I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
TAWARAN


__ADS_3

Sore itu pak Andi beserta istrinya masih berada di kediaman wak Rudi, Hilya tak berani ikut berkumpul karena sepertinya ada sesuatu yang harus dibicarakan.


"pak rudi, kami berdua kesini sebetulnya ada sesuatu yang akan kami bicarakan, mengenai masalah pak Rudi yang kemarin saya siap membantu seluruh biaya yang akan di keluarkan untuk menebus tanah milik orang tua Hilya" ucap pak Andi dengan hati-hati


"Alhamdulillah" wak Rudi mengucap syukur, begitu juga Hilya ia mendengar ucapan pak Andi dari bilik kamarnya.


"saya dan istri saya siap bantu dan saya juga yang akan bernegosiasi dengan pak Bondan agar ia menurunkan sedikit dari beban bunga, bagaimana pak Rudi apakan boleh?" tanya pak Andi


"tentu saja boleh pak, saya justru berterimakasih sekali pada bapak ibu, yang sudah mau bantu saya dan keluarga, saya hanya takut pak. itu adalah hak Hilya hak anak yatim piatu, hanya itu peninggalan harta untuk Hilya dari kedua orangtuanya" ucap wak Rudi dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca,


wak Jenar hanya bisa menenangkan suaminya seraya membelai punggung suaminya yang sudah mulai menua itu. pak Andi dan bu Ambar hanya tersenyum mendengar ucapan pak Rudi.


"yaa insha Allah kami akan membantu sebisa kami pak, tapi maaf untuk surat surat tanahnya akan saya pegang dulu yaa pak"


"iyaa silahkan pak untuk jaminan nanti",


"dan maaf ini pak Rudi untuk biaya pembayaran nanti akan saya sistem potoyn gaji dari gaji perbulan milik pak rudi yaa pak..!" ucap bu Ambar.


"iyaa ibu, tidak apa-apa saya setuju" wak Rudi menerima tawaran bu Ambar dan pak Andi sore itu.


Ketika semuanya sedang berbincang-bincang dengan suasana santai tiba tiba ponsel bu Ambar berdering


📲


"halo mi, lagi dimana" ternyata yang menelepon adalah Arbhi


"lagi di rumah pak rudi kenapa??,"


"mi gimana ada ga ART buat aku?,"


" ga ada yang mau jadi asisten kamu arbhi, udah kamu beresin sendiri ajah rumah kamu itu, belajar mandiri,"


"ga bisa gitulah mi, arbhi ada job ni mau bikin sketsa ga mungkin lah peralatan Arbhi bawa kerumah mami ribeet tau" arbhi mulai mengomel pada maminya


"haddduuh pusing mami nih arbhi...!, lagian sih ah jadi orang tuh yang sopan jangan seenaknya" bu Ambar kembali mengomeli arbhi


"yaudah iya.. iya... arbhi janji kalo dapet lagi arbhi ga bakal kasar kasar"


"yaudah nanti mami cariin" bu ambar menutup teleponnya


📱


bu Ambar menarik nafasnya dalam-dalam ia mencoba untuk tenang menghadapi sikap dan sifat Arbhi.

__ADS_1


"kenapa mi?," tanya pak Andi pada istrinya yang terlihat kesal


"si Arbhi mau pulang ke rumahnya tapi minta ada assisten baru, yaa mami bingung siapa yang mau kerja bareng Arbhi" ucap bu ambar


"HILYAA AJAH BU..!!!" Hilya keluar dari kamarnya sembari berteriak, membuat semua yang ada di ruang tamu menjadi terkejut.


"sst... teteh ga sopan iih" ucap wak jenar sembari menarik lengan Hilya, Hilya hanya diam sembari mengerucut kan bibirnya.


"Hilya mau bu, jadi assisten nya mas Arbhi..!,"


"Serius kamu?, Arbhi itu galak loh kasar" ucap bu Ambar


"gak apa-apa bu, Hilya cuma mau bantu abah, buat bayar cicilan pinjaman dari ibu sama bapak, karena tanah di itu milik Hilya" ucap hilya mencoba meyakinkan semuanya.


pak Andi dan bu Ambar saling bertatapan ia ragu dan takut hilya tidak akan nyaman tinggal dan bekerja dengan Arbhi.


"sekolahmu bagaimana nak?" tanya pak andi pada Hilya


"Hilya bisa berangkat dari rumah mas Arbhi dan siangnya Hilya bisa beresin rumah mas Arbhi,"


"kamu yakin?"


