I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Keretakan.


__ADS_3

Kak Seno mencoba meraih tangan Ibu,,


Tapi segera ditepis dengan kasar olehnya,, sorot mata kekecewaan begitu terlihat dari mata Ibu.


Ibu segera melangkah masuk kekamar, mengabaikan tatapan putra kesayangannya yang sudah tega melukain perasaannya


"Ayah" Kak Seno menatap wajah ayahnya dengan nada memohon.


Ayah mengabaikan Seno, dan berjalan mendekati Ibu Ida juga ibu Arum yang berdiri tidak jauh di ruang tamu.


"Ibu-ibu,, atas nama keluarga, saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya,, saya berharap pengertian dari Ibu Ida juga Ibu Arum, dan tidak mengambil hati masalah ini" ucap Ayah dengan tidak enak.


"Nggak apa-apa Pak,, kami maklum,, kalau begitu kami permisi dulu Pak Dewa,," ucap Bu Arum mewakili Bu Ida sekalian.


"Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya ya Ibu-ibu,, jangan kapok bantuin kita ya Bu" ucapku tulus sambil tersenyum.


"Sama-sama Nak..Kita pasti bantu gak akan kapok, kan malingnya hari ini juga sudah ketahuan kalau bukan kita,, Ya sudah Nak Abbi salam buat Ibu ya." Ucap Bu Ida sambil menyindir Kak Shinta.


Lalu kedua orang itu pulang kerumah mereka masing-masing.


Kini tersisa Alex, Abbi, Ayah, Seno, Shinta dan Bu Retno,, diruang tamu.


Tak berselang lama sebuah mobil suv berwarna biru memasuki halaman rumah,


Alex yang mengenali pemilik mobil itu pun segera berdiri untuk menyambutnya.


"Tante" sapa Alex sambil memeluk perempuan cantik seumuran dengan Ibu.


"Siapa yang sakit Lex,, maaf ya Tante tadi nggak bisa ikut datang ke acara lamaranmu,, maklum Tante ada jadwal operasi pasien bedah ceasar" jelasnya.


"Aman Tan,, yuk Tan masuk dulu"bajak Alex tanpa menjawab pertanyaan Tantenya.


"Om ini Tante Rissa adik dari alamarhum Mami,, dia dokter kandungan di kota J,, diklinik Kasih Bunda" Alex mengenalkan Tantenya.


"Hallo Mbak, saya Dewa,, ayahnya Abbi,," ucap Ayah sambil mengulurkan tangan,, dan berjabat tangan.


"Rissa" jawabnya ramah.


"Hallo Tante saya Abbi, dan itu Seno kakak kandung Abbi, sedangkan itu kak Shinta istri Kakak" ucapku setelah Ayah.


Tante Rissa tersenyum kearah Kakak dan lainnya.


"Ngomong-ngomong kamu yang sakit,, atau hamil?" Tanya Tante Rissa padaku.


"Oh, bukan Tante,, saya nggak sakit juga nggak hamil,," jawabku cepat-cepat.


"Tante yang sakit bukan Abbi,, tapi tolong periksa Kak Shinta,, dia dari tadi mengeluh sakit perut padahal dia sedang hamil" jelas Alex tapa basa-basi.


Menyadari kedatangan dokter kandungan,, wajah Shinta kembali memucat,, begitu juga dengan Ibunya.


"Su.. sudah tidak sakit lagi kok Tante,, sudah enakan" ucap Shinta.


"Kamu yakin?" tanya Seno.


Shinta mengangguk.

__ADS_1


"Jangan menolak kebaikan Tante Rissa,, sudah jauh-jauh kesini masa di tolak,, lumayan kan dapat periksa kandungan gratis,, oh aku lupa kaliankan dari keluarga terhormat gak suka gratisan ya!!" Cibir Abbi dan mendapat pelototan dari kakaknya.


Mendengar cibiran Abigail, Retno dan Shinta hanya bisa menahan marah dihatinya.


Seketika semua mulut terkunci dan suasana menjadi canggung.


"Mari Nak,, biar Tante memeriksa mu" ucap Tante Rissa memecah suasana.


"Nggakk,, usah Tante,, jangan repot-repot" lagi-lagi Shinta menolak untuk diperiksa.


"Ayo,, aku gak mau ada apa-apa sama kandunganmu" Seno memegang lengan Shinta dan membantunya berdiri.


"Ya.. tapi Mas,, aku.. benar-benar sudah tidak apa-apa" jawab Shinta.


"Memang kandungannya sudah berapa bulan ?" Tanya Tante Rissa.


""Sudah Masuk 15 Minggu Tan" jawab Seno.


"Mari Tante,, " Seno menggandeng paksa istrinya menuju ke kamar miliknya diikuti Tante Rissa dari belakang.


Sampai dikamar Tante Rissa segera mengeluarkan peralatannya, dan memeriksa Shinta dengan hati-hati.


Sesaat Tante Rissa mengernyitkan dahinya,, lalu menatap wajah gadis yang diperiksanya dengan tatapan aneh.


"Istrimu baik-baik saja,," ucapnya selesai memeriksa Shinta sambil memasukkan kembali peralatannya.


