
Setelah kepulangan Arbhi ia masuk ke dalam kamarnya ia termenung malam itu ia tidur bersama putra semata wayangnya ia pandangi wajah anaknya itu dalam-dalam wajah nya mirip sekali dengan Arbhi.
Hilya larut dalam lamunannya ia mengingat segala sesuatu tentang dirinya dan Arbhi perlahan-lahan air matanya mulai menetes, ia menciumi anaknya yang tengah tertidur.
"maafkan bunda yaa nak..., kamu adalah semangat bunda masa depan bunda kamu harta yang paling berharga buat bunda" ucap Hilya dalam hatinya ia terus menciumi ichie dengan linangan air mata.
Keesokan harinya Hilya sudah di sibukan dengan agenda renovasi cafe dan resto miliknya, ia sibuk mengecek pekerjaan para pekerja di ruko miliknya lalu tiba-tiba ponselnya berdering nomer asing yang tertera tanpa nama masuk ke ponsel Hilya
📲
"halo, maaf ini siapa ya!" ucap Hilya dengan sopan
"gue di resto pawon mbok nah, ada yang mau gue bicarakan gue tunggu disini" ucap Arbhi
Masih dengan nada dinginnya tanpa bertanya bisa atau tidak pada Hilya ia langsung menutup teleponnya
Hilya menarik nafasnya dalam-dalam, ia ingin menolak namun ia tahu sifat Arbhi yang tak suka di bantah, Hilya melangkah kan kakinya meninggalkan ruko milik nya lalu ia segera pergi ke resto yang Arbhi tunjukan
Sesampainya di resto ia melihat ke segala arah mencari keberadaan Arbhi ternyata Arbhi berada di lantai dua resto tersebut, ia pun melihat Arbhi yang duduk sendiri dengan kaos hitam,jeans hitam, ia duduk sembari menatap dingin pada Hilya yang mulai jalan menghampiri Arbhi.
"maaf, lama.." ucap Hilya seraya tersenyum namun Arbhi tak membalas senyuman Hilya,
"lo sendiri?"
"oh, heum...mmmm iyaa" ucap Hilya ia merasa gugup
"oh, jadi begini yaa ternyata seorang Hilya yang single parent kemana mana selalu sendiri tanpa bawa anaknya" ucap Arbhi seraya memangku dagunya dan berkata sinis
"maksud oom apa?"
"gue mau ketemu ichie, gue mau ajak dia jalan jalan sebelum gue balik ke bogor lusa nanti"
"huuft....kenapa oom ga bilang dari tadi di telepon kan Yaya bisa jemput ichie" ucap hilya sembari menarik nafasnya menandakan ia sedikit kesal pada arbhi
Arbhi hanya tersenyum ketir, dengan tatapan malasnya ia tak menjawab.
Hilya segera menelepon salah satu supir di kediaman pak Tubagus
📲
"halo, pak Sugeng, tolong bawa ichie yaa ke resto pawon mbok nah, tadi aku udah telepon si mbok di rumah suruh siapain perlengkapan jalan-jalan untuk ichie" ucap Hilya dengan sopan
"oohh nggiih...bu, saya anatarkan"
"makasih banyak yaa pak Sugeng" ucap Hilya kembali
__ADS_1
Sembari menunggu ichie, Hilya memesan minuman dingin tanpa berbicara apapun, Arbhi hanya diam menatap dingin ke Hilya dengan tatapannya yang tajam seolah memburu.
"bagaiman kabar Jessica" tanya Hilya
"gue lagi ga mau bahas dia" ketus Arbhi
"tapi aku mau bahas dia, aku mau tau kabar rumah tangga oom dan Jessica, juga kak kenzo dan ka Jane " ucap Hilya
"buat apa, apa masih penting buat lo tau kabar mereka dan mau ngapain lo tau tentang semua orang orang di sekitar gue termasuk rumah tangga gue"
"yaya cuma.."
"cuma apa, mau ngetawain, apa penting semuanya bagi lo, lo ga usah tau ada apa 4 tahun yang lalu di kehidupan gue, toh elu juga lebih milih pergi bawa anak gue kan," ucap Arbhi dengan nada ketusnya
"terserah oom mau mikir apa, ya sih Yaya ga ada hak untuk tahu, dan mungkin lebih baik yaya ga banya nanya dan lebih baik juga kita tunggu ichie ajah" ucap Hilya perlahan ia merasa sedih, mengapa Arbhi terlihat membenci nya saat ini
Tak lama kemudian Ichie datang bersama pak Sugeng ia terlihat bahagia dengan tawa dan suaranya yang cerewet
"bundaaaaa!!!" ichie berteriak memanggil Hilya , Hilya menoleh ia tersenyum dan bangun dari duduknya
"lohh kok di gendong nak, kasian pak Sugeng nya" ucap Hilya seraya meraih ichi dari Gendongan pak Sugeng
"ndak apa apa bu, capek katanya naik tangga" ucap pak Sugeng demgan senyum tulusnya
"sudah bu di rumah tadi,"
"bener nih, hmm...bohong kali" ucap Hilya seraya berseloroh
"bener bu,"
" yasudah, ini ada makanan untuk keluarag di rumah, sepulang dari sini pak Sugeng pulang ajah langsung ke rumah,nih pak buat anak istri di rumah" ucap Hilya seraya tersenyum menyodorkan beberapa kotak menu masakan yang siap di bawa pulang
"Alhamdulillah makasih banyak bu"
"iyaa pak sama sama, hati hati yaa pak". ucap Hilya
Saat itu Arbhi sedang tak ada di tempat ia sedang berada di toilet di kejauhan diam diam Arbhi terus memperhatikan Hilya, ia memandangi sikap hilya pada supir nya itu yag terlihat baik dan ramah.
