
malam itu perasaan Arbhi tak menentu, ia hisap kembali rokoknya ia mengatur emosi yang berkecamuk di dalam dadanya semua pertanyaan berkutat di fikiranya
Hilya datang membawa dua cangkir teh hangat dan beberpa potong kue ia berjalan dengan sangat anggun Arbhi menatap Hilya yang berjalan perlahan menghampiri lalu Arbhi membuang pandangannya kembali.
Hilya meletakan baki yang berisikan teh dan kue di atas meja taman
"kabur kemana aja loe!" ucap Arbhi tiba tiba
"yaya akan jelasin semua kalo oom duduk dulu" ucap Hilya dengan tenang
"lo bisa yaa sekarang setenang ini setelah lo bikin gua hancur" ucap Arbhi seraya menatap sinis pada Hilya
Hilya yang terduduk hanya menatap Arbhi dengan lembut
"duduk, baru kita bicarakan baik baik" ucap Hilya kembali
Arbhi menarik nafasnya dalam dalam ia duduk tanpa menatap ke Hilya
"yaya minta maaf, tapi asal oom tau.."
"oom, masih manggil gue oom?" tanya Arbhi dengan ketus ia memotong ucapan Hilya.
"maaf, aku tetep ga bisa rubah panggilan itu"
"lo tau susah nya gue jalanin hari hari dengan kehilangan lo, yang setiap hari harus di hantui rasa bersalah, gue selalu fikir lo menderita di luar sana dengan bawa perut lo yang semakin besar, setiap malem gue gabisa tidur, heuh... ternyata enggak lo bahagia disini" ucap Arbhi dengan senyum ketir.
"ohh iya, pak Tubagus, pantas dia sering kasih tender besar, itu berkat elo kan, dan lo udah sembunyiin kahamilam lo dari gue dan kabur entah kemana itu semua bikin gue seolah jadi pecundang , seolah jadi cowok yang ga ada tanggung jawabnya, hebat... hebat banget" ucap Arbhi dengan suara di tekan penuh emosi namun Hilya hanya diam tak menjawab ia tahu Arbhi pasti sangat emosi
"yaa gue tau gue salah, gue dulu yang ajak lo bertahan, tapi malah gue yang ninggalin lo, tapi apa harus lo sembunyikan rahasia besar itu" ucap kesal Arbhi sembari membuang rokonya yang belum habis
Hilya menaraik nafasnya dalam-dalam ia bangun dari duduknya memungut puntung rokok itu dan membuang nya di asbak yang terdapat di meja
" jangan buang sembarangan disini harus bersih" ucap Hilya dengan dinginnya
Arbhi menoleh dengan tatapan malas dan senyum ketir, tiba tiba
"bunda .. bunda...." ichi datang menghampiri Hilya ia memeluk Hilya, ichi melirik ke arah Arbhi sambil berbisik entah apa yang ia bisikan pada Hilya
"iyaa..." Hilya menjawab dan mengangguk menjawab bisikan ichi
dengan cepat bocah 3.5 itupuan berlari ke arah Arbhi ia tiba tiba bergelayutan memeluk Arbhi. Arbhi terkejut akan perlakuan ichi ia menoleh pada hilya
"ayah.. ayah .. lihat deh ayah jari aku terluka...." ucap ichi namun Arbhi tak memperhatikan nya ia tetap memandangi Hilya
"ayaaaaah lihat aku ayah" ichie memegang kedua pipi Arbhi dengan tangan mungilnya sembari menyuruh Arbhi melihat ke arahnya
"jadi ini darah dagingku sediri, mata dan bibirnya mirip denganku, tubuhnya gempal,dan kulity putih ya Allah, maafin ayah nak" bisik arbhi dalam hatinya ia memandangi wajah ichi dalam dalam.
__ADS_1
"kenapa" ucap arbhi riba tiba
"nih lihat ayah jari aku terluka, berdarah.."
"kenapa bisa berdarah?" ucap dingin arbhi tanpa senyum
"di potongin kuku sama mas Galang malah jadi luka sakit sekali ayah" ucap ichie dengan polosnya
"siapa itu Galang" ucap Arbhi sembari menoleh pada Hilya
" anak mas Yudha dan mbak Anggita"
" ohh anak tirimu?" ucap Arbhi, Hilya hanya diam
" anak tiri itu apa ayah" tanya ichi pada Arbhi namun Arbhi hanya diam seperti ia salah mengucapkan itu.
"sst,. ichi ga boleh banyak nanya yaa!", ucap Hilya dengan lembut.
"ayah, ayah mau tinggal sama ichie kan di sini ayah gak akan pergi ke laut lagi kan?" tanya ichie dengan polosnya
"laut?, maksud nya apa?"
"kata bunda ayah, ayah itu...seperti Popeye kerjanya di laut, makanya ga pernah pulang" ucap ichi sembari tersenyum malu-malu
"ck, duhh ichie kenapa ngomong semuanya sih nak" ucap hilya dalam hatinya ia sangat malu mendengar ucapan anak laki lakinya itu
"ooh begitu" ucap Arbhi kembali
"heumm, tauu laah, soalnya di..hape bunda... ada... foto ayaaah.." ucap ichie dengan suara terbata bata sembari menahan tawa
"ichiii ssssst...." Hilya menarik lengan ichi untuk membuatnya diam hilya mendekap ichie dengan erat
"maaf, dia memang cerewet" ucap Hilya, arbhi hanya diam tak menjawab
"ichiiee.. sini nak jangan ganggu bundanya lagi ngobrol" panggil anggita ia segera membawa ichie pergi dari hadapan Arbhi dan Hilya.
