
malam itu arbhi masih mengerjakan beberapa sketsa design yang ia buat dengan hati hati ichi menghampiri ayah nya yang tengah fokus bekerja
ia duduk di samping Arbhi dan ikut melihat sketsa yang ayah nya buat
"kenapa?? mau ikutan juga" ucap arbhi dengan senyum nya
"ayah ga pusing yaa itung perskala?"
"hahaah enggak lah, ini kan sudah jadi keahlian ayah"
"ayah, ichi mau bantu dong boleh ga"
"boleh dong, sini ayah ajarin" Arbhi merangkul anak lelakinya itu ia mengajari anak lelakinya itu
"yah, Ichi mau jadi arsitek juga kayak ayah nanti" ucap ichi seraya menarik garis sesuai arahan arbhi
"boleh,ayah akan dukung apapun cita cita kamu, asalkan kamu tetap sayang sama bunda sama adik kamu nanti" ucap arbhi
"ichi sayang dan bangga sama ayah" ucap ichi
"hahah masa, kan ayah ga ada waktu buat kamu"
"tetap ajah ichi bangga, ayah arsitek yang hebat" ucap ichi dengan senyum sumringah nya
selang beberapa jam kemudian ichi sudah kembali ke kamarnya tiba-tiba
"aaaw...sssshh...duhh pusing banget" Arbhi memijit kepalanya yang terasa pusing dan sakit
"yaaang, sayaaang...!" Arbhi berteriak memanggil Hilya, dengan cepat hilya menghampiri arbhi
"ada apa mas" ucap hilya ia terkejut Arbhi memijit kepalanya
"loh mas kenapa??"
"ga tau tiba tiba pusing banget"
"heum, kurang tidur kamu mas, ayoo istirahat dulu, aku Siapin obat sakit kepala" ucap Hilya seraya membantu arbhi berjalan menuju kamar
sesampainya di kamar ia segera beristirahat dan hilya memberika obat untuk arbhi
"makasih yaa" ucap arbhi seraya membelai pipi hilya
"iyaa,. mas itu kelelahan, udahlah waktunya istirahat yaa istirahat, toh klien juga kasih waktu nya lama kan?"
"iyaa, aku cuma takut mengecewakan mereka"
"jangan takut kalau mereka sudah tau dari cara kerja dan kualitas mas pasti mereka akan tetap percaya sama mas" ucap hilya ia membelai pipi suaminya itu dan mencium nya
"maafin aku yaa, belum bisa punya banyak waktu untuk kamu, perlengkapan bayi pun harus mami yang temenin kamu beli" ucap arbhi
__ADS_1
"gak apa-apa,. yang penting mas jaga kesehatan mas,jangan sampai sakit"
"iyaa aku janji, aku taruh beberpa uang di bank, sebagai deposito yang akan cair bila anak kita kuliah nanti tabungan pendidikan pun sudah aku siapkan"
"mas ,apa harus sedetail itu?" ucap hilya
"hahahah iyaalah, untuk masa depan kita nanti, kehidupan manusia itu seperti roda kadang di bawah kadang di atas, mungkin Sekarang aku sedang berjaya, siapa tahu besok bisnisku hancur dan jatuh, ini yang aku persiapkan untuk keuangan kita" ucap arbhi panjang lebar
"hahah iyaa aku faham, tapi ingat ada Allah SWT yang mengatur rizki dan kehidupan, kita jangan pernah lelah untuk berdoa meminta rizki, kesehatan apapun itu dan jangan takut mas, Allah pasti akan kasih rezeki untuk semua hambanya" ucap hilya seraya memeluk arbhi
"astaghfirullah,iyaa aku hampir lupa,makasih yaa sudah mengingatkan aku" ucap arbhi ia mencium kening hilya yang berada di pelukannya.
tak terasa usia kandungan hilya sudah 9 bulan dan tak lama ia pun melahirkan anak kedua mereka yang berjenis kelamin perempuan semua keluarga berbahagia mendapatkan anggota baru dalam keluarga besar Sidartha.
sore itu ichi pulang dari sekolah bersama salah satu teman nya
ia saat ini tengah mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas
"sore oom" sapa teman Ichi, Arbhi mengernyitkan dahinya ia tak kenal gadis itu, gadis itu pun bersalaman dengan sopan pada arbhi
"teman sekolah ichi?" tanya Arbhi datar
"heumm iya oom"
"namanya siapa?" tanya Arbhi dengan dinginnya
saat itu Arbhi mengenakan kaos lengan buntung rambutnya yang panjang ya ikat cepol atas dan memakai celana pendek,ia sibuk mencuci mobil siang itu dengan tatapan dingin ia menatap Natasha
"kamu temannya Ichi" tanya Arbhi dingin
"satu kelas?, tinggal di mana sudah izin dengan orang tuamu main ke sini"ucap Arbhi ia mencecar banyak pertanyaan pada Natasha membuat Natasha semakin takut untuk masuk ke rumah Ichi
Ichi menarik nafasnya dalam-dalam ia paham betul akan tabiat ayahnya itu yang selalu mengintrogasi teman-teman sekolah ichi
"yah, ayolah jangan bikin Natasha takut dia baru pertama kali main ke sini jangan bikin dia kapok"ucap ichi dengan kesal
"loh emang nggak boleh ayah nanya boleh dong"ucap Arbhi dengan nada ketusnya dan dengan tatapan dinginnya yang memburu pada Natasha
"iya boleh tapi pertanyaan ayah bikin Natasha takut tampang ayah ama tatapan ayah yang bikin Natasha takut udah ah,ayo Natasha masuk!"ucap ichi pada Arbhi lalu ia menarik lengan Natasha untuk masuk ke dalam rumah
"heh Ichi!!, ayah belum selesai ngomong main dibawa masuk aja tuh cewek" ucap Arbhi dengan sedikit berteriak
"biarin!!!, lagian ayah bikin anak orang takut" ucap ichi dengan menyahut perkataan Arbhi dari dalam rumah
"aku pulang aja deh ya besok-besok aja deh aku main" ucap Natasha iya sedikit takut.
