I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
BIKIN STRESS


__ADS_3

pagi harinya seperti biasa Hilya menyiapkan sarapan pagi untuk Arbhi, ia juga menyiapkan sarapan pagi untuk William


di meja makan mereka saling diam tak ada yang berbicara


"ck, gini yaa tinggal di dalam keluarga orang kaya!" ucap Wiliam tiba-tiba,ia merasa jenuh tak ada obrolan di pagi hari.


Hilya memandang kesal pada William ia tak punya sopan santun


"lo bisa diem ga abisin makanan lo dan jangan banyak ngomong"


"okee" ucap William


"pah,gue tinggal disini dan sekolah di sini yaa boleh kan pah, tan?" ucap William


"gue minta nomer nyokap lo itu" ucap dingin Arbhi


"mama itu udah lost kontak sama gue pah, gue ga tau dia dimana"


"heh ..!! ga sopan banget jadi anak!!! gue..gue... " Arbhi membentak Willian


"bletakkk...!" Hilya kesal ia membanting sendoknya lalu pergi meninggalkan ruang makan yang bising di pagi hari kepalanya seketika menjadi pusing


"sayang... hei..." panggil Arbhi namun Hilya tak menggubris panggilan arbhi


William terdiam ia mentapa Hilya yang berjalan naik ke lantai atas.


Arbhi menghampiri Hilya ia hanya diam memandang ke luar jendela


"sayang,"


"jangan ngmng apa apa dulu mas aku pusing" ucap Hilya Arbhi pun hanya diam ia faham saat ini Hilya merasa strees


Arbhi meninggalkan Hilya sendiri lalu ia berjalan keluar menghampiri William


"wil, gue minta nomer hape nyokap lo"

__ADS_1


"yaelah pah, mama itu udah ga ada kabar pah..aku gak bohong aku juga gak tau sekarang tinggal dimana terakhir yang aku tau mama nikah sama bule Australia" ucap William sembari tersenyum ketir


"gue ga percaya lo ga punya kontak nyokap lo sendiri dan gue bakal cari tau"


William hanya diam memandangi wajah arbhi yang terlihat marah dan kesal,


siang itu William dan Hilya hanya berdua di rumah Hilya tetap mengurung diri di dalam kamarnya ia bingung harus bercerita ke siapa William pun sama ia sangat jenih di kediaman Arbhi.


sore harinya tiba tiba ponsel Arbhi berdering beberapa kali di lihatnya ada nama pak andi di layar ponsel Arbhi


📲


"halo pa"


"kesini kamu! sekarang!!" ucapan di penuh marah lalu ia menutup teleponnya


Arbhi menarik nafasnya dalam-dalam ia sudah mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya itu Arbhi segera berkemas dan pergi menuju kediaman orangtuanya


Sesampainya di sana Arbhi sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya, Arbhi duduk dengan tenang di hadapan kedua orang tuanya tanpa memulai pembicaraan apapun


"nak coba jawab jujur apa benar dia anak kandung kamu dengan perempuan yang mana lagi" tanya Bu Ambar seraya menekan Arbhi


"mah, pah, jujur Arbhi juga bingung Arbhi nggak kenal dengan si ibu anak itu dan Arbhi juga Arbhi nggak pernah ngelakuin hal bodoh itu sebelumnya itu aja, cukup Hilya yang Arbhi hamilin tapi nggak pernah pak ninggalin perempuan dengan keadaan lagi hamil itu aja "ucap Arbhi seraya meyakinkan orang tuanya


"iya sekarang kamu bisa bilang begitu enggak ingat kelakuan kamu dulu kayak gimana hah!!!!" bentak pak Andi pada Arbhi


Arbhi hanya diam ia tak berani menjawab pertanyaan orang tuanya


"papa dan mama gak pernah mengajarkan kamu menjadi seorang lelaki yang pengecut atau pecundang dari dulu papa selalu nasehatin kamu hati-hati kamu dalam melangkah hati-hati dalam bergaul lihat kalau sudah seperti ini kamu nggak kasihan sama Hilya?" ucap pak Andi dengan tegasnya.


"Arbhi, begini saja kamu cari tahu orang tuanya dulu ibu si anak itu lalu setelah itu kita bicarakan baik-baik Mama nggak masalah nak kalau memang si anak itu anak kamu Mama terima mau bagaimanapun dia cucu mama tapi di sisi lain istri kamu bisa tidak menerima kenyataan ini bisa tidak dia menerima anak itu"


"iya mah Arbhi juga mau cari tahu dulu ibu si anak itu ibunya tapi si anak itu selalu bilang nggak tahu nomor kontak ibunya sudah lost kontak jujur Arbhi agak kasihan mah sama dia, dia kayak hilang arah gitu mah nggak punya pegangan makanya9 harus memutuskan untuk nginep dulu disini untuk cari tahu dulu keberadaan ibunya, Arbhi yakin kami bisa mengatasi ini semua"ucap Arbhi iya pun bingung harus berkata apa lagi selain menunggu dan mencari tahu keberadaan wanita itu


