I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
KISS AND HUG


__ADS_3

Mlam itu Hilya masih tetap menunggu di luar bangsal.


Hilya masih terduduk di kursi di luar bangsal muntahan dari Irgi sudah mengering, ia masih ingin menemani Irgi, ia terus menangis, ia sangat takut bila teringat akan kondisi irgi


"yaya, nih lo ganti baju gih,. baju lo kotor dan bau muntah Irgi" ucap Aldi seraya menyodorkan kaos yang baru di beli Aldi di luar,


"heum makasih yaa ka"


"heum lebih baik kamu pulang ajah. Irgi udah gak apa-apa kok sekarang lagi tidur" ucap Aldi


"ga, ka aku mau masih mau disini aku mau masuk mau lihat keadaan Irgi" ucap Hilya dengan mata yang sembab


"haehh..." Aldi menarik nafasnya dalam-dalam lalu duduk di samping Hilya


"mas Arbhi kalo lagi emosi, dan belom reda dia bakal lebih kasar lagi. gue takut lo kena imbasnya apalagi saat ini di mata dia lo tersangka utama yang bikin Irgi kayak gini", ucap Aldi sembari memandang wajah Hilya yang tertunduk


"aku ga tau kalo Irgi punya alergi akut sama udang"


"heum di antara anak mami hanya Irgi yang sensitif, dan mempunyai alergi akut, bahkan semua yang berbahan dasar udang dia akan alergi, setelah itu kulitnya akan timbul bercak kemerahan dan pusing"


"yang sekarang lebih parah yaa ka",


"heum" Aldi mengangguk mengiyakan


"lo balik ajah yaa, gue mau masuk nemenin mas Arbhi kasian dia capek, dan lagian ini udah jam 7 malam", ucap Aldi ia bangun dari duduknya dan masuk ke dalam bangsal.


Hilya hanya diam ia teguh akan pendirian nya untuk tetap menunggu Irgi walaupun ia dilarang masuk oleh Arbhi setelah berganti pakaian tepat pukul 20.00 Arbhi keluar dari bangsal ia melihat Hilya masih duduk di tempat semula ia hanya diam tak menoleh dan menghampiri Hilya, ia mengacuhkan Hilya dan pergi ke mini market terdekat


melihat kepergian Arbhi Hilya segera masuk ke bangsal untuk melihat kondisi Irgi, selang infus tertancap di lengannya dan kulit nya yang mengeluarkan bercak kemerahan


"yaya lo ga balik", tanya Aldi ketika melihat kedatangan Hilya


"ga ka. yaya mohon yaya mau jaga Irgi", ucap Hilya seraya menangis terisak ia sangat merasa bersalah


Hilya mendekati Irgi ia mencium lembut pipi Irgi


"maafin kakak yaa Irgi" ucap Hilya dengan suara bergetar,


"KELUAR.....!!" tiba tiba Arbhi datang dan mengusir Hilya.


Hilya terkejut ia menoleh ke arah pintu masuk tatapan sinis Arbhi sangat menakutkan saat itu


"tapi oom, Yaya mau rawat Irgi, yaya tau ini salah yaya tapi yaya mohon izinkan yaya buat rawat Irgi" ucap Hilya sembari menangis terisak


Arbhi berjalan perlahan dan menghampiri Hilya tatapannya yang dingin sangat menusuk hati Hilya.


"gue ga butuh orang kayak lu buat rawat adek gue, lu cuma buat masalah" ucap Arbhi dengan tatapan sinis pada Hilya


"maaf ... .oom maaf", hilya menangis tersedu-sedu


" ga usah pake nangis, cuma buat cari simpati gue, mending lo pulang sebelom kesabaran gue habis" ucap Arbhi seraya meraih tangan mungil Irgi dan membelai nya dengan lembut,


Hilya hanya diam ia berjalan perlahan meninggalkan bangsal rumah sakit, ia tak tahu Arbhi akan semarah ini pada dirinya


"mas, apa lo ga terlalu kasar sama dia, dia cuma mau tebus kesalahan nya kok,",


"gue akan lakukan hal yang sama bila ini juga terjadi sama elu, karena lu berdua adek gue," ucap Arbhi

__ADS_1


"heum, iyaa gue tau mas, tapi kasian Hilya dia gak tau apa-apa, apa lo kasih tau dia makanan yang harus di hindari buat Irgi? gak kan?? kasian dia mas lo gituin, setidaknya kita masih butuh Hilya buat jaga irgi," ucap Aldi seraya memegang bahu Arbhi yang saat itu tengah duduk di samping Irgi


"haaehh.... gue cuma mau rubah kehidupan dia gue kasih dia kelonggaran untuk fokus belajar, yaa gue tau gue ga kasih tau dia tentang riwayat Irgi. karena gue ga kepikiran kalo Hilya bakal kasih makanan itu buat Irgi. gue kira dia ngerti", ucap Arbhi sembari terus menerus menciumi. tangan mungil irgi.


