
Pagi hari seperti biasa Hilya mempersiapkan kebutuhan Arbhi untuk tugas luarnya ke Banjarmasin
"yang, kamu gak apa-apa yah aku tinggal berdua sama Willy?" ucapa Arbhi seraya memandang Hilya yang sibuk melipat pakaian Arbhi, namun ia hanya diam tak menjawab
"mas ichi jangan dulu di jemput yaa" ucap Hilya
"kenapa?"
"gak apa-apa," ucap Hilya tercekat
"aku faham" ucap Arbhi kembali ia memahami akan kekhawatiran Hilya ia takut ichi pasti bertanya tanya keberadaan willy di kediaman Hilya,
siang itu Arbhi berangkat, dan berpamitan pada Hilya
"pah..." William berlari memanggil Arbhi ia memeluk Arbhi
Arbhi mengernyitkan dahiya, ia melihat ke arah hilya, ia hanya terdiam
"hati hati yaa pah" ucap Willy
"ya, lo jangan bikin masalah yaa jaga tante Hilya"
"siaap pah" ucap William
dan Arbhi pun segera berangkat meninggalkan Hilya dan William
Hilya masuk meninggalkan William
"tante, willy boleh pinjem motor papa ga" ucap William
"kamu mau ke mana?"
"heum, deodorant willy habis tan ga enak nih bau" ucap willy sembari mencium ketiaknya
"yaudah terserah kamu ajah," ucap Hilya ia pun masuk meninggalkan William
beberpa jam berlalu, Hilya melirik jam di tangannya, ia melihat sudah hampir tiga jam William pergi
tak lama kemudian suara mobil berderu di halaman hilyya ia segera membuka pintu.
"maaf dengan ibu Hilya,"
"iyaa pak, maaf bapak siapa yaa"
"ahh, maaf bu saya mau bertanggung jawab anak ibu mengalami kecelakaan, sekarang ada di mobil saya" ucap si bapak tersebut
Hilya terhenyak ia berlari menghampiri mobil si bapak tersebut dilihatnya William sudah di perban dahi dan lengannya kakinya pun terlihat di balut oleh perban
"astaghfirullah" ucap Hilya ia melihat william yang tertunduk
"maaf pak, keadaan motornya sendiri bagaimana?"
__ADS_1
"saat ini ada di polsek bu, keadaan nya cukup parah"
"ahh tidak apa-apa yang penting dia selamat pak"
"iyaa bu, maaf bu saya yang menabraknya, saya mau bertanggung jawab atas biaya perbaikan"
Hilya pun berbincang dan semuanya damai, ia menghampiri William yang tertidur di kamar
"papa kamu udah bilang kan jangan bikin masalah!!" tegas Hilya
"tan.. itu kecelakaan tau.. aku ga tau bakal di seruduk sama mobil ko"ucap William dengan kesal
"iyaa aku tau, seengaknya kamu itu baru tinggal di sini masalah pun belum selesai, sekarang saya harus ngomong apa ke papa kamu, papa kamu ajah belom kabarin aku kalo dia sudah sampai" Ucap Hilya dengan kesal
"ya..yaa gue tau gue salah" ucap William kembali berkata tak sopan
"haaah udah lah terserah kamu, obatnya jangan lupa di minum" ucap Hilya meninggalkan William
"haaah... gue juga ga mau begini, kalo gak gue pengen ketemu papa ga bakal gue jauh jauh sampe sini" ucap hati William.
Hilya memijat kepalanya yang terasa sangat pusing dan berat ia sangat stres dengan kelakuan William.
3 hari berlalu Arbhi masih berada di banjar masin malam itu Hilya makan bersama William
mereka tak berbicara satu sama lain hanya diam di atas meja makan
keesokan harinya Hilya tak membuat sarapan untuk William ia terkapar dia atas tempat tidur
"tant...tante..."
"apa will" ucap Hilya, ia membuka pintu kamar Hilya dengan hati hati
"tante sakit?" tanya William dengan hati hati
"iyaa, agak demam kayaknya, kamu mau makan apa tante pesenin" ucap Hilya dengan suara berat karena flu
William menghampiri Hilya ia memegang dahi Hilya yang terasa panas
"panas banget tan, aku ke apotek dulu yaa beli obat" ucap William
"ahh ga ush wil"
"gak apa-apa tan" ucap William ia segera pergi meninggalkan Hilya.
"keras kepala nya sama kayak Arbhi semakin yakin gue kalo itu memang anak arbhi" ucap Hilya,
Hilya membuka matanya yang sangat berat kepala nya terasa pusing samar samar ia mendengar seseorang sedang berbicara di telepon
"iyaa pah, gak apa-apa tante cuma demam aku udah beliin obat kok iyaa siaap" ucap Willy ia mengangkat telepon dari Arbhi yang sedari berdering di ponsel Hilya
"ehh Tante udah bangun, nih tan makan dulu" ucap William ia menyiapkan bubur beserta sayur bayam untuk Hilya
__ADS_1
Hilya mengernyitkan dahinya bagaimana bisa seorang anak laki laki seumuran Willy bisa memasak dan menyiapkan semuanya
"kamu masak wil?" tanya Hilya
"iyaa tan, hehehehe" uca Willy seraya tertawa
"kamu bisa masak"
"Alhamdulillah tan bisa, ayo tan di makan habis itu tante minum obat yaa oia tadi papa telepon, maaf ya tan willy lancang jawab telepon dari papa"
"heum iya gak apa apa makasih yaa"
"heum,iyaa tan, oia willy keluar dulu ya tan kalo ada apa telepn wily ajah nomernya tadi udah Willy save dikontak tante" ucap William
"iyaa" ucap Hilya ,ia terus memandangi William, entah mengapa Hilya merasa William anak yang tulus.
malam harinya Hilya masih terbaring di tempat tidur tiba tiba ponselnya berdering
"mas Arbhi" ucap hilya ketika ia nelihat bahwa arbhi meneleponnya
📲
"halo, mas"
"sayang, gimana keadaan kamu,udah enakan belom"
"udah kok"
"willy bikin kamu stress yaa"
"heum gak mas, dia hari ini rawat aku mas, dia siapin makan dia beliin aku obat, dia bisa masak nasi sendiri, mas ajah kalah"
"hahha yasudah jujur aku agak lega ada willy di situ"
"iyaa, mungkin aku memang harus berdamai denan keadaan ini dan menerima willy sebagai anak kamu mas, aku terima, memang awalnya aku nolak dan kesal tapi lihat dia yang sehari ini sibuk masak beres beres: rumah sampai rumput di taman belakang pun ia yang membersihkan aku merasa dia anak yang baik dan tulus yang ingin dapat perhatian dari kamu mas"
"iyaa aku tau, tapi aku tetap mancari tahu ibu kandungnya"
"yasudah, oia ya mas kapan pulang?"
" heum lusa aku pulang yaah"
"oke hati hati ya mas di situh,makan nya jangan sembarangan"
"iyaa kamu juga, cepet sehat yaa love yau sayang"
"heum love you too"
Arbhi menutup teleponnya, lalu Hilya segera turun ke lantai bawah untuk mengambi air di dapati nya William sedang duduk sendiri sembari menonton tivi
"wajahnya tak mirip dengan Arbhi hanya sifat nya, tapi aku penasaran dengan si anak ini" ucap Hilya dalam hatinya ia terus memandangi wajah William dari kejauhan
__ADS_1
Hilya memang harus berdamai dengan keadaan saat ini bagaimanapun ia adalah anak kandung Arbhi ia harus bisa menerima keberadaan William di rumah Arbhi.