
Seteleh kejadian itu Arbhi melangkahkan kakinya untuk pergi ke kediamannya fikirannya kalut, ia membuka ponselnya ia mencoba menelepon Hilya namun sayang ponselnya tak aktif
ia mencari kontak Kakak sepupunya yang bernama Margi
,📲
"halo ."
"halo mbak...ini aku Arbhi!"
"luoohh tumben ada apa bhi"
"mbak, mbak Margi tau kan aku ada masalah apa!"
"iyoo oma yang cerita sama ayah, kenapa bhi kamu mau nolak?, percuma seperti nya ini udah jadi jalan hidup kita sebagai anak pertama"
"haaaeh Arbhi ga cinta mbak sam dia"
"podo ae ( sama saja) bhi aku juga juga dulu ga cinta sama mas bayu tapi mau gimana lagi mbak tinggalin pacar mbak, mbak ikutin omongan oma, dari pada rame, dan bawa bawa perusahaan yang di kasih oma ke ayah,. malah jadinya ga enak"
"mbak bahagia, dengan pernikahan bisnis ini"
"bahagia atau enggak itu kita sendiri yang ciptakan, yaa mau gimana yaa bhi, anak mbak sekarang sudah 2 perusahan ayah sama perusahaan mas bayu stabil, di bilang bahagia yaa giamna yaa"
"kenapa mbak?"
"mbak harus pura pura bahagia demi anak demi kelangsungan perusahan, mbak harus nelen pil pahit di saat mbak tau mas bayu punya istri simpanan yaitu mantan pacarnya sendiri ketika mbak hamil anak pertama" ucap margi perlahan
"astaghfirullah, mbak ga minta cerai?"
"banyak yang harus aku fikirin bhi, cerai memang jalan terbaik namun akan da hal besar yang akan bikin kita rugi. jadi mbak fokusin ajah ke perusahaan yag mbak rintis, sama anak aank juga, mbak ga fikirin mas bayu terserah dia mau pulang ke mana ke mbak atau ke istrinya yang ke dua, sakit memang tapi mau gimana!, ini sudah takdir mbak"
__ADS_1
"oma tahu,??"
"gak.. walauoun oma tahu dia ga akan peduli yang penting perusahaan dan pabrik aman"
"aku bingung mbak"
"mbak cuma bisa bilang coba ikhlas saja dulu,kamu laki laki sudah menikah nanti rintis semua dari nol dan buka usaha atas nama dirimu sendiri, ingat jangan pake modal oma atau mertuamu nanti bakal ribed, sisanya kalau kamu sudah bisa berdiri sendiri yo wes terserah kamu, kamu jadi makin cinta sama Jessica ya jalani malah makin ga cinta yo wes"
"haaaeh, yaudah deh mbak, makasih yaa mbak udah mau berbagi cerita, kabari kalo udah cerai sama mas bayu hahahaha"
"wah bocah gendeng....( wah bocah sialan,) yowes salam buat oom sama tante yaa"
"yaa mbak.. siap"
Arbhi menutup teleponnya dan melempar ponselnya ia menutup matanya terbayang wajah Hilya, dan semua yang mereka lalui bersama.
malam harinya Hilya masih terus menangis, perasaannya bercampur aduk, ia rindu dengan Arbhi namun ia juga sedih kedua orang tuanya menentang bahkan masih menolak keingin Hilya untuk bersama Arbhi.
pagi harinya, Hilya tak keluar kamar wak Jenar dan wak Rudi pun tak mau membangun kan Hilya, begitu juga Alma, dan Faisal, mereka segera melakukan aktivitas mereka sehari hari
" ya" ucap alma dengan malas
wak Jenar hanya berpamitan pada Alma tidak pada hilya yang masih di kamar, malam harinya wak jenar merasa iba pada Hilya ia mengetuk pintu, dengan hati hati
"teh...teh..." wak Jenar mengetuk pintu dengan hati hati dan memanggil Hilya,
"teteh....teh... dok..dok...dok..." wak Jenar terus menegetuk ia merasa khawatir Hilya tak menyahut dari dalam kamarnya.
