I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Jangan Tidak tahu Malu.


__ADS_3

Ketika Seno menyalakan motornya dan pergi keluar dengan muka marah,, dari kejauhan Novia dan dan Dewa suaminya, mengawasi anaknya itu dari kejauhan.


Dengan mata berkaca-kaca penuh rasa kasihan dia menatap sendu kearah Seno yang pergi menggunakan motor pemberian darinya.


"Kasihan Seno Yah,, ibu gak tega melihat anakmu se-kacau itu"


"Ayah juga sama Bu.. Hhhh" jawabnya sambil menghela napas.


"Apa masih mau kita lanjutkan mendidik dua anak ini atau kita hentikan sampai disini?"


"Shinta tidak ada perubahan Yah,, kalau kita hentikan rencana kita sekarang Ibu takutnya mereka tidak akan punya masa depan yang baik, Seno harus belajar menjadi kepala keluarga yang bukan hanya bertanggung jawab menafkahi tapi juga membimbing istrinya menjadi istri yang bisa menghormati, dan menghargai suaminya,, bisa mengatur keuangan bukan sekedar menghambur-hamburkan jerih payah suaminya,,. Meski ibu tidak tega tapi demi kebaikan mereka biarlah ini kita lanjutkan saja Pak,, sambil kita awasi dari jauh" jelas Novia.


3 minggu berlalu,, Seno tidak memiliki jalan keluar untuk masalahnya,


Ibu , Ayah dan juga Penyewa yang akan menyewa rumah yang sekarang ditempatinya pun sudah datang.


"Ayah,, Bu!" sapa Seno.


"Sen,, ini Pak Sony,, dia yang akan menyewa rumah ini" ucap Ayah mengenalkan Seno pada penyewa rumah itu.


Mereka berdua pun saling berjabat tangan.


"Rumahnya nyaman ya Mbak,, Aku cocok sama rumah ini,, aku sewa 2 tahun dulu ya Mbak!" ucap Sony pada Novia.


"Syukurlah kalau kamu cocok sama rumahnya Son,, Minggu depan kamu sama keluargamu sudah bisa menempati rumah ini" ucap Dewa.


"Siap Mass,, kalau begitu saya permisi dulu,, mau bantu istri siap-siap pindahan kesini"


"Ow iya Son boleh,, boleh,, hati-hati dijalan salam buat anak istrimu dirumah ya" ucap Novia.


"Siap Mbak,, Terimakasih.,, Yuk Sen,,,Om pamit dulu ya!


"Iya Om,, hati-hati" jawab Seno.


Sony teman Dewa yang menyewa rumah itu pun pulang, sementara Novia dan suaminya masih berada diruang tamu bersama Seno anaknya.


"Seno kamu masih punya waktu satu Minggu untuk pindah,," ucap Ibu.


"Bu,, tolong jangan usir kami dari rumah ini Bu,,! ucap Seno memelas.


"Nggak bisa Ayah dan ibu sudah menandatangani surat perjanjian sewa rumah ini,, Ayah tidak bisa membatalkan!" ucap Ayah dengan datar.


"Tapi Yah,, kami mau pindah kemana?" tanya Seno memelas.


"Itu urusanmu,, ibu sudah kasih kalian waktu 2 tahun untuk menempati rumah ini dengan gratis,, kenapa kalian gak menabung dan bersiap untuk hal seperti ini??"


"Tapi Bu,, ibu tega sekali sama anak sendiri!" ucap Shinta.

__ADS_1


"iya Ibu memang tega sama Seno,, karena Seno juga tega sama Ibu dan ayahnya,, nah sekarang bagaimana rasanya?"


"Tapi kalau ibu mengusir kami dari sini kami mau tinggal dimana,, ibu tega melihat kami menggelandang?" ucap Shinta dengan berani.


"Jual saja semua baju dan tas koleksimu itu buat DP rumah atau sewa rumah,, beres kan?" jawab ibu dengan sinis.


"Ya gak bisa begitu dong Bu,, tas Shinta mana laku dijual mahal,, tas bekas paling juga laku hanya ratusan ribu,, baju juga begitu!" bantah Shinta.


"Nah itu kamu tahu,,!!" ketus Ibu.


"Rumah belum punya sudah bergaya sosialita,, sok kaya belanja barang-barang sampah!" ujar ibu lagi.


"Ibu tidak mau tahu,, Minggu depan kalian harus keluar dari rumah ini!" ucap ibu lagi dengan tegas.


"Mass,," Shinta menyenggol badan suaminya yang hanya terdiam.


"Iya Bu,, Minggu depan kita keluar" jawab Seno memutuskan.


"Gak bisa begitu Mas,,. aku gak mau tinggal di kost,, kalau mas mau tinggal di kost ya Mas tinggal sendiri saja,, aku mau pulang kerumah orang tuaku!" ucap Shinta tanpa memperdulikan keberadaan mertuanya.


"Istri yang mau enaknya saja,,, tidak mau bekerja membantu suami ,, bingung cara morotin harta orang lain hanya untuk bergaya,, ini istri yang kamu bangga-banggakan dan kamu bela-belain Sen??" cibir Ibu.


"Maaf Bu"


"Jangan hanya bisa bilang Maaf Bu,, maaf Bu,,!! kamu ini kepala keluarga sama sekali tidak punya wibawa,,!!" ucap Ibu geram.


"Kenapa aku harus menghormati dan tunduk pada Mas Seno sedangkan dia saja tidak bisa jadi suami yang sempurna dia tidak bisa memenuhi semua keinginan ku!" Ucap Shinta melawan Novia.


"Jaga mulutmu Shin!!" tegur Seno.


