I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
KENANGAN


__ADS_3

Senin pagi Arbhi sudah berada di kantor ia berangkat lebih pagi Karena banyak pekerjaan yang tertunda.


"pagiiii brooo" sapa Kenzo pagi itu, namun Arbhi hanya diam tak menjawab


"waah apaan nih sketsa design buat siapa?" tanya Kenzo kembali, namun Arbhi tetap diam tak menjawab


"wooy gue ga boleh tau nih" Kenzo menyikut lengan Arbhi


"sejak kapan lo pacaran sama Hilya..!" ketus Arbhi seraya menatap Kenzo dengan tatapan yang dingin dan sinis.


"woow.. kok lo tanya itu, heum, kayaknya ada something nih" ucap Kenzo sembari membetulkan posisi duduknya.


"lo udah akrab banget sama Hilya, lo ada rasa sama hilya??, sejak kapan lo pacaran sama Hilya, kenapa kemarin lo ngaku ngaku jadi cowoknya Hilya" Arbhi menyecar Kenzo pagi itu.


"stop..stop... satu satu iih kebiasaan lu kalo marah kayak orang nge rap kagak ada titik sama koma hadeeuh"


Arbhi hanya diam mendengar ucapan Kenzo yang terlihat seperti tersenyum meledeknya.


"wait...wait... jangan bilang kalo elo....." ucap Kenzo dengan senyum meledek sembari menunjuk wajah Arbhi


"apa ...!" ketus Arbhi sembari menatap sinis pada Kenzo


"DAMN....!!! aah gilaaa serius..?? lo... suka sama Hilya, sejak kapan!!" kenzo menepuk bahu Arbhi, ia menyadari akan perasaan Arbhi pada Hilya


"terus Jessica gimana???" tanya Kenzo kembali


"ga tau gue ga mikirin Jessica" ucap Arbhi dingin


"bro, lu ga bisa gitu mau gimanapun dia cewek lu bro, tapi kok kenapa lo bisa suka saym anak kemarin sore itu sih" ucap Kenzo kembali menjatuhkan tubuhnya ke sofa


Arbhi hanya diam tak menjawab ia pun masih bingung mengapa ia sesuka itu pada Hilya,


"woy.. jangan bilang lo suka sama Hilya karena ada kemiripan sama Anyelir...!!" ucap Kenzo dengan tatapan tajam pada Arbhi


Arbhi terdiam ia menghentikam jari-jemari nya yang sedari sibuk menggambar design

__ADS_1


Arbhi bangun dari duduknya dan meninggalkan kenzo sendirian


"bhi ... woy.. bhi.. mau kemana lo..." teriak Kenzo namun Arbhi hanya diam dan terus berjalan cepat


"kenapa gue bisa selupa ini dengan Anyelir..., padahal gue janji bakal terus nengokin dia.. nengokin neneknya, apa karena perhatian gue ke hilya sehingga gue lupa sama Anyelir"


Arbhi terus menggerutu dalam hati dan fikirannya ia menuju kendaraan yang terparkir di basemen dan segera ia melajukan kendaraannya,


Sesampainya di daerah perkampungan yang sangat asri, Arbhi berjalan menuju ke salah satu rumah yang sangat sederhana dengan bangunan semi permanen, di sekeliling rumah yang berhalaman luas ia berjalan memutari rumah tersebut tepat di halaman belakang.


"Anyelir....." sapa Arbhi seraya berbisik


Namun Anyelir hanya diam tak menjawab perkataan Arbhi ia mendekati Anyelir ia mengusap lembut kepala Anyelir.


"maaf yaa, aku sedikit lupa, aku minta maaf, aku ga bisa bohongi perasaan aku sendiri Anyelir, aku mencintai dia, jujur aku akui ada sosok kamu didalam dirinya" ucap Arbhi ia duduk di hadapan anyelir, dan menunduk menahan tangis.


"Arbhi....!" suara nenek tua memanggil Arbhi, lalu Arbhi menoleh dan ia menyeka air matanya dan berjalan cepat menghampiri wanita tua itu


"nek,... apa kabar" ucap Arbhi sembari bersalaman dan memeluk nenek itu.


"Alhamdulillah Arbhi sehat" ucap Arbhi seraya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"heum, rambut kamu makin panjang ajah, potong sedikit" ucap si nenek Sembari membelai rambut Arbhi


"iyaa nek,"


"heum, ada apa Arbhi ke sini?"


