
Sesampainya di kediaman Arbhi, Hilya tak langsung turun dari mobil Kenzo ia terdiam menatap dalam-dalam kediaman arbhi.
"apa gue sanggup tinggal di sini," bisik hati Hilya, Hilya membuka safety belt nya dan membuka pintu
"Hilya tunggu," Kenzo menahan lengan Hilya
"oh, ada apa. ka, oia makasih yaa ka" ucap Hilya dengan senyuman yang terukir di wajahnya
"ni kartu nama gue kalo ada apa apa lo telepon gue yaa" ucap Kenzo ia pun terlihat khawatir dengan sikap Hilya yang terlihat murung.
"okee ka" ucap Hilya dan dengan cepat Hilya masuk ke dalam rumah dan segera ia menutup pintu kamar dan menguncinya.
Ponsel Hilya terus menerus berdering, ia meraih ponsel itu ada 20 panggilan tak terjawab dari Arbhi, Hilya hanya menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia mematikan ponselnya. sore itu Arbhi pulang lebih cepat ia berjalan bergegas mencari keberadaan Hilya.
"tok.. tok.....toook..." Arbhi mengetuk pintu kamar Hilya yang terkunci
"yaya, buka dulu. ada yang harus gue omongin dan gue jelasin" ucap Arbhi seraya terus mengetuk pintu kamar Hilya
Hilya hanya diam ia bangun dari tidurnya ia ingin membuka kamarnya namun ia urungkan niat nya karena ia masih merasa sesak dan kesal matanya yang sembab dan wajahnya yang pucat saat itu menandakan sedari pulang sekolah tadi ia hanya menangis di kamar, Hilya terduduk menyandarkan tubuhnya di depan pintu
"yaya, gue tau gue salah, tapi gue harus jelasin ke lu." Arbhi terus berbicara. namun Hilya hanya diam.
"gue tau lo denger dari dalam. ga apa-apa lo ga mau keluar juga, dia Jesica dia pacar gue,"
"deg...deg..." jantung Hilya berdegup kencang mendengar ucapan arbhi,
"pacar?" bisik hati Hilya.
"dia pacar gue, orang tua kita sudah saling kenal gue udah 5 tahun pacaran sama Jessica, tapi sayangnya dia tinggal di paris dan gue di Indonesia, kita memang pacaran tapi itu berlaku di saat dia pulang ke Indonesia, heuuuhh lucuu yaaa, yaa tapi inilah gue dan dia, dan sejak ada lu di hidup gue gue jadi ga peduli atas keberadaan Jessica, yang setiap hari gue fikirin dan gue rasain gue sayang sama lu ya, gue cinta sama lo. tapi gue tau, mungkin gue terlalu tua buat lo" ucap Arbhi
"bukan oom bukan itu masalahnya," bisik Hilya dalam hatinya
"gue salah, ga jujur sama lo, gue mau beresin hubungan gue sama Jessica, jangan ngurung di kamar kayak gini keluar ya" pinta Arbhi ia terus menerus mengetuk pintu kamar Hilya
__ADS_1
"gue ini anak kecil anak kemarin sore sedangkan oom Arbhi lelaki dewasa yang udah banyak banget pengalaman cinta dengan banyak wanita,. gue ga tau di balik keberadaan Jessica oom Arbhi pernah dekat dengan siapa ajah gue gak tau, dan gue juga ga pantas buat dapetin cintanya oom Arbhi gue hanya orang yang ga mampu," ucap Hilya dalam hatinya sembari meneteskan air mata
Hilya bangun dari duduknya dan perlahan membuka pintu kamar, Arbhi masih berdiri di luar kamar, ia terkejut melihat wajah Hilya yang memucat dan dengan mata yang sembab, Arbhi ingin membelai pipi Hilya namun dengan cepat Hilya menepis jari jemari Arbhi ia menolak Arbhi.
"yaya..." panggil Arbhi namun Hilya hanya diam, ia mengacuhkan Arbhi dan menuju dapur, Arbhi mengikuti langkah Hilya, namun Hilya masih saja diam tak pedulikan Arbhi.
Malam harinya Arbhi dan Hilya makan malam bersama seperti biasa namun malam itu terasa sangat asing dan dingin taka ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kedua nya setelah selesai makan malam Hilya segera mencuci piring dan kembali naik ke kamarnya Arbhi yang malam itu duduk di depan televisi hanya diam sembari memperhatikan gerak langkah Hilya.