"Memang kenyataannya begitu kann!!" teriak Shinta dengan sengit.


"Kamu benar-benar,, dari awal kamu tahu Seno hanya punya gaji segitu,, kenapa masih mau?? kenapa gak cari pengusaha kaya saja buat nikahi kamu!! Gak laku?? makanya kamu obral ke Seno yang lugu ini untuk kamu dan keluargamu manfaatkan dan kalian porotin!??" omel Novia kehilangan kesabaran.


"Kalau iya Ibu mau apa??" ucap Shinta dengan ketus.


"Jaga sikapmu Shinta!" tegur Seno.


"Kenapa aku harus jaga sikapku toh memang sejak awal ibumu tidak menyukaiku!" sinisnya.


"Karena kamu memang tidak layak untuk disukai,, benalu,, parasit sepertimu seharusnya dibuang bukan dijaga dan dirawat,, Seno saja yang buta dan bodoh tidak bisa membedakan mana tanaman hias berharga dan mana yang parasit!" ucap Novia sambil menatap tajam wajah menantunya.


"Ya sudah kalau tidak suka aku tinggal pulang,, Kita cerai Mas, aku gak tahan sama kamu juga ibumu yang pelit dan sok berkuasa itu!!"


"Shinta!!" tegur Seno dengan keras.


"Aku ga perduli ya Mass,, aku mau kita cerai,, titik!!" sambil tanpa pamit Shinta mengemasi barangnya untuk pulang kerumah orang tuanya.

__ADS_1


"Kamu mudah sekali bilang cerai,, ini pernikahan bukan permainan!" tegur Seno yang menyusul istrinya kedalam kamar mereka.


"Kalau kamu mau aku tetap jadi istrimu,, maka aku maunya kita tetap tinggal dirumah ini,,, dan aku gak mau gajimu berkurang sedikitpun untuk membiayai kuliah adikmu itu!!" teriak Shinta dengan sengaja.


"Gak bisa Shinta,, keputusan ibu sudah bulat,, dari awal pernikahan kan kamu juga sudah tahu tentang rumah ini!!" ucap Seno.


"Aku gak perduli ya Mas,, Aku gak mau tahu,, !" sambil memasukkan semua barangnya.


"Kita bertemu di pengadilan!" ucap Shinta dengan ketus.


"Biarkan Shinta menggugat cerai kamu Seno,, aku yakin istrimu juga gak akan sanggup bayar pengadilan,, dia pikir pengadilan gratis!!" ucap Ibu dari ruang tamu.


"Istri yang tidak bisa menghormati dan menghargai suaminya tidak layak dipertahankan,, Ayah dan ibu tidak menyukai perceraian,, tapi dari pada kami melihat mu menderita lebih lama,, lebih baik berhenti sekarang!" ucap Ibu lagi dengan emosi.


"Bu!" tegur Dewa suaminya.


"Ingat Bu,, Tuhan membenci perceraian,, kenapa malah kamu memprovokasi mereka!" Dewa mengingatkan istrinya.


Sementara Shinta sejenak terdiam mendengar ucapan Ibu mertuanya.


"Aku mau kamu menceraikan aku!! kamu yang urus!!" ucap Shinta.


"Kalau kamu mau pulang kerumah orang tuamu ya sudah pulanglah,, tapi aku tidak akan menceraikan mu,, kalau kamu tetap mau bercerai,, ya sudah kamu urus sendiri,, kan kamu yang menginginkan perceraian itu bukan aku..!" Ucap Seno dengan rasa kecewa dihati.


"Tapi ingat setelah kamu pergi meninggalkanku,, sama seperti kamu yang tidak bertanggung jawab sebagai istri, aku juga tidak akan memenuhi tanggung jawab ku lagi sebagai suami!" ucap Seno mulai belajar tegas.


"Apa maksudmu!!" tanya Shinta sambil memandang wajah suaminya.


"kamu yang memutuskan meninggalkan aku,, bukan aku yang mengusirmu,, kalau kau menuntutku bertanggung jawab, aku juga menuntutmu untuk bartanggung jawab,, lakukan tugasmu dan aku lakukan tugasku!" ucap Seno berusaha setegas mungkin.


Seno kemudian keluar dan duduk menemani Ibunya.


"Bu tolong maafkan Seno,, maafkan kami Bu" ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Biarkan istrimu pergi,, kalau dia mau bercerai biarkan saja,, Ibu akan menjodohkanmu dengan Irene,, meski dia anak yatim piatu dan hanya lulusan SMA,, tapi dia sangat cantik,, dan sangat baik hati,, bukan hanya itu dia juga pekerja keras,, diusianya yang baru 23 tahun dia sudah punya toko hasil keringatnya sendiri,, bukan hasil morotin uang orang,, dia pantas jadi istrimu,, pandai mengatur keuangan,, lemah lembut, baik hati pula,, dia tidak suka berfoya-foya,, dan sering berbagi dengan anak yatim piatu,, benar-benar menantu idaman" ucap Ibu mengompori.


Sementara Shinta yang mendengar perkataan Ibu mertuanya meremas kedua tangannya penuh kemarahan tapi sekaligus berhasil membuat Shinta merasa bimbang.


Tak bisa dipungkiri Seno adalah pria idaman,, suaminya tidak pernah aneh-aneh, dan selalu menuruti keinginannya.


Shinta berhenti mengemasi barang-barangnya, dan duduk ditepi tempat tidur sambil memandang lantai kamarnya..


Terima kasih sudah mau membaca cerita ini..


Tolong review/ komentar dan juga likenya ya,,


Mohon maaf kalau masih banyak Typo bertebaran..

__ADS_1


Salam Sehat buat semua


__ADS_2