"neng, coba lihat di jendela si teteh ga nyahut ada ga si teteh di kamar" ucap wak Jenar ia menyuruh Alma untuk melihat keadaan Hilya.
almya segera melihat keadaan kamar Hilya lalu ia segera berlari menghampiri ibunya
__ADS_1
"mak...mak.... si teteh ga ada.." ucap Alma dengan panik nya,
"hah... panggil a fais.. di warung sana.." Wak Jenar menyuruh Alma memanggil faisal yang sedang berada di warung tetangga malam itu
"faisal... si yaya ga da..!" wak Jenar mencoba membuka pintu kamar ia mendobrak pintu kamar Hilya benar saja kamar itu kosong, tak berpenghuni
"teteh....teteh kemana!!" Alma mulai menangis berteriak memanggil Hilya
"neng si teteh keluar ga?" tanya Faisal pada Alma
"tadi siang masih ada nonton tv sama neng, terus neng tidur siang, gak tau neng ga cek lagi", ucap Alma sembari menngis sejadi jadinya
wak Jenar terdiam tubuh nya terasa tak bertulang mengapa Hilya tega dan nekat kabur dari rumah demi laki laki seperti Arbhi.
Faisal segera berlari keluar ia menyalakan sepeda motornya ia mencoba mencari Hilya ia berharap Hilya belum jauh dari kediamannya.
" mak ini apa?" ucap Alma ia memberikan selembar surat pada wak Jenar, wak Jenar meraih surat itu ternyata surat itu adalah surat dari Hilya.
"emak, abah , Alma, a Faisal, maaf kalo teteh banyak salah maaf kalo teteh jadi anak yang pembangkang, teteh tau, teteh salah, tapi teteh yakin ini jalan yang terbaik buat teteh, teteh minta maaf selama ini sudah bikin emak sakit, insha Allah teteh baik baik saja mak, bah, yaya tinggalin uang buat abah bayar hutang ke bu ambar emak jaga kesehatan ya abah juga, Alma maafin teteh a faisal maafin neng a.." isi surat dari Hilya.
" astaghfirullah yaya ... kenapa atuh kayak gini, emak cari di mana kamu " wa Jenar menangis memeluk Alma, ia merasa bersalah atas sikap nya pada Hilya.
jam menunjukan pukul 2.00 malam Faisal belum juga kembali ponsel Hilya pun tak aktif, bahkan bajunya pun sudah tak ada di lemari kartu atm dan buku tabungan hasil ia bekerja di tempat Arbhi pun tidak ia bawa ia hanya membawa uang secukupnya saja.
pukul 4, pagi wak Rudi kembali, begitu pulang dari luar kota ia mendapatkan kabar bahwa Hilya pergi dari rumah ia segera pulang di dapati nya wak Jenar dan faisal masih duduk di ruang tamu
"assalamualaikum,, mak, Hilya kenapa bisa pergi?" tanya abah ia berjalan menuju kamar Hilya
"maafin emak bah kemarin emak kasar sama si teteh", ucap wak Jenar dengan suara bergetar.
"besok aa cari ke apartemen laki laki itu aa yakin ada di snaa. kalo bener ada di sana Hilya bener bener udah liar mak bah" ucap Faisal penuh emosi
__ADS_1
"boleh kamu cari kesana tapi jangan pake emosi tanya baik baik ya", ucap wak Rudi.
malam itu semua keluarga Hilya tak bisa memejamkan matanya hinnga azan subuh mereka masih mengkhawatirkan Hilya selepasnya subuh abah menyambangi satu persatu kediaman temen teman Hilya wak rudi berharap Hilya berada di rumah salah satu temen sekolahnya namun nihil hingga siang hari hilya tak juga di temukan.