I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
HARGA DIRI


__ADS_3

Minggu pagi Hilya segera bangun dari tidurnya ia bergegas mandi karena hari minggu adalah hari libur sekolah dan hari liburnya bekerja, ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, Arbhi yang mendengar langkah Hilya segera membuka pintu kamarnya.


"yaya...!" panggil arbhi dari kamarnya


"yaaa oom" sahut Hilya ia menghentikan langkahnya dan kembali naik dan menghampiri arbhi


"ada apa oom??"


"lu mau balik? bareng gue ajah, gue mau ke rumah mami",


"oh . heum oom ke rumah bu ambar jam brapa?"


"jam 10" ucap arbhi sembari menggaruk kepalanya


"waduh siang amat padahal gue pengen pagi pagi banget ke rumah abah, biar agak lamaan gituh di rumah abah" ucap hilya dalam hatinya


wajahnya terlihat gusar ia ingin mengatakan pada Arbhi ia ingin pulang lebih dulu namun Hilya ada sedikit rasa takut pada Arbhi. Arbhi yang melihat tingkah Hilya memandang dengan rasa heran


"woy .. kenapa lu? ga mau bareng sama gue..?" tanya Arbhi dengan dinginnya


"heum kesiangan oom kalo jam segitu" ucap Hilya dengan hati-hati


"hadeuhh... kalo kata gue bareng yaa bareng ga boleh nolak" ucap Arbhi ia masuk kembali ke kamarnya dan meutup pintunya


"yaaaah sue amat... ck.. nyebelin lah" ucap Hilya ia kesal akan ucapan Arbhi, ia masuk kembali ke dalam kamarnya ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur di lihatnya jam di ponsel menunjuk pukul 06.30 pagi,


"ck ... masih lama ke jam 10, masa gue harus beresin runah dulu ini hari libur gue" gerutu Hilya dalam hatinya


Pukul 07.00 Arbhi mengetuk pintu kamar Hilya


"tok..took...toook... yaya" Arbhi mengetuk pintu kamar Hilya dan memanggilnya nya


mendengar suara Arbhi, Hilya dengan cepat membuka pintu ia melihat Arbhi sudah mandi dan berganti pakaian, rambutnya yang dibiarkan tergerai dan basah dengan mengenakan kaos putih jeans belel dan sobek di bagian lutut, arbhi terlihat sangat maskulin pagi itu, Hilya memandang Arbhi dengan pandangan yang sedikit terpesona


"wooy yaya.." arbhi mencoba menyadarkan lamunan Hilya


"ah, eum ... ohh iyaa oom ada apa"


"kok ada apa sih, katanya lu mau balik..! jadi gak.." ucap arbhi sembari pergi meninggalkan hilya


"iyaa oom iyaa..", ucao Hilya dengan antusiasnya ia mengejar Arbhi yang mulai menuruni anak tangga


Di perjalanan Arbhi dan Hilya hanya diam pagi itu sangat canggung berkali kali Hilya melirik pada Arbhi


"jangan curi curi pandang sama gue.. kenapa lu terpesona sama gue..!". ucap arbhi tiba tiba


"adduuhh yaya.. lu bego banget sih kenapa lu bisa terpesona sama cowok jutek, pelit, tua lagi, kayak oom arbhi sih" ucap Hilya dalam hatinya.


"ihh gak kok.. siapa yang terpesona, cuma aneh aja, tadi oom ngajak jam 10 kok jadinya jam 7" ucap Hilya hati hati


"heum, gak apa-apa gue juga mau agak pagi kerumah mami" ucap Arbhi dengan datar.


Diperjalanan Hilya melihat rumah mewah dengan cat putih yang sudah mulai menghitam dan tak terawat, Arbhi melihat ekspresi wajah Hilya yang terlihat sedih, ia lalu mengehentikan laju kendaraannya tepat di depan rumah itu


"heum, kok berhenti oom ada apa" ucap Hilya seraya menolehkan wajahnya ke Arbhi, Arbhi hanya diam tak menjawab


"oom,..?"


