
Pukul 18.30 malam Arbhi mengantarkan Hilya menuju kediaman orang tuanya di perjalanan Hilya hanya diam sembari memeluk tas nya, Arbhi pun sama ia hanya diam tak bersuara berkali-kali ia melirik Hilya yang sesekali menyeka air matanya.
Sesampainya di kediaman keluarga Sidharta, Arbhi dan Hilya segera masuk untuk menemui bu Ambar, namun di kediaman keluarga Sidharta terlihat sepi.
"bi... bibi... mami ada kemana !" ucap Arbhi seraya terus berjalan menghampiri bik Ijah yang sedang mencuci peralatan dapur
"ehh den arbhi, nyonya lagi ke kostan annya den aldi, ada apa tooh..." ucap bik ijah sembari tersenyum pada Arbhi
"loh kok tumben mami ke sana" ucap Arbhi, namun ucapan Arbhi tak di dengan oleh bik Ijah ia terkejut akan kehadiran Hilya membawa semua barang milik nya.
"ooaalahhhh.. neng Hilya,. kenapa ada apa.." bik Ijah menghampiri Hilya dan memeluknya karena ia melihat bulir air mata jatuh di pipi Hilya, Arbhi hanya bisa menarik nafas lalu meninggalkan mereka berdua di dapur.
Arbhi segera naik ke kamarnya di lantai dua, ia membaringkan tubuhnya dan menutup matanya
"semoga ajah pilihan gue ini tepat, gue cuma ga mau anak kayak dia masih sekolah tapi udah di bebankan oleh pekerjaan, yang seharusnya dia belom boleh kerja" ucap Arbhi dalam hatinya,
Gemuruh petir dan desir angin berhembus sangat kencang Arbhi membuka matanya, ternyata ia sedikit terlelap, ia bangun dan turun ke dapur untuk melihat apakah Hilya masih di sana.
"bik, hilya mana?" tanya Arbhi pada bik Ijah
"sudah pulang den" jawab bik Ijah dengan suara datar,
bik Ijah adalah assisten Paling tua yang bekerja di kediaman keluarga Sidharta bahkan ia sendiri yang mengurus Arbhi ketika masih balita.
"oh..." ucap arbhi datar
"aden kok tega banget, pecat neng hilya," ucap bik Ijah dengan tiba tiba
"heum maaf bik, kan bibi tau prinsip saya,"
"tapi neng hilya lain, bibik kecewa sama aden," bik Ijah mengucapkan nya dengan perasaan kecewa lalu ia pergi meninggalkan Arbhi,
Arbhi terdiam ia beejalan untuk menuju parkiran untuk kembali menuju kediaman nya
"heumm apa niih" Arbhi meraih dompet saku mini. lalu ia membukanya hanya ada uang 20.000 ribu rupiah, ia langsung teringat akan hilya ia segera menyalakan kendaraannya lalu ia segera pergi meninggalkan kediaman orang tuanya.
Arbhi melajukan kendaraannya dengan cepat, menembus sunyinya malam dan rintik hujan mulai turun ia mencari keberadaan Hilya ia berharap Hilya masih berjalan di sekitar kediamannya
Di kejauhan ia melihat sosok wanita berjalan dengan perlahan. dengan cepat Arbhi memotong langkah Hilya membuat Hilya merasa terkejut
"aaaaaah..." Hilya berteriak ketakutan, rambutnya sudah sedikit basah terkena air hujan
Arbhi membuka kaca mobilnya, ia hanya menatap dingin pada hilya
__ADS_1
"masuk...!" ucap Arbhi dengan nada datarnya dan tanpa senyum, Hilya hanya diam, dan ia pun segera masuk kedalam mobil arbhi, tubuhnya bergetar kedinginan, wajahnya memucat, Arbhi hanya diam memandangi wajah Hilya yang kedinginan malam itu.
Di perjalanan mereka hanya diam, Hilya memberanikan diri untuk membuka suara agar suasana malam itu tak terasa begitu dingin
"oom, maaf ... kalo oom mau pecat yaya gak apa-apa oom tapi tolong anterin yaya ke rumah ajah" ucap Hilya terbata bata
"yang mau anterin lu pulang siapa...?"
"heum, oom kan udah pecat yaya..!"
"ck.. berisik banget sih mulut lu itu, lu masih mau kerja ga sih" ucap Arbhi dengan kesal. lalu Hilya hanya diam tak melanjutkan bicaranya.
