I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Berita Buruk.


__ADS_3

Kecemasan tampak di raut wajah Ayah yang memutuskan untuk libur satu hari demi menemani Ibu mengambil hasil lab di rumah sakit.


Kami bertiga pun segera masuk kedalam taksi yang sudah dipesan oleh Ibu.


"Yahh,, memang mobil Ayah dimana?" tanyaku saat diperjalanan.


"Dipinjam sama Kakakmu buat pindahan Bi!" jawab Ayah.


"Oww,, tapi pinjam kok lama amat Yah?? dari hari pertama Abbi libur sampai sekarang kok gak dikembalikan juga?" tanyaku.


"Nanti ibu tanyakan sama Kakakmu!" ucap Ibu.


"Gak usah Bu,,. biar nanti Ayah sendiri yang urus!" ucap Ayah seperti menyembunyikan sesuatu.


"Oww ya sudah terserah Ayah saja!" jawabnya.


Taksi yang kami tumpangi pun memasuki gerbang rumah sakit Bhakti Husada.


Sesuai argo yang tertera Ayah langsung membayarnya dengan sedikit lebih.


Kami bertiga bergegas menuju ke arah laboratorium rumah sakit.


Bua karbol khas rumah sakit segera tercium begitu kuat ketika kami mulai masuk ke area dalam rumah sakit.


Antrian terlihat begitu banyak didepan lab, untunglah pagi ini kami hanya tinggal mengambil hasilnya.


Sekitar 10 menit kami menunggu,, akhirnya hasil laboratorium ibu pun sudah ditangan.


Dengan jantung berdebar,, kami bertiga menuju ruang praktek dokter Nissa SpOG.


Melihat antrian didepan ruang praktek dokter Nissa, mau tidak mau kami harus bersabar menunggu.


Beberapa saat kemudian seorang perawat keluar dari ruang praktek untuk memanggil urutan pasien berikutnya,


"Selamat Pagi Suster, maaf menyela, kami mau memberikan hasil Lab yang kemarin diminta dokter Nissa" ucap Abigail yang mendekati suster yang masih muda itu.


"Oh,, iya tunggu setelah pasien yang baru tadi keluar ruangan,, baru masuk kedalam ya!" jawabnya ramah.


"Bak Suster, terima kasih"


Dia pun tersenyum tipis dan langsung masuk kembali ke dalam ruang praktek dokter.


10menit telah berlalu akhirnya giliran ibu masuk untuk memberikan hasil labnya.


Abbi dan Ayah segera mengikuti Ibunya dari belakang.


"Selamat pagi dokter!" sapa Ibu.


"Pagi Bu,, silahkan duduk,,"


"Ini hasil laboratoriumnya Dok" sambil menyerahkan amplop putih bertanda rumah sakit yang masih tertutup pada dokter Nissa.


Dokter Nissa segera membuka amplop itu dan membacanya dengan seksama.


"Bagaimana Dok?" tanya Ayah dengan tidak sabar.


"Dari hasil lab ini dengan berat hati saya menyampaikan, istri anda menderita Kanker Cerviks stadium 2B"


Kami bertiga langsung terdiam mendengar ucapan dokter Nissa.


Seolah sebuah vonis mati yang dijatuhkan kepadanya, terlihat wajah ibu yang pucat, berkeringat dingin dan tampak lemas.

__ADS_1


Abigail yang berdiri dibelakang Ibunya segera memegang bahu ibunya dengan lembut untuk memberikan dukungan semangat pada ibunya.


"Kanker Dokk?" tanya Ayah meyakinkan pendengarannya.


"Iya Pak"


"Lalu kami harus bagaimana dokter?" tanya Ayah.


"Sebelum kanker menyebar lebih jauh lagi saya menyarankan untuk Ibu secepatnya menjalani operasi pengangkatan rahim"


"Baik dokter terima kasih, kami akan diskusikan dulu" putus Ayah.


"Iya Pakk, silahkan. Tetapi saya berharap tindakan operasi ini bisa segera dilakukan karena sel kanker yang menyerang tubuh Ibu Novia termasuk sel ganas!" Ucapnya dengan wajah serius.


"Baik dokter,, sekali lagi terimakasih. Kami permisi Dokter " ucap Ayah.


"Sama-sama Pak" jawabnya sambil tersenyum.


Abigail membantu Ibunya yang lemas untuk berdiri dan Ayahnya segera meraih tangan ibunya dan digandengnya dengan lembut lalu keluar dari ruangan dokter Nissa.


"Duduklah dulu!" ucap Ayah sambil menuntun istrinya duduk di kursi tunggu depan ruang praktek.


