I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
SOMBONG AMAAT....!!!


__ADS_3

Hilya Ananta Putri mempunyai tinggi 165 berkulit putih dan berambut lurus hitam tebal ia memiliki sifat ramah periang, dan berani bersuara lantang bila ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, ia anak gadis yang baru berusia 18 tahun yang kini duduk di kelas 3 SMU



Sepulang dari kediaman bu Ambar, Hilya dan wak rudi segar masuk kedalam rumah dan betapa terkejutnya wak rudi ternyata di dalam rumahnya sudah ada sosok pria paruh baya bertubuh gemuk dan rambuty sudah di penuhi uban.


"wah, ada pak Bondan rupanya" ucap wak Rudi seraya tersenyum namun pak Bondan hanya diam tanpa senyum. wak Rudi segera duduk di di hadapan pak Bondan


"Rudi, mengenai tanah yang kamu gadaikan pada saya. kapan bisa kamu tebus, karena saya ingin membiayai kuliah nya ratu, dan ini sudah hampir jatuh Tempo" ucap pak Bondan seraya menghisap rokok cerutu nya.


"ah, apa ga bisa kasih waktu lagi pak, saya belum ada uang untuk mengganti nya" ucap wak Rudi.


"mau waktu berapa lama lagi rudi...!" ucap pak Bondan dengan nada sedikit meninggi.


wak rudi hanya diam tak bisa menjawab.ia hanya bisa diam.


"aku beri waktu kamu sampai akhir tahun ini kalo tidak tanah itu akan menjadi milikku, dan bila bisa kamu tebus, karena kamu sudah cukup lama meminjam, bunga nya sudah cukup tinggi, kamu, bisa membayar beserta bunganya sebesar 300 juta rupiah" ucap pak Bondan.


"haaah... sebesar itu, saya hanya menggadaikan 150 juta pak" ucap wak Rudi ia terkejut mendengar ucapan pak bondan. namun pak Bondan hanya diam seolah tak mendengar.


"itu sudah harga yang rendah untuk kamu, kamu saya kasih enak tenggang waktu bertahun tahun," ucap pak bondan.


ia mematikan api dalam cerutu nya lalu berdiri dengan gaya angkuhnya.


"300 juta saya mau akhir tahun ini. saya urungkan niat sampi tahun depan, karena bunga nya akan terus berjalan" ucap pak Bondan.


ia berjalan keluar tanpa mendengar jawaban dari wak rudi, wak rudi hanya diam, ia hanya bis menarik nafasnya dan beristighfar, Hilya yang mendengar itu semua hanya diam, ia tahu tanah yang di gadaikan pada lintah darat itu adalah tanah peninggalan Hilya.


"gimana yaa biar bisa bantu Abah," ucap Hilya dalam hatinya., di luar abah masih duduk terdiam di temani oleh wak.jenar.


Keesokan harinya wak Rudi berangkat menuju kediaman pak ndi selepas sholat subuh karena hari ini ia akan mengantarkan pak Andi mengecek pabrik teh kemasan milik keluarga Sidharta. di jalan wak Rudi tak banyak bicara. ia hanya diam, pak Andi yang sedari tadi sibuk dengan PC nya, perlahan ia mengehentikan pekerjaan nya ia menatap wak Rudi, ia merasa heran tak biasanya ia seperti ini.


"pak rudi,!"


"ahh iyaa pak ada apa?"

__ADS_1


"kenapa kok hari ini terlihat murung??" tanya pak Andi


"ah, tidak ada apa-apa pak,"


"anak istri sehat??,"


"Alhamdulillah pak sehat pak", ucap wak Rudi sembari tersenyum


"pak rudi sudah ikut dengan keluarga saya kurang lebih 20 tahun yaa pak,?"


"ahh iyaa pak"


"pak rudi sudah saya anggap keluarga bagi saya begitu juga anak anak pak rudi sudah seperti anak untuk saya, ada masalah apa pak mungkin saya bisa bantu", ucap pak Andi seraya tersenyum.


"heummm bagaimana saya cerita nya pak saya bingung mau mulai dari mana?"


"hahaha langsung ke intinya saja gak apa-apa" ucap pak andi. wak Rudi hanya tersenyum dan ia menceritakan semua masalahnya pada pak Andi.


