I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Memperbaiki??


__ADS_3

"Sayang nanti jadi hang out gak? sore aku tunggu..


Abbi membaca cuplikan pesan yang sempat muncul dilayar dengan jantung berdebar.


Mendengar suara dari kamar mandi berhenti, Abbi segera menaruh kembali ponsel milik Alex ditempatnya semula.


Lutut Abbi seketika lemas, berbagai macam pertanyaan muncul dikepalanya.


Meski cinta tak sebesar dulu tapi statusnya masih sah istri Alex. Tetap tidak bisa dipungkiri kalau suami berani berhubungan dengan wanita lain hati istri manapun juga tidak akan rela.


"ini yang kamu sebut mau memperbaiki Kak? selingkuh dibelakangku?" kecewa Abbi dalam hati.


Alex terlihat keluar dari kamar mandi dan melihat kearahku,


"Mikir apa?" tanyanya.


"Tidak ada,, hapemu bunyi, ada telpon masuk" jawab Abbi datar.


"Dari siapa?" tanyanya.


"Dari A3" jawabku sambil menatap langsung mata suamiku.


Sekilas aku lihat dia terkejut dan tergagap mendapat jawaban dariku.


"Oww, itu orang kantor" jawabnya menjelaskan.


"Oww" akupun enggan memperpanjang.


"Kenapa kamu tidak percaya?" tanyanya dengan wajah tidak senang.


"Apa ada alasan untuk aku tidak mempercayaimu?" tanyaku balik.


Alex hanya terdiam lalu keluar dari kamar.


"Dasar aneh" gumamku lirih sambil melirik kearahnya yang sedang berjalan membuka pintu kamar.


"Perasaan ini masih ada,, meski aku enggan memperbaiki semuanya, awalnya aku akan mencobanya lagi,, meski karena ketidak percayaanmu harga diriku sudah kamu injak-injak,, dan kalau aku masih bertahan sampai hari ini semua karena demi keluargaku, demi anak yang bahkan sampai saat ini belum kamu akui, tapi kali ini satu kali lagi kamu membuatku ragu untuk memperbaiki semuanya, dan hari ini kamu tidak jujur" pikir Abbi memendam kekecewaannya.


Sesaat Abbi mendengar suara motor berhenti diteras rumahnya, diapun bergegas keluar.


"Makanya sudah datang Bi, ayo kita makan dulu" Alex meletakan plastik berisi beberapa kotak makanan diatas meja makan.


Tanpa menjawab Abbi menuju ke dapur dan mengambil beberapa piring.


Menuang makanan keatas piring dan menatanya diatas meja.


"Ini" Abbi menyodorkan piring berisi nasi putih kearah suaminya dengan ragu.

__ADS_1


"Kamu juga, ayo makan!"


"Iya" jawabku datar.


Kami berdua makan dengan suasana canggung.


Bahkan sampai makanan dipiring habis keduanya tetap tidak ada yang membuka mulut untuk berbicara.


Abbi segera membereskan meja makan, dan menutup sisa lauk dengan tudung saji, lalu mencuci piring kotor bekas makan siang mereka.


Enggan bercakap-cakap dengan suaminya Abbi memilih masuk kedalam kamar dan mengambil ponselnya.


Sementara Alex merasa tidak nyaman melihat istrinya bersikap acuh tak acuh,, tidak se-riang dulu saat pertama pernikahan.


"Aku sudah bersikap baik,, sudah merendahkan diriku dan menerimanya tapi dia sama sekali tidak tahu berterima kasih,, bahkan sedikit senyum pun tidak ada" gerutunya dalam hati.


Masih merasakan dongkol dihatinya, tiba-tiba Alex mendengar dari dalam kamar suara tawa kecil istrinya.


"Giliran denganku datar,, tapi dengan orang lain tertawa riang!" dengusnya.


Alex masuk kekamar menyusul Abigail.


"Kayaknya seru sekali !" Ucap Alex melirik kearahku.


"Hmm" jawabku.


Alex seketika menjadi dongkol melihat Abbi yang sebelumnya tersenyum, tiba-tiba menjadi datar ketika menjawab pertanyaannya.


Melihat suaminya tetap bertahan duduk bersandar disampingnya Abbi memilih menaruh hape ya disisi lain tempat tidur dan membaringkan tubuhnya.


"Kamu berubah Bi!" ucap Alex tertekan.


"Kamu dingin, tidak se-riang dulu, apa kamu membenciku? atau kamu marah sama aku? atau mungkin dihatimu sudah ada yang lain" lanjutnya.


