
Tepat jam 3 Sore saudara sepupu Ayah yang tinggal dipinggir kota J pun datang,,
Bu lek Lina dengan suami dan anak perempuannya yang masih berumur 3 tahun.
Lalu Bu Ida dan juga Bu Arum tetangga sebelah rumah.
Kami semua masuk kedalam mobil,, Dan siap untuk berangkat, dua mobil melaju beriringan, menuju sebuah rumah ditengah perkampungan.
Melewati gang sempit dimana kami harus berjalan kaki sekitar 50 meter kearah rumah keluarga Shinta.
Proses basa-basi pun berlangsung singkat.
Setelah menyatakan lamaran Kak Seno di terima,, pembicaraan pun berlanjut untuk menentukan tanggal pernikahan.
"Kapan kalian akan menikah" tanya Ibu pada Seno dan Shinta yang duduk didepan Ayah dan Ibu.
Sementara Ayah dan Ibu Shinta duduk disamping Shinta.
"Gimana kalau 6 bulan lagi Bu?" tanya Seno.
"Kamu mau menikah secepat itu?" tanya Ibu masih tidak percaya.
"Ya semakin cepat bukannya semakin baik Mbak?" ucap Ibu Shinta.
"Lalu?"
"Tante,, Om kami sudah berencana setelah pemberkatan, resepsi akan diadakan di hotel gimana?" ucapnya.
"Oww mau resepsi di hotel,, boleh saja!" jawab Ibu.
Wajah kedua orang tua Shinta, dan juga Shinta langsung berbinar cerah tampak bahagia.
"Tapi kita akan bagi 2 biayanya!" lanjut Ibu.
"Ya Gak bisa begitu dong Mbak,, Seharusnya pihak laki-laki yang menanggung semuanya,,,!" jawab Ibu Shinta dengan nada kecewa.
"Memangnya yang menikah hanya Seno sendiri tanpa anak kalian?" tanya Ibu dengan ketus.
Sementara Seno mulai berkeringat dingin melihat perdebatan orang tuanya.
"Kalau mau minta resepsi di hotel seharusnya menikah sama pengusaha jangan sama staf keuangan biasa seperti Seno!" ketus Ibu.
"Tetap saja gak bisa begitu Mbak!" sanggah Ibu Shinta.
"Ya sudah aku mengalah biaya resepsi di hotel 100% kami yang tanggung,, tapi tempat tinggal mereka kalian yang membelikan gimana?"
Mereka terdiam.
"Rumah kan tanggung jawab Seno!" jawab ibu Shinta.
__ADS_1
"Baik Bu kami akan beli rumah sendiri!" ucap Seno cukup percaya diri.
"Sudah Deal ya kalian mau resepsi di hotel biaya 200juta Ayah dan Ibu yang tanggung,,!"
"Tapi kami masih boleh tinggal dirumah Ibu untuk sementara kan?" ucap Seno
"Tidak selesai acara kalian langsung pulang ke rumah kalian sendiri, Ayah dan Ibu sebenarnya sudah mempersiapkan rencana yang baik untuk kalian,, kami bahkan sudah membayar DP sebuah rumah kecil diperumahan Djati Mulia untuk nanti kalian tinggal, tapi berhubung kalian meminta pesta dihotel,, ya gak masalah,, kami tinggal batalkan pembelian rumah itu,, dan uangnya bisa kita pakai untuk berpesta di hotel" jawab ibu dengan wajah datar.
"Ibu macam apa yang tega sama anak sendiri" sindrinya Ibu Shinta.
"Tega dari mana??? lagi pula Orang tua macam apa yang sudah tahu miskin tapi berlagak kaya dan bangga dengan harta orang lain!" balas Ibu.
"Brakk,, Jangan menghina keluargaku!!" bentak Ayah Shinta pada Ibu.
"Dan jangan berani kamu membentak Istriku!" Ayah langsung memasang badan melindungi istrinya.
"Apa maksud mbak berlagak kaya memakai uang orang,,. kami tidak pernah memakai uang siapapun" sombongnya.
"Hehh,, baju sama makanan yang kalian hidangkan saja uangnya dari Seno apa kalian gak malu,, ga punya harga diri!" ketus Ibu.
"Nak Seno yang kasih,, kami gak pernah meminta". ngototnya.
"Kami memang miskin tapi kami tidak terima kalian menghina kami!" ucap Ayah Shinta dengan nada marah.
"Kami tidak menghina anda karena kemiskinan anda,, kamai sama sekali tidak masalah punya menantu miskin,, karena kami juga bukan keluarga kaya, tapi setidaknya didiklah anak kalian untuk tidak memanfaatkan kebaikan orang lain dengan memoroti harta orang lain,, Ini bukannya mendidik dan mengingatkan malah ikut menikmati! Tidak ada yang salah dengan kemiskinan asal masih punya martabat dan harga diri!" cerocos Ibu.
