
Sore itu dengan penuh rasa antusiasnya Bu Ambar membawa Hilya masuk ke dalam rumahnya menuju dapur sesampainya di dapur tak henti hentinya Hilya melihat sekeliling dapur yang di penuhi barang elektronik mewah.
"woooaaa.... ini sih dapurnya luas banget, luas dapur kayak satu rumah gue hahah" ucap Hilya dalam hatinya
"nahh.. nih hilya" ucap bu Ambar sembari duduk di lantai dapur dan sembari membuka box sterefoam besar berisikan beberapa ekor kepiting bakau, Hilya pun ikut duduk bersama bu Ambar.
"wwwooaaahhh gedee banget bu kepiting nya" ucap Hilya dengan suaranya yang lantang dan dengan antusiasnya ia memegang kepiting tersebut.
"haha Hilya suka yaa entar yaa ibu ambilin box kecil dulu" ucap bu Ambar, hilya hanya mengangguk mengiyakan.
Tak lama kemudian Bu Ambar di bantu dengan mbak Narti salah satu asisten rumah tangga di kediaman keluarga Sidharta.
"nih buat Hilya, yaa ibu kasih 6 ekor" ucap bu Ambar sembari tersenyum.
"kebanyakan bu,"
"ahh, gak apa-apa kan bisa di masak besok nya lagi,"
"hehe makasih ya bu," ucap Hilya tiba tiba seseorang berteriak dari ruang keluarga
"Bi.... AMBILIN MINUM AUS NIIIHH" teriak pria itu.
Ia adalah Arbhi anak pertama dari keluarga Sidharta.
"ck, kebiasaan banget si Arbhi mau apa-apa kudu teriak sama si bibik nya" ucap bu Ambar dengan kesal.
ia melihat bik Ijah membawa segelas air untuk Arbhi namun cepat-cepat bu Ambar menahan nya.
"jangan bi,.. kebiasaan,. suruh ambil sendiri" ucap bu Ambar.
Mendengar itu Hilya hanya diam tak bisa berkata apa-apa.
"BIII...BIBI... MANAA WOOY AER GUA..." teriak Arbhi kembali
mendengar itu bu Ambar semakin kesal, lalu ia bangun dari duduknya dan berteriak pada Arbhi.
"ARBHI ...! kebiasaan amat sih, nyuruh nyuruh gitu. punya tangan punya kaki kan?, ambil sendiri," ucap bu ambar dengan tegasnya
"ck... hiiih mami nih" ucap Arbhi dengan kesal,
ia berjalan dengan kesal menuju dapur dengan sedikit marah ia mengambil gelas dan ingin mengambil air dingin di dalam lemari es namun Hilya yang duduk tepat di depan lemari es, hanya diam ia tak paham maksud Arbhi, Arbhi hanya diam memandang sinis ke Hilya.
"ihhh serem amat ni orang udah tinggi rambut gondrong tabiat jelek iih amit amit" ucap Hilya dalam hatinya.
"minggir...!" ucap Arbhi pada Hilya, ia meminta Hilya untuk menyingkir, bu Ambar hanya melotot kesal
"misi hilyaaa.. aku mau ambil air. gitu dong, kuliah tinggi tapi ga punya sopan santun" ucap bu Ambar.
"hhhaaaeeehhh" Arbhi menarik nafas nya dalam-dalam lalu tersenyum terpaksa
__ADS_1
"misii yaaa aku mau ambil aiirrr" ucap Arbhi dengan senyum yang ia paksakan.
"oohh iyaa" Hilya bangun dan menyingkir dari dekat lemari es, mata Hilya dan Arbhi beradu, terlihat tatapan tidak suka dari Arbhi ia hanya menatap sinis pada Hilya.
Arbhi Alvino Putra Mahardika Sidharta mempunyai tinggi 180 dengan perawakan yang proposional seorang laki laki ia mempunyai sifat yang kasar, ia seorang arsitek yang terkanal dengan tangan dingin dan ide kreatif yang ia miliki banyak ide dan design milik nya di minati oleh kalangan artis dan orang penting, namun sayang Arbhi seorang yang pemarah dan kasar.
Arbhi membuka lemari es dan mengambil air minum dinginya dan segera berlalu dari hadapan bu Ambar dan Hilya,
"eh Hilya buat bahan bahan nya ada ga?" tanya Bu Ambar pada Hilya
"heummm ada kok bu"
"boohoong,"
"heeeheee," Hilya hanya tertawa malu.
"heummm kamu itu malu malu. ayoo kita ke minimarket pribadi ibu di belakang" ajak bu Ambar sembari menarik lengan Hilya.
Sesampainya di minimarket pribadi bu Ambar, Hilya sangat kagum dan tak bisa berkata apa-apa.
"wagelaseh.... ada alpamarit dalem rumah. gilee, sultaan banget" ucap hilya dalam hatinya.
"Hilya, kok bengong siih ayoo pilih apa yang kamu butuhin tuh keranjang nya di sana" ucap bu Ambar sembari menunjuk ke arah tempat keranjang tempat menaruh barang yang akan Hilya ambil ia segera mengambil keranjang dan mengambil apa yang ia butuhkan, ia hanya mengambil saus tiram., kecap asin, dan minyak wijen, semua ia taruh ke keranjang dan setelah itu ia menghampiri bu Ambar sembari membawa bahan masakan yang ia butuhkan.
