
Seminggu sudah wak Jenar berada di rumah sakit, dan seminggu pula Hilya tak kembali ke rumah Arbhi, Arbhi merasa gelisah bahkan ponsel Hilya pun tak aktif, Arbhi menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia biarakan kediaman nya dalam keadaan kotor dan sampah berserakan di dapur karena ia berharap Hilya akan kembali ke kediamannya namun nihil hampir dua minggu Hilya tak kembali dan Arbhi pun bertekad untuk menemui keluarga Hilya.
sesampainya di kediaman Hilya, ia tak bisa turun dari kendaraan nya karena ia tahu keadaan saat ini sangat sulit untuk Hilya,
"syukurlah dia baik baik ajah" ucap Arbhi ketika melihat Hilya yang sibuk menyapu halam rumahnya.
Arbhi terus memandangi Hilya hingga ia tak menyadari ada sepasang mata yang sedaru tadi memperhatikan kendaraan arbhi. setelah di rasa cukup. Arbhi kembali pulang menuju kantor tempat ia bekerja
Seampainya di kantor Arbhi terkejut seseorang telah menunggu Arbhi di dalam ruangan nya.
" pak Tubagus.. apa kabar pak" Arbhi tersenyum dan bersalaman dengan pak tubagus
"Alhamdulillah kabar saya baik mas Arbhi, bagaimana design sketsa nya sudah jadi" tanya pak tubagus
"ahh sedikit lagi pak, maaf jadi merepotkan malah bapak yang harus mendatangi kantor saya" ucap Arbhi dengan senyum tersungging di bibirnya
"ah tidak apa-apa, saya orangnya simple mas Arbhi, jadi kalo saya mau begini yaa begini... saya ga suka yang ribet" ucap pak tubagus seraya berseloroh.
"ah .haha . iyaa pak , oh ini designnya sesuai apa yang bapak mau"
pak Tubagus mengernyitkan dahinya seraya ada sesuatu yang kurang.
" mas Arbhi, mengapa di dalam sketsa ini tidak adanya tempat ibadah" tanya pak Tubagus
"ah maaf pak saya mendesign ada beberapa ruang kosong yang bisa dijadikan ruang ibadah" ucapa Arbhi
"saya ga mau...! buat ulang,". seketika wajah pak tubagus menjadi mendingin
Arbhi terkejut akan ucapan pak tubagus, ia pun menyanggupi untuk membuat ulang design sketsa yang akan ia buat.
" bagaimana kabar yaya"
"ah.. Yaya baik baik saja pak"
" Alhamdulillah, sampaikan salam saya untuk yaya, dan saya mau sketsa yang baru mas arbhi sendiri yang mengantarkan nya ke rumah ajak yaya juga saya ingin bertemu". ucap pak tubagus
"heum.. insha Allah pak..pasti saya akan ajak Yaya"
__ADS_1
" yasudah kalau begitu saya pamit, jangan lupa buat design sketsa lain dari pada yang lain" pinta pak Tubagus
dan setelah kepergian pak Tubagus, Arbhi hanya diam menarik nafasnya dalam-dalam
" seandainya pak Tubagus tau,. keadaan gue sama Yaya, apa dia akan kecewa dan membatalkan tender ini yaa" ucap Arbhi dalam hatinya.
Siang itu di kediaman pak Andi, wak Rudi sibuk membersihkan mobil pribadi milik pak andi tiba tiba bu ambar datang menemui wak Rudi
"pak Rudi bisa tolong antar saya sama oma ke mall ya". ucap bu Ambar
"ohh iyaa baik bu" wak Rudi segera menyiapkan kendaraan untuk mengantarkan kedua majikannya itu
wak Rudi melajukan kendaraannya dengan sangat hati hati karena ia tahu ibu kandung dari pak Andi tersebut sangat kritis dalam segala hal.
" sudah waktunya Andi ganti mobil, yang lebih nyaman" ucap oma
" iyaa mi, tapi mas Andi belum mau karena mobil ini juga masih bagus dan layak kok mi"
"heum, di luar sana, yang berkecukupan seperti kita banyak mobil mewah tapi kamu, gak ada mobil mewah," ucap oma, bu Ambar hanya bisa diam, padahal kendaraan yang saat ini digunakan salah satu mobil mewah.
"oh iya. banyak art dan supir yang harus di PHK yang usianya sudah cukup tua, sudah waktunya kamu pikirkan untuk ganti yang lebih muda" ucap oma seraya memandang ke arah luar jendela
Malam harinya Hilya sedang berada di kamarnya ia merasa gelisah ia memikirkan keadaan Arbhi ia menyadari ia meninggalkan kediaman Arbhi tanpa pamit, dan ponselnya pun ia non aktifkan.
