
Malam itu hilya terbangun kepalanya terasa berat dan ia merasakn sakit di pipi dan bibir nya. ia membuka matanya perlahan ia melihat ke sekeliling ruangan, ruangan yang sangat asing untuknya, ia meraih tas nya yang berisikan ponselnya ia memeriksa ponsel miliknya ada 15 panggilan tak terjawab dari Arbhi, 2 panggilan tak terjawab dari Alma adiknya.
📱
Arbhi:
"yaya kamu dimana?"
"yaya, cepet angkat telepon nya, penting!!"
Alma:
"teteh., emak sama neng, masih di rumah wak ikram yaa, mau nginep sampe 7 harinya, kata emak teteh jangan masak beli ajah uangnya ada di kamar emak di bawah taplak meja yaa"
Hilya membaca semua pesan masuk, semenjak kemarin wak Jenar, dan Alma tak berada di rumah karena kakak kandung dari wak Jenar meninggal dunia.
Hilya hanya terdiam, ia membaca terus menerus pesan dari Arbhi ia ingin membalas nya namun niat itu ia urungkan, tiba tiba seseorang masuk ke dalam kamar tempat dirinya beristirahat.
"eh.. sudah bangun, yuk makan dulu, aku ga sempet masak karena baru sampai di Indonesia, terus di lemari es adanya cuma ini" ucap Jane dengan senyum ramahnya membawa baki berisikan satu mangkuk crem soup jamur dan roti kering
Hilya terbnagun dan terduduk ia membetulkan ikantan rambutnya yang sudah mulai mengenduur
"gak apa-apa ka, maaf ngerepotin"ucap Hilya. Jane hanya tersenyum ramah dan menaruh baki di atas meja samping tempt tidurnya
Lalu tiba tiba seorang pria berperawakan tinggi dengan rambut di Cepol dan berkulit putih berdiri di pintu kamar seraya melipat kedua tangannya dan menyandarkan tubuhnya di tiang pintu, Hilya terkejut ternyata Arbhi datang malam itu. ia segera membuang pandangan ia tak ingin menatap Arbhi, Arbhi hanya diam memandangi wajah Hilya dengan tatapan yang dingin, Jane menyadari akan kehadiran Arbhi ia pun merasa canggung malam itu.
"heum kayaknya kalian harus ngomong berdua deh" ucap jane seketika namun Hilya dan arbhi tak bicara,
Arbhi menarik nafasnya dalam-dalam lalu berjalan perlahan menghampiri Hilya, Jane segera mundur
__ADS_1
"jangan emosi kasian dia, oke, bicarakan baik baik" bisik Jane pada Arbhi seraya menepuk bahu Arbhi dengan lembut.
setelah Jane meninggalkan kamar, Arbhi perlahan duduk di atas tempat tidur namun Hilya masih saja tak menatap mata Arbhi ia mencoba menutupi luka di wajahnya.
Arbhi meraih mangkuk yang berisikan cream soup dan mencoba menyuapi Hilya.
"ayo makan...!" ucap Arbhi dingin,sembari menyendoki cream soup untuk hilya
"yaya bisa makan sendiri" ucap Hilya datar ia masih membuang pandangannya.
"makan...!" suara arbhi sedikit menekan, Hilya hanya diam tak menjawab.
"belom lapar!"
"praaaang...." Arbhi membanting sendok kelantai dan menaruh kasar mangkuk soup ke meja, ia sangat kesal
"aku bilang makan ya makan, aku bilang tunggu ya tunggu apapun aku bilang kamu harus ikuti dulu!" suara Arbhi mulai meninggi
"siapa yang maksa kamu.!"
"oom lah, yang maksa..!" Hilya menatap mata Arbhi dengan kesal .
"aku ga pernah maksa kamu aku cuma kamu ikuti dulu semua yang aku bicaakan...!" suara Arbhi meninggi membuat Jane dan Kenzo terdiam di luar kamar.