"insha Allah yakin pak"


wak Rudi dan wak Jenar hanya saling berpandangan lalu ia menatap Hilya, mereka tak ingin hilya Bekerja menjadi assisten rumah tangga mereka ingin hilya fokus dalam pendidikan nya


"mak, abah gak apa-apa, hitunh hitung teteh bantu abah sama emak buat sehari harinya boleh yaa mak, bah", ucap hilya sembari duduk bersimpuh di hadapan wak Jenar


"teteh yakin mau jadi assisten den arbhi?" tanya wak Jenar


"iyaa mak, teteh mau bantu cicilan abah, insha Allah teteh bisa kok kerjain semuanya"


"yaudah kalo itu mau teteh ga apa-apa, tapi emak cuma titip satu kerja yang jujur yaa, dan jangan sampe bolos sekolah teteh sebentar lagi mau lulus" ucap wak jenar sembari membelai rambut Hilya, Hilya hanya mengangguk mengiyakan


Semua sepakat untuk menjadikan hilya assisten untuk Arbhi, dan malam itu juga Hilya berkemas dan segera ikut bersama bu Ambar untuk di bawa ke rumah pribadi milik Arbhi


Didalam perjalanan tak henti hentinya Bu Ambar memberikan wejangan pada hilya


"*hilya pokoknya kalo arbhi galak dan ngomong ga enak lawan ajah trus kasih tau ibu yaa"


"iyaa bu,"


"ajarin dia buat ga jorok, jangan mau di suruh ambil apapun yang dia sendiri sebenarnya mampu untuk ambil sendiri"

__ADS_1


"iyaa bu,"


"gaji hilya 4juta yaa, soalnya hilya kan sambil sekolah, semua hilya yang cancel ga ada assisten lain"


"apa ga kegedean bu gaji segitu untuk assisten" ucap hilya


"hahaha Hilya hilya...segitu ga kegedean kok. saya cuma titip Arbhi tolong bantu dia untuk mandiri pak andi yakin Hilya bisa karena pak Andi tau Hilya anak yang berani bersuara lantang iyaa kan?"


"hehehe iyaa pak, insha Allah Hilya bisa"


"nah begitu dong" ucap pak andi,


Malam itu hilya sudah berada di kediaman keluarga Sidharta ketika sampai Arbhi belum kembali dari kantornya hanya ada anak kedua dan ketiga keluarga Sidharta


anak kedua keluarga Sidharta yang bernama Aldi Pranata Putra Mahardika Sidharta memilii tinggi 170 dan masih duduk di bangku kuliah semester 2 dan ia adalah kaka kelas Hilya di SMU dulu



ia terkejut akan kehadiran Hilya malam itu


"loh yaya kok ada di sini?" tanya Aldi pada hilya


"ehh ka Aldi, iyaa ka heheeh" Hilya tak menjawab pertanyaan aldi,


"hilya mau jadi assisten nya mas Arbhi mulai malam ini" ucap bu ambar


"haaaah... mami... yang bener aduuh mami nih, sama ajah masuk ke kandang macan mi" ucap aldi ia sangat khawatir pada keputusan mami.


"hahah gak apa-apa kok ka insha Allah baik baik ajah" jawab Hilya


"tuh denger kan.. hilya ajah mau kok" ucap bu Ambar seraya tertawa, namu Aldi masih terlihat sangat khawatir.


"mami....ngantuuuukkkk" rengek anak bungsu bu ambar yang bernama Irgi fahrezi Putra Mahardika Sidharta ia masih berumur 4 tahun. ia menghampiri bu Ambar seraya minta di gendong karena ia sangat mengantuk



"waah irgi ngantuk yaa ayooo bobo yuuk" bu ambar menggendong irgi untuk menidurkan nya dahulu


"hilya tunggu yaa nanti jam 9 Arbhi pulang kok, tadi ibu udah telepon Arbhi"


"ohh iyaa bu" ucap hilya lalu ia duduk di ruang tamu ditemani oleh Aldi.


Aldi masih melihat wajah hilya dengan tatapan tajam ia tak mengizinkan hilya untuk menjadi assisten di kediaman Arbhi karena ia sangat tahu watak Arbhi. malam itu hilya masih terus menunggu kedatangan Arbhi, sebenarnya ia pun merasa sangat takut menjadi assisten Arbhi namun hanya dengan cara ini ia bisa membantu wak Rudi untuk ikut membayar cicilan pinjaman yang di berika oleh keluarga Sidharta.

__ADS_1


__ADS_2