Malam itu Hilya membuka ponselnya ia teringat akan kakak laki-laki nya yang sedang merantau bekerja di tempat lain.a
hilya mencari kontak kakak lelakinya itu lalu ia menelponnya
📲
"halo"
"halo aa, ini yaya"
"Alhamdulillah a, neng sehat heum a fais, yaya kan udah selesai sekolah yaya mau kerja di tempat aa fais bisa ga"
"emang yaya udah tanda tangan surat kelulusan?"
"belom a, baru dapet surat pengumuman kalo lulus"
"heum, gituh nya udah wae atuh tunggu dapet SK nya dulu yaa neng sambil a fais nanya dulu ada lowongan enggak, emeng neng masih kerja di rumah anaknya pak andi?"
"heheh masih a, neng mau cari suasana baru"
"yakin neng mau jadi kuli pabrik,. a fais mah pengen neng sama Alma sekolah sampe jenjang yang lebih tinggi a fais bakal cari biaya kuliah buat neng yaya, kalo emang neng yaya mau kuliah"
"gak a,. neng mau kerja ajah"
suara hilya bergetar, ia mantap mengambil keputusan akan meninggalkan kotanya dan kediaman Arbhi
__ADS_1
Arbhi yang mendengar percakapan itu membuatnya merasa kesal dan emosi, ia masuk ke dalam kamar Hilya dan merebut ponsel yang masih Hilya pegang untuk menelepon kaka laki lakinya itu
"braaaak...." Arbhi membanting ponsel itu, Hilya berdiri terdiam
"keras kepala amat lu, gue bilang tunggu yaa tunggu" ucap Arbhi dengan wajah penuh kesal
"YAYA NUNGGU APA LAGI, PERASAAN , KEPASTIAN, APA??" teriak Hilya pada Arbhi dengan bulir air mata yang menetes di pipi
"INI GA SEMUDAH APA YANG LO FIKIR!!" bentak Arbhi
"YAUDAH KALO EMANG GA MUDAH BUAT OOM. GAK APA-APA, YAYA MUNDUR TOH EMANG YAYA GA ADA NIAT KOK BUAT RUSAK HUBUNGAN OOM, YAYA DISINI CUMA KERJA BUAT BAYAR HUTANG KE BU AMBAR!!" teriak Hilya kembali mendengar itu membuat Arbhi terdiam, Hilya menangis terisak
"yaya izin keluar kerja setelah surat kelulusan di tandatangani yaya ga bisa lanjut di sini" ucap Hilya terbata
"gue ga izinin!!" ucap Arbhi dengan ketus
"kenapa??" ucap Hilya seraya melihat dengan tatapn sinis
"KARENA GUE MAU LINDUNGI LU, GUE SAYANG SAMA LU YAYA GUE CINTA SAMA LO" arbhi berteriak seraya menunjuk Hilya.
"oom ga akan faham, oom ga akan tau apa yang yaya rasain, itu ajah, intinya yaya ga bisa nerima perasaan ini yaya mau buang jauh perasaan ini sama oom!"
"bisa loe buang perasaan lo sendiri??" tanya Arbhi namun hilya hanya diam
"lo selalu mikir kita beda , yaa gue tau, gue anak orang kaya punya perusahaan dan lu cuma anak tukang gado gado dan supir pribadi bokap gue, itu kan yang bikin lo minder tapi apa lo ga tanya sama gue, gue bisa nerima apa enggak, hah...! gue belom jawab kan, lo belom tau kan apa yang gue rasain" tanya Arbhi Seraya berjalan mendekati Hilya.
Arbhi membelai rambut Hilya dan memeluknya erat akhirnya Hilya menangis tersedu-sedu di pelukan Arbhi.
"banyak yang lo ga tau tentang gue yaya, kenaoa gue punya rasa itu sama lu. kenapa gue belom kasih kepastian hubungan ini, gue cuma mau lo fokus ke belajar dulu, dan ternyata Jessica udah datang duluan, terserah nantinya keluarg gue bakal ngomong apa gue tetap pertahankan lu, asal lo ikuti apa kata gue" ucap Arbhi dengan suara bergetar memeluk Hilya
"gue ga ada niat buat mainin perasaan lu, ga ada sama sekali" ucap Arbhi kembali
Hilya hanya menangis tersedu-sedu menahan sesak dalam hati kecilnya ia masih takut akan hubungan nya dengan Arbhi ia tak siap bila nanti kedua keluarga akan menentang hubungan mereka dengan dan terlebih lagi ada Jessica yang notabene adalah kekasih Arbhi, ia pasti akan mengecap jelek pada Hilya sebagai perempuan perebut pacar orang atau Hilya akan mendapatkan cacian dan makian terkait pekerjaan nya di rumah Arbhi.
__ADS_1