
Mendengar ucapan Ibu, aku lihat Ayah pun tak kuasa menahan air matanya meski sekuat tenaga untuk menahan dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Buu, ibu ngomong apa sih,, kata dokter bulan depan cucu ibu lahir, jadi siapa bilang ibu tidak bisa menemaninya. Ibu pasti sehat dan sebentar lagi menemani Abbi menjaga si kecil" tegurku pura-pura mengomel.
"Iya Bu, Ibu harus semangat supaya nanti bisa main sama cucu-cucu Ibu" Kak Seno menimpali.
"Iya, iya, Ibu pasti menemani cucu kesayangan ibu ini" ucapnya tersenyum tipis menatapku dan Kak Seno bergantian.
"Ibu mau tidur, Ibu sudah ngantuk. kamu juga tidur sana, istirahat yang bener!" omelnya sambil menatapku lekat.
"Aku mau tidur sama Ibu, boleh kan?" tanyaku dengan suara manja.
"Ya sudah sini, kamu ini sudah nikah manjanya gak ilang-ilang!" omelnya tapi sambil tersenyum dan melambaikan salah satu tangannya.
Akupun naik keatas tempat tidur dan tidur ditengah, diapit diantara Ayah dan ibu.
Sementara Kak Seno keluar dari kamar dan beristirahat dikamarnya sendiri.
Aku tidur dan memeluk Ibu, sesaat aku merasakan tangan ibu membelai hangat kepalaku.
Lalu tangannya ditaruh dan mengelus-elus perutku.
Sesaat aku melihat kearah ibu yang mulai memejamkan matanya dan terlihat mulai tidur dengan napas teratur.
Setelah memastikan Ibu tidur aku mulai memejamkan mata, dan menaruh tanganku diatas dada Ibuku.
Seketika jantungku berdegup dengan keras, aku merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Tidak, tidak Tuhan jangan sekarang,,, jangan sekarang, Aku mohonn Tuhaan" teriakku dalam hati dengan air mata terus mengalir.
Aku mengeratkan pelukanku sambil menangis sesenggukan.
"Bii" panggil Ayah.
"Ibu.. Yahh.. Ibuu panggil dokter Ayah,, panggil dokter!" aku akhirnya berteriak panik sambil menangis dan tidak sanggup mengucapkan apa-apa lagi.
Ayah segera memeriksa keadaan Ibu.
Dan terduduk lemas setelahnya dengan pandangan kosong.
"Tidak bisa Nak, Ibumu sudah pergi" ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
"Tidak Yah, tidak boleh. Buu, bangun Buu. Tunggu sedikit lagi Bu, cucumu lahir sebentar lagi. Buu" Aku duduk disamping Ibu lalu meraung dan tangis ku benar-benar pecah tidak tertahankan.
Kak Seno yang mungkin mendengar raungan ku dengan cepat masuk kedalam kamar,
"Ayah, Abbi?"
"Kakk, Ibu Kakk" Aku terbata-bata tak sanggup mengucapkan apa-apa lagi.
Kak Seno yang mengerti maksudku pun lemas dan duduk tepat dikursi disamping Ibu yang terpejam dengan tenang.
Ayah terlihat tegar, meski sempat meneteskan air mata.
__ADS_1
"Ibumu sudah istirahat, dia tidak kesakitan lagi. Ikhlas lah nak" ucapnya berusaha setegar mungkin.
"Tidak Ayah, jangan,, jangan sekarang. Kenapa harus sekarang Ayah?" Aku masih menolak percaya bahwa Ibuku akhirnya harus pergi untuk selamanya.
"Kita harus kuat Nak, ini sudah jalan Tuhan, ini sudah jalanNya. Percaya ini yang terbaik untuk semuanya, terutama untuk Ibumu" Ayah menjawab lalu menarik napas dalam-dalam, tampak begitu tegar tapi tetap tidak bisa menyembunyikan getaran suaranya yang menyiratkan kehilangan besar dihatinya.
"Istirahatlah Bu, tugasmu sudah selesai. Aku akan jaga anak-anak, juga cucu kita, kamu jangan kuatir lagi, tunggu aku menyusul mu nanti" Ayah yang duduk disamping tubuh Ibu mulai mencium keningnya dengan penuh kasih sayang dan kemudian membelai kepalanya.
Untuk sesaat kami bertiga terdiam, larut dalam kesedihan dan menangis tanpa mengeluarkan suara.
Jam menujukkan pukul 10 malam.
Ayah terdengar menarik napas panjang berkali-kali, seperti sedang menguatkan dirinya.
Beberapa saat kemudian turun dari tempat tidur, lalu menyelimuti tubuh ibu hingga menutupi bahunya.
Ayah mengajak Kak Seno keluar dari kamar, sementara aku dan Bik Narti yang terbangun menemani Ibu didalam kamar.
"Sabar Non, yang kuat" Bik Narti menghibur sambil mengusap punggungku dengan lembut.
"Iya Bik terima kasih" ucapku dengan air mata menggenang dikedua pelupuk mataku.
Aku turun dari tempat tidur dan duduk dikursi yang sebelumnya ditempati Kak Seno.
Segera malam yang tenang pun berubah, Pak RT, dokter terlebih dulu datang dan memastikan keadaan Ibu.
Setelah memastikan kepergian Ibu,
Dalam sekejap ruang tengah dikosongkan dan digantikan dengan ranjang lantai tempat tubuh ibu dibaringkan disana.
Ayah dan Kak Seno pun terlihat tegar dan sibuk mengurus acara persiapan ibadah kematian dan penghiburan.
Semua pihak keluarga dan juga gereja sudah dihubungi, termasuk Kak Alex.
