I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Kebahagiaan Kecil


__ADS_3

Obrolan ku bersama Ayah berlanjut hingga jam menunjukkan jam 10 malam.


"Suamimu pergi kemana sampai sekarang belum pulang?"


"Itu Yah, dia ada ketemu dengan anak buah Papanya" bohongku.


"Oww,, tapi kalian baik-baik saja kan tanya Ayah sambil menatapku dalam-dalam.


"I, iya Ayah kamu baik-baik saja,, kalau gak baik-baik saja gak mungkin kau pulang sama-sama kan Yah" elakku.


"Memangnya kenapa Yah?" tanyaku.


"Enggak,, hanya Ayah lihat,, dia tidak seperti biasanya" jawab Ayah.


"Yaa maklum Yah,, akhir-akhir ini Kak Alex memang agak tegang Yah,, katanya banyak masalah di kantor Papanya" jawabku menutupi kebenaran rumah tanggaku.


"Syukurlah kalau memang kalian baik-baik saja, Ayah tenang mendengarnya"


"Ayah jangan kuatirkan kami, Kami baik-baik saja,, Ayah doakan kami ya biar rukun, kompak seperti Ayah juga Ibu" ucapku sambil tersenyum.


"Amin,, pasti,, Ayah sama Ibu selalu mendoakan kalian semua"


"Terima kasih Ayah" sambil menyandarkan kepalaku dibahu kekar cinta pertamaku.


Aku memejamkan mataku, dan merasakan hangat, nyaman, dan menenangkan dalam pelukan Ayah.


"Sudah menikah masih saja manja" ejek Ayah sambil membelai kepalaku..


"Biarin,, kan kata orang sebesar apapun anak kalau didepan orangtuanya tetaplah anak kecil !?" jawabku.


"Ha.. ha.. kamu ini bisa saja ngejawabnya" Ayah tertawa.


"Ya sudah,, ini sudah sudah malam Ayah mau kekamar, menemani Ibumu, kamu masih mau disini? tanya Ayah.


"Iya Yah, tunggu Kak Alex pulang" jawabku.


"Ya sudah,, tapi jangan sampai terlalu malam, ingat kandunganmu"


"Iya Ayahku sayang,, amann" jawabku sambil duduk tegak.


Ayah mengusap kepalaku, lalu berjalan menuju kekamarnya.


Sementara aku menonton tv sambil menunggu kepulangan Alex.


Sambil menunggu aku tiduran disofa sambil nonton, hingga tanpa sadar tertidur nyenyak. Bangun-bangun hari sudah pagi, dan aku tertidur diatas tempat tidur disamping Kak Alex.


Dengan hati-hati aku turun dai tempat tidur, supaya aku tidak membangunkan singa galak dari tidurnya.


Waktu berlalu cukup cepat, disela kesibukanku membantu Bik Narti membuat beberapa macam bumbu dan kue untuk acara syukuran besok. Hingga siang menjelang.


Seperti yang dikatakan Ayah, tepatnya setelah jam makan siang Kak Seno pulang.


"Ibu" Seno menghampiri Ibu yang duduk dikursi roda.


"Kakak baru pulang? ingat jangan langsung peluk Ibu, mandi dulu !" tegurku lembut.


"Iya" jawabnya tanpa berdebat denganku seperti biasanya.


Lalu ngloyor pergi menuju ke kamarnya.


Aku menatap wajah Kak Seno yang kuyu dengan lingkar mata terlihat menghitam karena kurang tidur.


Badannya kurus tampak tak terawat.


"Suamimu mana Bii?" tanya Ibu.


"Kak Alex sidak kekantor Bu" jawabku lagi-lagi berbohong,


"Ya Tuhan gara-gara ego Kak Alex yang tidak pernah pamit saat pergi, lagi-lagi aku harus berbohong pada orang tuaku,, ampuni aku Tuhan " batinku.


"Oww,, pulang jam berapa nanti suamimu?"


"Gak tahu Bu,, katanya ada masalah dikantor jadi gak jelas pulang jam berapa,, biasanya bisa sampai malam Bu"


"Ibu, minum obat sama vitamin dulu ya,, setelah ini Abi temani di kamar" ucapku.


"Hmm,, Eh jangan lupa Bii, sore nanti kita ke dokter kandungan ya, Ibu penasaran cucu ibu cewek apa cowok ya" ucapnya dengan mata berbinar.


"Iya Bu,, pasti,, sekarang ibu istirahat dulu ya"


Ibu menganggukan kepalanya.


Sore menjelang, tepat saat ayah pulang membawa mobil kantor, Ibu pun dengan semangat dan tidak sabar meminta Ayah mengantarkan kami ke tempat praktek dokter kandungan.


