I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Seno Berulah Lagi


__ADS_3

Jika boleh memilih,, Siapapun pasti memilih untuk bahagia,, memilih untuk tidak disakiti,, memilih untuk tidak terluka dan bebas dari duka lara.


Tapi siapapun tahu luka yang ditorehkan orang lain tidak seberapa menyakitkan dibandingkan luka yang ditorehkan oleh sosok yang begitu dekat,, begitu kita cinta dan juga kita percaya.


Abbi melirik sekilas pria yang kini berdiri disampingnya,, menggandeng tangannya dengan erat sejak dari keluar dari kamar rawat hingga menyelesaikan administrasi rumah sakit.


Semakin kuat Abbi menolak genggaman tangannya,,, semakin erat pula Alex menggenggamnya.


Alex terus menarik Abbi menuju parkiran rumah sakit, dan menyuruhnya masuk kedalam mobil.


Suasana dingin dan canggung seketika terasa.


Tidak ada percakapan sama sekali selama dalam perjalanan menuju perumahan yang mereka tempati.


Alex berkonsentrasi penuh dengan setir dan jalanan yang dilalui,, sementara Abbi memilih menoleh kearah kiri dan melihat pemandangan disepanjang perjalanan yang mereka lewati.


Sampai didepan rumah, tanpa menunggu Alex membukakan pintu mobil untuknya, Abbi langsung turun.


Abbi diam mematung sambil menunggu Alex membuka pintu rumah, yang ternyata kunci rumah dibawa oleh suaminya.


Pintu sudah dibuka,, Abbi segera masuk,, tanpa beristirahat dia mengambil sapu dan mengepel rumah.


"Istirahat lah,, kenapa harus kerja? apa kamu sengaja kerja supaya kamu sakit lagi!" sinis Alex.


"Apa kamu tuli!!" teriaknya saat aku tidak menanggapi ucapannya.


Akhirnya dengan gusar Alex masuk kedalam kamar kerjanya.


Sementara Abbi dengan hati-hati tetap mengepel lantai rumah, setelah memastikan rumah bersih dia masuk kedalam kamarnya.


Untuk kesekian kalinya Abbi berdiri mematung, menatap nanar tempat tidurnya yang berantakan, dengan daster satin koyak masih tergeletak diatasnya.


Seketika Abbi merasakan sesak didadanya, betapa kejadian kemarin sangat melukai dan menghancurkan hatinya.


Tangannya gemetar mengambil daster yang telah robek itu dan memasukkannya kedalam keranjang sampah.


Sekuat tenaga dia menolak untuk menangis,, tapi matanya tak bisa diajak kompromi,, air matanya tetap keluar tak terbendung.


Terduduk lemas diatas lantai dengan tangan mencengkram kuat sprei yang acak-acakan diatasnya.


"Hiks.. hikss.. aku tidak bersalah,, aku tidak lemah,, aku kuat, aku bisa,, tidak ada air mata,, tidak,, tidak lagi" ucapku sambil menyeka air mataku.


Meski kaki ini gemetar aku paksakan diriku mengganti sprei tempat tidurku.


Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat,, tiba waktunya jam makan siang,,

__ADS_1


Pulang dari rumah sakit aku lupa memasak nasi terlebih dulu, dengan terpaksa aku memasak mi instan, dan aku tambahkan telur, sosis, bakso dan juga sayur sawi untuk menambah nutrisi.


Aku duduk dengan semangkok mi diatas meja yang masih mengepulkan asap panasnya.


Perlahan aku mulai makan mi buatanku,,


Sementara makan, telingaku menangkap suara Kak Alex yang ada diteras depan rumah sedang bercakap-cakap dengan seseorang.


Setengah porsi sudah aku habiskan makananku,, saat Alex masuk membawa satu plastik berukuran sedang berisi beberapa box stereofoam yang dari aromanya berisi makanan.


"Kenapa makan mi,, berhenti,, aku sudah pesan makanan buat makan siang kita" ucapnya.


"Terima kasih saya sudah kenyang" tolakku dan segera menghabiskan mie yang masih tersisa.


"Jangan keras kepala!! masih untung aku memperhatikanmu juga anakmu!" ucapannya dengan wajah marah.


"Saya tidak pernah memintanya" jawabku dan menyudahi makanku karena sudah tidak lagi berselera.


"Baghh" Satu plastik berisi makanan dilemparkan begitu saja dilantai membuat salah satu stereofoam terbuka dan membuat isinya berceceran dilantai.


"Dasar tidak tahu terima kasih!!" ucapnya marah.