Hilya mulai mengaktifkan ponselnya ia membuka satu persatu pesan dari Arbhi yang selalu menanyakan keadaan Hilya dan Tiba tiba ponsel Hilya berdering dan ternyata Arbhi menelepon Hilya.
📲
"halo"
"yaya... kamu kemana ajah, aku kesana Sekarang" ucap Arbhi dengan antusias
"oom ja...." belum selesai Hilya menjawab Arbhi sudah menutup teleponnya
Hilya hanya diam ia bingung apa yang akan ia katakan pada Arbhi.
tak butuh waktu lama, Arbhi telah sampai di kediaman hilya ia bingung ia turun dari kendaraan nya atau ia tunggu Hilya di mobil, Arbhi memutuskan untuk turun dan bertemu langsung dengan hilya.
__ADS_1
ia berjalan perlahan dan mengetuk pintu rumah, namun tak ada yang menjawab salam dari Arbhi ia terus mengetuk dan mengucapkan salam lalu terdengar suara seorang perempuan yang amat familiar di telinga arbhi ia membuka pintu dengan sangat hati hati.
"yaya..." suata Arbhi bergetar hatinya seketika merasa bahagia ketika melihat Hilya ia tersenyum manis sembari menatap Hilya dalam dalam
"om.." ucap Hilya sembari memasang wajah hati hati dan sedikit takut
"kamu, kenapa ga pulang" suara Arbhi lirih
"oom, maaf.. mending oom pulang dulu ya sekarang, " Hilya berbicara dengan berbisik.
" ada apa sih, yaya..ga gini caranya aku tau kamu ga boleh kerja lagi di rumah aku tapi ga gini juga, aku mau ketemu pak Rudi aku mau minta izin" Arbhi mencoba masuk namun Hilya menahan tubuh Arbhi
"oom.... tolong,. jangan bikin yaya bingung tolong oom ngerti akan keadaan yaya saat ini" suara Hilya bergetar menahan tangis.
Arbhi hanya diam,. ia menatap wajah Hilya dalam dalam ada rindu dalam hatinya ingin rasanya ia menarik Hilya kedalam pelukannya namun ia sadar diri saat ini saat yang sulit, tapi Arbhi bertekad akan meminta izin kepada kedua orang tua Hilya untuk merestui hubungan mereka arbhi ingin mengajak Hilya ke jenjang yang lebih serius.
"kamu tau.. kangen nya aku seperti apa, di rumah sepi yaya, ponsel kamu non aktif, aku tau kamu saat ini kalut tapi tolong kabari aku, sekarang aku tanya mau kamua apa!" ucap Arbhi dengan dinginnya
Hilya tak bisa menjawab pertanyaan Arbhi ia hanya bisa tertunduk,menahan tangis,
"yaya..mau keluar kerja dari rumah oom" ucap Hilya dengan terbata bata
"apa lagi...!?" tanya Arbhi kembali
"yaya..mau kita putus!" ucap Hilya dengan hati hati
"putus..!" Arbhi mengernyitkan dahinya
"iya..."
"kapan aku nembak kamu, kapan aku minta kamu jadi pacar aku, kita menjalani semua tanpa ada kata penembakan kan, hati kita sama sama tau perasaan ini untuk siapa, aku ikuti setiap pola fikir kamu, aku yakinin hati aku untuk menjalani hubungan ini, aku ga pernah anggap kamu pembantu setelah aku ada hati sama kamu yaya, terus sekarang setelah aku yakin kamu mau jauhin aku,di saat aku mau berjuang untuk dapet in kamu dan restu ornag tua kamu"
" maaf oom, tapi... kita beda"
"beda... beda...beda.. selalu itu yang kamu fikirin tanpa kamu tau orang tua aku keluarga aku seperti apa kamu belum menjalani tapi sudah menyerah, oke... kalo kamu mau seperti ini asal kamu tau aku sayang tulus sama kamu Hilya" ucap Arbhi dengan suara bergetar
Hilya hanya diam menitikan air matanya ia tak bisa menjawab apa apa, Arbhi langsung terdiam dan ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kediaman Hilya, Hilya hanya bisa menangis melihat kepergian Arbhi
__ADS_1
"oom asal oom tau yaya sayang sama oom yaya cinta sama oom yaya ga mau kehilangan oom, yaya mau perjuangin ini semua tapi yaya takut" ucap lirih Hilya dalam hatinya
saat ini Hilya hanya bisa pasrah dan mengikuti jalannya waktu ia tak ingin memaksakan kehendak diri sendiri ia takut bila ia memaksa kan perasaan nya akan ada hati yang terluka yaitu hati orang tuanya dan Jessica tuanangan arbhi.