
beberapa minggu yang lalu
pagi itu Arbhi sudah sampai di Jakarta dan ia segera menemui beberapa klien di salah satu resto yang ada di Jakarta
ketika Arbhi sedang berbincang dengan beberapa klien tiba-tiba matanya tertuju pada salah satu sosok yang ia kenal ia yakin ia tidak salah mengenal wanita itu.
"maaf pak, saya permisi dulu" ucap Arbhi pada salah satu klien
"oh iya silakan mas Arbhi"
"saya tinggal dulu pak sebentar nanti saya kembali lagi"izin Arbhi pada klien
dengan cepat Arbhi pun melangkahkan kakinya dan mengejar wanita itu yang sudah sampai di parkiran restoran.
"Richa...!"panggil Arbhi wanita itu pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang ke arah Arbhi ia terkejut ia mundur beberapa langkah namun dengan cepat Arbhi menghampiri Rika yang ingin hendak masuk ke dalam mobilnya
"tunggu gua mau bicara sebentar" ucap Arbhi dengan nada dinginnya saat itu wajah Rika hanya tertunduk iya tahu apa yang dimaksudkan oleh Arbhi
Arbhi pun mengajak Richa untuk duduk di salah satu tempat tersebut
"lu udah tahu kan maksud gua apa" ucap Arbhi dengan nada dinginnya sembari menatap tajam pada wajah Richa
"iya gue tahu kok tentang William kan"
"iya tentang William.! gue cuman mau pertegas ke lu, gue nggak pernah yang namanya berhubungan intim sama lo apalagi tidur bareng sama lo tapi kenapa tiba-tiba dia dateng ngaku anak gue" ucap Arbhi dengan sedikit meninggi dan kesal
"ya gua minta maaf gue cuman buntu aja gua kalut saat itu jadi gua asal aja"ucap Richa dengan perasaan bingung
"lu tahu sekarang William ada di rumah gue"
"hah..! gak mungkin dia itu di kampung sama nyokap gue, aduh kenapa dia bisa ke situ sih" ucap Richa dengan panik
"udah udah gua nggak mau ngedenger rasa panik loh gua cuman mau mastiin sebenarnya William itu anak siapa"
Arbhi mulai kesal dengan Richa namun ia tak menjawab ia hanya diam seolah ia tak ingin memberitahu Arbhi siapakah ayah kandung William yang sebenarnya
"kenapa lu diem lu bingung"
"iya gue bingung jujur gue juga nggak tahu William itu anak siapa"
"astagfirullah Richa.. Richa, lu serius lu nggak tahu bapaknya si William siapa..! berapa banyak laki-laki sih yang udah tidur sama lu sampai lu bingung begini" ucap Arbhi ia Tak habis pikir akan jawaban Richa saat itu
"aduh udah dong Arbhi gue bingung gue pusing nih" ucap Rika seraya merengek
__ADS_1
"heh..! Lo pikir gua sama istri gue juga nggak bingung nggak pusing lu tahu nggak rumah tangga gua tuh hampir hancur gara-gara masalah ini"
"ya gue minta maaf gue minta alamat lo gua mau jemput William dulu gua mau bawa dia ke Melbourne bareng sama suami gue di sana"
"lo yakin mau bawa dia ke sana, terus lu juga mau ngomong sama dia kalau dia itu nggak ada bapaknya sama sekali dan lu nggak tahu bapaknya siapa jangan gila deh jangan hancurin perasaan anak lu, gue enggak setuju" ucap Arbhi dengan kesal
"ya terus gua harus gimana mau gimanapun dia anak harus gue ambil laaah!!"
"nggak gua nggak setuju udahlah Wiliam ikut sama gua aja kalau perlu gua adopsi sekalian gua nggak setuju dia dibesarkan sama ibu macam kayak lu" ucap Arbhi seraya menunjuk wajah
"tapi dia bukan anak lu kan udah sih nggak usah dipertahanin juga mau gua jemput aja William"ucap Richa ia pun terus membantah ucapan Arbhi
"braaaakk..!!!"Arbhi kesal ia memukul meja membuat Richa terdiam
"jangan bikin kesabaran gua habis ya gua lakuin ini karena gua kasihan sama William karena gua nggak mau perasaan dia terluka dia udah nganggap gua papa kandungnya lu tahu nggak..! dia anaknya baik dia anaknya nurut gue nggak rela aja itu anak rusak kalau diurusin sama lu sekalipun lu ibu kandungnya" ucap Arbhi dengan nada pelan namun menusuk
Arbhi bangun dari duduknya ia merasa sudah cukup dengan penjelasan Richa saat itu
"nggak usah lu cari William lagi dia aman sama gua dia bahagia sama gua semuanya gue yang nanggung semuanya gua yang biayain sampai sekolah tinggi pun gua sanggup udah lu enggak usah cari William biarin sampai kapanpun dia nggak boleh tahu akan hal ini biarin dia nganggap gua ayah kandungnya gua rela gue ikhlas nggak papa lo lanjutin kehidupan lo sama suami lo itu nggak usah lu cari-cari William" ucap Arbhi saat itu seraya ia pergi meninggalkan Richa hanya diam duduk termenung.
