I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
MENERIMA KAMU


__ADS_3

Hilya melihat William yang sedang asyik menonton tivi lalu iapun ikut duduk bersama William


"ah tante.. disini ajah tan.. " ucap william ia menyingkir memberikan tempat yang nyaman untuk Hilya


"iya, kamu udah makan?" tanya Hilya


"udah Tan, tadi bikin mie rebus pake telor"


"kenapa ga pesen lewat online ajah"


"gak ah tan" ucap William ia bangun dari duduk nya dan berjalan menuju dapur tak butuh waktu lama ia datang membawa secangkir air jahe panas


"di minum tan" ucap William menyodorkan cangkir berisikan jahe panas


"makasih yaa,nanti aku minum" ucap Hilya seraya tersenyum


William duduk di dekat kaki hilya lalu ia angkat kedua kaki Hilya dan ia taruh di atas pangkuan nya ia memijit kaki Hilya dengan hati hati


"ga usah wil,"


"ga apa-apa tan, pasti tante kecapean yaa urus rumah besar begini sendirian ajah"


"hahah kamu itu, yaa capek sih tapi kan sudah jadi tanggung jawab tante wil"


"tante, maafin willy yaa"


"maaf kenapa?" ucap Hilya seraya mengernyitkan dahinya


"aku tiba tiba masuk ke dalam keluarga ini" ucap William perlahan


" heumm, wil tante mau tanya kamu jawab jujur yaa, apa bener kamu lost kontak sama ibu kamu"


"demi Allah tan iyaa, aku ga tau mama dimana, mungkin kalo aku tau aku akan temui mama dulu"


"mama kamu sendiri yang bilang papa kamu itu suami tante?"


"iyaa tan itu juga aku desak, pas malamnya dia mau pergi, aku tunjukkan foto papa awalnya mama diam aku terus cecar mama, akhirnya mama bilang iya.. tapi sambil tergesa gesa pergi"


"kemana?" tanya Hilya kembali, willy hanya diam menggeleng kan kepalanya perlahan ia tak tahu kemana ibunya pergi malam itu,


"saat itu kamu umur berapa"

__ADS_1


"10 tahun tan!"


"kamu bohong dong kemrin kamu bilang kamu lost kontak sama mama sudah 3 bulan ternyata dua tahun" ucap hilya


"iyaa, tan maaf"


"heumm yasudah, kamu tinggal di sini yaa selagi papa kamu cari keberadaan mama kamu karena ini semua harus di selesaikan, dan jujur papa kamu benar bener lupa atau ga kenal dengan mama kamu wil"


"gak apa-apa tan willy ngerti kok"


"yasudah, sabar yaa, oia selama ini kamu tinggal dengan siapa?"


"willy tinggal sama kakek, nenek dan paman aku "


"kau di ajarkan mandiri yaa?"


"hehehe iyaa tan, masak sendiri kalo mama pergi lama aku sudah terbiasa di tinggal sama mama dari kecil jadi aku terbiasa mandiri, tapi saat aku tau mama ga kembali aku putusin buat cari papa"


"heumm begitu yasudah" ucap Hilya seraya memandangi wajah willy, hatinya terenyuh melihat anak ini menghabiskan masa kecil di desa dan bekerja keras


"ya allah yaya, dia anak baik yang butuh kasih sayang lu sama Arbhi" ucap hilya dalam hatinya ia merasa terharu, air matanya ingin jatuh namun ia tahan.


beberpaa hari kemudian Arbhi telah kembali namun Hilya tak ada di tempat ia sedang mengunjungi orang tua Arbhi, di rumah hanya ada William.


"kamu udah makan belom?"


"udah kok pa, oia pah apa udah ada kabar keberadaan mama Richa?"


"belom, udah kamu disini ajah dlu" ucap Arbhi


"oia makasih yaa udah mau rawat tante yaya" ucap Arbhi seraya menepuk bahu William


"iyaa, pa bagaimanapun juga dia istri papa, dan dia juga ibu Willy juga kan"


"kenapa kamu ga panggil tante yaya bunda!" ucap Arbhi


"heum malu pah, ngerasa ga pantes" ucap willy seraya tertunduk


"heumm, yasudah". Arbhi meninggalkan William sendiri


malam harinya Hilya telah kambali dari kediaman orang tua Arbhi didapatinya Arbhi tengah duduk di teras menunggu kedatangan Hilya.

__ADS_1


"loh mas, kok udah datang kenapa ga ngabarin aku" ucap Hilya ia terkejut bahwa suami nya itu sudah ada di rumah


" gak apa-apa, sengaja" ucap Arbhi seraya memeluk dan mencium kening Hilya


"William mana?"


" tidur kali sayang,.. dari tadi di kamar terus " ucap Arbhi kembali


"dia dari tadi aku berangkat juga di kamar terus mas kamu ga cek" ucap Hilya ia segera naik ke kamarnya ia membuka pintau kamar William di dapatinya ia sedang tidur meringkuk menyelimuti seluruh tubuhnya


Hilya masuk dan ia pegang dahinya sangat panas,


"mas.. panas banget" ucap Hilya


"willy...wil.. willy bangun wil" ucap Arbhi sembari membangun kan William ia membuka matanya perlahan bola matanya memerah, wajahnya pun sama memerah


"kamu panas banget ayoo bangun kita ke rumah sakit ajah". ucap Hilya, William terduduk kepalanya sangat berat dan pusing


"ga kuat tan, semuanya berputar" ucap Wiliam ia tidur kembali


"ayoo pegang papa cepet" ucap Arbhi sembari menarik lengan william kemudiam memapahnya,, Hilya terhenyak itu baru pertama kali Arbhi menyebut dirinya papa pada William


dengan cepat Arbhi mebawa William ke rumah sakit dan dengan cepat ia masuk ke instalasi gawat darurat ia segera di tangani jarum infus tertancap di lengannya tubuhnya yang kurus dan rambutnya yang tebal dan terlihat semrawut,


keadaan William membaik, ia tertidur pulas


"sayang, kamu pulang ajah yaa" ucap Arbhi pada Hilya


"ga apa apa kok mas, aku disini ajah" ucap hilyya saat itu William sudah mendapatkan ruang perawatan hilya merebahkan tubuhnya di sofa ia melihat Arbhi menyelimuti tubuh William dengan hati hati ia membelai rambut anak itu dengan tulus


"mas Arbhi mulai menerima keberadaan William, aku pun harus bisa menerima nya karena anak tetaplah anak entah itu anak sambung atau anak adopsi aku ikhlas menerima semua ini" ucap Hilya ia terus memandangi kedua sosok itu


William harus di rawat beberapa hari, pagi itu Arbhi sedang keluar untuk mencari sarapan untuk hilya, perlahan William membuka matanya ia melihat sekeliling nya di lihatnya selang infus menancap di lengannya ia melihat hilya masih tertidur di sofa


"tan..." panggil William, sayup sayup hilya mendengar panggilan William ia terbangun


"kamu udah bangun wil, mau minum?"


"iyaa tan boleh" ucap William, Hilya meraih gelas berisikan air hangat lalu memberikannya pada William


"seandainya ini mama, nyaman banget hidup gue, tante yaya baik, papa ga salah pilih, gue harus ceet sehat gue bisa diem ajah di rumah papa sedangkan papa sibuk cari keberadaan mama saat ini" ucap William dala hatinya

__ADS_1


Hilya hanya tersenyum sesekali ia membelai rambut William, ia merasa William sudah menjadi anak sulung baginya, mungkin tak menunggu waktu lama lagi William harus di pertemukan dengan ichi


__ADS_2