
Sepulang dari acara tersebut Arbhi hanya diam sembari sesekali melirik ke Hilya ia tak bisa menutupi perasaan bahagianya, bahwa ia memenangkan tender besar tersebut berkat Hilya,
"yaya, tadi di pesta lo ngobrol sama siapa?" tanya Arbhi
"heum sama kakek kakek dia lagi nemenin cucunya tapi di cuekin, sama kayak yaya di cuekin sama oom" Hilya melirik kesal
"yaa yaa maaf..." ucap Arbhi
"perlahan sikap dan sifat oom Arbhi sedikit berubah, ia lebih mudah meminta maaf" ucap Hilya dalam hatinya
"terus cerita apa lagi?"
"heum dia juga kenal oom Arbhi kok, pas yaya tunjuk ke oom Arbhi dia bilang itu Arbhi Alvino? hahah ternyata si kakek kenal, orang nya baik loh oom"
Hilya terus bercerita tentang si kakek, tanpa sadar mobil Arbhi telah masuk ke kompleks perumahan mewah tempat tinggal Arbhi, Arbhi mematikan mobilnya ia terus tersenyum melihat Hilya yang antusias menceritakan si kakek, Arbhi menatap dalam dalam wajah Hilya,
"cekkleeek.... " Arbhi membuka safety belt nya lalu dengan cepat ia memegang pipi Hilya dan mencium lembut bibir Hilya yang sedari tadi tak henti-hentinya berbicara.
"eummpphh... oom...oo" Hilya tak di beri kesempatan untuk bicara oleh Arbhi ia terus mencium bibir Hilya
"entah kenapa... dia berbeda" ucap Arbhi dalam hatinya
dan tanpa di sadari hilyapun terbawa suasana malam itu ia tak menolak ciuman lembut dari Arbhi, bahkan ia membalas ciuman lembut dari Arbhi.
Arbhi melepaskan ciumanya ia menelaan ludahnya dan membelai lembut pipi Hilya, Arbhi mendekatkan hidung ya ke hidung Hilya,
"makasih yaa" bisik Arbhi pada Hilya
"heum,. untuk apa?" sahut hilya pelan.
"semuanya, untuk malam ini" ucap Arbhi seraya membelai lembut pipi Hilya dan ia tersenyum manis pada Hilya,
"tunggu hingga surat kelulusan mu keluar, aku akan jelaskan semuanya tentang kita"
"heumm" Hilya hanya mengangguk mengiyakan
Arbhi tersenyum manis dan ia mencium kening Hilya dengan penuh rasa sayang,
"maksud oom Arbhi setelah gue dapet surat kelulusan dia baru akan memperjelas hubungan ini pacaran atau enggak nya tapi kok oom Arbhi bersikap seperti ini sama gue, apa memang seperti ini percintaan orang dewasa?" bisik Hilya dalam hatinya
di dalam hati Hilya ada sedikit rasa khawatir dan ragu. ia takut Arbhi hanya memanfaatkan dirinya saja, karena ia sangat menyadari posisi nya saat ini hanyalah asisten rumah tangga dan Arbhi adalah majikan Hilya.
Minggu pagi Hilya dengan malas membuka matanya di liriknya jam di dinding kamarnya
"heum, jam 6" ucap Hilya ia menarik selimut nya kembali
__ADS_1
tak lama kemudian ponsel Hilya berdering, ia meraih ponsel nya dan ternyata yang menelepon adalah Alma adik bungsu Hilya
📲
"halo neng"
"teteh.. mau pulang ga ini kan hari minggu"
"heumm iyaa, teteh pulang neng, tapi agak siang sekarang masih ngantuk"
"bener yaa teh, neng mau bikin baso aci nih sama emak, udah lama ga masak bareng teteh".
"hahah oke tar teteh pulang yaa neng"
"yaudah atuh di tunggu loo awas ajah kalo boong"
"iyaa iyaa ga boong kok.."
Alma menutup teleponnya dan Hilya meregangkan otot-otot di tubuhnya dan segera ia bangun dan turun ke dapur seperti biasa hari minggu adalah hari libur untuk Hilya dan Arbhi membebaskan segala pekerjaan rumah,
Hilya turun ke dapur lalu ia melihat Arbhi sedang mencuci mobil di halaman depan garasi
"deg ... deg ... deg..." tiba tiba jantung Hilya berdegup kencang ketika melihat Arbhi ia teringat akan kejadian semalam.
