Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
BAB 75


__ADS_3

"Pagi Rey...!"


Sapa Dita pada sahabat suaminya yang sudah sangat lama menunggu sepasang suami istri keluar dari kamar mereka.


"Pagi Dita....pagi juga bos!"


Reyhan melirik kearah Dicky setelah menjawab sapaan Dita dengan senyuman penuh ledekan.


"Ngapain lu liatin gue kayak gitu! naksir lu?"


Tanya Dicky geram melihat senyuman Rey yang penuh arti.


"Geer lu! gue doyan cewek tau!"


Jawan Rey kesal,sepertinya mereka sedang berbagi kekesalan pagi ini.


"Sudah sudah,ayo cepat kita sarapan nanti telat ke kantornya lho! malah berdebat."


"Dita,bos itu bebas.Mau dateng jam berapa pun boleh.hehehehe...ya kan bro!"


"Enak aja lu,justru karena gue bosnya harus ngasih contoh yang baik ke semuanya dan tanggung jawab gue di kantor justru lebih gede tau!"


"Hehehe,bos ntar kalo gue minta cuti buat ngurus pernikahan siapa yang bantuin lo di kantor?"


"Emang kapan?"


Tanya Dicky.Obrolan mereka seperti tak ada habisnya bahkan saat disela-sela mereka sarapan sekalipun.


Rey sedikit kesal karena obrolannya tentang cuti tak dapat tanggapan dari Dicky,seolah Dicky acuh dan cuek dengan keputusan sahabatnya untuk segera menikahi perempuan pujaan hatinya.Yang dulu pernah menjadi mantan atasan istrinya tersebut.


Setelah bersama-sama,Dicky segera bersiap untuk berangkat kekantor.Seperti biasa,Rey yang mengemudikan mobil sedanhkan Dicky duduk di sampingnya.


Tak lupa Dicky mencium mesra kening sang istri sebelum berangkat ke kantor,tak lupa ia sempatkan menggendong kedua buah hati kembarnya sebelum berangkat kekantor untuk booster penyemangatnya seharian dikantor nanti.


"Emang kamu dah yakin dan apakah hatimu sudah mantap untuk menikahinya Rey?"


Tanya Dicky pada Rey ketika mereka sudah berada di dalam mobil yang tengah melaju menuju kantor tersebut.


"Yakin lah Dik,lo aja dah punya anak masa gue nikah aja belum."


Jawab Rey sambil fokus menyetir.


"Jadi lu nikah cuma karena iri sama gue? Songong lu Rey!"

__ADS_1


"Songong apanya? mama gue udah tiap hari ribut tanya kapan gue nikah tau Dik! Pengang telinga gue rasanya."


Rey mengusap telinganya yang sebenarnya baik-baik saja,sambil mengendalikan laju mobil dengan salah satu tangannya.


"Rey....nikah itu harus dari kemantapan hati lu sendiri,bukan karena pengang telinga lu yang tiap hari di omelin sama emak lu!"


"Haaalooooo! Trus gimana dengan lo sendiri? Bukannya pernikahan lo dengan Dita dulu juga karena paksaan mama lo!"


Rey membantah petuah dan nasehat Dicky dengan mengingatkan kembali awal pernikahan sahabat yang ada disampingnya,dan kini malah mengguruinya.


"Itu kan......"


"Apa? Mau jawab apa lu! Sok sokan menggurui orang lain!"


Dicky mendengus kesal karena nyatanya Rey memang benar adanya.Dan Rey tertawa penuh kemenangan karena telah berhasil mematahkan ucapan Dicky yang sok menasehatinya itu.


Tanpa terasa perjalanan mereka terhenti karena memang sudah sampai pada tujuan.


Dicky segera berjalan menuju ruangannya dengan diiringi oleh Rey di belakangnya.


Saat di kantor Rey begitu segan pada bosnya,sama seperti karyawan yang lain sungguh berbanding terbalik dengan keakraban mereka saat di rumah atau di luar kantor.


Rey dan Dicky memang tidak mau mencampur adukkan urusan pribadinya dengan pekerjaan,saat di luar kantor mereka memang sahabat dekat namu saat di kantor mereka memiliki kapasitasnya sendiri-sendiri.


