
Malam itu sepulang nya wak Rudi dari kediaman pak Andi ia terlihat sangat gusar, ia melihat Hilya yang saat itu sedang duduk sendirian di dapur sembari menunggu air panas untuk membuatkan wak Rudi secangkir kopi.
"teh, abah mau bicara"
"ada apa bah.." ucap Hilya
"teh, kamu masih ada kabar sama den Arbhi?" tanya wak Rudi
namun Hilya hanya diam menggeleng kan kepalanya perlahan.
"teh, maafin abah yaa, tapi ini semua abah lakuin karena sayang sama teteh abah ga mau teteh sakit hati nantinya, kalo bisa jauhi den arbhi ya,"
"tapi bah, teteh cinta sama oom Arbhi" ucap Hilya perlahan
"cinta..! cinta ..! apa bisa jamin dia ga bakal nyakitin teteh kita itu harus sadar diri teh, den arbhi dari kalangan atas kita hanya keluarga kecil teh, cukup orang tua teteh ajah yang rasaian jangan teteh" tiba tiba wak jenar memotong pembicaraan karena ia mendengar ucapan hilya
"mak, tenang dulu", ucap wak Rudi seraya menepuk bahu wak jenar dengan lembut
"teteh ga tau sih khawatir nya emak kayak gimana, teteh baru lulus smu teh, jalan teteh masih panjang emak ga mau teteh ngerasain apa yang dulu orang tua teteh rasain emak takut teh," ucap wak Jenar dengan suara bergetar, Hilya hanya diam matanyanya mulai sembab menahan air mata yang hampir jatuh.
"apa salah teteh menyukai dan cinta sama oom Arbhi mak, bah?"
"haaaahh .." wak rudi menarik nafasnya dalam dalam
"ga teh ga salah tapi den Arbhi sudah punya calon istri yang lebih sepadan"
"tapi ..oom Arbhi .." ucap hilya terbata
"tapi apa...,! milih teteh? cinta sama teteh? teteh percaya? teteh yakin?" tanya wak Jenar kembali, Hilya kembali terdiam
"tolong teh, tolong jangan ngebangkang emak lakuin ini buat kebaikan teteh, jauhi den Arbhi emak ga mau, masih banyak di luar sana yang bisa terima teteh, sekarang teteh fokus cari kerja cari kesibukan, usia teteh masih sangat muda jalan teteh masih panjang " ucap wak jenar dengan nada kesal ia meninggalkan Hilya dan wak Rudi di dapur dan kembali ke kamarnya
Hilya terisak menahan sesak, ia sangat mencintai Arbhi namun sepenuhnya ia pun menyadari Arbhi dan dirinya sangat berbeda,
"teh,...maafin emak sama abah yaa" wak Rudi memeluk Hilya yang terduduk
"heuh...heuh.... teteh sayang oom Arbhi bah..." tangis Hilya pecah di pelukan wak Rudi.
__ADS_1
wak Rudi menepuk nepuk punggung anak gadisnya itu seraya menenangkan ia faham akan perasaan Hilya, namun ia harus melakukan ini karena ia tahu bila keluarga Sidharta tahu anak sulungnya mencintai Hilya pasti wak rudi akan di cap jelek dan pasti banyak hinaan yang nantinya akan di dapatkan dari keluarga pak Andi terlebih ibu kandung pak andi sangat keras,
di kamar Hilya hanya bisa menangis tiba tiba ponsel Hilya berdering di lihatnya nama Arbhi tertera di layar ponsel Hilya jantung nya berdegup kencang
,📲
"halo" Hilya mengangkat telepon dari arbhi
"Alhamdulillah akhirnya kamu angkat juga telepon dari aku"
"kamu baik baik ajah kan?" Arbhi bertanya pada Hilya di ujung telepon namun Hilya diam
"hey, kok diam? ada masalah?"
"oom ...tolong jangan telepon yaya lagi" suara Hilya bergetar menahan tangis
"kamu nangis? kenapa? bapak sama ibu ga setuju? heum??"
"bu..bukan ..ya .ya... capek... yaya..capek oom" suara Hilya terbata menahan sesak dan tangis.
"yaya, aku ga main main. aku bakal buktiin kalo aku serius, kalo aku milih kamu dengan cara apapun itu aku akan milih kamu" suara Arbhi mulai parau
belum sempat Arbhi menjawab Hilya segera menutup teleponnya ia membenamkan wajahnya di bawah bantal lalu menangis tanpa suara hatinya sangat sakit Arbhi adalah laki laki pertama yang membuatnya jatuh cinta.
sementara itu, Arbhi terdiam matanya terpejam bulir air matanya mulai menetes di ujung matanya, ia tak ingin melepaskan hilya.
