
Sepulang dari kediamn Hilya, Arbhi dan Hilya pulang bersama di perjalanan Hilya hanya diam menahan kesal dan sesak sesekali air matanya menetes dengan cepat ia menghapus air matanya , Arbhi hanya diam tak bisa berkata apapun, ia hanya sesekali memicingkan matanya pada Hilya.
"yaya, nomer hape lu berapa?" tanya Arbhi pada Hilya
"ga punya hape oom," jawab Hilya datar dengan suara parau
"haah...!! gilaa lu, anak milenial masa iyaa ga punya hape" ucap Arbhi sembari tertawa ketir.
"punya cuma hape jadul, bukan android atau ios, ga mampu beli pake hape jadul ajah udah Alhamdulillah" sahut Hilya seraya memandang kosong ke luar
"kalo lu ada tugas sekolah gimana..?"
"sms ajah sama naura,"
"naura?? siapa tuh?" tanya arbhi sembari mengernyitkan dahinya
"temen ku lah"
"siapa lagi temen lu?"
"iish kenapa jadi pengen tau sih oom ...!!" ketus Hilya menjawab pertanyaan arbhi
"ck ... jangan geer gue cuma mau tau siapa temen lu takutnya ada apa-apa, lu itu kerja di rumah gue, jadi lu juga tanggung jawab gue" ucap Arbhi dengan tatapan kesal pada Hilya
tanpa Hilya sadari Arbhi memutar arah menuju salah satu mall terbaik di daerah nya
"oom kok kesini??"
"berisik.. ayoo turun!" Arbhi dengan cepat membuka pintu lalu Hilya mengikuti langkah Arbhi dari belakang,
Arbhi yang memiliki postur tubuh tinggi berambut gondrong dan berkulit putih menjadi pusat perhatian para wanita karena ketampanannya Hilya yang berjalan di belakang Arbhi hanya bisa diam sembari melihat kekiri dan ke kanan melihat tingkah para wanita yang seperti terpesona akan ketampanan Arbhi.
"sst ... artis yaa ganteng banget..."
"oppa korea banget"
"cool baget lakii banget gayanya" bisik para wanita yang bersalipan dengan Arbhi. mendengar ocehan wanita itu Hilya hanya bisa menarik nafas,
lalu Arbhi memasuki salah satu counter ponsel terbaik di mall itu.
"sore mas Arbhi.." ucap salah satu SPG counter ponsel menyapa Arbhi
"sore juga, aku mau cari hape yang lumayan oke dong",
"ah, oke aku ambilin yaa" ucap SPG tersebut ia membawa beberapa tipe ponsel ke hadapan Arbhi, Hilya yang jauh dari arbhi hanya diam sembari melihat beberapa accesories untuk ponsel
"yaya....! sini" panggil Arbhi pada Hilya, dan Hilya berlari kecil menghampiri Arbhi
"apa oom.."
"lo pilih mau yang mana"
__ADS_1
"haaah,. heum" Hilya merasa kebingungan ponsel baru yang ada di hadapannya semuanya bermerk dan bernilai sangat mahal
"heum, aku ga mau oom",
"kenapa?? ga suka?" tanya Arbhi dengen tegas lalu Hilya sedikit mendekati Arbhi
"mahaal oom" bisik Hilya pada Arbhi, Arbhi hanya diam menaikan kedua alis nya menandakan ia terkejut akan ucapan Hilya
"haaaaah. yang ini ajah", arbhi menarik nafasnya dalam dalam dan ia memilihkan ponsel untuk Hilya
"taapii oom, aduuh.." ucap hilya ia bingung, perasaan nya sangat tidak enak sore itu.
"yang ini ajah mas arbhi??" tanya SPG tersebut
"heum iyaa," ucap Arbhi dan SPG tersebut segera membungkus ponselnya dan membawa alat transaksi pembayaran
"5500.000 yaa mas",
"oke," ucap Arbhi sembari mengeluarkan kartu kredit miliknya.
arbhimembayar ponsel yang akan diberikan pada Hilya, setelah selesai melakukan pembayaran Arbhi berjalan keluar dari gerai ponsel diikuti oleh Hilya, Arbhi berjalan santai sembari melihat ke sekeliling
"duuh capek.. cari apaan sih" gerutu Hilya
tiba tiba Arbhi mengehentikan langkahnya dan berbalik ke arah Hilya, membuat Hilya terkejut
"sabar yaa nanti kita beli minum" ucap Arbhi dengan tatapn dingin pada hilya
Arbhi sibuk mencari PC yang terbaik lalu setelah dapat apa yang ia inginkan Arbhi dan Hilya segera pulang menuju kediaman arybhi, sesampainya di kediaman Arbhi Hilya segera masuk ke dalam kamarnya lalu tak lama kemudian kamar Hilya di ketuk perlahan oleh Arbhi dengan cepat hilyya membuka pintu kamarnya
"ada apa oom?"
" nih," Arbhi menyodorkan PC yang tadi ia beli di salah satu toko.