"Minum dulu Bu!" ucap Abbi sambil memberikan air mineral kemasan yang dibawanya.


Sesaat Ibu memandang wajah Ayah seolah mau mengatakan sesuatu.


"Kita pulang dulu!" ucap Ayah sambil menepuk-nepuk punggung tangan istrinya.


Ayah merangkul Ibu dan kami bertiga segera pulang menggunakan taksi.


Sesampainya dirumah Ibu dan Ayah segera masuk kedalam kamar.


Air mata yang dari tadi dia tahan sekarang dia keluarkan semuanya.


Abigail menangis tanpa suara.


Kepalanya dia benamkan dibawah bantalnya,, dia terus menangis mengingat hasil lab yang sudah dibacakan oleh dokter Nissa.


Rasa takut kehilangan ibunya segera menggelayuti hatinya.


Kanker,, salah satu penyakit mematikan yang jadi momok paling menakutkan bagi banyak orang.


Jelas bayang kematian selalu menjadi akhir dari seorang penderita Kanker.


Jumlah survivor kanker didunia ini pun bisa dihitung dengan jari.


Puas menangis Abbi kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya,,


Dia teringat Seno kakaknya, dan berniat untuk memberi tahu tentang kabar buruk ini.


Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya,


"Hallo Kakk"


"Hmm,, kenapa Bi,, kakak lagi sibuk ini!" ucapnya.


"Berhenti sebentar Kaka, Abbi mau ngomong penting!"


"Ya sudah,, cepat mau ngomong apa?" jawabnya.


"Kak,, Ibu sakit Kak" dengan mata kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ibu sakit? Sakit Apa??" tanya Seno.


"Ibu terkena Kanker Cerviks stadium 2B kak!"


"Jangan bercanda Bii!" ucap Seno terdengar nada terkejut dari Kakaknya.


"Bercanda dari Hongkong!!! Kenapa juga harus bercanda untuk masalah seperti ini!" ketus Abbi kesal.


"Maaf,, terus ibu bagaimana??"


"Ibu ada dirumah,, Dokter meminta Ibu untuk menjalani operasi!"


Terdengar helaan napas berat dari Seno.


"Nanti setelah rapat kantor, Kakak akan minta ijin pulang cepat,, setelah itu baru kita bahas dirumah ya..?! sekarang Kakak harus fokus kerja ada laporan keuangan yang Kakak harus periksa soalnya mau sebentar lagi mau dipakai untuk rapat"


"Hmm" jawab Abbi dan memutuskan percakapan mereka.


Sementara itu di kamar Ibunya.


Dengan duduk bersandar diatas tempat tidurnya,


"Mas aku gak mau dioperasi!"


"Harus Nov,, kamu harus dioperasi!" jawab Ayah.


"Mass biayanya terlalu besar,, Uang tabungan juga sudah habis, Sementara Abbi juga masih kuliah,, kita dapat uang dari mana Yah?"


"Bu jangan cemaskan masalah biaya,, yang harus kamu cemaskan itu bagaimana caranya kamu memulihkan kesehatanmu.. Biar masalah uang Ayah yang urus!"


"Tapi Yah,,ini hanya akan jadi tambahan beban buatmu!" ucapnya sambil mulai menangis melihat penuh kasih sayang sekaligus iba pada suami yang dicintainya.


"Hiks... hiks.. Maaf kan Ibu ya Yah,, aku malah menambah bebanmu!"


Melihat Ibu menangis, Ayah segera mendekati dan memeluknya dengan hangat.


"Kenapa harus minta maaf?? Kamu gak salah Bu. Lagi pula ini bukan beban buatku,, ini sudah jadi tugas dan tanggung jawabku., jangan takut,,! jangan kuatirkan apapun! kita pasti bisa melaluinya bersama-sama!" sambil membelai punggung Ibu dengan lembut.


Hari menjelang sore ketika Kak Seno datang kerumah.


Kami berempat pun segera duduk berempat diruang tamu.


"Bu" panggil kak Seno dan memeluk ibunya dengan hangat.


"Kamu tumben datang jam segini? kamu gak kerja?" tanya Ibu.


"Seno tadi ijin pulang cepat Bu"


"Oww!"


"Tadi Abbi telpon dan memberi tahu Seno, apa betul itu Bu?" tanyanya sambil menatap cemas kearah Ibunya.


Ibu hanya menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana Yah?" tanya Kak Seno.


"Minggu ini kita akan antar Ibu mu untuk operasi!" jawab Ayah.


"Emm Ayah,, Ibu,,, Abbi.. Abbi mau cuti kuliah saja ya Yah,, Bu??"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2