
Arbhi membawa hilya keluar dari kamar perawatan wak jenar dan sesampainya di kantin rumah sakit hilya duduk sendiri, dan tak lama kemudian Arbhi datang membawa dua gelas teh hangat
"nih minum dulu" ucap Arbhi sembari menyodorkan gelas berisi teh hangat.
"makasih oom" ucap Hilya.
Arbhi meminum teh hangatnya pelan pelan seteguk demi seteguk, sedangkan Hilya hanya diam memegangi gelas yang berisi kan teh hangat.
"sebenernya ada apa?, ada masalah kamu sama ibu??" tanya Arbhi, Hilya hanya diam menggeleng kan kepalanya
"heum, gak mau cerita??" tanya Arbhi kembali, namun Hilya hanya diam tertunduk menahan sesak
"yaudah kalo ga mau cerita ga apa-apa, aku gak maksa" ucap Arbhi seraya membelai rambut Hilya
Hilya meletakan gelas di samping kursi kosong sembari menarik nafasnya dalam-dalam.
"om, kita masing masing ajah ya dan yaya mau keluar kerja dari rumah oom" ucap Hilya sembari menatap Arbhi dalam dalam,
Arbhi terkejut akan ucapan Hilya saat itu
"aku ga mau ngomong apa apa dulu sebelum kamu cerita ada masalah apa, untuk saat ini aku tau kamu lagi kalut, maaf ini juga salah ku" ucap Arbhi seraya menunduk dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"oom, percuma ini semua cuma bakal nyakitin hati kita masing masing" ucap hilya dengan suara bergetar
"yaya .. kamu tau watak aku kan, aku bilang nanti kita bicarakan," ucap Arbhi dengan nada sedikit kesal
"yaya... cuma ga mau di cap jadi anak pembangkang oom, yaya ga mau di cap jadi anak ga tau terimakasih, yaya juga takut kalo yaya masuk ke dalam kehidupan oom yaya diaggap perebut tunangan orang, yaya juga takut keluarga oom jadi benci yaya" Hilya berbicara sembari menangis tersedu-sedu Sembari menutup wajahnya suaranya bergetar.
"sst.... yaya, apaan sih mikirnya begitu" Arbhi menarik tubuh Hilya dan mendekapnya.
"aku yang milih kamu yaya,aku bener bener tulus mencintai kamu, aku yang akan maju paling depan untuk meyakinkan orang tua kita" ucap Arbhi sembari membelai lembut rambut Hilya
"hhhhaaaahh... ternyata ini yang di takutkan sama Hilya, selama ini gue egois kenapa gue ga mikir sampe sana kenapa gue cuma mentingin perasaan gue doang" ucap Arbhi dalam hatinya ia hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam seraya menenangkan Hilya.
pukul 05.00 pagi Hilya dan Arbhi masuk kembali ke dalam ruang perawatan wak jenar, di dapati nya wak Jenar masih tertidur lelap, Arbhi duduk kembali di sofa matanya terlihat mengantuk, sedangkan Hilya!! duduk di samping wak jenar.
Wak jenar membuka matanya diliriknya Hilya yang sedari tadi duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur wak Jenar, lalu ia juga melihat Arbhi yang tengah duduk di sofa dengan mata terpejam.
"teh," wak Jenar memanggil Hilya
"yaa mak," Hilya mendekati wak Jenar dan memberinya air hangat
__ADS_1
" teh, suruh den Arbhi pulang ajah, kasian dia ngantuk banget" ucapa wak Jenar , namun Hilya hanya diam
"abah pulang jam brapa yaa, apa masih di jalan" ucap wak Jenar kembali
"udah mak, ga usah di tungguin abah kan masih nemenin pak andi,. emak sama teteh ajah ya" ucap hilya
"si neng di rumah sama siapa, udah makan belom dia teh" ucap wak Jenar penuh khawatir
" Alma, teteh titip pak Romli biar dia nginep di rumah pak romli dulu, biar tidurnya bareng teh Dian" ucap hilya dengan tenang
"aa Faisal, jangan di kasih tau ya teh, kasian lagi kerja" ucap wak jenar
"hhhheemmm mak, udah jangan mikir apa apa dulu yaa mak banyak istirahat ajah ya" ucap Hilya seraya membelai rambut ibu yang sangat ia sayangi.
Pukul 10.00 Arbhi berpamitan untuk pulang dan hanya Hilya sendiri menunggu wak Jenar di rumah sakit.
Di perjalanan ponsel Arbhi tak henti hentinya berdering Arbhi melihat nama Jessica tertera di layar ponsel miliknya.
📲
"halo"
"beby... kamu di mana sih, aku nyuruh kamu ke apartemen kok ga datang, kamu tuh ga biasanya tau ga sih kayak gini" Jessica mengomel terus menerus.
