I LOVE YOU OOM

I LOVE YOU OOM
DARAH TINGGI DEH...


__ADS_3

Pukul o3.00 Pagi Hilya membuka matanya tubuhnya sudah terbaring di atas sofa ia segera bangun dan betapa terkejutnya Hilya melihat arbhi sedang memberikan minum air hangat pada wak Jenar


"makasih yaa den." ucap wak Jenar dengan senyum ramahnya.


"sama sama bu" sahut Arbhi kembali.


Hilya segera bangun dan menghampiri wak Jenar


"mak.. maafin teteh mak" Hilya memeluk wak Jenar dan menciumi nya.


"gak apa-apa, ngapain teteh minta maaf" ucap wak Jenar seraya membelai pipi Hilya yang basah oleh air mata.


Arbhi hanya terdiam, ia tak bisa berbicara apa-apa.


"den Arbhi, maaf sebelumnya, kalo bisa mak minta izin" ucap wak Jenar dengan tatapan sendu nya


"iyaa bu minta izin apa" ucap Arbhi kembali


"mak, jangan sekarang mak" ucap Hilya sembari berbisik lirih


Wak jenar hanya memandang wajah Hilya dengan khawatir, takut dan kesal.


"mak mau Hilya berhenti kerja di rumah den Arbhi" ucap wak Jenar


Hilya hanya terdiam tertunduk dan menangis, Arbhi terkejut mendengar ucapan wak Jenar, ia hanya diam menahan rasa bingung nya.


"bisa kan den?, toh abah juga masih bisa bayar sisa hutang ke ibu nya aden" ucap wak Jenar terbata bata


Arbhi hanya diam menarik nafasnya dalam dalam.


"sebaiknya kita bicarakan ini setelah bu jenar sehat yaa bu" ucap Arbhi mencoba tenang membalas ucapan wak Jenar


"yasudah, nanti saja kalo abah nya Hilya datang yaa den arbhi" ucap wak jenar kembali


Arbhi hanya tersenyum ketir, ia melirik ke Hilya, namun Hilya hanya menunduk menahan tangis, dan wak Jenar kembali tertidur malam itu,


"yaya, kita keluar dulu" ajak Arbhi ia meraih tangan Hilya dan menggenggam nya,dan mereka pun keluar dari kamar perawatan wak Jenar,


"maafin emak teh, emak cuma takut teteh terlalu jauh sama den Arbhi, mak cuma mau teteh ga sakit hati nantinya, mak lakuin ini karena mak sayang sama teteh" ucap awak Jenar dalam hatinya, ketika ia melihat Hilya dan Arbhi pergi meninggalkan wak Jenar,


Wak jenar menahan tangis nya, ia sangat menyayangi Hilya namun ia pun takut bila suatu saat Arbhi berpacaran dengan Hilya bahkan hingga menikah ia hanya takut apa yang di alami Maya dan Angga terulang lagi pada Hilya.


BEBERAPA JAM SEBELUMNYA...


Hari itu Hilya sedang duduk bersantai di taman belakang, tiba tiba terdengar seseorang membuka pintu rumah Arbhi.


"sayang... kamu di rumah ga sih" suata Jessica yang cempreng membuat isi rumah Arbhi terdengar menggema.


Hilya segera berjalan menghampiri Jessica yang sudah berada di ruang televisi


"ka Jessica?"


"ehh, Arbhi ada ga sih di rumah, kok dia, gak ada kabar sama gue sih, terus lo udah kasih tau dia kan hari ini suruh ke apartemen gue" ucap Jessica dengan nada angkuh nya


"maaf ka, yaya lupa maaf ya" ucap Hilya sembari tersenyum


"hadeuhh gimana sih, oia lo disini kerja atau apa siih," tanya Jessica

__ADS_1


"iyaa ka ,aku kerja di sini?" ucap Hilya kembali


"woow, lo pembantu?? tapi kok kenzo akrab banget yaa sama lo" ucap Jessica sembari berkecak pinggang


"heheh ga tau deh ka"


"sumpah yaa pengen gue acak acak rasanya muka ni cewek, lihat muka dia bikin hati gue panas banget" gerutu Hilya dalam hatinya


"selama lo disni Arbhi suka bawa cewek ga?" tanya Jessica


"gak .!" ucap Hilya


"Arbhi lagi suka sama siapa sih dia cerita ga sama loe" tanya Jessica kembali


"enggak"


"phaeeehh lo ga kepo gituu sama majikan loe itu, Arbhi kan cowok ganteng banget masa lo ga kepo"


"heheh ga ah ka, itu privasi nya oom Arbhi" ucap Hilya hati hati


"apaa.. lo panggil apa ..?" Jessica mendekati Hilya.


"oom arbhi"


"hahahahhahahaahah kenapa lo panggil dia begitu sih" Jessica menertawai Hilya,


"ehh tapi ga apa-apa sih, udah ah gue balik dulu, oia jangan lupa Arbhi suruh ke apartemen gue yaa,". ucap Jessica belum sempat Hilya menjawab Jessica segera pergi


"hadeuhh dasar... kek jailangkung ajah, datang tanpa dinundang pulang ga di anter, sombong banget itu cewek" gerutu hilya.