"lo usir dia untuk pulang, hanya karena lo nyuruh dia buat fokus belajar tapi cara lu salah mas, lo maki maki dia karena khawatir akan irgi, mas, dia seorang perempuan, dia butuh kata kata lembut, apa mas fikir dia akan pulang dan fokus belajar?, ga akan mas, dia tetap memikirkan irgi karena dia tau dia yang salah"


"lo ajah susul dia," ucap dingin arbhi


"hadeuh ... mas. lo yang bentak dia lo yang marahin dia ya elu lah yang kejar dan minta maaf. dan kita minta tolong dia buat jaga irgi malam ini jujur ajah gue ga bisa tidur di sini mas tugas kampus gue lagi banyak banget"


Aldi hanya diam Arbhi pun hanya diam tak bergeming sedikitpun di liriknya jam di tangannya sudah pukul Sepuluh malam sudah dua jam hilya pulang,


"gue dulu deket mas sama Hilya dia adek kelas yang paling ramah, seru, dan baik, dan apa lo tau kenapa dia mutusin buat jadi art di rumah lo?" ucap Aldi namun Arbhi hanya diam memeluk Irgi yang tengah tertidur pulas


"dia bantu buat cicil hutang sama mami mas" ucap Aldi


sontak mendengar ucapan itu membuat arbhi bangun dari duduknya ia terkejut ia baru mengetahui bahwa Hilya mempunyai hutang pada ibunya.


"hutang apa?" tanya Arbhi


"dia ga cerita sama mas"


"ga, dia pernah cerita apapun"


"dia bukan ga mau cerita sama mas, tapi mas yang ga peka dan yang ga mau tau kehidupan Hilya,"


"hutang apa??," tegas Arbhi seolah ia tak ingin di salah kan oleh Aldi.


"untuk bantu bayar tanah milik peninggalan orang tua Hilya yang di tahan oleh rentenir dan sudah berbungga cukup tinggi"


"berapa hutang nya sama mami"


"kalo itu gue ga tau mas. lo tanya Hilya atau mami ajah " ucap Aldi ia bangun dari duduknya dan meraih tas nya


"gue balik yaa mas,"


"tunggu, lo jaga irgi dulu, gue Mau balik nanti gue ke sini lagi". dengan cepat Arbhi pergi meninggalkan Aldi dan irgi di bangsal


ia berjalan cepat seketika ia teringat akan wajah Hilya yang tadi menangis dan memohon di hadapannya,


sesampainya di rumah arbhi segera masuk mencari keberadaan hilya ia berjalan perlahan, ia berdiri terdiam di depan pintu kamar Hilya terdengar suara isak tangis dalam kamar Hilya terdengar Hilya yang sedang menelepon seseorang


📲


"udah dong yaya, jangan nangis terus, percaya deh irgi pasti baik baik ajah dan oom Arbhi bisa maafin lu",


"hiks..hiks.. lo ga tau sih seremnya oom arbhi kalo lagi emosi, yang jadi beban fikiran gue saat ini, gue takut oom arbhi mecat gue terus yang bantu abah buat bayar hutang ke bu Ambar siapa? sedangkan lo tau kan itu tanah milik orang tua gue, gue ga mau ngerepotin abah terus kasian udah ngurus anak yatim piatu kayak gue" ucap hilya terbata sembari menangis tersedu-sedu


Arbhi hanya diam mendengar ucapan Hilya dari dalam kamar


"apa gue segitu menakutkan ya sampe Hilya kayak gitu" Arbhi mencoba membuka pintu kamar Hilya


dengan hati hati ia buka pintu kamar Hilya, Hilya masih fokus menerima telepon dari Naura


"ehem..." Arbhi berdehem dan membuat Hilya tersadar akan kehadiran Arbhi


Hilya menoleh ia melihat Arbhi berdiri dengan tatapn dinginya Hilya segera bangun ia berdiri agak menjauh dari Arbhi, ia masih takut akan amarah Arbhi.