"yaya...!" panggil Arbhi
"adeeuuhh di panggil lagi. makin mau copot ajah ini jantung" gerutu Hilya wajahnya memerah menahan malu ia berjalan perlahan menghampiri Arbhi
"apa oom?" tanya Hilya malu malu
"lo mau balik ke rumah hari ini?" tanya Arbhi sembari menyemprotkan air ke mobilnya
"heum iyaa oom tadi Alma telepon aku di suruh pulang"
"bareng gue ajah"
"ga... heumm ga usah deh oom yaya sendiri ajah" ucap Hilya hati hati
"hhhaaehh" Arbhi menatap kesal pada Hilya ia mematikan air dan membuang selang air dengan kesal ia berjalan menghampiri Hilya, dengan tatapan dinginya ia memandang tajam pada Hilya
Hilya sedikit mundur ia takut bila Arbhi akan marah
"kenapa sih,?"
"heum ga apa-apa, pengen pulang sendiri aajah" ucap Hilya sembari tertunduk
__ADS_1
"ck, muka lo merah, apa lo masih inget moment semalem yaa" ledek Arbhi sembari menaikan kedua alisnya
"whoaa . apaaa enggak ko iih geer... sama sekali enggak". Hilya mencoba menyangkal ucapan Arbhi lalu ia segera pergi untuk menghindari ucapan Arbhi
ia merasa malu, bertemu dengan Arbhi hatinya berdetak tak beraturan.
"heumpphh .. yaya ... yaya..." ucap Arbhi sembari tersenyum melihat tingkah Hilya
"yaya gue gak mau tau lo mandi terus balik bareng gue, jangan nolaaak..!!" teriak Arbhi, Hilya hanya diam tak menjawab ucapan Arbhi ia merasa sangat malu pagi itu.
pukul 08.00 hilya dan Arbhi sudah dalam perjalanan menuju kediaman masing-masing ,
Hilya terus memandangi rumah tua itu lagi tanpa berkedip, arbhi yang menyadari kebiasaan Hilya mengehentikan mobilnya tak jauh dari gerbang rumah tua itu, Hilya terkejut tiba tiba ia menoleh ke Arbhi
"kok berhenti oom?" tanya Hilya seraya mengernyitkan dahinya
"heeemmm yaya, sebenernya rumah tua itu kenapa sih gue perhatiin setiap lewat jalan ini lo selalu ngeliatin rumah itu tanpa henti" Arbhi mulai memberikan diri untuk mulai bertanya.
"heummm, kata orang- orang itu rumah kakek dan nenek yaya oom," ucap Hilya seraya tersenyum
"haaah,,, beneran??"
"heum..iyaa" Hilya menjawab sembari mengangguk mengiyakan
"mereka masih hidup?"
"kata orang masih, tapi ga tau di mana, rumah tua ini, rumah orang tua dari ayah nya yaya oom" jelas Hilya
"tunggu disini yaa" Arbhi membuka pintu dan keluar seraya menghampiri rumah tua itu yang hanya di huni oleh tukang kebun
tak lama kemudian Arbhi kembali masuk ke dalam mobilnya, ia memakai safety belt nya lalu menarik nafasnya dalam-dalam
"oom?, kenapa?" tanya Hilya
"mereka ga ada di Indonesia katanya beberapa tahun yang lalu mereka semua menetap di Islandia" ucap Arbhi seraya menatap Hilya
"heumm, yaya udah tau sebelum oom nanya yaya lebih dulu ke situ buat nanya" ucap yaya suaranya terdengar mulai berat dan matanya berkaca-kaca
"pak rudi gakasih tau ke lo?"
"heum abah, emak semua hanya diam tak menjawab, abah bahkan cuma bilang teteh anak abah anak kandung abah cuma itu ga ada jawaban apapun" suara Hilya bergetar dan air matanya menetes membasahi pipi
"ssst... udah, jangan di fikirin yaa" ucap Arbhi seraya membelai rambut dan pipi Hilya, Hilya hanya mengangguk sembari menghapus air matanya
"banyak yang gak gue tau tentang Hilya, gue akan tau semuanya satu persatu mulai hari ini detik ini" ucap Arbhi dalam hatinya, ia hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam ketika ia melihat Hilya terdiam karena kesedihan nya.
__ADS_1