Natasha adalah gadis bertubuh mungil berkulit putih bermata besar dan ia gadis yang sopan dan ia pun berhijab
"udah nggak usah pikirin ayah emang kayak gitu kok orangnya nggak cuman ke kamu semua teman-teman aku dan ke temen yang lain juga sama itu juga kalau lagi ketemu sama ayah di rumah kalau ayah lagi nggak ada sih ya aman aman ajh" ucap ichi seraya menenangkan Natasha yang sedikit ketakutan
__ADS_1
lalu terdengar langkah seseorang menuruni anak tangga ternyata Hilya yang menuruni anak tangga seraya membawa botol susu
"eh ada Natasha" ucap Hilya seraya tersenyum Natasha pun bersalaman dan Hilya memeluknya
"hehehe apa kabar tante" ucap Natasha seraya tersenyum manis
"Alhamdulillah kabar tante baik, wah ini pertama kali main ke sini ya sha"
sebelum Natasha dan Hilya memang sudah pernah bertemu di sekolah ichi
"iya" ucap Natasha dengan pandangan yang sedikit hati-hati ia selalu memandang keluar pintu
"kenapa" Hilya ia pun ikut menatap keluar pintu
"nggak apa-apa kok Tante nggak apa-apa Natasha cuman mampir kok sebentar lagi juga mau pulang lagi"
"loh baru nyampe kok sudah mau pulang lagi kenapa sih" tanya Hilya dengan sedikit penasaran
"gara-gara ayah tuh bikin anak orang takut aja nanya-nanya Natasha segala lah pakai tampang dingin pakai tampang sangar, Natasha jadi takut bun" ucap ichi seraya membawa satu gelas air dingin untuk Natasha
"hahaha aduh maafin suami tante ya Natasha, Om Arbhi emang seperti itu dia selalu menanyakan teman-teman ichi yang main ke sini, ya..,takut terjadi sesuatu jadi kan kita tahu alamat teman-temannya ichi,di mana" ucap hilya menjelaskan pada Natasha
siang itu Natasha dan Ichi menghabiskan waktu bersama di kediaman Ichi mereka tampak sangat akrab lalu sore harinya Hilya sedang menyuapi anak keduanya
"Mas kamu itu jangan terlalu galak sama temen-temennya ici nanti Icha nggak punya temen loh" ucap Hilya seraya memicingkan matanya pada Arbhi yang tengah duduk di hadapannya sembari menyeruput kopi hitamnya dan memainkan ponselnya
"galak gimana sih orang aku cuma nanya emang nggak boleh aku nanya teman-temannya anak aku sendiri"
"boleh Mas boleh boleh banget tapi jangan pakai tampang kasar sangar nakut-nakutin anak orang nanti itu nggak punya temen nggak ada yang mau main ke sini kasihan kan Ichi"
"iya iya oke oke" ucap Arbhi
malam itu arbhi dan Hilya belum bisa memejamkan matanya milia yang sedari tadi menimang anak keduanya untuk menidurkannya lalu Arbhi terbangun dari duduknya menghampiri kamar ichi didapatinya ichi sedang belajar lalu dengan hati-hati Arbhi pun duduk mendekati
"gimana ada kesulitan nggak di pelajaran" tanya Arbhi namun ichi hanya menggelengkan kepalanya
"Natasha siapa" tanya Arbhi iya menaikkan alisnya seraya meledek ichi
"temen yah temen.."ucap ichi dengan kesal
"hahaha, ketus amat" ledek arbhi. ichi hanya mendengus kesal
"ichi, ayah sering interogasi siapa aja temen kamu kalo ke rumah, ayah ga ada maksd apa-apa ayah cuma mau tau teman seperti apa yang bergaul dengan kamu begitu juga pacar kamu itu" ucap Arbhi
"itu temen yaah, bukan pacar" ucap kesal ichi
"haha iya iya ,ayah ga pernah larang kamu buat main dengan siapapun ayah cuma mau kamu perhatikan pergaulan kamu, banyak teman boleh, asal kamu tau batasan, ayah mau kamu jadi good boy bukan bad boy okeee" ucap arbhi seraya mengacak-acak rambut anak lelakinya itu
ia keluar meninggalkan kamar ichi, ia selalu ingat akan masa SMU nta dahulu, dan ia pun sangat khawatir akan pergaulan ichi ia merasa takut kenakalannya dahulu akan menurun pada ichi
__ADS_1