Minggu siang Hilya berpamitan untuk berkunjung ke kediaman Naura karena setelah kelulusan dirinya tak pernah bertemu dengan Naura.
wak Jenar dan pak rudi sibuk membersihkan kediaman nya ketika wak Rudi sedang duduk bersantai bersama istri dan anaknya di ruang televisi tiba tiba terdengar seseorang mengucapkan salam tak lama kemudian Alma membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang datang siang itu, dengan cepat Alma memberitahu kepada kedua orang tuanya bahwa yang bertamu adalah Arbhi, wak Jenar dan wak Rudi saling berpandangan lalu keduanya segera menemui Arbhi di ruang tamu.
"pak Rudi." ucap Arbhi seraya bersalaman dan tersenyum
"den Arbhi.." wak rudi pun ikut tersenyum walaupun terasa canggung.
"ada apa ya den kemari"
"sebelumnya saya mau minta maaf sama pak rudi dan juga ibu, maaf bila sudah membuat gusar khawatir tentang Hilya dan saya, yaa saya mengakui saya menjalin hubungan dengan Hilya, heum, maksud saya datang ke sini saya mau meminta restu pak, tolong restui hubungan saya dengan Hilya" ucap Arbhi dengan hati hati
__ADS_1
wak Rudi hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam
"den Arbhi, maaf sebelumnya, apa pak Andi dan bu Ambar tahu akan hal ini?" tanya wak rudi
"belum pak"
"bagaimana dengan nona Jessica?" tanya wak Rudi kembali, namun Arbhi hanya diam
"maaf den arbhi bukannya kami tak suka, hanya saja kami khawatir dan kami takut kami hanya orang kecil den, sangat tidak pantas bersanding dengan keluarga aden, alangkah baiknya aden lebih memikirkan nona Jessica yang sudah bertahun tahun menjalin hubungan dengan aden, kami hanya ingin melindungi Hilya putri kami" suara wak Rudi tercekat
"saya serius pak dengan Hilya, saya ingin melamar Hilya" ucap Arbhi, wak Jenar dan wak Rudi sangat terkejut akan ucapan Arbhi.
"maaf den, tolong jangan terlalu jauh dengan Hilya anak kami baru lulus SMU jalannya masih sangat panjang, terima kasih kalau aden mau serius dengan Hilya namun banyak hal yang kami fikirkan" ucap wak Jenar dengan tegas.
"aden memang anak majikan kami ga seharusnya aden mencintai anak kami yang notabene anak seorang supir di keluarga aden, tolong jagan bebankan kami dan Hilya, kami takut terjadi sesuatu dengan hilya" ucap wak jenar dengan suara tergetar
Arbhi terdiam ia menyadari bahwa orang tua Hilya tak merestui,
"den arbhi kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, tolong sudahi hubungan ini, ada seseorang yang lebih pantas untuk aden di bandingkan anak kami, sekali lagi kami mohon maaf den", ucap wak Rudi dengan hati hati,
Arbhi tak bisa berkata apapun ia tak ingin menentang orang tua ia hanya bisa pasrah
"maafin Arbhi pak, kalau Arbhi sudah buat gaduh dan merasa tidak nyaman, tapi sampai kapanpun Arbhi sayang dan cinta sama Hilya, Arbhi pamit pak salam untuk Hilya" ucap Arbhi ia pamit dan pergi meninggalkan kediaman Hilya
"oom arbhi .." ucap Hilya ketika Arbhi hendak keluar dari Pintu rumah hilya ternyata Hilya telah kembali dari kediaman naura
"yaya..." ucap Arbhi ia menatap Hilya dengan tatapan sedihnya.
"mak..bah.." ucapbHilya ia tak melanjutkan ucapannnya seolah tahu apa yang barusan mereka bicarakan
"teh..masuk.." wak Jenar menarik lengan Hilya
"tapi mak..yaya mau..." ucap Hilya ia menolak untuk masuk ia tetap menoleh pada arbhi
"oom...!" mata Hilya berkaca-kaca
"sana masuk aku pulang yaa.." ucap Arbhi perlahan, ada raut kesedihan dan kekecewaan yang terpancar dari wajah Arbhi
__ADS_1
Hilya hanya bisa menahan sesak melihat kepergian Arbhi siang itu seseorang yang ia rindukan, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena cintanya terhalang restu orang tua Hilya.