Semua orang disibukkan dengan pekerjaan masing-masing,tak terkecuali pemimpinnya Dicky Angga Wijaya.


Namun Kini Dicky selalu menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya dirumah dan menanyakan kabar kedua buah hatinya yang kini sedang lucu-lucunya.


Usia mereka belum minginjak satu tahun dan kini mereka sudah mulai merangkak kesana kemari,membuat siapapun yang melihatny menjadi gemas.


'Tok,tok,tok'


Suara ketukan terdengar dari balik pintu ruang kerja Dicky.


"Iya,siapa? Masuklah!"


Ucap sang pemilik ruangan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya,bahkan matanya tak lepas dari layar laptop yang menyala di hadapannya.


"Permisi bos,ada kiriman paket yang di titipkan di pos satpam depan."


Ucap Rey sambil meletakkan kotak berbungkus kertas kado berwarna merah bergambar bunga-bunga.


Dicky hanya melirik kotak yang diletakkan diatas mejanya dengan enggan.Namun pandangannya kembali tertuju pada warna dan motif pada pembungkus kotaknya.

__ADS_1


"Hahahaha! Apa peneror itu tidak salah kirim hadiah?"


Rey hanya diam,pandangannya tampak dingin melihat kotak yang tergeletak diatas meja kerja bosnya itu.


Pasalnya entah sudah berapa kali Dicky mendapat beberapa kiriman surat ancaman dan box misterius yang juga disertai dengan surat ancaman dari orang misterius beberapa bulan terakhir.


Dicky memang sengaja tak pernah menceritakan kejadian ini pada keluarganya,entah ibu atau bahkan istrinya.


Dicky tak mau membuat wanita-wanita kesayangannya menjadi cemas karenanya.


Hanya Reyhan sang sahabat yang menjadi tempat keluh kesah serta solusi untuk mencari tau siapa pengirim teror selama ini.Namun hasilnya masih nihil,karena hingga sekarang masih belum diketahui siapa orang asing pengirim teror selama ini.


Meski merasa terusik namun Dicky tak terlalu ambil pusing dengan teror yang selama ini dia terima,selama mereka tak pernah mengganggu keluarganya.


"Buka Rey!"


Titahnya,mulai mengalihkan pandangannya yang semula serius pada layar laptop kini beralih ke kotak misterius tersebut.


"Jadi anda juga penasaran dengan isinya bos?"


Ledek Rey tanpa berani tertawa.


Karena Rey tau surat ancaman ini selalu diiringi dengan beberapa kejadian yang akan menimpa sahabatnya ini.


Beberapa waktu yang lalu Dicky sempat menerima surat ancaman bahwa dirinya tak akan selamat karena jurang kematian telah menunggunya,dan benar saja setelah itu Dicky hampir saja mengalami kecelakaan dan mobil yang ditumpanginya hampir terperosok kedalam jurang.Beruntungnya Tuhan semesta alam masih melindunginya hingga hari ini.


Pernah juga beberapa waktu lalu Dicky menerika ancaman bahwa celaka tak hanya akan terjadi dalam perjalanan,bahkan di tempat yang teduh sekalipun bisa saja terjadi.


Dan benar saja saat di kantor tiba-tiba saja pendingin ruangan tempat Dicky bekerja tiba-tiba saja mati dan Dicky merasa ruangannya terasa sangat panas luar biasa.


Ketika Dicky baru saja hendak keluar tiba-tiba saja ada percikan api yang berasal dari AC didalam ruangannya.


Beruntungnya tak terjadi hal buruk padanya dan kerusakan bisa segera di tangani oleh tenaga teknisi tanpa menimbulkan korban jiwa.


Setelah diketahui ternyata ada yang dengan sengaja menyabotase kerusakan AC dirungan Dicky,itu artinya ada menyusup yang kemungkinan orang suruhan dari sang peneror.


Dengan malas Rey mulai membuka bungkus berwarna merah dengan motif bunga mawar tersebut,perlahan bungkus mulai terbuka.


"Kurang ajar!"


Teriak Rey dengan wajah kesal lalu pandangannya beralih ke Dicky yang langsung bangkit menengok isi kotak tersebut dengan penasaran.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2