Menunggu hingga pagi tiba, kami duduk diatas tikar mengelilingi tubuh ibu yang mulai dingin.
Pagi pun tiba, semua terlihat mulai sibuk, tepat jam 8 pagi beberapa jemaat gereja mulai berdatangan untuk membantu memandikan jenasah Ibu.
Aku dengan kondisi hamil tua hanya bisa memandang dari dekat proses memandikan jenasah orang yang sangat aku sayangi itu dengan menangis tanpa henti.
Rasa sesak memenuhi rongga dadaku, hari ini hari yang paling aku takutkan akhirnya tiba.
Hari ketika Ibu yang paling aku sayangi, yang paling berharga dalam hidupku dan tempat aku bersandar harus pergi untuk selamanya.
Aku menarik nafas dalam-dalam berusaha menguatkan hatiku menerima semuanya sekalipun tidak mudah.
Setelah selesai, mereka yang memandikan jenasah ibu lalu memakaikan baju yang baru dibeli Kak Seno, kemudian wajah ibu mulai dirias untuk selanjutnya dimasukkan kedalam peti jenasah yang pagi tadi sudah dibeli oleh Ayah.
Tepat jam 9 pagi, prosesi memandikan dan merias jenasah selesai dan tepat bersaman dengan kedatangan peti jenasah.
Ayah dan Kak Seno menggendong berdua tubuh cinta pertama dari kedua pria tampan yang berwajah mendung itu.
Denah sangat hati-hati keduanya membaringkan tubuh ibu kedalam peti, sebuah peti bercat putih dengan ukuran bunga dan salib berwarna emas disekelilingnya.
__ADS_1
Hatiku rasa teriris, dan seperti tidak sanggup aku tetap berusaha menguatkan diri untuk tetap menatap mereka sambil berdiri tidak jauh dari peti dengan air mata yang lagi-lagi mengalir tanpa terkendali.
Tepat saat ibadah tutup peti dan pelepasan jenasah akan dimulai, aku melihat Kak Alex dan keluarganya datang.
"Bii" panggilnya saat berjalan mendekat kearahku.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Sementara Ayah menyambut kedatangan Ayah mertuaku, setelah bercakap-cakap sebentar, lalu mengikuti ibadah.
Serangkaian prosesi ibadah tutup peti selesai, selanjutnya persiapan pemberangkatan jenasah ketempat peristirahatan terakhir.
Mobil jenasah dan beberapa mobil pelayat mulai melaju beriringan menuju TPU yang jaraknya 30 menit dari rumah tinggal kami.
Sampai ditempat pemakaman aku melihat Ayah, Kak Seno dan dua orang jemaat terdekat mengangkat peti jenasah, sementara Kak Alex berjalan di sampingku dengan tetap diam.
Ibadah pelepasan jenasah dimulai,
"Kematian bukanlah akhir, Kematian adalah awal dimulainya kehidupan baru, sebuah kehidupan kekal penuh damai dan sukacita surga yang sudah di rancangkan oleh Tuhan untuk kebaikan umat yang dikasihiNya. Setiap manusia yang dianggap menyelesaikan tugasnya pasti akan dipanggil pulang kembali ketempat asal kita yang sesungguhnya, disorga kekal, termasuk kita ini pun menunggu giliran kita! Tuhan sungguh mengasihi Ibu Novia, beliau sudah menyelesaikan tugasnya, dan Tuhan memanggilnya pulang untuk menerima mahkota kehidupan yang juga kita nantikan"
Sepenggal kotbah yang terdengar seolah menembus di hatiku, aku benar-benar terhibur dan merasa dikuatkan.
Dengan mata nanar aku menatap peti jenasah yang kini mulai diturunkan.
Tiba-tiba duniaku seolah gelap, rasa sesak didadaku membuatku tidak bernapas.
"Ibuu" Abbi jatuh pingsan
*Grepp* Alex yang berdiri disamping Abbi dengan sigap menangkap tubuh Abbi yang merosot pingsan tidak sadarkan diri.
"Bii,, sadar Nak,,, Abii" sayup-sayup aku mendengar suara Ayah memanggil sambil menepuk pipiku.
"Yahhh"
Ayah memeluk erat tubuh Abbi yang menangis pedih.
"Ikhlaskan Nak, ikhlaskan" ucap Ayah tapi air matanya juga mengalir deras sama denganku.
Ku anggukkan kepalaku pelan, sambil kemudian menarik napas dalam-dalam.
"Ayo, kita antar Ibumu" Ayah mengusap air matanya memakai lengan bajunya.
Ayah lalu membantuku bangun, dan memapah ku untuk mendekat kearah liang lahat.
Ayah, Kakak, dan Aku mengambil segenggam tanah ditangan,
"Dari tanah kembali ke tanah" ucap ayah lirih nyaris tak terdengar sambil melemparkan segenggam tanah kearah peti jenasah ibu yang sudah ada didalam liang.
"Selamat jalan Bu, sampai jumpa di surga nanti, berbahagialah Bu dan doakan kami selalu" aku melemparkan tanah ditanganku lalu membalikkan badan dan memeluk Ayahku dengan erat sambil menangis.
"Selamat jalan Bu,, istirahatlah. Maaf jika Seno belum bisa membahagiakan mu,, dan selalu menyakiti mu. Maaf kan Seno" terdengar gumaman lirih Kak Seno.
*** Hay Readers, bagaimana kabarnya? semoga semua selalu sehat n happy2 ya. Readers terima kasih Yo sudah mau ikutin INSG sampai episode ini. PLEASE dukung terus ya.. jgn lupa like n komentarnya. Terima Kasih, Thankyou ❤️
__ADS_1