I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
SEDIIIHHH GAES...


__ADS_3

Pagi itu oma dan kedua orang tua Arbhi berkumpul di ruang keluarga, wajah Oma terlihat raut kekesalan dan marah.


"bu, apa ga sebaiknya kita harus bicarakan dulu dengan Arbhi baik baik" ucap pak Andi memulai pembicaraan


"tidak ada kesempatan buat Arbhi, dia sendiri yang buat masalah,apa dia sanggup kembalikan modal saham yang di berikan oleh Fery Martinez, dan kamu juga apa mampu kembali kan modalnya?" ucap dingin oma


"bu, saya faham, tapi Arbhi itu.."


"apa, dia tidak suka sama Jessica, tidak cinta? memangnya manusia bisa beli semua kebutuhan dengan cinta, semua pakai uang Andi...uang!, ibu lakukan ini semua agar usaha keluarga kita tidak bangkrut, anak cucu keturunan ku nanti bisa sukses dan merasakan kekayaan yang ibu peroleh dengan susah payah walaupun nantinya ibu sudah tiada" ucap oma dengan dingin tanpa ekspresi


"Andi faham bu... Andi faham tapi Andi tidak bisa memaksa"


"kalo kamu tidak bisa lebih baik kamu diam...!!" ketus oma, bu Ambar menepuk lembut bahu suaminya agar mengalah.


seketika itu terdengar langkah kaki dari Arbhi, Arbhi berdiri mematung di hadapan orang tua dan neneknya ia berdiri tegap.


"mi, pi, oma, maaf Arbhi secara sepihak mutuskan menolak menikah dengan jessica" ucap Arbhi perlahan.


tiba tiba oma terbangun dari duduknya berjalan cepat dan satu tamparan keras melayang di pipi kanan Arbhi


"PLAAAAK!!!."


"CUCU TIDAK TAHU DI UNTUNG TIDAK TAHU DIRI, BUKANNYA MENGUNTUNGKAN MALAH MEMBUAT BANGKRUT, LIHAT KELAKUAN KAMU, MEREKA MENUNTUT, TAHU GAK KAMU ARBHI..!!!" oma berteriak di hadapan Arbhi


"maaf oma Arbhi bisa kembalikan...."


"oohh, hebat kalo begitu kamu bisa kembalikan modal saham? yakin kamu? kamu tahu berapa? 5 milyar Arbhi!! kamu punya?" ucap dingin oma dengan wajah kesalnya.


Arbhi terdiam tak bisa berkata apapun, bu ambar hanya menahan sesak di dadanya melihat anak sulungnya itu di tampar oleh nenek nya


"kamu cuma tahu perkembangan pekerjaan kamu, kantor mu itu, tanpa kamu tahu perusahan orang tuamu yang oma rintis dari dulu dan oma berikan pada anak oma satu persatu, apa kamu tau apa yang sedang terjadi? gak tau kan? karena kamu ga peduli, ingat orang tuamu semakin tua siapa nantinya yang akan melanjutkan perusahaan ini!" ucap oma dengan lantang

__ADS_1


"di pabrik sana banyak karyawan yang hidupnya dari perusahaan kita, anak anak mereka bisa sekolah dari perusahan yang kita kelola arbhi kalo kita sampai gulung tikar, bagaimana nasib mereka, anak mereka keluarga mereka? kepikirankan kamu sampai sana? ga kan? kamu seenaknya saja, menolak jessica yang notabene ayahnya salah satu pemegang saham di perusahaan kita hanya karena perasaanmu yang entah untuk siapa"


Arbhi hanya diam,ia tak bisa menjawab, bu Ambar mulai meneteskan air matanya hari ini Arbhi menjadi target sasaran kemarahan oma, bu Ambar tak ingin anaknya di perlakukan seperti itu.


"oma akan tetap menikah kan kamu dengan Jessica, karena oma lebih memilih kelangsungan perusahan kita jangka panjang, kamu belajarlah dari pengalaman kaka sepupu kamu, Margi, dia baik baik saja keluarga nya harmonis padahal hasil perjodohan, kini perusahaan nya makin maju" ucap oma dengan santainya.


"astaghfirullah ibu, semua sudah ada yang mengaturnya rezeki maut ,jodoh semua sudah ada yang mengatur bu" ucap pak Andi


"yaa ibu tau, tapi anak ini ga mikir, ibu melakukan ini untuk perusahaan kamu Andi, untuk masa depan dia" oma menunjuk wajah Arbhi, namun Arbhi hanya diam menarik nafasnya dalam-dalam.


sementara itu di kediaman Hilya ia masih menangis di dalam kamarnya, malam harinya wak jenar kembali dengan cepat mendengar laporan dari Faisal


"dok..dok...dok...teteh buka" ucap wak Jenar sembari mengetuk pintu kamar Hilya, Hilya dengan cepat membuka pintu kamarnya, matanya sembab


wak Jenar masuk dan duduk di samping Hilya.


