Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
BAB 59


__ADS_3

Sesampainya dirumah hari sudah hampir sore,Dicky menyuruh laki-laki muda yang mengantarnya pulang untuk memarkirkan mobilnya kedalan garasi sekalian.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah pak."


Jawabnya sopan dengan wajah tertunduk.


"Siapa nama kamu?"


"Saya Riyan pak,ini kunci mobilnya saya pamit pulang dulu."


Dicky merogoh saku celananya,membuka dompet lalu mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan kepada Riyan sebagai tanda terima kasihnya karena sudah merepotkan Riyan seharian ini.


"Maaf pak bukannya saya menolak rezeki,tapi bapak gak perlu repot-repot karena ini sudah kewajiban saya untuk melayani bapak sekeluarga dengan baik."


"Nggak papa diterima saja,ini tip buat kamu."


Dengan sedikit memaksa Dicky memberikan beberapa lembar uang tersebut ke telapak tangan Riyan,namun Riyan bersikeras menolaknya.


"Maaf pak,tapi saya benar-benar tidak bisa menerimanya."

__ADS_1


"Kenapa?"


Tanya Dicky penasaran karena zaman sekarang siapapun butuh uang,apalagi hari ini Riyan sudah rela meninggalkan pekerjaannya di kantor yang mungki saja tidak sedikit demi meluangkan waktunya untuk mengambil mobil bosnya di tengah kemacetan bahkan sampai mengantarkannya pulang dan tak mau menerima uang tip darinya.


"Maaf sekali lagi pak,Karena apa yang saya kerjakan hari ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan denga apa yang sudah perusahaan lakukan untuk saya sekeluarga."


Baru saja Dicky akan melanjutkan percakapannya dengan Riyan,keluarlah Dita dari dalam rumah menyapa mereka.


"Saya pamit pulang dulu ya pak."


"Baiklah kalau begitu kamu hati-hati dijalan ya,dan terima kasih Riyan."


"Mari bu."


Dicky sebenarnya masih penasaran dengan Riyan karena selain begitu tulus dia juga nampak sangat polos,diusianya yang nampak masih sangat muda dia juga sangat sopan dan gigih.


Riyan ternyata hanyalah karyawan biasa yang bekerja di kantor pusat milik Dicky.Dulunya dia bekerja di salah satu kantor cabang namun karena kegigihannya dalam bekerja Riyan mendapat rekomendasi di mutasi ke kantor pusat meski hanya sebagai karyawan biasa,namun kenaikan finansial membuatnya bisa menjunjang biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit.


Bahkan perusahaan Dicky juga membantu menanggung biaya operasi ibunya yang menderita sakit kanker payudara,meski kini telah di operasi namun ibunya masih perlu perawatan di rumah dakit dengan biaya yang tidak sedikit.


Untuk karena itu Riyan merasa sangat beruntung karena dapat bekerja di kantor pusat dengan gaji yang lumayan jika dibandingkan dengan gaji dari pekerjaannya di kantor cabang dahulu.

__ADS_1


Dicky menuju meja makan setelah tubuhnya terasa segar selesai mandi,dan Dita sudah menungguinya disana.


"Sayang,entah kenapa pikiranku dari tadi kok nggak tenang ya?"


"Memangnya apa yang sedang mengganggu pikiranmu sayang?"


Tanya Dicky sambil menggenggam jemari istrinya untuk menenangkan hatinya untuk meredakan kegelisahan dihati istrinya.


"Entah lah,aku kepikiran terus sama anak-anak."


"Percayalah,mereka pasti akan baik-baik saja."


"Kapan ya yang mereka boleh dibawa pulang?"


"Secepatnya,kita do'akan selalu mereka ya sayang."


"Do'aku tak pernah putus untuk kebaikan mereka sayang,semoga bisa secepatnya boleh dibawa pulang."


"Amin,sekarang kita makan dulu ya aku sudah laper sekali dan kamu makan yang banyak biar cepat pulih,jadi kalo sudah saatnya anak-anak pulang kamu sudah kuat untuk mengurus mereka."


Dita tersenyum setelah mendengarkan perkataan suaminya,membuatnya semangat agar segera pulih dan nantinya bisa segera mengurus kedua buah hatinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2