"ni dompet elu..?" tanya Arbhi pada Hilya
"waah iyaa kok ada di oom arbhi??" ucap Hilya dengan mata yang berbinar-binar, namun Arbhi tak menjawab ia malas mendengar ocehan Hilya.
"kruuyuuuuuukkkkk" suara perut Hilya ia sangat lapar malam itu,
"duhh ni perut ga bisa dikondisikan banget sih" ucap Hilya dalam hatinya sembari memegang perutnya
"lu laper???"
"hehe iyaa oom,"
"belum oom, dari tadi siang" ucap hilya dengan hati-hati
"haaah... emang lu di sekolah ga makan??" tanya Arbhi dengan nada ketusnya
"heum, tadi di sekolah belom lapar oom" ucap Hilya seraya menutupi bahwa keuangan nya sangat minim.
Arbhi tak berkata apapun, ia segera membelokan kendaraan ke salah satu warung kaki lima, ia segera turun dan memesan makan malam
tak lama kemudian sang pelayan membawa satu porsi nasi putih ayam goreng beserta sambal dan lalapan nya namun ia hanya membawa satu porsi dan dua gelas teh manis hangat. Arbhi menyodorkan makanan itu pada Hilya
"makan...!" ucap Arbhi sembari menatap tajam pada Hilya
"tapi oom, kenapa cuma satu oom ga makan??" ucap Hilya sembari mengernyitkan dahinya
"gue ga level makan di tempat beginian, sekarang lu makan jangan banyak omong, pusing gue dari tadi ngurusin elu...!" ucap Arbhi, dengan ketusnya,
Hilya hanya diam memanyunkan bibirnya dan segera dengan lahap ia memakan menu yang Arbhi pesan untuknya, Arbhi melipat kedua lengannya sembari menatap tajam pada Hilya,
"makan ajah kudu di pelototin iih" ucap Hilya dalam hatinya.
__ADS_1
setelah selesai makan malam Arbhi dan Hilya segera pulang menuju kediaman Arbhi sesampainya di rumah Arbhi, Arbhi mengajak Hilya untuk berbicara lebih banyak
"gue pertimbangin lagi soal lu kerja di sini, tapi apa lu bisa bagi waktu antara sekolah sama kerjaan..?"
"Alhamdulillah makasih oom, yaya pasti bisa bagi waktu oom"
"lu balik sekolah jam brapa..?"
"jam 2 oom,"
"paling telat jam 3 lu balik dan lu harus di rumah gue jam setengah 3 bisa lu??"
"bisaa oom"
"gue gamau ada temen temen lu maen seliweran di rumah gue, mau keluar izin sama gue. dan lu boleh keluar kalo kerjaan rumah udaj beres, dan lu dapet hari libur 1 hari dalam seminggu yaitu hari minggu lo.bebas mau pulang kek, mau rebahan seharian kek hari minggu lu libur" ucap Arbhi kembali
"makasih oom"
"gaji lu sesuai kesepakatan awal. bakal gue transfer ke nomer rekening lu, ah iiyaa jangan panggil gue oom ...!"
"kalo gaji oke makasih oom. kalo merubah panggilan yaya ga bisa oom"
"itu perintah..." ucap Arbhi ketus
"iyaa oom"
"mas arbhi..!" ucap Arbhi sembari melotot pada Hilya
"oom Arbhi..." ucap Hilya seraya senyum meledek
"mas arbhi.. gue ga suka lu panggil oom"
"tapi yaya sukanya manggil oom Arbhi dengan sebutan oom gimana dong"
"wah rese lu. lu apa gue sih yang berkuasa.."
"ya oom lah, tapi kan hak yaya dong mau panggil majikan yaya dengan sebutan apa yang penting sopan iyaa kaaaan.." ucap Hilya seraya tersenyum
"dasar bocah... pusing gue.. awas lu kalo manggil gue oom di depan umum.. gue potong gaji lu" ucap Arbhi dengan nada kesal.
ia berjalan meninggalkan Hilya di ruang keluarga raut wajahnya menandakan kekesalan pada hiylya. lain halnya dengan Hilya, ia tertawa geli mendengar ucapan Arbhi
"hahah oom Arbhi ngambek nya kayak kucing, hiihiii" tawa Hilya dalam hatinya
__ADS_1
Malam itu akhirnya Hilya kembali ke rumah Arbhi dan mulai bekerja kembali di kediaman Arbhi.