"looh kok dikit amat, iih kau nih yaa disuruh ambil yang banyak" ucap bu ambar ketika melihat isi keranjang yang Hilya bawa.
"bu ini kebanyakan" ucap hilya merasa tak enak hati pada bu Ambar
"aalaaah gak apa-apa, kapan lagi kamu main ke sini cantiikk.. ibu seneng kamu ke sini kapan kapan ajak Alma juga yaa" ucap bu Ambar seraya tersenyum manis penuh ketulusan.
"yukk Sekarang Hilya bayar yaa"
"haaah bayar??" ucap Hilya ia terkejut mendengar bu ambar meminta Hilya untuk membayar, bu Ambar hanya menahan tawa melihat ekspresi wajah Hilya yang ketakutan
"hahahahahah... gak kok becanda ..becanda.. ayoo ah.." bu Ambar merangkul Hilya sembari berjalan menuju dapur dengan membawa sembako lalu tak lama kemudian beberapa asisten membantu bu Ambar untuk mempacking segala barang belanjaan sembako milik Hilya, terlihat Arbhi yang masih santai duduk dan menonton tivi dengan sesekali menatap sinis.
"ciih .. numpang idup semuanya" ucap Arbhi menatap sinis pada Hilya yang terlihat senang mendapatkan sembako dari bu Ambar.
Setelah selesai Hilya segera pamit pulang bersama wak Rudi sore itu, setelah kepulangan Hilya Bu Ambar menghampiri anak lelaki pertama nya itu.
"tumben kamu pulang" ucap bu Ambar, namun Arbhi hanya diam
"kenapa, ga betah di rumah kamu sendiri?" tanya bu ambar kembali.
"males, semua pembantu ga ada yang beres" ucap Arbhi kesal
"heum kenapa emang, si ningsih ga bis beres-beres apa gimana?"
__ADS_1
"dia kabur ga tau kemana?" ucap Arbhi ketus.
"hadeuuuh Arbhi ini udah yang ke 6 loh, kamu ganti ART" bu Ambar memegang dahinya ia sangat bingung dan pusing dengan kelakuan anak pertamanya itu.
"sekarang mami tanya, kamu apain si ningsih sampe kabur begitu"
"gak di apa-apain" ucap Arbhi sembari membetulkan bantal di sofanya lalu ia merebahkan tubuhnya.
"lagian jadi pembantu ga resik males juga"
"heh....!! pembantu pembantu....ga sopan, kamu panggil semua yang kerja di rumah kita itu ART asisten rumah tangga" ucap bu Ambar sembari memukul bahu Arbhi
"aaaw.. iyaa iyaa ART..." jawab Arbhi dengan kesal.
lalu bu Ambar meraih ponselnya dan menelepon salah seorang di yayasan yang menyalurkan ART untuk Arbhi,
Lalu tak lama kemudian bu Ambar berbicara dengan pemilik yayasan dan kemudian berbicara dengan Ningsih.
📲
"halo ning!"
"iyaa bu ambar"
"kamu kenapa kabur dari rumah mas Arbhi??"
"heumm anu.. maaf bu, saya ndak kuat kerja di rumah mas Arbhi"
"looh kenapa?, Arbhi kasar yaa sama kamu" tanya Bu Ambar sembari melotot pada Arbhi.
"anu.. bu maaf loh bu. joroknya ga ketulungan bu, terus selalu mabuk, kalo suruh beli makan di malam hari suka gak lihat sikon dan waktu bu, dan saya ndak ada libur di hari minggu bu, dan maaf ucapan mas Arbhi kasar bu" ucap Ningsih
"astaghfirullah,... hhhaaaeeehhh sudah ibu duga yasudah ibu minta maaf yaa, nanti uang gaji terakhir nya ibu transfer yaa ning,"
"ndak usah bu, saya kan belum sebulan kerja di rumah mas Arbhi,"
" udah gak apa-apa ning, ibu bayar full, maafkan atas sikap Arbhi yaa ning" ucap bu Ambar
"iyaa ibu ga apa-apa, dan makasih banyak yaa bu"
"iyaa ning sama-sama" ucap bu Ambar dan segera ia menutup teleponnya
📱
"mulai sekarang ga ada ART, kamu beresin rumah kamu sendiri" ucap bu Ambar sembari menoyor kepala Arbhi.
"diih mami apaan sih mi. ga mau ah kalo gituh Arbhi tinggal di sini lagi" ucap arbhi seraya merajuk.
"ga boleh.. sana pulang ke rumah kamu sendiri" bu Ambar bangun dari duduk nya dan meninggalkan Arbhi
__ADS_1
"mi...iih mami ga bisa gituh ah, Arbhi ga mau pulang sebelum ada assisten rumah tangga alias pembantuuuuu mamii...!" teriak Arbhi namun bu Ambar hanya diam berlalu tak menjawab.
Ia naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya, kepalanya terasa sakit bila melihat kelakuan Arbhi yang tak kunjung berubah.