"terus kalo Yaya ikuti oom yakin semua akan baik baik ajah semua bakal berpihak ke Yaya, oom yakin semua yang terjadi hari ini ga akan terjadi sama yaya, oom juga apa bisa jamin dan yakin kalo Yaya ikuti yaya ga bakal di cibir orang lain" ucap Hilya dengan suara lantang dan bergetar menahan tangis.
"heuuuh... Yaya, aku tahu apa yang harus aku lalukan aku cuma butuh kamu untuk bersabar dan bertahan itu saja dulu" ucap arbhi dengan wajah penuh emosi.
"sampe kapan.! oom bisa memprediksi kan nya" ucap Hilya
__ADS_1
"kok diem oom jawab?. ayoo jawab..! oom, Yaya cuma takut apa yang Yaya lakuin ini salah, Yaya ga munafik Yaya sayang sama oom Yaya cinta sama oom, Yaya ga tau kapan rasa itu mulai ada tapi Yaya sadar ini salah, ga seharusnya Yaya punya perasaan ini sama oom, dan akhirnya Yaya cuma bisa bikin. orang tua Yaya sakit dan nentang kita kan, Yaya ga mau ngebangkang oom, Yaya takut..." ucap Hilya sembari menangis pilu terisak.
"Yaya capek .. Yaya lelah, kita nyerah ajah oom, oom kembali ke kehidupan oom anggap oom ga kenal Yaya", isak Hilya menahan sesak
"ga..! aku ga mau!" ucap Arbhi ia tetap tak ingin melepaskan Hilya
"oom ..!"
"aku bilang enggak yaa enggak aku yakin kok ada jalan keluarnya"
"Yaya ga mau nentang orang tua oom, takut terjadi hal yang ga enak" ucap Hilya
"tolong bertahan dulu sebentar saja .. !" suara Arbhi bergetar ia menundukkan kepalanya di hadapan Hilya.
" aku mau perjuangkan semua nya dulu, tapi aku gabisa berjuang sendirian aku butuh kamu ya, butuh kamu" ucap Arbhi sembari memegang kedua bahu Hilya cengkraman nya membuat Hilya sedikit kesakitan.
"please.....tolong...bertahan dulu sebentar saja" lirih Arbhi, Hilya hanya terdiam tak menjawab di hati kecilnya pun ia ingin mempertahankan hubungan nya dengan Arbhi.
Malam itu Hilya dan Arbhi hanya bisa menangis terisak mereka saling mencintai namun kedua orang tua tak merestui hubungan mereka, malam itu Hilya tak kembali ke kediaman nya, Jane meminta Hilya untuk bermalam di apartemen Kenzo,
Malam harinya Jane, Kenzo dan Arbhi berbincang-bincang tentang masalah yang Arbhi dan Hilya alami
"lo udah mantepin hati but semua ini?" tanya Jane, Arbhi hanya mengangguk perlahan
"lo yakin,?" tanya Kenzo
"yakin" ucap Arbhi, setelah berbincang-bincang dengan Kenzo dan Jane, Arbhi kembali melihat keadaan Hilya yang tengah tertidur lelap ia menghampiri Hilya dan duduk di samping Hilya ia membelai lembut pipi Hilya, ia melihat luka memar di pipi kirinya Arbhi meraih obat oles yang di berikan oleh jane dengan lembut ia mengobati luka memar di pipi Hilya.
"gilaa sampe kayak gini si si Jessica nampar Yaya, maafin aku yaa." ucap Arbhi ketika melihat wajah Hilya tampak lembam ia mencium lembut pipi dan kening Hilya.
__ADS_1
"aku sayang kamu Hilya, aku mencintaimu apa adanya ga peduli ada apapun di hadapanku nanti aku akan bersikeras tetap memilih kamu Hilya" ucap Arbhi dalam hatinya,ia terus memandangi wajah Hilya ada kerinduan yang sangat besar di dalam hati Arbhi.