"teteh nginep dimana, kenapa sekarang jadi kayak gini sih teh pergaulannya?" ucap wak Jenar


"Arbhi lagi Arbhi lagi teteh nginep di sana? ada arbhi juga!!?" wak Jenar meninggikan suaranya


namun Hilya hanya diam,ia hanya tertunduk tak bisa menjawab


"astaghfirullah heeeeeuhh" wak Jenar geram ia hampir memukul Hilya, hilya menundukkan sembari memejamkan matanya ia pasrah akan di perlakukan apapun oleh wak Jenar


"mak... jangan mak.." ucap Faisal


"astaghfirullah, yaya, emak kecewa bener bener kecewa, emak akan datangi keluarga pak Andi emak mau mereka tau bahwa anaknya udah ngerusak anak emak jadi pembangkang,. liar!"


"mak..jangan mak.. oom Arbhi ga salah" ucap Hilya sembari menangis


"TERUS... BELAIN DIA TERUS...!!" wak Jenar berteriak

__ADS_1


"yaya ga belain mak..! apa salah, yaya cinta sama oom Arbhi apa salah yaya mau bahagia, yaya juga pengen bahagia mak" Hilya menangis tersedu sedu


"yaya cinta mak sama oom, yaya sanyang, kami berdua saling mencintai, tolong restui hubungan yaya, yaya ga mau kehilangan oom Arbhi mak" Hilya menangis smebari duduk bersimpuh di hadapan wak Jenar


"oohh teteh ga mau kehilangan arbhi?, teteh lebih milih kehilangan orang tau teteh yang membesar kan teteh, berkali kali emak bilang enggak yaa enggak, dia sudah punya calon istri yang lebih sepadan" ucap wak Jenar ia pun menangis mengucapkan itu


"mak, bukan begitu mak..tolong... restui yaya"


" kalo kamu masih bersih keras sana hidup saja di luar sendiri, ga usah pulang ke sini, ga usah anggap emak lagi toh kamu ga nurut apa kata emak" ucap wak Jenar ia bangun dari duduknya, Hilya memegang erat tangan wak jener namun wak Jenar dengan keras melepaskan pegangan Hilya,


"mak..maafin yaya..mak... " hilya berteriak sembari menangis pilu, Faisal hanya bisa diam tak berbicara.


hingga malam hari mereka tak tegur sapa wak Jenar mendiamkan Hilya, Hilya hanya bisa menangis, di dalam kamarnya


malah harinya wak Rudi kembali dari kediaman pak Andi wak Jenar menceritakan semua pada wak Rudi, ia lalu menghampiri Hilya dikamar tidurnya, matanya semakin memerah dan bengkak karena menangis seharian ini


"teh.." wak Rudi duduk di samping Hilya


"bah..." Hilya menangis memeluk wak Rudi


"teh, abah ga pernah ngelarang teteuh buat bahagia dan jatuh cinta dengan siapapun itu, tapi bila dengan den Arbhi abah berfikir keras teh, abah juga ga bisa, apalagi den Arbhi sudah mau menikah dengan nona Jessica, lalu kita sekonyong-konyong kesana cuma buat bilang restui teteh dan den Arbhi apa gak lucu teh? tolong saat ini ngertiin posisis kita posisi abah di rumah pak Andi, abah yakin teteh bakal dapetin yang jauh lebih lebih dari den Arbhi" ucap wak Rudi dengan hati hati memeluk anak gadisnya itu


"bah, teteh nyusahin ya bah, maafkan teteh bah, kalo teteh nyusahin abah makasih Abah mau rawat anak yatim piatu kayak teteh, teteh tau teteh salah tapi teteh ga bisa bohong bah teteh sayang,cinta sama oom arbhi, oom Arbhi dan teteh saling mencintai bah, teteh gak.mau kehilangan oom Arbhi bah" Hilya menangis pilu.


"abah tau.. sangat tahu teteh dan oom Arbhi saling mencintai" ucap wak rudi


"teteh ga nyusahin abah, teteh anak abah, anak kandung abah" suara wak Rudi tercekat bergetar manahan tangis ia teringat akan wajah maya saat itu.


"abah cuma mau teteh ikhlas, ngertiin posisi kita itu ajah, jalan teteh masih panjang teh" ucap wak rudi kembali.


malam itu Hilya hanya menangis pilu di pelukan wak Rudi sesekali ia meminta maaf pada wak Rudi, saat ini hati dan perasaan Hilya di butakan oleh perasaan cintanya pada Arbhi.

__ADS_1


__ADS_2