"lu puasin deh lihat rumah tua itu, gue perhatiin setiap lewat jalan ini dan lu lihat rumah itu wajah lu berubah gitu" ucap Arbhi dengan nada dinginnya


"heheeh, gak apa-apa kok oom, cuma mikir sayang ajah rumah gede kayak gitu ga ada yang ngerawat, di jual enggak di sewa enggak di rawat juga enggak" ucap Hilya


"ada yang rawat kok,. tuh liat". ucap Arbhi seraya menunjuk seorang pria paruh baya yang sedang menyapu halaman.


"heum, iyaa sih, tapi kayak ga di tempati"


"kalo lu penasaran lu turun ajah" ucap Arbhi sembari melirik sinis pada Hilya


"iih gak kok..gak..yukk lanjut ajah" Hilya berkata sembari tertawa tertahan.


Sesampainya di depan rumah Hilya, Arbhi terdiam melihat keadaan rumah Hilya yang semi permanen dengan etalase usang yang bertuliskan "gado gado wak jenar"


"ini rumah lu" tanya Arbhi


"iyaa oom, mampir yuk oom" ajak Hilya dengan senyum yang menghiasi wajahnya


"ga usah deh, next time ajah" ucap arbhi menatap hilya dengan matanya yang tajam tanpa senyum sedikit pun


"yaudah makasih yaa oom" ucap Hilya ia segera keluar dari kendaraan Arbhi dan msuk ke dalam rumahnya


Setelahnya Arbhi kembali melajukan kendaraannya menuju kediaman orang tuanya, sesampainya di kediaman orang tuanya ia segera mencari keberadaan mami, dan di dapati nya Bu Ambar sedang menyuapi anak bontotnya di taman belakang


"cuuup" arbhi mencium pipi adik lelaki nya itu

__ADS_1


"tumben kamu pagi datangnya" ucap bu Ambar pada anak sulung nya itu


"heum, iyaa mi bareng si yaya"


"yaya...??" bu ambar mengernyitkan dahinya ia asing dengan nama yaya


"Hilya ..... Hilya" ucap Arbhi menegaskan bahwa yaya itu adalah Hilya


"oooh hahah kirain siapa, oh iyaa gimana dia baik kan. anaknya rajin juga"


"heum iya tapi bikin kesel seenaknya ngatur kayak mami"


"luuooh maksud kamu..?"


" berani ngelawan arbhi mi"


"hahaha bagus dong, mami malah suka yang kayak begitu, biar kamu juga terbiasa, bersih, ga manja ga kasar",


"hadeuuhhh.. udah ah mau tidur lagi". ucap arbhi meninggal kan bu Ambar di taman belakang


"ehh. Arbhi, Jessica mau pulang loh kamu tau gak..??" teriak bu ambar pada Arbhi yang mulai berjalan menjauh


"yaaa udah tau mi" sahut Arbhi


namun ia tak ingin terlalu panjang lebar membahas tentang Jessica ia masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya kembali.


Sementara itu di kediam Hilya ia siibuk bercengkrama dengan ibu dan adiknya itu, sementara wak Rudi sedang tak berada di tempat ia harus pergi ke luar kota bersama pak andi


pukul 11.00 hilya sibuk membantu wak Jenar di warung gado gado karena banyak sekali pembeli siang itu, tiba tiba satu unit mobil mewah berhenti tepat di depan kediaman hilya seorang wanita berpakaian biasa turun dan memesan gado gado pada hilya tak tanggung-tanggung ia Memesan 30 porsi gado gado namun sang pemilik mobil mewah itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya ia masih berdiam di dalam mobil mewah nya,


"jadi berapa bu?" ucap si perempuan itu yang terlihat hanya seorang assisten rumah tangga


"jadi 300 ribu neng" ucap wak Jenar


Lalu perempuan itu memberikan uang 500 ribu rupiah pada wak jenar


"loh. neng, ini kelebihan neng" ucap wak Jenar, Hilya yang mendengarnya langsung menghampiri wak Jenar


"gak apa-apa bu, itu sisanya sengaja di lebihkan buat ibu" ucap si perempuan itu Seraya tersenyum


"ga usah neng, makasih, segini ajah udah cukup" ucap wak Jenar sembari mengembalikan uang sisa pada perempuan itu, ia terkejut dan bingung ia menoleh ke arah mobil yang berkaca hitam,


"aduh bu tolong di terima ini dari majikan saya hanya ingin berbagi saja"


si perempuan itu kembali ke mobilnya membawa semua pesanan dan uang kembalian dari wak Jenar, dan ia segera pergi meninggalkan kediaman Hilya.