Hilya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa santai di ruang televisi ia memejamkan matanya


Sore harinya ketika Hilya sedang berada di kamarnya ia teringat akan Arbhi karena tak biasanya sudah pukul 16.30 sore Arbhi belum juga pulang dari kantor ia membuka ponselnya ia mulai


📱


Hilya:


"oom ..kok belom pulang"


ketik Hilya untuk Arbhi


"ehh ga usah deh, hhhaaehh, mungkin oom lagi ke apartemen nya kan Jessica" gerutu Hilya dalam hatinya ia merebahkan tubuh di atas kasurnya dan tiba tiba ponsel Hilya berdering.


📲


"halo"


"halo teh, lagi apa?"


"emak, heum lagi rebahan ajah mak, habis semuanya udah beres di kerjain"


"ohh,. gituh oia teh kamu tanda tangan surat kelulusan kapan?"


"heum minggu depan mak, ada apa mak"


"teh.., teteh bisa ga berhenti dari situh setelah lulus"

__ADS_1


"haah, memangnya kenapa mak"


"teh, emak tau teteh ada rasa sama den Arbhi, emak cuma takut kalo teteh tinggal di situ teteh yang akan terluka, emak juga tau teteh sebenarnya ada hubungan kan sama den arbhi?"


Mendengar ucapan wak jenar Hilya hanya bisa diam di balik telepon


"yaya, suka oom Arbhi mak, semalam oom arbhi bilang akan lamar yaya"


"apaaaa......!! teh, mak ga mau teh, jangan berkhayal terlalu tinggi, mak yakin den Arbhi ngomog kayak gituh cuma mau yakinin teteh, dan setelah itu..." wak jenar tak melanjutkan ucapannya


"setelah itu apa mak, mak jangan mikir jelek dulu sama oom arbhi.." suara hilya agak sedikit kesal


"teh ..!! emak ini sudah banyak pengalaman emak tahu pahit manis nya kehidupan sebelom kamu lahir!!!" suara wak jenar meninggi


"teteh tau ga, orang tua teteh itu menikah tanpa restu, emak cuma takut teteh mengalami hal yang sama karena kita dan keluarga den arbhi itu beda , teteh udah dewasa, teteh harus nya ngerti dan faham" wak jenar semakin kesal


l


"iyaa mak teteh ngerti tapi apa salah teteh mau tau sampe mana keseriusan oom Arbhi"


"keseriusan? teh, inget yaa kamu sama den Arbhi itu beda jauh usia nya dan dia juga sering ganti pacar,. kamu kira emak ga tau watak den Arbhi, sebelum kamu kenal den Arbhi emak sama abah udah lebih dulu tau, udah pokok nya emak mau kamu secepatnya keluar ga usah kerja lagi di rumah den arbhi"


"tapi . mak..."


"tuuuut...tuuut ...pliip..." wak jenar menutup teleponnya.


Hilya hanya bisa diam dan menangis terisak, ia merasa selama bertahun-tahun ia bersama wak jenar namun baru kali ini hilya mendengar wak jenar berbicara keras pada hilya


Hilya masih terus menangis ia bingung harus bersikap seperti apa di sisi lain ia masih menyukai Arbhi walaupun ia tahu Arbhi sudah memiliki tunangan di sisi lainnya ia harus menuruti keinginan orang tuanya, walaupun wak Jenar bukanlah ibu kandung hilya namun ia sudah membesarkan dan merawat Hilya sedari bayi.


Azan Maghrib berkumandang Hilya bangun dari tempat tidurnya bersiap menunaikan ibadah sholat maghrib ketika Hilya sedang khusyu ponsel Hilya tak henti-hentinya berdering setelah selesai sholat Maghrib Hilya dengan cepat mengangkat telepon yang sedari tadi berdering


📲


"halo neng ada apa.."


"teteh....! emak teh .." alma menangis histeris


"emak kenapa neng" Hilya mulai panik ketika mendengar tabgisna alma


"emak jatuh di kamar mandi teh pas tadi mau ambil wudhu, emak pingsan teh, hhuuuuuu....huuu neng takut .." Alma semakin menangis sejadi jadinya.


"udah neng tenang dulu teteh tar langsng ke rumah sakit yaa" Hilya mematikan telepon nya dengan cepat ia raih tas kecilnya dan jaket miliknya yang tergantung di belakang pintu ia segera pergi dari kediaman Arbhi menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Alma di temani salah satu warga sedang duduk di kursi di luar IGD


"almaa...." Hilya berteriak dan menyeruak memeluk Alma


"teteh... emak belom sadar teh, neng takut emak kenapa-napa". Alma menangis di pelukan Hilya


"sabar yaa sabar .. emak gak apa-apa kok"


"yaya, sebaiknya kamu jaga emak yaa, saya bawa Alma pulang biar dia nginep di rumah saya ajah" ucap pak romli


"iyaa pak makasih yaa pak saya titip Alma" ucap Hilya dan akhirnya Alma pun menurut pada Hilya untuk pulang bersama pak romli salah satu tetangga Hilya.


Setelah tahu kondisi wak jenar Hilya hanya bisa diam dan menangis ia menyadari sakit wak jenar karena kesal pada Hilya

__ADS_1


"maafin teteh mak...teteh salah.." hilya menangis terisak sembari menunggu wak jenar siuman.


Hilya hanya bisa pasrah, ia tak ingin melukai orang tuanya karena perasaan nya pada Arbhi namun Hilya pun tak ingin membohongi perasaannya sendiri bahwa ia juga sangat mencintai arbhi.


__ADS_2