"Bagaimana bayinya Tante?? Apa juga baik-baik saja?" Tanya Seno masih cemas.


Tante Rissa melirik kearah Shinta yang sudah berkeringat dingin.


"Dua hari yang lalu Tante" jujur Seno.


"Lalu bagaimana hasil pemeriksaannya,,?" Tanya Tante Rissa lagi.


"Kandungannya sehat,, bayinya sehat,, dan kandungannya berumur 15 minggu" jawab Seno.


"Kamu ikut menemani istrimu ke dokter?" Tanya Tante Rissa untuk kesekian kalinya.


"Tidak Tante,, memangnya kenapa?" Tanya Seno balik, merasa ada yang janggal.


Shinta terlihat semakin berkeringat dingin dan menatap Tante Rissa dengan wajah memelas.


Seno menatap Tante Rissa dan Shinta bergantian,,


"Tante,, maaf sebenarnya ada apa dengan kehamilan istriku?" tanya Seno.


"Maaf Nak,, istrimu sebenarnya.. tidak hamil" ucap Tante Rissa.


Seno menatap tak percaya kearah Tante Rissa,,


"Apa Tante..? tidak hami?? tapi Tannte??" Seno kebingungan dengan jawaban Tante Rissa.


"Maaf Nak itu sejujurnya,, istrimu tidak hamil" jawab Tante Rissa.


Lalu dia permisi keluar meninggalkan pasangan itu.

__ADS_1


Sepeninggal Tante Rissa dari kamarnya,


"Jelaskan!!" ucap Seno dingin dan menatap tajam wajah Shinta yang ketakutan.


"Anu Mas,. sebenarnya aku.. aku keguguran,," Jawab Shinta.


"Kapan kegugurannya,,?"


"Bulan lalu"


"Lalu kenapa membohongiku,, bahkan tiap Minggu kamu minta uang untuk periksa kehamilan,, tapi ternyata kamu berbohong!!" Marah Seno.


"Maaf Mass,, maaff,,," Shinta mulai menangis menyedihkan mengeluarkan jurus andalannya.


"Pergi..!!" usir Seno.


"Mass aku sedih kehilangan anak kita Mas,, tolong mengertilah Mas, aku,, aku butuh hiburan,, aku takut kamu juga sedih makanya aku bohong,.." jelasnya tanpa merasa bersalah.


Shinta mulai terisak-isak.


Tapi kekecewaan Seno terlalu besar,, hatinya sakit mengetahui dirinya dibohongi oleh orang yang dicintainya.


"Pergiiii!!" Bentak Seno.


Shinta dengan wajah sedih keluar dari kamar suaminya,, dan berjalan menuju ke ruang tamu menemui ibunya.


"Kenapa Nak?" tanya Bu Retno melihat wajah sedih dan air mata Shinta.


"Mas Seno marah Bu,, dia mengusirku" adu Shinta.


"Ya sudah kalau diusir ya pulang saja,, kita sudah dipermalukan dan dihina disini kenapa harus juga berlama-lama dirumah ini !!" omel Bu Retno.


Mereka berdua beranjak berdiri siap meninggalkan rumah ini tanpa berpamitan,, padahal masih ada Ayah, Tante Rissa, Kak Alex dan juga aku.


Aku berdiri menghampiri Bu Retno dan juga Kak Shinta.


"Jangan lupa kita kasih waktu dua Minggu untuk membayar 2 kali lipat anting yang tadi kamu curi ya,, itu pertaruhannya kan tadi?!!" Abbi mengingatkan sambil tersenyum smirk.


"Jangan harap,, anting sudah kita kembalikan kok masih minta ganti rugi!" ucap Bu Retno menjilat ucapannya sendiri.


"Siap yang minta ganti rugi,, itu kan taruhan yang anda buat sendiri,, Kalau gak mau tepati omongan ya jangan salahin kita kalau kasus ini kita laporkan ke polisi!,,, atau video ini kita tunjukin ke semua tetangga kalian saja gimana??" tanya Abbi sambil tersenyum mengejek.


"Ka..mu!!" Bu Retno naik pitam mendengar ucapan Abbi.


"Katanya keluarga terhormat!!kenapa gak kuat ganti ya??" sindir Abbi lagi.


"Anak Kurang ajar!!" teriak Be Retno siap menampar Abbi yang berdiri didepannya saat ini.


"Mau menampar calon istriku,, dalam mimpi!!" ketus dingin Alex menahan tangan Bu Retno yang siap melayang ke pipiku Lalau menghempaskannya.


"Dasar keluarga ibliss,, keluarga kurang ajar,, tidak bisa mendidik anak untuk menghormati orang ??" amuk Bu Retno berapi-api.


"Bu cermin di rumah retak ya?? perlu dibelikan cermin lagi??" sindir Abbi.


Dengan marah Bu Retno menggandeng tangan Shinta dan segera pergi meninggalkan rumah besannya dengan kemarahan yang meluap-luap. Menutup telinganya dan mengabaikan sindiran pedas dari Abigail.

__ADS_1


Hari ini ambisi Bu Retno untuk mengacaukan acara lamaran Abbi, dan mendapatkan menantu kaya untuk menggantikan Seno justru berbalik mempermalukan dirinya dan juga anaknya.


__ADS_2