"heum enak yaa mak, jadi orang kaya mau ngasih ke siapa ajah bisa" ucap Hilya


"heum iyaa teh, tapi kalo mau sedekah itu kasih ke yang lebih butuh ajah, kalo kita kan masih Alhamdulillah cukup" ucap wak jenar sembari tersenyum pada hilya.


Pukul 12.30 Arbhi turun dari kamarnya dan menuju ruang makan ia melihat menu masakan siang itu


"jangan di liatin ajah di makan dong..." ucap bu ambar


"ga selera mi" ucap arbhi ia tak jadi menyantap hidangan yang sudah di masakan oleh salah satu asisten rumah tangg


"kamu mau makan apa?" tanya bu Ambar


"nanti ajah lah mi di rumah di masakin yaya" ucap arbhi


bu Ambar membelalakkan matanya ia terkejut akan ucapan rbhi


"haaah...!! ga salah denger nih mami, hahah ketagihan niyee sama masakan hilya", ledek bu ambar


"iih apaan sih mami"


"hahahha, mami seneng kamu sedikit berubah, bisa menghargai masakan orang lain," ucap bu ambar namun arbhi hanya diam tak menjawab.


Sore harinya hilya sedang duduk bersandar di kursi bambu di teras rumahnya sembari menjaga warung gado gado milik wak Jenar, lalu seorang ibu paruh baya turun dari mobilnya menghampiri kediaman Hilya


"mau gadi gado nya yaa", ucap si ibu dengan nada angkuh


"ohh iya mau berapa bungkus bu?" tanya Hilya


"2 ajah, anterin ke mobil yaa makan di tempat ajah", pinta si ibu itu kembali


"iyaa bu", ucap Hilya sembari tersenyum ia lalu memanggil wak jenar dan segera membuatkan gado gado untuk si ibu tersebut.


setelah selesai Hilya segera membawa dua porsi gado-gado dan dua gelas teh tawar hangat untuk si ibu itu


"loh mbak, kok pake nangka sih saya kan bilang ga pake?" ucap si ibu itu


"maaf bu tadi ibu ga bilang kalo ga pake nangka" ucap Hilya hati hati

__ADS_1


"iih si mbak asal ajah saya bilang kok tadi" si ibu mulai meninggi kan suaranya


"ohh maaf bu saya bikinin baru ajah", ucap hilya


"nih.. saya ga mau yang ini kecium bau nangka dan ada nangkanya juga" ucap ketus si ibu itu,


Hilya hanya diam dan menarik nafasnya dalam-dalam


"sabar yaya, pembeli adalah raja" ucap Hilya dalam hatinya


"udah lah bu, makan ajah", ucap si pria yang ada di samping nya


"ga mau ah, biarin ajah biar dia ganti" ucap si ibu kembali


Hilya kembali meminta wak Jenar untuk membuatkan pesanan gado gado yang si ibu inginkan setelah selesai hilya kembali mengantarkan pesanan itu kembali


"ini bu gado gadonya ga pake nangka" ucap hilya hati hati


"heum, tunggu yaa jangan pergi dulu" ucap si ibu itu ia meminta Hilya untuk tetap berdiri menunggu ia makan gado gado itu ia memasukan suapan pertama ke mulutnya


"cuiihh apaan nih gado gadonya ga enak sayurnya kelembekan, udah pak jangan di makan gado gadonya ga enak", ucap si ibu itu kembali sembari mengomel ia mengembalikan piring ke Hilya


Hilya terkejut akan ucapan ibu itu, baru kali ini ada yang menilai gado-gado buatan wak jenar tidak enak,


"nih saya bayar" si ibu itu memberika. uang 10 ribu pada hilya


"maaf bu jadi,20 ribu" ucap hilya dengan rasa sabarnya


"heh....!! yang abis itu cuma satu piring yang satunya kan ga enak saya bayar satu ajah dong, lagian gado gadonya gak enak" ucap si ibu dengan angkuh


"tapi ibu udah makan satu suap bu, ibu udah pesan dua" ucap hilya dengan sedikit meninggikan suaranya