"looh, ini buat aku oom?". tanya Hilya dengan mata terbelalak
"iyalah buat siapa lagi, ponsel baru yang tadi buat kenyamanan komunikasi lu sama gue, dan pc ini buat belajar lu gue ga mau yaa lu keluar rumah mulu dengan alesan tugas sekolah dan stop nyusahin temen lu itu," ucap Arbhi dengan nada dingin dan tatapan nya yang tajam menatap Hilya.
"tapi oom, ini kan mahal semua"
"kalo gue bilang pake ya pake.. ga boleh nolak"
"heum. yaudah deh makasih yaa oom" ucap Hilya seraya tersenyum,
Arbhi hanya diam tak menjawab ia segera pergi meninggalkan Hilya dan tepat di depan pintu kamarnya langkah Arbhi terhenti
"jangan geer, lu bisa bayar semua itu dengan cara nyicil dari gaji lu tiap bulan okee...!" ucap Arbhi dan kemudian ia masuk ke dalam kamarnya
"haaaah...!!," Hilya terkejut ia melihat pc di tangannya
"app...aaapaaa.. gue bayar, nyicil, iishh . gue kira dia baik ngasih ini semua gratis taunya gue nyicil sama ajah gue beli secara kridit sama dia, duuhh begoo banget sih gue aduuhh kalo kayak gini bisa abis gaji gue dan gue ga bisa bantu abah, nyeselll gue tadi mikir elu baik iihh najiis banget" gerutu Hilya dalam hatinya sembari menahan kesal ia membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
Malam harinya Arbhi duduk santai di ruang tv, Hilya yang saat itu sedang di dapur sedang menyiapkan bahan masakan untuk esok hari
"yaya, hape lu udah di setting belom?" tanya arbhi
"belom oom",.
"ck. coba bawa sini hape lu". Arbhi menyuruh Hilya untuk membawa ponsel miliknya
lalu Arbhi membantu Hilya untuk mensetting ponsel barunya
"nih udah gue set, dan di kontak darurat gue masukan kontak gue yaa,. disini ada kontak gue, sama mami, sisanya lo masukin sendiri", ucap Arbhi hilya hanya mengangguk kan kepalanya
"makasih yaa oom sebelumnya, tapi maaf, kalo bisa ini semua yaya balikin ajah,. yaya takut gaji yaya habis, buat nyicil pembayaran hp sama PC" ucap Hilya sembari tertunduk
Arbhi terdiam lalu ia menatap dalam-dalam wajah hilya,.
"yaya, lu anak pertama yaa?" tanya arbhi
"heum bukan oom anak pertama abah ada kok laki laki namanya faisal, dia kerja di salah satu pabrik di Tangerang,"
"tapi kenapa lu yang harus bantu utang pak Rudi?",
"heum nanti kapan kapan yaa ceritain kalo oom mau denger!"
"gue males, pasti ujung ujungnya nyeritain kesusahn hidup lu ...!" ketus Arbhi
"hhaaah.. yaudah" ucap Hilya seraya tertunduk Arbhi terdiam ia menoleh dan memandangi waja Hilya lalu tiba tiba ia membelai lembut kepala Hilya, Hilya terkejut ia reflek menoleh pada Arbhi.
"sekolah yang rajin, gue kasih semua fasilitas karena gue ga mau lu punya kendala dalam belajar" ucap Arbhi dengan tatapan dan suara lembut.
"deg .deg..deg .deg .." seketika jantung Hilya berdegup kencang pendapat perlakuan itu dari Arbhi
"gak usah bayar, gue beliin semua buat lu," ucap Arbhi kembali sembari mentapa Hilya.
tiba-tiba air mata Hilya menetes deras ia terharu akan sikap Arbhi
"makasi yaa oom. makasih banyak yaya janji bakal belajar sampai yaya dapet nilai terbaik di ujian akhir nanti" ucap hilya sembari menangis terisak
"iyaa, ck .... udah ah, lebay amat pake nangis segala", ucap arbhi sembari membetulkan bantal di sofa nya lalu ia merebahkan tubuhnya Hilya bagun dari duduknya untuk menjauh karena arbhi ingin santai sembari menonton televisi
"oia besok dua hari gue ga tidur di rumah ya"
"oom mau nginep di rumah ibu ambar,?" tanya Hilya
"ga, gue mau tidur di kantor, banyak designe. yang belum selesai gue hitung lebar dan skalanya",
"heum oke,"
"yaudah lu tidur sana rumah biar gue yang kunci", ucap arbhi lalu hilya meninggalkan arbhi dan ia berlari ke kamarnya
sesampainya di kamar Hilya menjatuhkan tubuhnya di kasur
__ADS_1
"kkyaaaaa... iih kok tadi oom Arbhi begitu yaa. kok gue deg deg an gini duu Hilya jangan geer oom arbhi cuma baik karena lu kerja di rumah nya okeee ...!", ucap Hilya pada diri sendiri, malam itu Hilya cukup larut untk tidur ia masih terbayang akan perkataan dan perilak Arbhi.