
Senin yang cerah secerah hati Abigail yang sudah merindukan sekolah,, dan juga kantinnya..
Selesai sarapan pagi,, dengan motor matic merah kesayangannya Abipun segera meluncur menuju ke sekolahnya.
Sampai di parkiran motor ternyata sahabatnya juga baru saja sampai,,
Cepat-cepat dia memarkirkan motornya dan berlari kearah Hany.
"Hany Bunnykuu I miss yuuuuu!!" hebohku sambil memeluknya.
"Waaaaaaww,,. aku juga !" balasnya tak kalah heboh.
"Ya ampun Bi,, kamu hari ini bawa Bakpao?" tanya Hany sambil menatap ku.
"Bakpao??" tanyaku balik dengan heran.
"Iyaa,, iniii!!" sambil mencubit kedua pipiku.
"Hanyyyyy Bunyyyy!!" teriakku dengan kesal.
"Memangnya aku gendut banget ya ya??" tanyaku dengan merengut.
"Humm" sambil tersenyum.
"Ahh,, masa sihh,, aku gak imut lagi dongg,, jangan-jangan aku sudah mirip bola nih!" panik Abbi, sambil melihat kearah tubuhnya sendiri.
"Haa,, ha..gak usah seheboh dan setakut itu kalii.. !" ucap Hany sambil tertawa.
"Ya iya lah aku takut,, ntar kalau fansku pada kabur gimana!" jawabku enteng.
"Tenang saja Bi masih ada aku kok,, aku pasti menerima kamu apa adanya!" goda Ferril dari arah belakang.
"Denger tuuhh Bii!" sahut Hany.
"Ahh,, Eluu Rill,, playboy cap kadal kayak kamu mana bisa dipercaya!!" jawabku asal.
"Yeeeii,, seenaknya sendiri ngatain aku playboy,, sudah tobat nihcc !! sudah tobat!! asli semuanya demi kamu!!" gombal nya.
"Nyieeehhh.." jawabku sambil terus berjalan menaiki tangga bersama Hany dan Ferrill yang menyusul ku dari belakang.
Aku dan Hany kembali satu kelas di kelas IPA 3C dan ruangan kami di paling ujung setelah ruang IPA 3B, sementara Ferril dikelas IPA 3B,,.
Abigail dan Hany masuk kedalam dan mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan,, memilih bangku urutan ketiga deret paling kiri dekat pintu kelas.
"Ehh Rill kamu ngapain Mauk ke kelas 3C?" tegur Hany.
"Akuu?? tanyanya.
"Ya iyalah kamu memang nya ada yang lain?" jawab Hany sambil melotot.
"Hee,,, " Ferril pun nyengir sambil menggaruk kepalanya.
"Aku kesini mengawal tuan putri kesayangan ku laah!" jawabnya sambil melirik ke arahku.
"Walahhh Rill.. Rill kamu gak nyerah juga ya sudah ditolak berkali-kali sama Abi!" Ejek Hany.
"Namanya juga usaha,, siapa tahu dia mau luluh" jawabnya sambil tersenyum manis kearahku.
*kriingg... kringgg...*
__ADS_1
Bel sekolah berbunyi tanda persiapan upacara bendera dihalaman sekolah.
Waktu, waktu terus berjalan dengan cepat,, satu Minggu lagi ternyata sudah menghadapi ujian akhir semester 1,,
Seperti biasa sebelum ujian dimulai,, aku memilih diam dirumah untuk belajar.
Suatu malam setelah makan malam,
Abigail, dan kedua orangtuanya duduk santai disofa tamu sambil menonton TV.
Tak berapa lama,, suara motor kak Seno pun terdengar sampai dan diparkir diteras berjajar dengan motor kantor Ayah dan juga motorku.
"Malam Ayah,,, Ibu" salamnya dan menyusul duduk didekat Ibu.
"Pulang mu malam sekali?? sudah makan?" tanya Ibu sambil melihat kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam.
"Sudah bu,, tadi makan di kantor.
Seno lembur tutup buku untuk pembukuan akhir bulan" jawabnya.
Seno kemudian mengambil cangkir didepannya dan menuang teh hangat yang disediakan ibunya diatas meja.
*sruutt..* Seno menyeruput teh hangat di cangkirnya dengan pelan.
"Ayah,, Ibu,, ada yang Seno mau bicarakan!" ucapnya sambil meminum tehnya untuk mengurangi rasa gugup yang menyerangnya.
"Ada apa?" tanya Ayah.
"Anu Yah,, Seno.., Seno berniat melamar Shinta" ucapnya dengan gugup.
"Gak,, Ibu gak setuju" Tolak Ibu dengan tegas.
"Gak ada tapi-tapian,, kamu kerja baru enam bulan,, gaji 5 juta tapi sepeserpun tidak ada yang kamu berikan untuk kita,,, Bukan ibu perhitungan tapi apa kamu ingat janjimu?? Ibu Seno Janji nanti kalau Seno kerja gaji pertama Seno untuk Ibu,, terus bulan berikutnya Ibu yang atur untuk ditabung! itu kan janjimu?!" Cerocos Ibu mengingatkan Seno.
"Ibu bukannya mau perhitungan atau Maruk sama uangmu,, bukan! tapi janjimu,, perhatianmu untuk keluargamu itu yang ibu pertanyakan dari kamu??"