"ehh kamu siapa bentak bentak saya, gado gado gak enak ajah belagu amat.. nih gue bayar" si ibu melempar uang 50 ribu ke wajah hilya, membuat wakbjenar dan penduduk sekitar berkumpul mendengar keributan itu


"ambil kembaliannya buat kamu!!" ucap si ibu itu


hilya mengepalkan tangannya dan menarik nafasnya emosinya mulai memuncak mendengar ucapan hinaan dari si ibu itu


"HEH... GUE TAU LO ORANG KAYA TAPI JANGAN SEENAKNYA GITU, GUE TAU GUE ORANG MISKIN TAPI GUE PUNYA HARGA DIRI, AMBIL TUH DUIT SAMA LU GUE GA BUTUH.." Hilya berteriak dan menendang pintu mobil itu dan melempar uang itu kembali ke wajah si ibu


"teh, udah teh gak apa-apa..!" wak jenar menarik tangan hilya begitu


"udah miskin belagu", bisik si ibu itu kembali


"LU NGOMONG APA, TURUN LOO...!" hilya terus menendang mobil itu ia emosi mendengar ucap ibu itu


semua warga dan wak jenar pun meminta si pemilik untuk turun. dan meminta maaf, seketika itu suasana menjadi ramai banyak yang menghujat dan menenangkan Hilya yang sedari tadi memaki dan memarahi si pemilik mobil


"TURUN LO JANGAN CUMA NGEHINA DOANG, GUE EMANG MISKIN TAPI GUE PUNYA HARGA DIRI..", ucap Hilya ia semakin emosi wak jenar saja tidak bisa menenangkan Hilya lalu tiba tiba kedua tangan besar dan jari jemari yang panjang


memegang tangan Hilya


"zzzaaappp haaap" ia menarik hilya dan mendekap hilya ia terkejut siapakan pria itu


"oom arbhi!!" ucap hilya ia melihat kedatangan Arbhi sore itu


"ada apa ini" Arbhi bertanya pada Hilya ia melihat nafas hilya yang tersengal dan air matanya jatuh dan ia melihat wak jenar pun menangis


"tok .tok...buka .." arbhi mnegetuk pintu mobil mewah itu,lalu suami si ibu itu pun membuka kaca mobilnya


"heuh... ni saya bayar", si ibu itu menyodorkan uang nya


"minta maaf...!" ucap arbhi


"ihh si mas ni, wajar dong kalo saya komplen ga enak",


"saya bilang minta maaf sama dia" Arbhi menarik Hilya, Arbhi berdiri di belakang Hilya dan memegang kedua bahu Hilya,


si ibu enggan meminta maaf, Arbhi terus memandangi wajah si ibu dengan tatapan memburu


"maaf deh, saya lagi kesel jadi kebawa deh semuanya" ucap si ibu itu dengan nada ketusnya


"saya memang orang miskin dan ibu saya hanya penjual gado gado, tapi asal ibu tau, kami tak memberikan atau menyuguhkan sesuatu yang tidak layak untuk pembeli kami, saya memang orang miskin tapi saya punya harga diri bu, bila memang ibu mampu tolong jangan pernah makan di sini lagi, kasian dengan mobil mewah yang ibu bawa, tidak usah bayar, semoga ibu dapat hidayah dan tidak menghina pedagang kecil lainnya" ucap hilya sembari menghapus air matanya.


arbhi hanya diam mendengar ucap Hilya, Hilya meninggalkan kerumunan dan si ibu dan suaminya. dengan cepat pergi meninggalkan kediaman Hilya. Hilya duduk di teras ia masih menangis di pelukan wak jenar


"sabar teh, gak apa-apa biarin mungkin si ibu itu lagi kalut sabar yaa emak gak apa-apa kok",


"dia ngehina mak, teteh sakit hati" tangis Hilya pecah,


"sabar... biarin orang ngehina kita yang penting kita jangan pernah menghina orang lain yaah", ucap wak jenar sembari memeluk dan membelai rambut Hilya,


Arbhi hanya diam meliaht keadaan Hilya sore itu. ia tak bisa berkata apa-apa. ia datang sore itu untuk menjemput hilya untuk kembali pulang ke kediamannya.

__ADS_1


__ADS_2