"jadi lo bilang sama ichie kalo gue kerja di laut?"
"iyaa, karena aku ga mau menutupi siapa ayah kandung ichie, aku bohong sama dia kalo ayahnya seorang pelaut yang sedang berlayar"
"haaaehh....,lo nikah sama Yudha?" tanya Arbhi ,namun Hilya menahan tawa sembari menutup mulutnya
"menikah?, sama mas Yudha?, gilaa, oom mikir aku jadi istri kedua yaa, rendah baget" ucap Hilya sembari tersenyum ketir
" dia kaka aku, mas Yudha anak tunggal, semenjak aku datang di keluarga ini, mas Yudha dan mbak anggita menganggap aku seperti adik kandung mereka, mas Yudha dan mbak anggita selalu ada di setiap aku membutuhkan bantuan, bahkan ketika aku melahirkan pun mas Yudha yang mengurus semuanya, dia kakak yang baik" ucap Hilya
" oohh, bagitu yaa, seharusnya itu posisi aku kan, selalu ada di saat kamu melahirkan, gue kayak cowok brengsek yaa kalo denger cerita lo" ucap Arbhi dengan kesal
__ADS_1
"bu... bukan gitu oom maksud yaya" ucap Hilya ia merasa tak enak hati pada Arbhi
Arbhi melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 21.30
"udah malem gue mau ajak mami pulang besok keluarga gue harus kembali ke bogor" ucap Arbhi ia bangun dari duduknya
"tapi oom yaa belom menjelaskan semuanya!"
"apa yang harus di jelasin, lo udah sukses jadi single parent kan?, dan gue lihat lo nyaman dengan status itu, apa lagi? tenang ajah gue gak akan lepas tanggung jawab gue akan terus pantau ichie"
"ARCHIE PUTRA ANANDA SIDHARTA" ucap Hilya, Arbhi terdiam mendengar nama lengkap dari ichie.
"gak apa-apa kalo oom ga mau dengar apapun. aku memang salah, tapi aku lega bahwa ichie sudah bertemu dengan ayahnya" ucap Hilya menatap lembut wajah Arbhi. Arbhi hanya diam ia lalu melangkah pergi meninggalkan Hilya sendiri.
keluarga Sidharta berpamitan untuk pulang semua keluarga Tubagus mengantar hingga pintu utama.
"terimakasih banyak pak atas jamuan yang luar biasa ini, dan terimakasih sudah menjaga hilya dengan sangat baik, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya" ucap pak Andi
"sama smaa pak Andi untuk kedepannya semoga semua menjadi lebih baik lagi" ucap Tubagus.
"Hilya, ibu pulang yaa,. besok ibu sudah kembali ke bogor kamu jangan lupain ibu, maafin ibu kalo selama ini keluarga ibu banyak salah sama kamu dan keluargamu" ucap bu Ambar sembari memeluk Hilya.
"iyaa ibu tidak apa-apa yang sudah berlalu biar saja berlalu, Hilya gak mau mengingat lagi, Hilya sudah memaafkan semuanya" ucap Hilya sembari memeluk erat bu Ambar
"mi ayoo takut kemalaman besok mami harus berangkat pagi " ucap yarbhi dingin, ia tak menoleh sedikit pun pada Hilya aura nya masih sangat dingin.
"ayah... ayah...." ichie berteriak dari dalam rumah lalu ia berlari menghampiri arbhi
"ayah mau kemana" ucap ichi, dengan cepat Arbhi menggendong ichie, keluarga Sidharta saling melemparkan pandangan mereka terkejut mengapa anak Hilya memanggil ayah pada Arbhi.
"ayah pulang dulu yaa besok insha Allah ayah ketemu ichi lagi okeee" ucap Arbhi seraya tersenyum
"okeee ayah janji yaaa"
"iyaaa jagooan...." ucap Arbhi kembali lalu ia menurunkan ichi dari gendongan nya.
bu Ambar menatap heran pada Arbhi banyak pertanyaan. bergelayut di benak nya
" ayo mi nanti Arbhi ceritain" bisik Arbhi pada bu Ambar
akhirnya malam itu keluarga Sidharta pergi meninggalkan kediaman keluarga Tubagus Hilya hanya diam memandangi punggung Arbhi yang masuk kedalam mobil tanpa menoleh bahkan tanpa tersenyum pada dirinya
"sabar de, Arbhi masih belum bisa nerima semua ini" ucap Anggita sembari membelai lembut bahu hilya
"dia masih egois dan dingin seperti dulu mbak, apa aku bener bener salah ya mbak pergi begitu saja dan menanggung semua semuanya sendirian selama ini" ucap Hilya
semua menoleh pada hilya, bu herni segera memeluk hilya
__ADS_1
"sabar ndo...semua pasti ada jalannya yang penting dia sudah tau akan keberadaan ichi" ucap bu Herni
semua keluarga tubagus menenangkan, kini hilya hanya bisa pasrah, terserah apa yang akan terjadi nanti yang pasti ia sedikit lega anak nya sudah tahu ayah kadungnya.