Setelah melemparkan makanan ditangannya Alex bergegas kedalam kamarnya,, lalu keluar lagi menuju ke mobilnya.


Selesai membersihkan lantai dari ceceran makanan,, Abbi duduk disofa bed depan tv sambil melamun,, hingga suara hapenya menyadarkannya dari lamunan.


"Ayah" gumam Abbi setelah melihat siapa yang menghubunginya.


Abbi menarik napas dalam-dalam,, lalu mengangkat panggilan telpon dari sang Ayah.


"Hallo Ayah, gimana kabarnya Ayah,, Ibu sehat kan Ayah?" tanyaku bertubi-tubi.


"Hallo Nak,, kamu dari kemarin susah sekali dihubungi,,, kamu baik-baik saja kan Nak?" tanya Ayah tampak mencemaskanku.


"Abbi, baik Ayah,, Abbi sehat" jawabku.


"Benar? kamu gak bohong kan??" tanyanya lagi memastikan.


"Ayah gak percaya banget sih,, Abbi sehat, sangat sehaat" ucapku se-semangat dan terdengar seceria mungkin,, meski air mata ini lagi-lagi keluar tanpa permisi.


"Ya Tuhan,, Ayah sama Ibu peka banget,, apa dia merasakan apa yang aku rasakan kemarin" pikirku.


"Syukurlah Ayah tenag mendengarnya" ucap Ayah.


"Ibu mana Yah?" tanyaku.

__ADS_1


"Ibu mu istirahat Bii"


"Oww,, tapi tumben Ayah telpon memangnya ada apa Yah?" tanyaku.


"Ayah hanya mau tanya apa benar kamu pernah mengganti rugi, kerugian yang disebabkan Kakakmu dikantornya?" tanya Ayah.


"Degg,, " aku terkejut mendengar pertanyaan Ayah.


"Ka.. kata siapa Ayah??" tanyaku gugup.


"Kenapa kamu gak bilang sama Ayah?? Kenapa kamu yang menanggungnya Bii??" tanya Ayah dengan nada sedih.


"Ayah kata siapa Abbi mengganti rugi kerugian dikantor Kak Seno,, itu berita tidak benar Ayah" ucapku.


"Bii,, Ayah tahu kau menyayangi Kakakmu,, Ayah juga tahu kamu tidak mau membuat Ayah sama Ibu kepikiran tentang masalah ini,, tapi ini bukan tugas kamu Nak,, ini tugas Ayah juga tugas Ibu, kamu tidak harus menanggungnya" ucapnya.


"Ayah,, Abbi tidak menanggung apapun,,, Ayah jangan dengarkan berita bohong itu" ucapku lagi.


"Ya Tuhan Nakk, sampai segitunya kamu menutupi kesalahan Kakakmu" terdengar helaan napas berat Ayah.


"Kalau bukan Ahui yang menjelaskan kesalahan Kakakmu mungkin selamanya Ayah tidak tahu kamu melakukan semua ini Nak" lanjutnya lagi.


"Ahui??" tanyaku.


"Iya Nak,, Ahui beberapa hari yang lalu datang kerumah,,. dia sangat baik mengingat pertemanannya denganmu dia mau menyelesaikan masalah yang dibuat Kakak mu itu dengan cara kekeluargaan,, Ahui terpaksa datang kerumah karena ini sudah kesalahan kedua Kakakmu menggelapkan uang perusahaan, yang pertama kamu yang menanggungnya dan yang sekarang Ayah menyuruh Kakakmu bertanggung jawab sendiri, dan Ayah mohon sama kamu jangan bantu Kakakmu lagi,, biarkan dia dewasa dan belajar bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya" ucap Ayah panjang lebar.


"Kali ini berapa banyak yang digelapkan Kakak Yah?"


"50 juta" jawab Ayah.


"Hhh, kenapa Kakak tidak belajar dari kesalahannya yang lama??" gumamku.


"Apa Kakakmu ada menghubungimu Bii?" tanya Ayah.


"Tidak ada Yah,, " jawabku jujur.


"Lalu sekarang bagaimana nasib Kak Seno Yah? penyelesaiannya bagaimana?"


"Ahui memberi waktu 2 minggu untuk kakakmu mengembalikan uang perusahaan yang dipakainya,," ucap Ayah.


"Kalau Kakak tidak bisa mengembalikan uang itu bagaimana nasib Kakak Yah??" tanyaku.


"Ahui dengan terpaksa membawa kasus ini ke kepolisian Bii" ucap Ayah terdengar nada berat dari suaranya.


"Emm,, Ayah,, apa Ibu tahu masalah ini??" cemasku.

__ADS_1


__ADS_2