__ADS_1


📲


"yaya.. wooy yaya kok lo diem ajah, lo pingsan yaa?" tanya Naura dengan panik


Hilya meninggalkan ponsel nya di atas tempat tidur Hilya hanya diam dengan air mata membasahi pipinya Arbhi berjalan menghampiri Hilya ia meraih ponsel Hilya yang sedari berisik dengan ocehan Naura yang merasa panik


"gue Arbhi"


"ooh. heumm, iyaa oom",


"hilya gak apa-apa kok dia ga pingsan,. cuma matanya bengkak karena nangis terus dan mukanya pucat,", ucap Arbhi pada Naura


sembari menatap dingin pada Hilya, Hilya hanya diam menahan tangis, sebelum Naura menjawab Arbhi menutup teleponnya dan melempar nya ke tempat tidur Hilya


Arbhi terus menatap tajam oada Hilya dengan rambut yang terurai menambah kesan sangar pada wajah Arbhi


"oom, boleh kok pecat.. yaya... sekarang ...juga", ucap Hilya sembari terisak dadanya terasa sesak


Arbhi berjalan menghampiri Hilya semakin dekat ia memandangi wajah Hilya yang tertunduk lalu tiba tiba, Arbhi memeluk Hilya sangat erat Hilya terkejut akan perlakuan Arbhi yang memeluk nya erat.


"apa gue, segitu menakutkan?? apa gue segitu kasarnya sampe lu takut sama gue?" tanya Arbhi ia memeluk dan membelai rambut hilya dengan lembut


Arbhi melepaskan pelukannya ia melihat reaksi wajah Hilya yang terkejut mendapati tubuhnya di peluk oleh Arbhi, Arbhi membelai lembut pipi Hilya dan menghapus air matanya


"gue cuma takut, Irgi kenapa-napa, dan gue gak ada maksud buat usir lo, gue cuma pengen lo balik dan belajar, tapi mungkin cara guru salah, iyaa kan?" tanya Arbhi seraya menempel kan dahinya ke dahi Hilya Hilya hanya diam sembari terisak


"maafin gue ya, heum...maaf" ucap Arbhi dengan lembut Hilya hanya mengangguk perlahan sembari meneteskan air matanya


"kamu mau temenin irgi?" tanya Arbhi Hilya hanya mengangguk mengiyakan


"udah belajar belom?" tanya Arbhi dengan sedikit berbisik lembut, kembali hilya hanya menggelengkan kepalanya


"kamu sebentar lagi ujian akhir kan," Hilya hanya mengangguk menjawab pertanyaan Arbhi ia masih sedih dan terkejut akan sikap Arbhi


"besok aja yaa temenin Irgi, malam ini aku mau tidur di rumah sakit kamu sendirian di rumah yaa", ucap Arbhi sembari membelai lembut pipi hilya, Hilya hanya mengangguk


"heii . dari tadi ga jawab cuma anggukan sama geleng geleng ajah" ledek Arbhi dengan senyumnya yang tersungging di ujung bibirnya


"yaya ga bakal terpesona kayak kemaren lagi" ucap Hilya tiba tiba ia takut Arbhi melakukan nya hanya prank semata seperti kemarin malam.


mendengar itu Arbhi hanya menahan tawa


"ini bukan prank," Arbhi mencium lembut pipi Hilya


"dan ini juga bukan prank", Arbhi mencium cepat bibir, Hilya terkejut ia segera menutup bibirnya dengan telapak tangannya


"haha heii.. apaan sih kaayak gituh" ledek Arbhi sembari melepaskan tangan Hilya yang menutupi bibir nya


"kamu istrihat yaa, besok kan sekolah nanti pulang sekolah langsung ke rumah sakit yaa gantiin aku jaga Irgi",


"iyaa", jawab Hilya


"yaudah aku balik ke rumah sakit dulu yaa", ucap arbhi, ia tersenyum manis dan mencium kening Hilya yang, dan setelah itu ia meninggal kediaman nya dan kembali ke rumah sakit


Hilya hanya bisa menahan rasa bahagia bercampur sedihnya ia tak menyangka Arbhi yang dingin dan cuek bisa semanis dan sehangat itu,


"apa jangan-jangan oom arbhi suka sama gue, ehh tapi kalo dia ga suka kenapa tadi dia cium gue addduh dan kenapa gue ga nolak aaahh ga tauu aah ..," teriak Hilya histeris ia menjatuhkan tubuhnya di kasur dan menutup wajahnya dengan bantal hatinya berdegup dengan kencang malam itu membuatnya tak bisa memejamkan matanya karena terus teringat akan kejadian manis yang tadi ia alami.

__ADS_1


__ADS_2