
Hari ini di kediaman keluarga Wijaya sedang kedatangan banyak tamu,bukan untuk menghadiri acara hajatan atau pesta melainkan mereka yang datang adalah untuk ikut berbela sungkawa serta berduka cita atas dinyatakan meninggalnya Dicky.
Meski hanya potongan kaki Dicky yang ditemukan secara utuh namun pihak kepolisian sudah menyatakan tak ada korban yang dinyatakan selamat dalam tragedi kecelakaan yang sungguh mengerikan tersebut.
Bagaimana tidak,setelah mobil berguling dan menabrak pembatas jalan lalu terjun bebas kedalam jurang dan meledak di dasar jurang sana.
Kepergian Dicky menyisakan duka yang begitu mendalam bagi keluarga,terutama sang istri Dita. Sejak kepergian Dicky,Dita seperti orang yang tak lagi kenal dirinya sendiri. Hanya kedua buah hatinyalah yang menjadi pelipur laranya selama ini,namun jika kembali ia mengingat kenangan bersama sang suami membuatnya tak lagi mampu membendung kesedihan.
Dita dan kedua buah hatinya kini tinggal di keluarga Wijaya bersama bu Ratih sang mertua. Karena memang bu Ratih yang kesepian untuk tinggal sendiri bersama bi Mar.
Sedangkan Reyhan yang kini mulai pulih karena sempat koma beberapa waktu,kini sudah mulai bisa beraktivitas kembli seperti semula. Dita dan bu Ratih mempercayakan urusan kantor pada Reyhan untuk sementara waktu sembari mengajari Dita secara perlahan agar suatu saat nanti mampu menggantikan posisi Dicky kelak.
Rencana pernikahan Reyhan dengan Tiwi yang awalnya ditunda,akhirnya dibatalkan. Entah apa permasalahan diantara mereka berdua yang memjadi tombak hingga membuat mereka memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Padahal saat Reyhan sakit,Tiwi begitu sabar dan telaten mengurus Reyhan dirumah sakit.Menungguinya dan mengurusnya disela-sela kesibukannya di kantor,bergantian dengan mamanya Reyhan.
"Selamat siang tante,Dita ada?"
Tanya Rey pada bu Ratih yang sedang asyik menunggui kedua cucu kembarnya bermain diteras.
Sikembar bulan dan bintang yang kini sudah berusia dua tahun sedang aktif-aktifnya berlarian kesana kemari dan memainkan apapun yang ada di depan mereka.
"Oh Rey, ada di dalam masuk dulu ya biar tante panggilkan."
Jawab bu Ratih sambil menggandeng kedua cucunya di kanan dan kirinya lalu berjalan pelan memasuki pintu rumahnya kiikuti oleh Rey yang kini sudah di persilahkan duduk.
Sikembar yang sudah tak lagi asing langsung menggelendoti Reyhan,si Bulan dengan manjanya duduk di pangkuan Rey karena sering kali Rey memangkunya dan bermain bersama merek berdua membuat mereka merasa nyaman saat berada di dekat Rey.
"Papa!"
Ucap Bulan terbata sambil memeluk Rey manja.
Seketika membuat semua orang terkejut mendengar ucapan Bulan terhadap Rey tak terkecuali Dita dan bu Ratih yang baru saja mendekat kearah mereka.
Mata Dita memandang lekat kearah Rey dan kedua buah hatinya yang nampak begitu dekat dan akrab.
Jika saja kamu masi ada disini mas,pasti saat ini kamulah yang sedang asyik bermain bersama mereka.Bukannya Rey,dan pastilah kamu yang mereka panggil papa bukannya orang lain.
Tanpa terasa air mata sudah membanjiri pelupuk mata Dita,bu Ratih segera menenangkan Dita agar tak berlarut-larut dalam kesedihan saat berada di depan kedua buah hatinya.
Segera Dita menyeka air matanya sambil berbalik badan agar tak terlihat oleh Bulan dan Bintang yang masih asyik bermanja-manja dengan Rey di ruang tamu.
__ADS_1
"Ada apa Rey?"
Tanya Dita sambil duduk di sofa berdekatan dengan sang mama mertua.