Ichi yang di gendong Hilya ia turunakan di atas kursi
"ichie hari ini mau di ajak jalan jalan sama ayah, seneng ga?" ucap Hilya sembari menciumi wajah anak lelakinya itu
"kemana...?"
"ichi mau nya kemana?" ucap Arbhi yang tiba tiba datang, Hilya kembali terdiam senyum sumringah nya perlahan berubah menjadi tegang.
__ADS_1
" ke candi Borobudur..." ucap ichie dengan riang
"kok sana lagi nak, kan kemarin habis dari sana sama papi Yudha sama mami Anggita!" ucap Hilya
"biarin lah terserah dia,. kan aku yang ajak dia jadi terserah dia mau minta kemana" ucap dingin arbhi, ia menciumi anak lelaki nya itu
"haap...are you ready?" anya Arbhi seraya menggendong ichie
"ready...,yeeeaayyy" ichie berteriak kegirangan
"lets goooo...".
Hilya hanya bisa diam ia mengikuti Arbhi dan ichie dari belakang sesampainya di parkiran langkah Hilya terhenti
"nak, bunda ga ikut ya, ayah kan mau jalan-jalan nya sama ichie, jadi bunda pulang yaa, jangan nakal, kalo mau jajan di tas Ichie bunda sudah taruh uang yaa", ucap Hilya seraya memandang anak lelakinya yang berada di gendongan Arbhi
seketika wajah Arbhi berubah menjadi sangat kesal dan hampir meluapkan emosinya namun ia tahan karena ada ichie dalam gendongannya
ichi hanya diam wajahnya berubah manjadi murung, Arbhi hanya diam tak menjawab ia membuka pintu mobilnya lalu menduduki ichi di kursi depan dengan nyaman i tutup pintu dan ia membuka pintu belakang
"masuk...!!!" ucap kesal Arbhi pada Hilya,
Hilya terkejut, bukankah Arbhi hanya membutuhkan ichi untuk jalan jalan karena lusa ia sudah kembali ke bogor.
"yaya ga ikut oom, kan tadi oom bilang mau jalan sama ichie kan?" ucap Hilya dengan lembut
"masuk....!!" ucap Arbhi kembali seraya menatap Hilya dengan dingin
Hilya menarik nafasnya dalam dalam, ada sesuatu yang tidak bisa ia utarakan saat itu, semuanya terasa sesak.
"yaya bawa mobil sendiri" ucap Hilya perlahan
"pak...sini pak...." ucap Arbhi ia tak peduli akan ucapan Hilya, ia memanggil salah satu juru parkir, untuk meminta menjaga mobil Hilya,akhirnya juru parkir tersebut bersedia menjaga mobil Hilya hingga hilya kembali
"jangan sampe gue ngomong tiga kali, lo tau kan sifat gue!!" ketus Arbhi
Hilya terdiam ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang, Ichi yang semula murung terlihat bahagia, bahwa hari itu Hilya ikut bersama dirinya
di perjalanan ichi hanya berceloteh riang selalu banyak pertanyaan ia dan Arbhi terlihat sangat asyikk berdua. di kursi belakang Hilya hanya diam memandang ke luar jendela, Arbhi melihat berkali kali di kaca dashboard nya ia melihat Hilya terus terdiam, ia terus saja mencuri curi pandang dengan Hilya ketika mata mereka beradu keduanya saling membuang pandangan seolah enggan untuk berpandangan
"dia masih seperti dulu, malu, ramah tapi dia ga meledek ledak seperti dulu" ucap Arbhi dalam hatinya
"ga pernah berubah seperti nya tabiatnya masih keras, dan emosional, tapi kini keadaan nya berbeda, dia terlihat sangat membenci gue". ucap Hilya dalam hatinya, hari itu Hilya merasa tubuhnya sedang tidak sehat, namun ia tak pernah menghiraukan kesehatan ya
Hilya merasa bingung apa yang harus ia lakukan, mungkin Hilya lebih baik diam tanpa banyak bicara, karena ia tahu saat ini sikap Arbhi sedang dingin pada dirinya.
__ADS_1