"Ayo Yah, Ibu semangat saat sampai di tempat dokter,"


Saat tiba giliranku, Abbi pun berbaring dan di USG,


"Gimana Pak Dokter,, cucuku sehat kan? cewek apa cowok ?" tanya Ibu bersemangat.

__ADS_1


"Sabar Bu, pelan-pelan kasihan dokternya" jahil Ayah.


"Biarin,, " Cebik Ibu.


Ayah tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya


"Cucu Ibu sehat,, dan jenis kelaminnya perempuan" jawabnya ramah.


"Cewek Yah,, cucu kita cewek" ucap Ibu dengan antusias dan tersenyum lebar.


"Iya Bu, ayah juga dengar" ayah tersenyum.


Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter, kami bertiga keluar dari ruangan, berniat untuk pulang.


"Gak mau Ibu gak mau pulang dulu" ucap Ibu.


"Ibu mau kemana? kan ibu pasti capek butuh istirahat?"


"Ibu tanya jawab jujur ya!" ucap Ibu


"Apa Bu?" tanyaku dengan jantung berdebar takut Ibu mengetahui sesuatu tentang keadaan rumah tanggaku.


"Kamu sudah belanja perlengkapan buat cucu ibu?" tanya Ibu.


"Oww,, belum Bu,, rencananya Abbi baru mau belanja bulan depan" jawabku.


"Nahhh,, Yah,, ayo antar ibu ke PM supermarket kita belanja buaya cucuku" serunya dengan senyum mengembang.


"Tapi Bu,," ayah berniat menolak keinginan Ibu karena menguatirkan keadaannya.


"Gak ada tapi-tapi,, pokoknya sekarang Ibu mau belanja buat cucu Ibu" ucapnya dengan wajah sedikit marah.


Ayah dan Abbi saling berpandangan lalu kompak menggelengkan kepala.


"Iya.. iya,, Ayah antar tapi jangan lama-lama ya"


"Hmm,, jangan cerewet Yah,, mengganggu kesenangan Ibu saja" cebik Ibu.


Abbi dan Ayah pun tertawa melihat wajah Ibu yang kesal sedikit merajuk.


Ayah melajukan mobilnya kearah PM Supermarket, sementara Ibu yang duduk disamping Ayah tidak berhenti tersenyum. Terlihat begitu bahagia.


Sampai didalam Supermarket,, mata Ibu benar-benar berbinar.


Ibu memaksa berdiri dan berjalan menuju counter baju bayi dan anak.


"Yang ini juga lucu,,. ini juga bagus" ucap Ibu dengan antusias.


"Buu,, ini baju masih kebesaran,, kita ambil yang sampai usia 3 bulan saja ya" ucapku.


"Nggak,, sudah jangan halangi kesenangan Ibu" ucapnya dengan ketus tapi matanya tak lepas memandangi baju-baju balita untuk anak perempuan.


Abbi menatap Ayahnya,


"Biarkan saja,, biar ibumu hari ini bersenang-senang" bisik Ayah.


Ibu mengambil baju bayi mulai untuk usia 0 bulan sampai 5 tahun dengan warna didominasi pink.


Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya belanja seperti orang kalap.


Sampai dikasir,,


"Semuanya 3,5 juta Mbak" ucap kasir yang melayani.


Abbi lalu mengeluarkan kartu debitnya,


"Ehh,, ngapain kamu yang bayar, ini harus Ayah sama Ibu yang bayar" tegur Ibu menarik tanganku dan melarangku membayar.


"Tapi Bu.."


"Nggak boleh,, ini hadiah Ayah sama Ibu untuk cucu kesayangan Ibu" ucapnya.


Abbi pun mengangguk dengan mata berkaca-kaca,,


"Terima kasih Bu,, sehat selalu ya" ucapku.


"Iya,, ya sudah tunggu diam,, ayah bayar Yah!" perintah Ibu.


"Hmm,, sesuai perintah Nyonya!" ucap Ayah sambil tersenyum menggoda Ibu.


Selesai belanja kami pulang, dengan Ibu yang berceloteh melihat baju yang dipilihnya, bahkan sampai dirumah Bi Narti pun dipanggilnya,,,


"Bik lihat Bik, lucu-lucu ya bajunya" pamer Ibu.


"Iya Bu,, ya Ampunn ini imut Bu," jawab Bi Narti sambil mengangkat dres putih lengkap dengan topinya.


"Bagus-bagus kan pilihanku Bik!?"


Bik Narti pun mengangguk sambil tersenyum melihat tingkah Ibu yang terlihat begitu bersemangat dan bahagia.