"Sini dulu sayang,jangan pada gangguin om Rey ya....!"
Dita memanggil kedua buah hatinya untuk mendekar agar mereka berhenti mengganggu Rey dengan bermanjaan seperti itu.
"Udah nggak apa-apa Dit,biarin aja mereka melakukan apa yang mereka mau padaku. Aku bisa memakluminya kok."
Ucap Rey sambil tersenyum dan tak menghentikan tingkah manja Bulan yang ada di pangkuannya dan kini Bintang mulai berebut untuk ikut kepangkuan Rey juga.
"Ayo jangan pada berebut gitu,sini salah satu sama mama aja ya...!"
Ucap Dita tanpa di gubris oleh kedua bocah kembar yang seperti sedang berebut papa mereka sendiri saja.
Akhirnya supaya adil Rey memangku keduanya di sisi kanan dan kiri di pangkuannya supaya keduanya tak lagi berebut.
"Papa papa,mama mama!"
Ucap Bulan dan Bintang bergantian,membuat hati Dita semakin miris bagaikan teriris.
Tak lama setelah mereka berdua asyik bermanja di pangkuan Rey,datang para pengasuh si kembar untuk mengajak mereka mandi.
"Ayo sayang kita mandi dulu,mama sama om Rey sedang ada urusan."
Ucap bu Ratih merayu kedua cucu kesayangannya tersebut.
Meski awalnya mereka menolak untuk dimandikan pada akhirnya mereka harus merelakan pangkuan hangat Rey dan terpaksa harus ikut sang oma ke kamar mandi bersama sang pengasuh juga.
Sedangkan Rey dan Dita yang kini masih berada di ruang tamu hanya berdua saja,kini mulai serius membahas soal urusan kantor.
Dita dan Rey merasa sedikit canggung ketika keduanya menyadari posisi mereka kini sedang berdekatan bahkan wajah mereka yang begitu dekat membuat Rey dapat dengan leluasa memandangi wajah Dita.
"Rey!"
"Eh iya Dit,gimana? Maaf."
Jawab Rey gelagapan saat Dita memanggilnya padahal mereka sedang duduk bersebelahan namun karena kurang konsentrasi dan terlalu fokus memandangi wajah Dita membuat Rey jadi salah tingkah sendiri.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Eh ng....anu,nggak apa-apa. Maaf aku hanya sedang teringat......"
"Apa, Dicky?"
Tanya Dita menebak apa yang sedang difikirkan Rey saat ini.
"Eng...iya! Maaf aku nggak bermaksud untuk....."
"Iya,biarlah dia tenang disana."
Ucap Dita lirih sambil menghela nafas panjang.
"Dit....!"
"Iya Rey, ada apa?"
Tanya Dita sambil menoleh kearahnya.
"Eh,eng....nggak ada kita lanjutkan lagi."
Rey semakin gugup lalu mereka kembali melanjutkan kembali urusan kantor yang sedang di informasikan kepada Dita.
Rey berpamitan pulang setelah urusannya dengan Dita selesai,namun saat Rey hendak keluar dari pintu rumah bu Ratih tiba-tiba saja Bulan berlari menghampiri Rey disusul juga dengan Bintang yang berlari dibelakangnya dengan kaki kecilnya.
"Sayang,om Rey mau pulang dulu ya. Om Rey capek sayang....."
Bujuk Dita pada keduanya yang nampak tak perduli.
"Udah nggak apa-apa Dit,aku pulang nanti saja. Main sebentar sama mereka bisa menghilangkan rasa lelahku seharian dikantor."
Main sebentar sama mereka bisa menghilangkan rasa lelahki seharian dikantor ....
Kalimat yang tak asing untuk Dita,karena kalimat itulah yang sering dia dengar dari Dicky saat masih ada dulu.
Setelah pulang kantor Dicky selalu menyempatkan diri untuk menggendong kedua bayi kembarnya secara bergantian.
Dia selalu mengatakan hal yang sama saat Dita meminta Dicky beristirahat karena sudah lelah di kantor seharian.
Bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan hal yang sama dalam waktu yang berbeda.
BERSAMBUNG*.....
__ADS_1