"Sekarang Ibu tanya selama ini gajimu dimana?? sudah berapa banyak tabungan kamu??" Tanya Ibu.
Seno diam menunduk bingung mau menjawab.
"Ibu tanya berapa tabunganmu sekarang!" bentak Ibu.
"Buu.." tegur Ayah sambil mengusap punggung Ibu.
"Ini tabungan Seno Bu" jawabnya dengan ragu sambil memberikan buku tabungan miliknya.
"1 juta?? gajimu 5 juta perbulan kamu sudah kerja 6 bulan dan tabunganmu hanya berisi 1 juta!! lalu uangmu lainnya ??" Ibu terus mengomel mengintrogasinya.
Kembali Seno terdiam tak mampu menjawab.
"Ibu tahu malam ini kamu sudah gajian,, dan kamu meminta kami untuk melamar Shinta,, sekarang mana gajimu ibu mau lihat!" ucap Ibu menguji Seno.
"Anu Bu,,,, eh ini" jawab Seno lagi-lagi gugup sambil menyerahkan amplop berwarna coklat pada ibunya.
Segera ibu mengambil nya dan membuka isinya.
segera Ibu membelalakkan matanya,,
"1 jutaa?!!" ucap ibu sambil memegang uang pecahan seratus ribuan ditangannya.
__ADS_1
"Terus yang 4 juta kemana?" tanya Ibu sambil menatap tajam kearah putranya.
"Seno,, Seno berikan sama Shinta supaya bisa belanja baju, dan keperluan lain untuk acara lamaran nanti Bu!" jawabnya.
"Yaaa Tuhaaannn!!" Pekik Ibu dengan wajah merah.
Sementara Ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Seno.
Ibu kemudian mengembalikan Uang dan buku tabungan itu ke tangan Seno.
"Lamaran kamu yang modalin,, besok pernikahan semua kita yang tanggung,, terus mereka nanggung apa??" tanya Ibu.
"Tapi itu tanggung jawab Seno Bu!"
"Bodoh!!! tanggung jawab yang mana?? Kamu melamar mereka kamu memang harus modal untuk membawakan buah tangan,, tapi baju yang akan mereka pakai, makanan yang akan dihidangkan dirumah mereka untuk menyambut tamu,, semua dekorasi yang dipasang dirumah mereka,, itu tugas dan tanggung jawab mereka,, bukan tanggung jawab kamu,, dimana usaha mereka kalansemua kamu yang nanggung!" Amuk Ibu lagi.
"Tapi Shinta dari keluarga kurang mampu Bu!" belanya.
'Ibu ini miskin, yatim piatu,, tapi kamu bisa tanya pada Ayahmu,, pernahkah Ibu sepeserpun minta uang pada Ayah mu untuk apapun?"
"Miskin bukan berarti tidak punya harga diri hingga menjadikan kamu sapi perah mereka,, ujung-ujungnya mereka hanya akan jadi benalu di keluarga kita. Ibu tidak bisa merestui hubungan kamu sama Shinta" putusnya.
"Buu.." ucapnya dengan tatapan memohon.
Dengan perasaan marah dan kecewa Ibu kemudian masuk kedalam kamarnya, dan tidak memperdulikan rengekan Seno.
"Ayahh tolong Seno Yah!" ucapnya memohon.
"Ayah tidak bisa Sen,, Ayah setuju dengan Ibumu!" ucap Ayah
"Putuskan dia cobalah cari yang lain!" ucap Ayah lagi.
"Maaf Ayah,, Seno tidak bisa,, Seno cinta sama Shinta Yah" jawabnya.
"Bukan gak bisa,, Kak Seno aja yang gak mau,, banyak kok pemudi baik digereja kita,,!" sahutku.
"Memangnya kalau kamu dipaksa putus dari Yogi mau?" tanya Seno dengan nada kesal.
"Mau,, Kalau Ayah sama Ibu gak merestui ya aku mau putus sama Yogi,, terus cari dech yang baru" jawabku dengan santai.
"Kamuu..!" Seno kehabisan kata-kata melawan ucapan Abigail.
"Jujur Ayah sangat kecewa sama kamu,, Seno anak ayah yang ayah kenal jujurpun sudah berani tidak jujur pada Ayah!" ucap Ayah dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Tidak Ayah,, Seno tidak pernah bohong sama Ayah!" bantah Seno dengan tegas.
"Lalu uang service mobil 2 juta yang kamu minta dari Ayah sebelum kamu kerja dimana? jangan kamu pikir Ayah tidak tahu mobil itu belum kamu servis,, lebih tepatnya tidak pernah kamu servis"
Seno pun tersentak kaget.
Dia tidak menyangka Ayahnya tahu kebohongannya.
"Maaf Yahh,, uang itu Shinta butuh untuk adiknya yang sakit" jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu memikirkan Shinta dan membahagiakannya diatas kebohongan yang melukai hati keluarga kandungmu sendiri! Belum menikah kamu sudah berlaku tidak benar apalagi kalau sudah menjadi bagian dari keluarga mereka!" ucap Ayah.
"Pikirkan baik-baik,, pernikahan hanya 1 kali untuk seumur hidup. Ayah tidak mau kamu menyesal dikemudian hari.
Jangan karena cinta buta mu membuat hidupmu nanti sengsara!" Nasehatnya lalu berdiri dan melangkah kekamar menyusul istrinya.
__ADS_1
Bersambung.