"papa mau nanya bagaimana keadaan istri kamu sekarang dia pasti sangat stress sangat depresi'

__ADS_1


"ya pa Hilya',sampai gak mau nanya sama Arbhi" ucap Arbhi perlahan


"kamu sudah dewasa dan sudah berumah tangga selesaikan ini secepatnya papa nggak mau tahu mau! terserah mau kamu tes DNA mau kamu menemui orang tuanya terserah kamu yang pasti papa mau kepastian Dia anak siapa anak kamu atau bukan kalaupun Dia anak kamu oke kita bicarakan ini baik-baik dengan Hilya dengan keluarganya Hilya dan dengan keluarga si anak tersebut" ucap pak Andi


"ya pa insya Allah Arbhi bisa menjalani ini dan bisa menyelesaikan ini semua kok dan Arbhi juga minta izin Arbhi ingin memberikan dia tempat tinggal dulu di rumah untuk sementara waktu sampai Arbhi menemukan ibunya"


"papa tidak masalah silakan zctapi tolong bicarakan baik-baik dengan Hilya ya kasihan Hilya"


Arbhi hanya mengangguk mengiyakan dipikirannya banyak pertanyaan ya benar-benar ingin mencari tahu sosok wanita itu siapa dan ia pun saat ini memikirkan keadaan Hilya yang sedari tadi hanya diam tak menjawab apapun pada Arbhi, Arbhi pun memikirkan keberadaan ichi yang saat ini masih tinggal di Jawa timur iya ingin menjemput ichi namun ia ragu dan khawatir karena keberadaan William di rumah


sepulang dari rumah orangtua Arbhi ia segera masuk didapatinya William sedang duduk di depan televisi sembari memainkan layar ponselnya dengan cepat merebut ponsel yang dipegang oleh William


"pa ngapain sih izin dulu dong kalau mau ambil" ucap William ia kesal pada Arbhi namun Arbhi tak menggubris omongan William iya terus mencari kontak wanita yang bernama Rika Anggraini itu namun hasilnya nihil tetap tak ia temukan nomor ponsel wanita itu di ponsel William


"nggak ada kan papa nggak nemukan,?" tanya William dengan suara bergetar


"apa Willy kelihatannya bohong sama papa Willy ini di terlantarkan pa, apa salah Willy kesini nemuin papa Willy sendiri karena willy udah nggak punya orang tua nggak ada siapa-siapa cuman punya papa doang" ucap William dengan suara tergetar dan mata yang mulai sembab


mendengar itu Hilya segera turun untuk melihat keadaan di bawah ia melihat Willy yang mulai ingin menangis menahan sesak


"Mas sudah cukup! biarkan dia di sini dulu mungkin dia pun sama bingung nya dengan kita aku bingung dengan keberadaan Willy dan kamu pun bingung dengan keberadaan wanita itu dan dia pun bingung dengan keberadaan mamanya aku paham itu" ucap Hilya seraya berbicara perlahan pada Arbhii Arbhi hanya diam tak menjawab apapun


"oke lu tinggal di sini sama gue sampai gue ketemu ibu kandung lo itu aja gue mau memperjelas semuanya dan gue juga mau kita tes DNA secepatnya"


"Mas apa harus tes DNA" ucap Hilya


"aku mau tahu dia benar anak aku bukan!" ucap Arbhi dengan kesal sembari menatap dingin pada William.


"Mas cari tahu dulu mamanya, udah Mas gak usah mikirin perasaan aku nggak usah mikirin apapun udah nggak papa aku juga sama Mas seorang perempuan seorang ibu aku juga pernah merasakan yang namanya kehilangan ibu udah nggak apa-apa kita cari dulu orang tuanya" ucap Hilya dengan suara terbata dan bergetar Arbhi menatap wajah Hilya dalam-dalam ada rasa Tak tega dalam hatinya ada rasa bersalah dalam dirinya kepada Hilya


William hanya diam tertunduk ia tak berani mengatakan apapun pada Arbhi dan Hilya ia paham betul bahwa keberadaannya telah menghancurkan rumah tangga orang tua barunya itu namun ia pun bingung tanpa arah.


Hilya terisak lalu meninggalkan Arbhi di bawah bersama Willy ia kembali masuk kedalam kamarnya dan menangis, perlahan Arbhi membuka pintu dan menghampiri Hilya yang tengah tertidur sembari menangis dibelainya lembut rambut istri yang sangat ia cintai itu, lalu ia memeluk Hilya


"maafin aku, maaf, maaf" ucap Arbhi dengan suara bergetar ia memeluk istrinya itu erat erat ia menciuminya dan membelainya lembut

__ADS_1


Hilya menyadari bahwa semua yang berumah tangga tidak akan pernah luput dari macam cobaan setiap manusia yang menjalani rumah tangga pasti akan dihadapkan dengan berbagai masalah kehidupan ia pahami itu namun ia tetap saja merasa kesal dan sedih mengapa ia harus mengalami masalah ini ketika ia sudah merasa nyaman dengan rumah tangganya yang baru dibinanya selama kurang dari 1 tahun


__ADS_2