__ADS_1


Tanpa terasa hari berganti dengan cepat, keesokan harinya, tepatnya disore hari teman-teman dari gereja yang diundang oleh Ayah satu persatu mulai berdatangan.


Dan yang mengejutkan Ahui, temanku sekaligus mantan atasan Kak Seno juga datang.


Ruang tamu yang sebelumnya sudah direnovasi menjadi lebih luas kini sudah dipasangi karpet dan tikar.


Dari beberapa teman Ayah yang sudah duduk lesehan diatas karpet,, ada Ahui juga disana, akupun mendekati Ahui untuk mengucapkan terima kasih.


"Wahh selamat ya Bii, cepet banget mlendungnya" Ahui bercanda.


"Mlendung!! balon kalee mlendung" jawabku tersenyum.


"Kkkk" Ahui terkekeh.


"Selamat ya sebentar lagi kamu jadi Ibu muda nih" ucapnya lagi masih sambil menatapku dengan hangat.


"Terima kasih Ko,, doanya ya"


"Pasti," ucapnya


"Suamimu mana?" tanya Ahui.


"Masih siap-siap didalam" jawabku.


"Oww,, Gak kebayang ya andai saja aku yang nikah sama kamu,, pasti beruntung banget aku bisa cepet dapet anak dari kamu" godanya.


"mulai deh,, mulai ngomong asal" ucapku sambil pura-pura marah dan menyembunyikan perasaan tidak enak didepan pria berwajah oriental didepanku.


"Ko teri makasih ya,, Kamu tidak memperpanjang masalah Kakakku sampai dipengadilan" Ucapku lirih.


"Ada itikad baik dari Ayahmu, gak mungkin aku tega melanjutkannya apalagi ada kamu yang aku pandang,, gak mungkin aku tega menyakitimu dan keluargamu lebih lagi" ucapnya


*degg..*


Jantungku serasa mau berhenti berdetak mendengar ucapannya.


Bukannya ge-er tapi ucapannya barusan menyiratkan bahwa dia masih memendam perasaannya kepadaku.


Aku menatap pria bermata sipit dan berkacamata itu dengan sedikit gugup.


"Jangan begitu Ko,, Kakakku memang salah jangan gara-gara aku perusahaan keluargamu dirugikan" ucapku.


"Sudah gak usah kamu pikirkan atau merasa gak enak Bii, toh semua juga sudah selesai"


"Tapii..


"Sudah, kalau kamu masih menganggapku teman,, jangan bahas lagi masalah ini, aku tulus membantumu,,, tolong jangan merasa terbebani" ucapnya lagi-lagi dengan lembut.


Akhirnya aku terdiam,, tapi memang dasar Ahui jahil, dalam sekejap suasana canggungpun mencair dengan candaannya meski kadang candaannya sedikit garing.


Tanpa Abbi sadari Alex menatap tajam kearahnya dan juga Ahui.


Dengan santai Alex mendekati Abbi.


"Seru banget bercandanya" ucap Alex.


"Eh, Kak Alex kenalkan ini teman SMA ku Ahui,, Ko ini Kak Alex suamiku" ucapku kikuk.


"Hallo Alex" sambil mengulurkan tangannya.


"Ahui" ucapnya menyambut uluran tangan Alex.


Sejenak suasana menjadi canggung.


Alex kemudian merangkulku lalu meremas pundakku dengan cukup kuat,


"Jaga nama baik suamimu,, aku masih disini dan kamu sudah gatal menggoda pria lain didepanku" bisiknya.


Seketika Abbi meremas bajunya tanpa sadar.


Namun tetap berusaha tersenyum.


"Iya " jawabku singkat lalu menahan napas sejenak untuk menetralkan emosi didadaku karena ucapannya.


"Eh, Ko,, aku permisi aku tinggal dulu ya,, acara sudah mau mulai juga,, terima kasih ya sudah mau datang" Ucapku.


"Oh oke,, selamat ya buat kalian sudah mau jadi orang tua baru,, semoga kamu bisa melahirkan dengan lancar, selamat, dan anakmu juga sehat,,"


"Amin, terima kasih" jawabku.


Akupun segera berjalan menuju dapur.


Sementara Alex memilih duduk didekat Ahui, dan mengobrol canggung, tak berapa lama Ayah dan Kak Seno juga ikut nimbrung dan mengobrol.


Acara syukuran dimulai jam 5 sore,, tepat jam 7 acarapun selesai.


Dua hari setelah acara syukuran, Alex dan Abbi kembali pulang kekota S karena alasan pekerjaan.


dengan berat hati Abbi menuruti suaminya.

__ADS_1


__ADS_2