnnya di loudspiker.
Supaya beliau lebih leluasa ikut bicara dengan Rey selaku pembuat surat perjanjian,karena merasa bingung dengan pedebatan ibu dan anak yang satu itu akhirnya Rey memutuskan untuk kerumah Dicky.
Akhirnya surat perjanjian pun sudah selesai,dan di tandatangani oleh kedua belah pihak,Rey dan bik Mar menjadi saksi dalam perjanjian mereka.
"Ma....ini serius pakai surat perjanjian segala?"
"Kan tadi kamu sendiri yang kasih ide?"
"Tadi Dicky cuma bercanda mam...."
"Tapi sayangnya,mama lagi bicara serius,siapa suruh bercanda dalam keadaan seserius ini?"
Rey dan Dicky berjalan keluar dari kamar bu Ratih.
"Hahahaha....udah lah Dik.....terima nasib aja,buruan kawin nunggu apa sih?keburu kiamat ntar elo belum kawin,emang nggak nyesel?"
"Diem lu Rey,gak usah ikut campur! lagi kesel ni gue."
"Keselnya sama siapa,kok marahnya ke gue sih?"
"Tau lah Rey....!"
Mereka hanya ngobrol tak penting sambil nongkrong santai di teras depan rumah.
Bersambung....
__ADS_1