"kok mau apa lagi?? emang kamu ga kangen, hei Arbhi aku baru pulang dari Paris yaa, aku bela belain pulang cuma pengen ketemu kamu aku kangen tau gak!!!, kamu malah bilang mau apa lagi, bikin keselll..." Jessica semakin marah ia menutup teleponnya sebelum Arbhi menjawab
Arbhi hanya diam, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu dengan cepat ia melajukan kendaraan menuju apartemen Jessica, sesampainya di sana ia segera masuk ia melihat Jessica sedang duduk sembari memandang ke luar jendela, Arbhi duduk perlahan di samping Jessica.
"Jahat kamu bhi!" ucap Jessica dengan suara parau.
"maaf"
"maaf, tumben kamu bilang maaf," Jessica menoleh heran ke Arbhi dengan mata yang sembab
"kamu...? kamu lagi dekat sama cewek lain, hah.. jawab!!" ucap Jessica dengn nada mengintimidasi, namun Arbhi hanya diam
"jawab Arbhi . jawab....!!" suara Jessica meninggi sembari mengguncang guncang kan bahu arbhi.
"siapa... siapa dia hah.. anyelir...? ga mungkin anyelir udah mati, siapa.. arbhi... siaaaapaaa!!!!" Jessica semakin emosi
Arbhi memeluk dan mendekap Jessica, Jessica merasa sesak ia memukul tubuh Arbhi berkali kali namun Arbhi hanya diam mendekap Jessica.
__ADS_1
"kenapa, dari dulu kamu ga pernah mencintaiku, apa kurang nya aku, aku ... aku... tulus mencintaimu arbhi, aku kembali ke sini demi kamu" tangis Jessica pecah ia menangis pilu.
"maaf... maafin gue Jes, tapi cinta dam perasaan tidak bisa di paksakan,"
"ohh, begitu...!!" ucap Jessica sembari senyum menyeringai
"PLAAAAK....PLAAAK..." Jessica menampar kedua pipi Arbhi namun Arbhi tak melawan
"enak banget loe, ngomong gitu setelah puas sama gue, lo niat ninggalin gue?, iyaakan? gue akan pernah rela lo bahagia sama dia gue akan cari tau siapa cewek itu" ucap Jessica dengan mata penuh amarah
"gua tau gue salah, gue tau lu cinta sama gue tapi dari dulu lu tau kan gue ga pernah, ada rasa sama lu Jessica, dan lu tau gue dari dulu anggap lu temen masa kecil tapi lu maksa dan keluarga lu maksa juga, plis jes, jangan pernah maksain apa yang lu mau"
"gak..!. gue bisa dapetin apa yang gue mau termasuk elu," Jessica menunjuk dada arbhi
"gue akan lakuin segala cara buat jadiin lu milik gue.. titik, "
"gila...". bisik arbhi
"gila, iyaa gue gila, gue gila dari kita sekolah Arbhi, dan lo ga tau itu.. lo cuma bisa nerima Anyelir.. Anyelir.. dan Anyelir gadis kampung miskin yang ga punya apa apa dan ga akan ngasih keuntungan apapun buat lu" Jessica berteriak pada Arbhi,
"maaf, kita ga bisa lnjut jes, kita sampe sini ajah," Arbhi mencoba melangkah pergi
"Arbhi... gak Arbhi...." Jessica berlari dan memeluk Arbhi dari belakang
"plis.. jangan tinggalin gue bhi gue ga rela gue mau putus sama lu bhi. gue..ga mau...." Jessica menangis memeluk Arbhi erat erat Arbhi memutar balik tubuhnya dan kembali memeluk Jessica
"lu pasti dapetin yang lebih baik dari gue yang bisa nerima lu apa adanya, maaf gue ga pernah bisa mencintai lu jes maaf " Arbhi mencoba melepaskan pelukannya dan meninggalkan Jessica
"ARBHI... ARBHII.....AAARRRGHHH...." teriak Jesica ia semakin emosi dan membanting semua barang yang ada di dalam apartemen.
ia duduk terkulai, matanya sembab, air matanya terus saja menetes hatinya terasa sakit, ia meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh dari hadapannya
📲
"halo.."
"lo cari tau dengan siapa Arbhi lagi deket,".
"baik nona..."
jessica terdiam sembari menghapus air matanya,ia terdiam.
__ADS_1
"gila, di bilang gue gila, padahal dia yng bikin gue gila, kenapa sih lo ga pernah terima gue di hidup loe bhi, kenapa gue salalu di sakitin begini lo jahat banget bhi...jahat banget..."
Jessica terus menggerutu dan mengumpat dalam hatinya ia merasakan sakit yang teramat sangat.