
Pagi itu ia terlihat tampan mengenakan kemeja putih dengan style lengan panjang nya yang ia lipat, dengen mengenakan jeans hitam dan sepatu pantofel nya, tak lupa pula ia megikat rambut gonrongnya degan style cepol atas dan kacamata hitam yang ia kenakan menambah nilai ketampanan pada diri Arbhi
Semua mata siswi yang menatap kagum dan terpesona akan akan wajah dan style Arbhi pagi itu
"anjiirr ganteng banget...",
"whoooaa gilaa cakeuupp sst itu siapa sih",
semua siswi di SMU Hilya menjadi ramai membicarakan kedatangan arbi ke sekolah pagi itu. Arbhi membuka kaca mata hitamnya
"maaf bu. ruangan bimbingan konseling di mana yaa" tanya Arbhi pada salah satu guru,
ibu guru tersebut hanya diam sedikit menganga ia sedikit terpesona pada Arbhi
"bu ... bu... halooo" Arbhi mencoba menyadarkan lamunan ku. si ibu guru tersebut
"ehh iyaa pak, ehh mas, cari ruang BK yaa di pojok sana belok kiri" ucap si ibu itu dengan wajah malu ia memberi tahu ruang BK pada arbhi
"ohh iyaa makasih yaa bu" ucap Arbhi dan ia segera pergi menuju ruang Bk
Sesampainya di ruang BK ia segera berbincang-bincang dengan pak Ma'mun selaku guru BK
"maaf anda ini wali murid dari siapa yaa?". tanya pak Ma'mun pada arbhi
"oh saya dari wali muridnya Hilya pak" ucap Arbhi sembari tersenyum
"oh anda wali murid Hilya maaf anda siapanya Hilya, kakaknya atau siapa?" tanya pak Ma'mun kembali
"saya kakaknya oh bukan-bukan saya omnya Hilya"
"oh anda omnya Hilya, begini pak ada beberapa masalah tentang Hilya, mungkin bapak sudah mengetahuinya dari Hilya langsung apa Hilya bercerita sama bapak tentang kejadian kemarin" tanya pak Ma'mun pada arbhi
Abi terdiam ia mengernyitkan dahinya menandakan ia sangat bingung ada masalah apa Hilya sebenarnya
"Hilya ya belum menceritakan apapun sama saya, dia hanya menceritakan bila ia bertengkar dengan temannya hanya itu mungkin bapak bisa menjelaskan pada saya tentang apa yang terjadi kemarin dan mungkin kita bisa sama-sama sharing untuk menyelesaikan masalah Hilya dan temannya itu" ucap arbhi ia sangat ingin tahu duduk permasalahannya.
"begini pak sebenarnya ini hanya masalah sepele ya biasa lah ucapan yang tidak enak yang dilontarkan salah satu murid atau teman Hilya di kelas, dia mengaku pada saya kalau dia memang sudah mengatai Hilya dengan kata-kata tidak benar"
__ADS_1
"kata-kata apa pak?" ucap Arbhi Seraya mengernyitkan dahinya
"Hilya mendapatkan panggilan yang tidak baik kemarin dan mungkin karena panggilan itu tidak sopan, Hilya menjadi sakit hati dan akhirnya Hilya menjambak si anak itu hingga anak itu merasa kesakitan aja sih pak"
"saya hanya penasaran kata-kata apa yang yang ia lontarkan pada Hilya"
"baik pak tapi sebelumnya saya mohon maaf ya bapak jangan marah dan jangan tersinggung si anak tersebut memanggil Hilya dengan panggilan l****" ucap pak Makmun dengan hati-hati
"hah atas dasar apa dia manggil Hilya dengan sebutan l****" ucap Arbhi dengan kesal
"ya saya anggap ini tidak terlalu serius pak mungkin hanya kesalahpahaman miskomunikasi saja dan maksud saya memanggil bapak atau wali dari kedua murid ialah hanya ingin mengabarkan atau meminta tolong, selain saya di sekolah sebagai pengganti orang tua saya pun sudah menegur mereka dan sudah memberikan hukuman, dan saya meminta kepada bapak untuk melakukan hal yang sama seperti saya juga tolong tegur Hilya dengan baik dan beri nasehat yang baik pak karena yang saya tahu ia tidak pernah masuk ke bimbingan konseling dia tidak pernah terlibat kasus apapun ini kasus pertama karena saya tahu Hilya itu anaknya baik pak" ucap pak ma'mun
Arbhi terdiam Ia pun merasa kesal namun ia mencoba menahan diri dan menyembunyikan rasa kesalnya tetapi ia penasaran siapa sebenarnya anak yang anak yang sudah mengatai Hilya dengan panggilan itu.
"kalau boleh saya tahu nama muridnya siapa pak"
"namanya Ratu Ayunda Putri, tapi bapak tenang saja saya juga sudah melakukan hal yang sama saya pun memberikan surat peringatan dan skorsing pada ratu dan saya pun sudah memanggil orangtuanya untuk datang ke sekolah" ucap pak Ma'mun Seraya tersenyum pada Arbhi
"haaaaehhh, Terima kasih banyak ya pak, saya akan coba tegur Hilya dan akan memberikan nasehat-nasehat yang baik sama dia dan sekali lagi saya mohon maaf apa atas ketidaknyamanannya dan atas kelakuan Hilya kemarin saya mohon maaf" ucap Arbhi kembali
"ya tidak apa-apa pak namanya juga anak sekolah pasti ada saja kelakuan dan keributan nya sudah biasa jangan diambil pusing saya hanya titip Hilya pak dia sudah kelas 3 dan sebentar lagi ingin ujian akhir saya enggak mau Hilya mendapatkan masalah-masalah di luar, saya juga nggak mau ngelihat hilya pikirannya terpecah antara sekolah dan yang lain-lain"
"ya seperti pak arbi tahu Hilya itu anaknya baik pak sangat baik dia selalu menolong ibunya dia bahkan selalu berjualan gorengan kalau pagi pak, tapi sudah hampir beberapa bulan ini dia sudah tidak berjualan lagi mungkin dia lebih fokus ke belajarnya" ucap pak Makmun Ia menjelaskan tentang Hilya di sekolah
Arbhi semakin penasaran akan sikap dan sifat asli Hilya karena Hilya di mata Arbhi adalah perempuan yang sangat berani berbicara.
