
"Setelah mama pulang nanti kalian tidak akan pisah kamar lagi kan?"
Dita dan Dicky hanya saling pandang dan tersenyum.
"Tidak mamaku yang cantik...." jawab Dicky sambil mencium punggung tangan mamanya dan di susul oleh Dita yang juga tak mau ketinggalan mencium punggung tangan mertuanya.
"Mama hati-hati ya dijalan."
"Pokoknya kalian harus bekerja keras membuatkan cucu untuk mama."
"Siap ma.....Dengar kan istriku?mama yang menyuruhnya,jadi kamu tidak bisa menolak."
Dita mencubit perut suaminya sedangkan bu Ratih tersenyum melihat tingkah keduanya sambil berlalu masuk kedalam mobil.
Mereka saling melambaikan tangan,sampai mobil yang di tumpangi bu Ratih melaju keluar dari halaman rumah mereka.
"Ayo masuk." sambil menggandeng tangan istrinya,Dicky melangkah masuk kedalam rumah.
"Apa setelah ini kamu masih akan tinggal di kamar tamu?"
"Tentu saja.Bantu aku pindahkan barang-barang mas."
Dicky menarik lengan Dita dan mendudukannya di sofa ruang keluarga di depan tivi,mendekatkan wajahnya ke wajah Dita.
"Jangan macam-macam mas!"
"Nggak cuma macam-macam berbagai macampun nggak papa lagipula kamu ini kan istriku."
"Lalu bagaimana dengan surat kontrak itu?"
"Suratnya sudah batal secara otomatis sejak kita melakukannya malam itu,karena kita berdua sama-sama melanggarnya."
"Jadi siapa yang akan di denda mas?"
"Aku saja yang di denda,dan semua uang dendanya akan ku serahkan padamu untuk menebus rasa sakitmu malam itu."
__ADS_1
"mmmmmppp."
Dicky mencium bibir Dita dan ********** hingga Dita gelagapan berusaha mengatur nafasnya.
Dicky melepaskan ciumannya dan kembali ******* bibir istrinya dengan rakus,Dita hanya bisa pasrah menerima perlakuan suaminya.
Karena tak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali pasrah,karena menolakpun percuma mereka sudah pernah melakukannya meski dalam keadaan pengaruh obat.
Dan sekarang mereka kembali melakukannya di atas sofa dibdepan tivi,dalam keadaan sadar tanpa pengaruh obat sama sekali.
Bahkan setiap hari mereka melakukannya berkali-kali karena memang sedang hangat-hangatnya menikmati kehidupan pengantin baru,apalagi mereka hanya tinggal berduaan saja di rumah tersebut jadi meraka bebas melakukannya kapanpun dan dimanapun.
Bahkan saat Dita sedang masakpun Dicky sempat menggodanya dan mereka melakukannya di dapur tanpa rasa malu pada siapapun.
Seperti biasa Dita pulang dari kantor bersama Rin,saat perjalanan pulang Dita teringat bahwa beberapa cadangan makanan di rumah sudah mulai menipis.
Akhirny dia putuskan mampir sebentar ke supermarket tak jauh dari rumah untuk berbelanja.
Rin membantu membawakan keranjang bawaan Dita.
"Kamu Dita ya?" kata seorang pria berdasi yang sedang menggendong seorang anak kecil berumur sekitar tiga tahunan dan seorang perempuan berseragam khas pengasuh anak.
"Maaf anda ini siapa ya?apa anda mengenal saya?" tanya Dita dengan bingung.
"Ya ampun Dita....masa kamu lupa? Aku Riko teman sekelas kamu waktu kelas 3 SMA."
"Riko.....Riko......Riko yang itu?"
"Iya,yang dulu cintanya pernah kamu tolak cuma karena kamu nggak suka sama merk coklat yang aku bawa saat nembak."
Mereka tertawa saat mengingat kejadian di masa lalu.
Akhirnya mereka mencari tempat yang tak jauh dari supermarket tempat mereka berbelanja tadi.
"Ini anak kamu,atau......adik kamu Rik?"
__ADS_1
"Anak aku lah Dit,masak seumuran aku masih punya adik sekecil ini?ngaco kamu.!"
Mereka kembali tertawa bersama.
"Kamu sendiri udah nikah belum?"
"Sudah."
"Anak kamu sudah berapa?"
"Baru saja satu bulanan aku nikah Rik."
"Wah.....lagi anget-angetnya dong,hahahaha"
"Ah kamu,ngomong-ngomong istri kamu kenapa tidak ikut?"
"Mama nya Syilla sudah meninggal tiga tahun yang lalu saat melahirkan Syilla."
"Maaf ya Rik,aku nggak tau.Dan aku malah membuka luka lama kamu."
"Gak papa kok Dit,Aku sudah berusaha menerima kenyataan kok."
"Yang sabar ya Rik,kamu nggak ada niat buat nikah lagi?anak kamu masih terlalu kecil sangat membutuhkan sosok ibu di masa kanak-kanaknya."
"Banyak yang bilang begitu Dit,tapi siapa juga yang mau sama dudan beranak kayak aku Dit?Dulu saja waktu masih muda kamu nggak mau sama aku,apa lagi sekarang pasti perempuan carinya yang singgel."
Obrolan mereka terhenti saat Dita menerima panggilan telfon dari Dicky.
"Halo.....ya mas?"
"Iya aku pulang sekarang."
Setelah memutus panggilan telfon,Dita segera berpamitan pada Riko teman masa SMA nya dan sebelum berpisah mereka sempat saling tukar nomor hape untuk mempermudah komunikasi.
Bersambung.....
__ADS_1