Siang itu selepas sekolah Hilya berjalan sendiri ia sangat kalut memikirkan bagaimana cara membatu wak Rudi untuk membayar hutang pada pak Bondan, lalu tanpa Hilya sadari seseorang mengikuti Hilya dari arah belakang menggunakan motor sport nya.


"tid...tidiiiiddd..." si pria tersebut membunyikan klakson motor Hilya terkejut ia segera menoleh.


"sendirian ajah hilya??" tanya pak kevin pada Hilya


"eh.. heehe iyaa pak"


"eum ikut saya yuk cari buku" ajak kevin pada Hilya.


"heum, serius pak, eh tapi ga deh pak ga enak sama yang lain," ucap Hilya seraya tersenyum ragu ragu.


"ah... ga enak kenapa?, ayoo naik, saya butuh temen buat cari buku untuk referensi ulangan harian nanti" ucap pak kevin pada Hilya.


Mendengar ucapan pak kevin, Hilya akhirnya ikut menemani pak kevin ke toko buku di salah satu mall terbaik di kota nya, sesampainya di toko buku hilya segera mencari beberapa buku referensi untuk pak kevin.


"ya, kamu kalo ada buku yang mau kamu beli pilih ajah nanti saya yang bayarin" ucap pak kevin, ia menawarkan pada Hilya

__ADS_1


"ohh.. heummm ga usah pak makasih"


"aku serius loh?"


"heheh yaya juga serius kok pak" Hilya menjawab dengan tawa renyahnya,


ketika Hilya sedang melihat beberapa buku ia menangkap sesosok pria yang cukup ia kenal pria tinggi dengan rambutnya yang khas mengenakan kaos hitam ia memegang sebuah buku, dan sebatang rokok



sebelum Hilya berucap seorang security menghampiri Arbhi


"maaf pak, bisa tolong di matikan rokok nya disini area di larang merokok" ucap security tersebut.


Namun Arbhi hanya diam tak menjawab ia tetap menghisap rokoknya sembari membaca buku. security terlihat kesal di buatnya, lalu security memanggil salah satu manager toko tersebut, tak lama kemudian datanglah manager toko buku menghampiri arbhi.


"maaf mas arbhi, Disni dilarang merokok, Mungkin mas arbhi bisa memaklumi dan bersedia mematikan rokoknya" ucap manager itu dengan hati hati.


Arbhi tetap diam ia asyik menghisap rokoknya,


"maaf mas, rokoknya tolong di matikan" ucap manager kembali


Arbhi menutup bukunya dan memicingkan matanya ke arah manager tersebut dengan tatapan dinginnya ia menatap manager dengan rasa kesal


"oh gue ga boleh ngerokok di toko milik bokap gue sendiri?" ucap Arbhi dengan tatapannya yang mengintimidasi.


"maaf ,mas ini sudah peraturan toko kami, walaupun mas adalah anak dari pemilik toko ini namun ini tetap menjadi peraturan mas, maaf mas sebelumnya"


"oohh.. ookeee...buangin rokok gue, gue ga tau tempat sampahnya", ucap arbhi seraya menyodorkan rokok pada manager itu.


sang manager hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam menahan kesal, ia tak kuasa melawan karena ayah Arbhi adalah pemilik toko buku tersebut.


"baik mas" manager itu segera pergi meninggalkan Arbhi,lalu arbhi kembali membaca buku yang sedari ia pegang,


Hilya yang melihat kejadian itu hanya bergidik merasa jijik dengan kelakuan arbhi yang tidak bisa menghargai orang lain. dari jauh hilya melihat ekspresi sang manager yang menahan kesal pada Arbhi

__ADS_1


"sombong amat...!! kalo bukan akan pak Andi ga bakal gue mau buangin rokok bekas elu..!" gerutu sang manager Ketika melewati Hilya, Hilya yang mendengar nya hanya bisa beristighfar dalam hatinya,


Sore itu Hilya sepulang dari toko buku ternyata di kediamn Hilya ada dua orang pasutri baik hati yang sangat Hilya kenal, ia adalah pak Andi dan bu Ambar yang bertandang ke kediamannya wak Rudi. bu Ambar dan pak Andi terbilang tak pernah mengunjungi rumah wak Rudi karena kegiatan pasutri itu sangat padat, namun kedatangan mereka membuat Hilya menjadi tanda tanya, ada apakah pak andi dan Bu Ambar datang untuk berkunjung ke kediaman wak Rudi.


__ADS_2