"untuk prestasi Hilya dia salah satu murid terbaik pak di sekolah kami ini ada tingkat SMP dan SMA dari semenjak SMP sampai SMA Hilya selalu bersekolah di sini dia selalu mendapatkan nilai terbaik dan selalu mendapatkan rangking 3 besar dan kami semua disini sangat menyukai Hilya karena kepribadiannya yang periang yang baik hati dengan semua orang dan dia punya sopan santun yang baik kepada guru-guru yang lain" ucapan pak Makmun menerangkan akan tabiat Hilya Arbhi hanya bisa diam iya terus mendengarkan penjelasan tentang Hilya
"lalu apa pak Rudi juga pernah ke sini pak untuk bertemu dengan salah satu guru mungkin di saat pengambilan raport" tanya arbi pada pak Makmun
"wah sayangnya kalau pak Rudi sendiri tidak pernah datang ke sini dari SMP pilihan selalu di ambil raport oleh ibunya Bu Jenar, dan dan Hilya juga sebenarnya anak yatim-piatu kan pak?" pak Makmun sedikit bertanya pada Arbhi
Arbhi terkejut akan ucapan pa Makmun selama ini ia tidak tahu bahwa Hilya adalah anak yatim piatu yang ia tahu Hilya adalah anak kandung dari pak Rudi dan Bu Jenar
"ah, heum, iya pak saya sudah tahu pak ya sudah kalau tidak ada yang dibicarakan lagi saya mau pamit pulang pak karena masih ada pekerjaan yang menunggu di luar sana" pamit Arbhi pada pak Makmun
"oh iya pak tentu saja Terima kasih banyak pak sudah menyempatkan diri untuk hadir ke sekolah Hilya dan bertemu dengan saya",
__ADS_1
"iya pak sama-sama saya juga terima kasih pak bapak sudah berani memberikan langkah untuk menegur Hilya seperti ini mudah-mudahan depannya ini menjadi lebih baik lagi dalam belajar dan bersosialisasi dengan teman-temannya yang lain"
ucap arbhi Seraya tersenyum lalu setelah itu ia pergi berpamitan dan pulang menuju kediamannya
diperjalanan arbhi terdiam ia mulai memikirkan Hilya Ia baru mengetahui akan masa lalu Hilya bahwa ia sebenarnya anak yatim piatu
di perjalanan arbi mengeluarkan ponselnya dan ia melambatkan laju kendaraannya ia mulai menelepon ibunya siang itu
📲
"halo mi"
"ya ada apa tumben kamu nelepon mami ada apa sih kangen yang sama mami"
"enggak enggak kangen biasa aja" ketus Arbhi
"hahaha biasanya kamu kalau telepon mami pasti ada sesuatu coba ada apa? ada yang mau di tanyain?"
"mi, emang bener ya, Si Hilya itu anak yatim piatu kok mami nggak kasih tau arbi sih"
"ya mami nggak mau ngasih tahu karena itu kan masa lalunya Hilya, kamu nanti nanya sendiri aja sama Hilya ya!"
"ck. ya udahlah ah tapi ya, bukan urusan Arbhi juga sih, Yang penting kan dia kerja di rumah Arbhi dia beres-beres dan selalu bikin rumah Arbhi bersih,"
"yayaya, ya udah kalau kamu nggak mau tahu ya jangan nanya sama Hilya kasihan takutnya dia malah jadi sedih mami cuma nitip Hilya ya, ingat jangan dikasarin awas kamu kalau kamu berani usir Hilya atau au kasarin si Hilya mami yang turun tangan"
"iya iya oke oke ya"
📱
Arbhi menutup teleponnya lalu ia melajukan kendaraannya kembali menuju kantornya Sesampainya di kantor Arbhi terus terdiam iya tetap memikirkan Hilya dan ada sedikit rasa bersalah pada dirinya
"jadi sedikit penasaran sama Hilya apa gue nanti mulai nanya-nanya aja ya sama dia ya mau gimana pun dia kan asisten di rumah gua masa iya gue cuekin dia terlebih lagi dia masih sekolah wah kasihan juga dia sebentar lagi mau lulus terus ngurusin rumah gue juga, ck .... haduh jadi ribet begini" gerutu arbi dalam hatinya
sementara itu di rumah Hilya merasa sangat bosan karena Ia sendirian di rumah
"sialan kalau nggak gara-gara si ratu gua pasti di sekolah lagi happy happy suwe banget tuh anak" gerutu Hilya siang itu'
__ADS_1
untuk melepas jenuh ia memainkan ponselnya terus menerus ingin sekali ia menelepon Abah dan emaknya nya tetapi ia takut iya tak ingin menambah beban pikiran untuk kedua orang tuanya itu karena masalah ia dan Ratu terbiasa memendam permasalahannya sendiri dan mencoba memecahkan masalahnya sendiri
"seandainya orang tua gue masih hidup nggak ada orang yang bisa ngeledekin gue dan nggak ada orang yang bisa menghina gue" bisik hati Hilya seketika iya sangat merindukan kedua orang tuanya walaupun ia tak tahu bagaimana wajah kedua orang tuanya itu.