Arbhi melangkahkan kakinya dengan penuh kesal dan emosi ia pun pergi menghampiri kliennya kembali ia mencoba seprofesional mungkin untuk tidak terlihat sedang gusar atau kesal
keesokan harinya Arbhi cepat-cepat pulang karena ia ingin menyampaikan hal ini pada Hilya ia rasa hal ini tak cukup untuk diceritakan hanya lewat telepon
"Willy sini papa mau bicara" panggil Arbhi pada William yang saat itu sedang bermain bersama Ichi lalu William pun menghampiri Arbhi yang tengah duduk di sofa bersama Hilya
"rambut kamu udah gondrong potong ya papa juga mau potong rambut" ucap Arbhi seraya merangkul anak lakinya itu dan membelai lembut rambut anaknya itu
"nggak mau ah pah, mau gondrong aja kayak papa waktu masih muda hahaha"
"ya enggak boleh lah kamu kan nanti mau sekolah di sini Masa rambutnya gondrong papa nggak mau"
"ya iya ntar deh sore willy mau ke barbershop"
"ya udah punya uang nggak buat jajan?" tanya Arbhi seraya menatap wajah William dalam-dalam
"uang buat apa pah willy gak pernah jajan bunda masakannya enak bunda juga sering bikin cemilan kok jadi nggak usah jajan di luar,ya kan Bun?" ucap William seraya melirik dan tersenyum pada Hilya
"iya dong bunda gitu loh" ucap Hilya seraya tertawa
"ya sudah nanti kalau mau beli apa-apa ngomong sama papa ya sama bunda juga boleh"
"oke siap"ucap William seraya mengacungkan jempolnya
__ADS_1
Hilya hanya terdiam ia merasa aneh dengan sikap Arbhi kepada William dan ia juga merasa akhir-akhir ini setelah kepulangannya dari Jakarta Arbhi terlihat murung
malam harinya Arbhi sedang menyelesaikan beberapa sketsa di ruang kerjanya lalu Hilya datang menghampiri Arbhi dilihatnya punggung lelaki yang saat ini sangat ia cintai ia dekap erat lalu ia mencium pipi suaminya itu dengan lembut
"ada angin apa ini manja-manja kangen ya sama aku"ucap Arbhi seraya membelai lembut kepala Hilya
"hehehe iya emang nggak boleh kangen sama suami sendiri boleh kalii"
"boleh-boleh banget"
"Mas aku mau nanya"
"tanya apa?"
"Mas kenapa sih pulang dari Jakarta kok kayaknya murung banget ada apa? apa ada masalah di sana gak mau cerita sama aku" tanya Hilya seraya terus mendekap suaminya itu dari
Arbhi terdiam ia menarik nafasnya dalam-dalam ia meletakkan alat tulisnya di tempat semula.
"aku ketemu Richa di sana" ucap Arbhi tiba-tiba membuat Hilya melepaskan dekapannya itu ia sedikit gusar ia khawatir iya tak ingin mendengar kebenaran itu bahwasanya William benar-benar anak Arbhi bersama Richa
"terus mas ngobrol apa? benar anak itu anak kalian berdua"ucap Hilya perlahan
Arbhi terdiamia memutar balik arah duduknya dan menarik Hilya ke pangkuannya dan memeluk Hilya
"sayang, aku tahu aku dulu nakal nakal banget aku gonta-ganti perempuan main sana sini kamu tahu nakalnya aku seperti apakah dulu tapi senakal-nakalnya aku, aku nggak pernah meninggalkan perempuan dalam keadaan hamil cuma kamu itu adalah kesalahan terbesar buat aku meninggalkan kamu dan anak kita karena aku nggak tahu kan" ucap Arbhi dengan hati-hati seraya memeluk Hilya dengan erat hilya hanya mengangguk mengiyakan
"aku ketemu Richa kita bicarakan semuanya dan kamu tahu saat ini aku terpukul sekali aku bingung harus seperti apa menghadapi William" ucap Arbhi Hilya semakin bingung akan ucapan Arbhi
"maksud Mas apa? dia beneran anak mas atau bukan kalau iya pun aku nggak apa-apa aku sudah menerima William seperti anak kandung ku sendiri"
"bukan dia bukan anak kandung aku Dengan bodohnya Richa jujur sama aku yank, dia pun bingung siapa sebenarnya ayah kandung dari William"
"kok bisa mas, dia nggak tahu ayah biologisnya Mas"
"dia ngaku sama aku kalau dulu itu dia sering melayani beberapa laki-laki dan dia bingung siapa ayahnya William"ucap Arbhi perlahan
"astagfirullah terus dia ngomong apa lagi"
"Richa ingin menjemput William pulang tapi aku nahan dan aku bersikeras gak mau sampai William dibawa oleh Richa ke Melbourne karena aku nggak mau, walaupun dia bukan anak kandung ku aku ingin tetap mempertahankan William bagaimanapun caranya karena aku merasa kasihan sama dia" ucap Arbhi dengan suara tergetar
"iya Mas aku ngerti udah lebih baik William dengan kita saja kita besarkan dia dengan kasih sayang yang kita punya kita sekolah kan dia hingga tinggi hingga Dia mempunyai titel dan menjadi orang sukses bersama kita jangan pernah, ah, jangan sampai William tahu masalah ini mas kasihan dia Dia pasti akan terluka"ucap Hilya ia pun merasa sedih mendengar kabar ini terlebih lagi ia pun sudah sangat menyayangimu William seperti anak kandungnya sendiri.
malam itu mereka habiskan untuk berbicara mengenai masa depan William dan sekolah William, bahkan Arbhi pun berencana ingin membuat surat adopsi yang sah kepada Rika agar hak asuh William ada ditangan Arbhi ia sangat ingin William menjadi anak laki-laki pertamanya malam itu Hilya dan Arbhi berbincang-bincang cukup larut.
__ADS_1