"Jangan berpikir berlebihan Kak,,. karena semua yang berlebihan itu tidak baik" jawabku masih dalam posisi membelakanginya.


"Tapi..


"Aku tahu Kak masih belum sepenuhnya percaya dan butuh waktu memulihkan semuanya,,begitu juga aku,,. aku juga butuh waktu Kak,, bukan hanya kamu yang sakit aku juga sakit" sahut Abbi sambil menghela napas.


Alex akhirnya terdiam dan tidak algi mendebat.


Abbipun memejamkan matanya,, memilih untuk tidur daripada mengobrol dengan suaminya.


Abbi terbangun saat hari sudah mulai sore, dan tidak melihat suaminya ada disampingnya.


Dengan perlahan dia bangun dan keluar dari kamarnya,, dia lihat mobil suaminya sudah tidak ada.

__ADS_1


"Kamu pergi dengan perempuan itu" gumam Abbi benar-benar kecewa.


Perempuan mungil dengan perut membuncit itu dengan susah payah duduk dibangku kayu didepan teras rumahnya. Jalanan perumahan yang ditempati masih lengang karena sebagian penghuninya adalah orang-orang yang rata-rata kerja kantoran.


Pikirannya kosong,, tatapannya sendu,, perasaan kesepian didalam hati seolah penyakit yang menggerogoti jiwanya.


Wajah bahagia itu telah lama berganti menjadi wajah kuyu tanpa semangat.


Abbi menyandarkan tubuhnya disandaran kursi, menatap taman kecil didepannya tanpa semangat.


Entah karena hormon akibat kehamilannya atau karena sakit dihatinya yang terlalu besar,, air matanya keluar tanpa dia sadari.


Untuk sesaat Abbi menarik napas panjang membebaskan rasa sesak didadanya.


Sambil memejamkan matanya dan merasakan sejuknya hembusan angin sore.


Terlalu banyak kata-kata hinaan yang menyakitkan keluar dari mulut suaminya, terlalu sering pelecehan dan tamparan yang dia dapatkan, bahkan belum genap 1tahun menikah sudah beberapa kali masuk rumah sakit.


Rumah tangga seperti ini tidak ada yang menginginkan.


Tidak adanya kepercayaan,, ditambah ego yang terlalu besar membuat rumah tangga ini sudah berada diujung jurang kehancuran.


Abbi tersenyum pahit.


Perlahan dia berdiri dan menutup pintu rumah. Berjalan dijalanan komplek dalam perumahan menuju sebuah taman umum.


Melewati 7 deretan rumah, Abbi tiba disebuah taman yang cukup menyegarkan mata. Bunga dan hamparan rumput Jepang yang terhampar, bangku berwarna-warni yang berjajar rapi disamping tepi taman, disamping kanan ada permainan ayunan, jumpat-jampit, dan juga kolam pasir.


Suasana terlihat ramai dan seru dengan anak-anak berusia antara 2-6 tahun berlari-larian kesana kemari dengan tawa renyah bersahutan, juga ada yang bermain ayunan, dengan dijaga oleh masing-masing pengasuhnya.


Abbi terhibur menatap pemandangan didepannya sambil mengusap perutnya.


"Sebentar lagi kamu keluar ya Nak,, nanti Mama bawa kamu main disini ya" ucapnya tersenyum tipis.


Abbi kemudian duduk dibangku kayu berwarna merah sambil terus melihat anak-anak yang bermain dengan senangnya ditaman perumahan.


Hingga tanpa terasa senja mulai menyapa, satu persatu anak pulang kerumah mereka dan kini menyisakan dia yang duduk seorang diri di pinggir taman yang sudah kosong.


Tiba-tiba gerimis hujan mulai turun.


Ini sudah awal bulan Oktober mulai masuk musim penghujan. Abbi bangun dari duduknya dan berjalan dengan hati-hati untuk pulang.


Sementara hujan mulai mengguyur meski tidak terlalu deras tapi cukup membuat Abbi basah kuyup.


Abbi terus berjalan sambil sesekali berhenti dan menatap keatas langit yang gelap karena awan.


"Haahh,,Hidupku benar-benar penuh drama" gumamnya tersenyum getir.

__ADS_1


Sampai didepan rumah,Abbi tertegun melihat mobil suaminya sudah terparkir dicarport.


Abbi berjalan dengan tenang dan masuk kedalam rumah, Abbi terbelalak ketika..


__ADS_2