Arbhi terdiam dan memandang pusara anyelir


"rindu Anyelir nek.."


"heum," nenek menarik nafasnya dan berjalan menuju pusara Anyelir yang ada di belakang rumah nenek tersebut


"dia masih nenek rawat, bahkan sudah di tutup tanah merah sekalipun, nenek hanya takut kalo nenek sudah tak ada umur siapa yang akan membersihkan makam Anyelir" ucap nenek sembari mencoba memunguti beberapa helai daun kering

__ADS_1


"nek, maafin Arbhi beberapa bulan ini Arbhi ga nengokin nenek dan Anyelir"


"haaha tidak apa-apa bhi,. yang penting selipkan saja doa buat Anyelir di setiap kamu selesai sholat, oia makasih kamu masih sering transfer buat nenek tapi, nenek ga bisa pakai"


"kenapa nek...!" ucap Arbhi ia terkejut akan ucapan nenek


"tidak apa-apa, nenek tak ingin merepotkan kamu, nenek simpan uang itu karena nenek khawatir bila kamu nanti sedang ada masalah finansial jadi nenek bisa bantu" ucap nenek


Mendengar ucapan nenek dada Arbhi terasa sesak, air matanya ingin terjatuh namun ia tahan, ia menyadari betapa baiknya Anyelir dan neneknya sepertinya ia tak mampu untuk membalas apa yang telah mereka berikan untuk Arbhi, terlebih lagi ia kehilangan Anyelir cucu satu satunya yang dulu nya adalah cinta pertama Arbhi semasa SMU.


Arbhi berjalan menghampiri nenek, dan melihat wajah tuanya yang terlihat lelah.


"nek, tolong jangan tolak pemberian Arbhi mungkin hanya dengan cara ini arbhi bisa tebus kesalahan Arbhi saat itu" ucap Arbhi dengan suara tergetar


"kesalahan apa,? kamu itu ada ada aja, itu bukan kesalahan kamu, itu semua sudah takdir Allah, dan kita tidak boleh menyalahkan siapapun" ucap nenek sembari tersenyum


"oia mau sampai kapan kamu sendirian terus!"


"ga tau nek Arbhi juga ga tau sampai kapan"


"bila ada seseorang yang membuat mu nyaman ayoo cepat lamar dia, jangan tunggu yang tak mungkin kembali" ucap nenek


Arbhi terdiam ia teringat akan Hilya namun ia enggan mengatakan nya. Arbhi hanya tersenyum mendengar ucapan nenek.


"kamu mau menginap atau pulang ini sudah hampir sore"


"pulang saja nek,"


"yasudah, kamu mandi dulu baju mu ada di lemari di kamar anyelir, nenek siapkan makan dulu yaa" ucap nenek sembari menepuk pipi Arbhi dengan sayang dan meninggalkan Arbhi sendiri


Arbhi masih berdiri melihat pusara Anyelir yang terlihat bersih dan terawat, setelah di rasa cukup Arbhi mandi dan segera berganti pakaian, ia duduk di atas tempat tidur milik Anyelir, kamar yang setiap hari nenek bersihkan walaupun ia tahu bahwa tidak mungkin Anyelir akan kembali, Arbhi melihat sekeliling kamar di dinding kamar masih menempel beberpa foto semasa SMU, anyelir ynag terlihat alami tanpa make up bahkan kulit nya yang cenderung hitam manis dengan lesung pipi yang ia miliki terlihat wajahnya nampak semakin manis dengan rambut pendek sebahu membuat Anyelir terlihat seperti gadis desa pada umumnya.


Ponsel Arbhi berdering berkali kali, ia melihat ponselnya tertera nama Jessica namun segera Arbhi abaikan


"gue fikir hilya, ternyata dia sama sekali ga perduli gue walaupun sehari ini gue ga ada kabar apa cuma gue yang punya perasaan ini egois banget gue kalo gue suka sama Hilya hanya karena gue sekilas melihat sosok Anyelir dalam diri Hilya" ucap Arbhi perlahan ia hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


Sepenuhnya Arbhi menyadari bahwa sampai kapanpun Anyelir tak akan pernah kembali tetapi rasa di hatinya begitu kuat ingin mendapatkan Hilya untuk masa depannya nanti namun ia juga khawatir apakah bila ia memilih Hilya semuanya akan baik baik saja, sedangkan ia tahu watak dan prilaku Jessica.


__ADS_2