"Bu.." tegur Seno dengan wajah pucat .
"Diam kamu!!' bentak Ibu.
"Kita batalkan saja pertunangan ini,, gak ada pernikahan!" ucap Bu Retno, Ibu kandung Kak Shinta dengan ketus.
"Dengan senang hati!" balas Ibu dengan hati panas.
"Tapi Bu.." Seno panik melihat acaranya kacau balau.
"Abbi,, minta semua ibu-ibu dan Bu lek mu untuk membawa kembali semua seserahan ini" ucap Ibu dengan nada dingin.
"Buuu,," rengek Shinta pada Ibunya sambil melirik kearah semua barang seserahan yang dibawa keluarga Seno.
"Kalian kesini hanya mau mempermalukan keluargaku?!" teriak Ayah Shinta.
"Kami kesini untuk melamar,, tapi istrimu yang membatalkan,,,, siapa mempermalukan siapa?" Ketus Ayah.
"Kita,, sama-sama orang tua,, seharusnya bisa bijaksana,, jika hanya berpikir untuk menghambur-hamburkan uang untuk pesta bukannya lebih baik dipakai untuk yang lain yang lebih penting?
Kalian memilih bergaya tapi tidak sadar dengan kemampuan diri sendiri bukannya itu bodoh!" ucap Ayah sambil memandang Seno, Shinta dan juga kedua orang tuanya.
"Shinta putri tunggal kami,, tentu kami mau yang terbaik!" jawab ibu Shinta dengan ketus.
__ADS_1
"Semua orang tua mau yang terbaik,,. tapi bukan dengan memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak mampu untuk dijangkau!" balas Ibu.
"Kita pulang sekarang?" ucap Ibu yang sudah tidak betah berlama-lama dirumah keluarga Shinta.
"Tante tolong jangan batalkan pertunangan kami,, tidak apa-apa kami tidak resepsi di hotel" ucap Shinta memelas.
"Yang membatalkan bukan Tante tapi Ibumu,, apa kamu tidak dengar tadi??"
"Buuu" panggil Shinta pada Ibunya dengan tatapan memohon.
Sambil menarik nafas panjang,,
" Ya sudah Mbak kita lanjutkan pertunangan anak kita,, saya minta maaf" ucapnya dengan tidak ikhlas.
"Buuu!" panggil Seno dengan wajah memohon.
Dengan terpaksa Ibu dan Ayah nya duduk kembali sambil menahan kemarahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Akhirnya disepakati pernikahan mereka diadakan 6 bulan lagi tepat setelah kelulusan Abbi, dan resepsi kecil yang diadakan di restoran Bambu Kuning dan hanya akan mengundang sekitar 75-100 orang saja.
Sepulang acara yang penuh drama, kami berempat duduk diruang tamu.
Abbi yang melihat raut wajah lelah pada Ayah dan ibunya segera beranjak dari duduknya menuju ke dapur,,
Seteko teh hangat dan sepiring kue dai siapkan dan dibawa keruang tamu sebagai pengganjal perut pengganti makan malam.
"Seno,, Ibu mau bicara serius!"
"Iya Bu"
"Mulai bulan depan semua gajimu berikan pada Ibu untuk menambah biaya pernikahan kalian!" ucap Ibu tegas.
"Tapi Bu..!" tampak wajah keberatan terlukis di wajahnya.
"Ga menurut apa kata Ibu ga usah menikah!" ucap Ibu dengan tenang.
"Eh iya Bu,, tapi boleh ga Seno kasih Ibu 3 juta, dan sisanya buat pegangan Seno?" tawarnya.
"Hmmm gak masalah, Oh iya jangan lupa katakan pada calon istrimu,, rumah yang ibu beli adalah atas nama ayah dan ibu,, dan kalian hanya akan menempatinya secara gratis selama 2 tahun, setelah itu kamu keluar dan cari rumah sendiri"
"Tapi Buu..
"Kalau kamu siap menikah maka itu artinya kamu harus siap bertanggung jawab dan pandai-pandai mengatur keuangan,, Ayah yang hanya lulusan SMA ini mampu membeli rumah sebesar ini karena dukungan Ibumu yang pintar mengelola keuangan,, padahal saat itu gaji Ayah tidak sebesar gajimu sekarang!! Kamu seorang sarjana jauh lebih baik dari Ayah,, Istrimu lulusan SMA sementara Ibumu hanya lulusan SD bukankah itu artinya dia juga lebih baik kemampuannya dari pada ibumu?!" ucap Ayah mendukung keputusan istrinya.
Seno pun terdiam mendengar perkataan Ayahnya.
"Baik Ayah,,!" jawabnya dengan lemas.
Bersambung.
__ADS_1